Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
TERLUKA


__ADS_3

"Aku mencintaimu, Sita!" Ungkap Robert menatap penuh kesungguhan pada Sita yang hanya mematung.


"Aku mencintaimu," ulang Robert lagi yang satu tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah Sita, lalu menangkupnya dengan lembut.


Robert mendekatkan wajahnya ke arah wajah Sita, lalu dengan prlahan mengecup bibir Sita.


"Jangan pergi," pinta Robert lirih bersamaan dengan kesadaran Sita yang seolah kembali. Sita mendorong dada Robert agar pria itu menjauh darinya. Sita tak jadi keluar dari kamar dan malah berjalan cepat ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar Robert.


"Sita!"


Panggilan Robert hanya diabaikan oleh Sita yang membanting pintu kamar mandi.


Robert hanya menghela nafas dan tak ingin mengganggu Sita. Mungkin Sita memang sedang butuh waktu sendiri untuk menjernihkan pikirannya. Robert memilih keluar dari kamar, lalu menutup pintu dan kembali turun ke bawah untuk menemui Dyrtha yang masih menunggunya di bawah.


Sedangkan Sita yang kini bersandar di belakang pintu kamar mandi mendadak bercucuran airmata. Sita tak tahu kenapa dirinya mrnangis, tapi Sita hanya ingin menangis sekarang. Sita merasa bingung dan bimbang.


****


"Sudah jelas?" Tanya Dyrtha sekali lagi memastikan pada Robert yang banyak terlihat melamun saat Dyrtha mengajaknya berdiskusi.


Dasar aneh!


"Iya, jelas!" Jawab Robert tanpa semangat.


"Ck! Pikiranmu sedang tidak disini, Rob! Apa sebenarnya yang mengganggumu?" Tanya Dyrtha heran.


"Tidak ada!" Jawab Robert masih tak bersemangat.


"Dyrtha, urusanmu sudah selesai?" Tanya seorang wanita seraya menghampiri Dyrtha dan Robert.


"Hai, Sayang! Kau sudah bangun?" Sapa Dyrtha pada sang istri dan tak lupa Dyrtha juga mengecup bibir istrinya itu hingga membuat Robert mendengus.


"Istrimu mana, Robert? Sudah pulang dari rumah sakit, kan?" Mizty yang merupakan istri Dyrtha ganti bertanya pada Robert.


"Dia sudah beristirahat di kamar," jawab Robert yang langsung membuat Mizty membulatkan bibirnya.


"Urusanmu sudah selesai?" Tanya Mizty sekali lagi pada Dyrtha.


"Sudah! Ayo kita pulang!" Jawab Dyrtha seraya membereskan kertas-kertas di atas meja.


"Aku akan memanggil Kathlyn dulu," ujar Mizty yang sudah mengayunkan langkahnya menuju ke playground.


"Pasti ada drama sebentar lagi," kekeh Dyrtha seraya bangkit dari sofa.


"Besok jangan lupa untuk pergi ke kantor, Tuan Muda! Jangan mengelak lagi atau mencari alasan!" Dyrtha mengingatkan Robert sekali lagi.


"Cutimu sudah terlalu lama!" Omel Dyrtha itu sembari berlalu menuju ke playground untuk menyusul istriny tadi. Sudah terdengar juga tangisan dari Kathlyn yang sepertinya tidak mau pulang dan masih ingin bermain bersama Angga.


"Biarkan dia disini saja dulu! Jangan memaksanya!" Ujar Robert yang sudah ikut menyusul ke playground.


"Angga sudah mengantuk itu," tukas Dyrtha seraya mengendikkan dagunya ke arah Angga yang memang sudah berulang kali menguap. Robert menghampiri Angga dan berjongkok di depan putra sambungnya tersebut. Sementara Dyrtha masih berjuang dengan jeritan dan cakaran Kathlyn yang sepertinya benar-benar tak mau pulang.


"Ayo pulang dan bobok di rumah!" Paksa Dyrtha yang sudah menggendong Kathlyn tanpa peduli pada jeritan sang putri. Dasar kejam.

__ADS_1


"Kami pulang dulu, Robert!" Pamit Mizty seraya membawa ransel milik Kathlyn.


"Ya, hati-hati!"jawab Robert yang masih berjongkok di depan Angga.


"Kau mau tidur juga?" Tanya Robert pada Angga setelah Dyrtha dan Mizty tak terlihat lagi.


"Mama kemana, Pa? Apa Mama masih sakit?" Bukannya menjawab pertanyaan Robert, Angga malah balik bertanya pada papa sambungnya tersebut.


"Mama hanya sedang istirahat." Robert mengusap lembut kepala Angga.


"Ayo mandi, lalu tidur!" Ajak Robert selanjutnya seraya membawa Angga ke dalam gendongannya,meninggalkan playground yang bentuknya sudah tak karuan.


Robert membawa Angga ke kamar sementara bocah itu, karena kamar untuk Angga masih tahap renovasi dan belum selesai. Robert memandikan Angga dengan telaten, lalu mengganti bajunya dengan piyama dan menyisir rapi rambut bocah enam tahun tersebut.


"Kapan Angga mulai sekolah, Pa? Kata Kathlyn, dia sudah sekolah di sekolah yang besar."


"Angga mau sekolah juga," rengek Angga yang sudah berbaring di atas tempat tidur.


"Angga mau sekolah di sekolahnya Kathlyn juga?" Tanya Robert memberikan tawaran.


Angga langsung mengangguk berulang-ulang.


"Nanti kita mendaftar dulu, ya!" Janji Robert selanjutnya yang langsung membuat bibir Angga merekahkan senyuman. Selama beberapa hari ini Angga memang hanya di rumah dan Mami Indri berinisiatif memanggilkan guru untuk Angga agar bocah itu punya kegiatan. Tapi rupanya Angga mulai jenuh belajar sendiri di rumah karena tak ada teman.


Seusia Angga memang sudah seharusnya sekolah dan berbaur bersama teman-teman sebayanya.


"Pa," panggil Angga lagi yang jepalanya masoh diusap-usap oleh Robert yang juga berbaring di sampingnya.


"Kata Om Dyrtha, Kathlyn mau punya adik, ya?"


"Angga kapan punya adik?" Tanya Angga seraya mendongakkan kepalanya dan menatap pada wajah Robert.


"Secepatnya." Jawab Robert menahan pedih di hatinya karena lagi-lagi teringat pada calon anaknya yang gagal berkembang karena Sita yang stress dan banyak pikiran. Semua karena Robert yang kurang peka pada Sita selama ini.


"Angga berdoa saja, ya! Agar Angga juga secepatnya punya adik," lanjut Robert lagi berusaha mengulas senyum meskipun hatinya masih merasa sedih.


Dua kali kehilangan calon anak, bagaimana Robert tidak sedih?


Angga menguap sekali lagi dan bkcah itu sepertinya sudah benar-benar mengantuk. Robert mengeratkan dekapannya pada Angga dan menciumi wajah bocah laki-laki yang kini mulai terlelap tersebut.


"Papa sayang Angga," bisik Robert seraya menitikkan airmata.


****


Setelah puas menangis dan menenangkan diri, Sita yang sudah lebih segar keluar dari kamar untuk mencari Angga. Tumben sekali putranya itu tak mencari Sita. Apa Angga sudah tidur?


"Angga kemana, Mbak?" Tanya Sita pada seorang maid yang ia jumpai.


"Sudah tidur, Nona!" Jawab maid rersebut.


"Dimana?" Tanya Sita lagi.


"Di kamarnya, bersama Tuan Robert," maid tadi mengantar Sita ke kamar Angga. Setelah mengucapkan terimakasih, Sita membuka pelan pintu kamar Angga, dan langsung terlihat Robert yang juga sudah tidur sembari mendekap Angga. Hati Sita mencelos. Susah payah wanita itu menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit.

__ADS_1


"Kau akan menyakiti hati Angga jika membawanya pergi dari rumah ini, Sita! Bisakah sekali saja kau memikirkan perasaan putramu?"


Kalimat peringatan dari Robert kembali berkelebat di benak Sita.


Sita memilih untuk kembali menutup pintu kamar Angga dan menghapus butir bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Angga terlanjur bergantung pada Robert dan bocah ituseolah sudah menemukan sosok papa impiannya di dalam diri Robert. Tapi Sita juga tak bisa jika harus terus bertahan, menahan rasa pedih karena Robert yang tak kunjung move on dari Sheila.


Sita benar-benar dilema sekarang.


"Sita, kau belum tidur?" Sebuah teguran membuyarkan lamunan Sita dan membuat wanita itu cepat-cepat menyeka aurmata yang masih membasahi wajahnya.


"Belum, Nyonya!" Jawab Sita tergagap.


"Mami," koreksi Mami Indri karena Sita yang masih saja memanggilnya Nyonya, seolah Sita adalah orang asing di keluarga ini.


"Kau menangis?" Tanya Mami Indri saat melihat wajah sembab Sita.


"Tidak, Nyonya!" Kilah Sita yang masih tergagap.


"Mami! Ck!" Mami Indri berdecak dan sepertinya mulai kesal pada Sita yang tak kunjung mau memanggilnya Mami.


"Maaf," gumam Sita seraya menundukkan kepalanya. Sita menghela nafas panjang berulang kali.


"Ini sudah larut dan sebaiknya kau beristirahat, Sita!" Nasehat Mami Indri akhirnya yang hanya membuat Sita mengangguk.


"Iya, Nyo-"


"Mami!" Potong Mami Indri sedikit tegas.


"Kau menantu di rumah ini, Sita! Bisakah kau berhenti memanggilku Nyonya dan ganti memanggil Mami mulai detik ini?" Tegas Mami Indri yang sudah merengkuh kedua pundak Sita.


"Sheila juga menantu Anda, Nyonya! Apa anda pernah menyuruhnya memanggil Mami atau sekedar menerima kehadirannya di rumah ini?" Sita menatap berani pada Mami Indri yang langsung terdiam.


"Itu lain cerita!" Jawab Mami Indri yang sorot matanya terlihat penuh kebencian.


"Tapi Robert, putra Anda begitu mencintainya. Bahkan hingga detik ini Robert masih mencintainya danbtak berhenti menggumamkan namanya saat tidur." Sita sudah menitikkan airmata.


"Tak bisakan anda hilangkan kebencian anda pada Sheila, dan memperbaiki hubungan anda dengan Robert tanpa ganjalan apapun?"


"Robert terluka karena kedua orang tuanya membenci wanita yang ia cintai, bahkan setelah wanita itu pergi selamanya dari dunia ini."


"Sampai kapanpun, Sheila juga adalah menantu anda, Nyonya! Jadi berhentilah membencinya dan jangan membuat Robert semakin terluka."


"Robert putra anda!" Suara Sita terdengar semakin lirih. Sita melepaskan perlahan rengkuhan Mami Indri di kedua pundaknya, lalu pergi ke arah tangga dan menuju ke kamarnya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2