Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
MUSTAHIL!


__ADS_3

"Selamat malam, Semuanya?" Sapa Dyrtha yang baru saja datang pada para orangtua yang kini berkumpul di kediaman Hadinata.


"Panjang umur, kamu, Dyr! Baru juga diomong," tukas Papi Guntur yang langsung menyambut Dyrtha dan mengajaknya duduk di ruang tengah bersama yang lainnya. Sesekali terdengar jeritan dan gelak tawa Angga serta Kathlyn dari arah playground yang entah sedang bermain apa.


"Wah! Pantas Dyrtha tadi sempat tersedak beberapa kali. Ternyata sedang ada yang membicarakan," kekeh Dyrtha sebelum kemudian pria itu menyapa kedua orang tua angkat Sita.


"Malam, Pak, Bu!"


"Robert dan Sita masih sibuk menebar undangan tadi," ujar Dyrtha melapor. Padahal jelas-jelas, yang dibawa Sita dan Robert hanya undangan untuk Matthew Orlando. Sisanya akan diantar besok oleh utusan keluarga Hadinata.


"Jadi, tadi sedang membahas apa?" Tanya Dyrtha selanjutnya seraya menatap bergantian pada semua yang duduk di ruang tengah.


"Lihat ini!" Mizty akhirnya yang terlebih dahulu buka suara dan menunjukkan dua cincin yang masih tergeletak di atas meja.


Dyrtha langsung kaget dan mengambil dua cincin yang sama persis tersebut.


"Siapa yang menemukan pasangannya, Sayang?" Tanya Dyrtha menatap tak percaya pada dua cincin di tangannya. Dyrtha langsung ingat pada ucapan sang papa beberapa tahun silam tentang Dyrtha yang sebenarnya punya saudari beda ibu yang juga memakai cincin tersebut. Sayangnya saudari Dyrtha tersebut sudah dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan, meskipun jasadnya tak pernah ditemukan. Sedangan papa Tirta masih yakin kalau saudari Dyrtha itu masih hidup dan mungkin berada di satu tempat.


Dan sekarang...


"Apa dia ada disini?" Dyrtha menatap penuh binar pada Mizty.


"Dia masih diluar dan belum pulang." Jelas Mizty.


"Lalu cincin ini? Siapa yang membawanya?" Dyrtha mendadak jadi bingung.


"Bu Tutik!" Jawab Mami Indri yang mendadak langsung membuat Dyrtha menganga.


"Bu Tutik saudari Dyrtha yang hilang itu, Aunty? Begitu?" Tanya Dyrtha yang malah membuat semuanya jadi menahan tawa.


"Bukan, Nak Dyrtha!" Bu Tutik akhirnya menjawab kebingungan Dyrtha.


"Cincin itu dipakai oleh Sita saat kami mengadopsinya dari sebuah panti asuhan delapan belas tahun yang lalu," sambung Bu Tutik yang langsung membuat Dyrtha kembali menganga.


"Sita?" Dyrtha terlihat shock dan pria itu diam untuk beberapa saat.


"Maksudnya, Sita adalah saudari Dyrtha yang hilang itu?" Dyrtha ganti bergumam tak percaya.


Wanita sederhana, yang senantiasa Dyrtha ledek karena penampilannya, karena kesederhanaanmya, karena statusnya, ternyata adalah.....


Saudara seayah Dyrtha yang sudah lama hilang!.


"Sita adalah saudarimu, Sayang!" Mizty sudah menghampiri Dyrtha dan wanita itu tampak berbinar senang. Sangat berbeda dengan Dyrtha yang masih shock.


"Mungkin ini juga jawaban atas pertanyaanmu waktu itu, yang katanya kamu seperti punya ikatan batin dengan Angga. Ternyata Angga memang keponakan kamu," Mizty sudah merangkul Dyrtha yang tetap shock dan kaget.


"Ibu yakin, cincin ini dipakai Sita sejak kecil? Mungkin Sita menemukannya tersangkut di pohon, lalu memakainya dan mengaku-aku," Dyrtha masih merasa sangsi.


"Ibu panti asuhan sendiri yang bilang, Nak Dyrtha! Sita sudah memakai kalung berbandul cincin itu, sewaktu dia diantar ke panti asuhan oleh seseorang saat usianya dua tahun," jelas Bu Tutik.


"Putri Tirta dinyatakan hilang saat usianya dua tahun juga, Dyrtha! Jadi jelas sudah," timpal Papi Guntur yang turut memberikan penjelasan.

__ADS_1


Dyrtha menghela nafas dan akhirnya mengangguk. Mungkin Sita memang saudari seayah Dyrtha yang lama hilang. Sangat wajar jika akhirnya Sita tumbuh jadi wanita sederhana seperti sekarang. Hilang di tempat asing saat usianya dua tahun, lalu tinggal di panti asuhan yang pasti penuh keterbatasan. Lalu diadopsi oleh orang tua yang sederhana juga. Berbeda dengan Dyrtha yang menikmati sendiri harta peninggalan sang Papa setelah kedua orang tuanya meninggal. Padahal sebagian dari harta tersebut adalah milik Sita.


Dyrtha akan memberikan hak Sita nanti, sekalipun saudarinya itu sudah jadi istri tuan muda putra mahkota.


"Malam!" Sapa Robert yang ternyata juga sudah pulang bersama Sita.


"Kakak ipar!" Seru Mizty yang buru-buru menghampiri Sita dan memeluk wanita yang tampak kebingungan tersebut.


"Mizty, hati-hati! Kau sedang hamil!" Dyrtha memperingatkan sang istri.


"Ada apa ini?" Tanya Sita bingung.


"Iya, ini ada apa?" Robert ikut-ikutan bertanya.


"Duduklah kemari, Sita! Asal usulmu sudah terkuak sekarang," titah Mami Indri yang malah membuat Sita semakin bingung.


"Asal- usul apa maksudnya, Mi? Sita memang anak angkat selama ini. Apa Bapak dan Ibu baru saja bercerita?" Tanya Sita yang akhirnya ikut duduk dan bergabung bersama yang lain.


"Mami dan Papi tak akan mempermasalahkan status Sita yang ini, kan?" Robert ikut angkat bicara dan pria itu menatap penuh selidik pada kedua orang tuanya.


"Tentu saja tidak, Robert!"


"Apa kau tahu, Sita itu sebenarnya siapa?" Mami Indri malah melontarkan pertanyaan yang membuat Robert dan Sita jadi bingung.


"Maksud Mami?" Robert masih mengernyit bingung.


"Sita adalah saudara seayah Dyrtha yang sudah lama hilang," Mizty yang akhirnya memberikan penjelasan, dan Sita langsung menganga tak percaya seperti halnya Dyrtha tadi.


"Kenapa, Saudari? Kaget, ya? Sama! Aku tadi juga kaget!" Celetuk Dyrtha berekspresi menyebalkan.


"Mustahil bagaimana maksudnya? Kau tidak terima punya saudara aku, begitu?" Sergah Dyrtha bersungut-sungut.


"Bukti cincin itu yang sudah bicara! Jadi terima saja!" Lanjut Dyrtha lagi tetap bersungut. Telunjuk pria itu juga sudah menunjuk pada dua cincin yang kini ada di atas meja. Sita mengambil cincin tersebut.


"Bukankah ini cincin yang waktu itu jadi bandul kalung Sita, Bu?" Tanya Sita seraya menatap ke arah Bu Tutik. Sita rupanya juga masih ingat.


"Iya,waktu itu kalungnya putus, jadi cincinnya ibu simpan. Ibu lupa sampai tadi ibu melihat cincin yang sama dikenakan oleh Nak Mizty," jelas Bu Tutik menjelaskan kronologinya pada Sita.


"Mizty yang memakainya, lalu kenapa-"


"Itu cincin kawin yang aku berikan untuk Mizty," Dyrtha langsung menyela pertanyaan Sita.


"Jadi, kalian adalah saudara satu ayah?" Robert menunjuk bergantian pada Sita dan Dyrtha.


"Ya!" Jawab Dyrtha tegas namun tetap bersungut.


Sita hanya menghela nafas dan langsung menghampiri Dyrtha.


"Kau mau apa sekarang?" Tanya Dyrtha curiga.


Sita tak menjawab dan langsung memeluk pria tinggi besar itu.

__ADS_1


"Pelukan saudara, jadi tidak usah lebay!" Ujar Sita yang entah mengapa malah membuat Dyrtha salah tingkah dan sedikit tersindir karena pria itu jadi ingat berbagai cercaannya pada Sita.


Astaga!


"Baiklah, aku minta maaf atas sikap ketusku, Sita!"


"Maaf juga karena sering meremehkanmu dan merendahkanmu, padahal kita satu ayah," ujar Dyrtha panjang lebar yang langsung membuat Sita tertawa kecil.


"Sudah kumaafkan sejak kemarin-"


"Tidak!" Robert menyela kalimat Sita.


"Jagan memaafkan secepat itu, Sayang! Dia saja mengejekmu habis-habisan di belakang kemarin." Robert bersungut tak terima.


"Astaga! Lalu kau mau apa, sepupu yang merangkap saudara ipar?" Tanya Dyrtha tak mengerti.


Bugh!


Robert tiba-tiba sudah meninju hidung Dyrtha tanpa diduga tanpa dinyana hingga pria itu terjungkal ke belakang.


"Auw! Hidungku!"


"Robert!" Sita langsung mendelik pada Robert yang main tangan.


"Roberto!" Papi Guntur ikut menegur sang putra, lalu meneriksa Dyrtha yang sedang dibantu bangun oleh Mizty. Hidung pria itu mengeluarkan sedikit darah, namun dengan cepat Dyrtha seka memakai tisu.


"Dia pantas mendapatkannya, Pi! Robert benar-benar kesal pada mulutnya yang tak punya sopan santun!" Ujar Robert blak-blakan.


"Tidak usah berlebihan begitu!" Sergah Sita menatap kecewa pada Robert.


"Aku melakukannya untukmu!" Robert mencari pembenaran.


"Tapi tidak usah main pukul juga!" Sita kini bersedekap kesal pada Robert.


"Baiklah, aku minta maaf!" Robert mendekap Sita dan berusaha membujuk istrinya tersebut.


"Ngomong-ngomong, anak-anak kok nggak ada suaranya," Mami Indri mengalihkan pembicaraan, dan Pak Alwi serta Papi Guntur langsung memeriksa ke playground.


Angga dan Kathlyn sudah sama-sama tertidur di perpustakaan mini yang ada di sudut playground. Sepertinya dua bocah itu lelah bermain sementara para orang tua berdebat tadi.


"Kathlyn dan Angga sudah tidur," lapor Papi Guntur.


"Baiklah, kita menginap disini saja, Sayang! Aku ingin pingsan karena ditinju Robert!" Dyrtha menjatuhkan tubuhnya dengan lebay ke atas sofa.


Dasar lebay!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2