Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
MASA LALU


__ADS_3

"Aku turun disini saja," ucap Robert saat ia dan Liam melintasi rumah sakit dimana Pak Alwi dirawat. Kata Sita kemarin malam Pak Alwi baru selesai menjalani operasi. Jadi Robert akan menjenguk sdbentar sekalian menemui Angga karena Robert sudah kangen sekali pada anak Sita itu.


"Siapa yang sakit?" Tanya Liam khawatir.


"Kakeknya Angga," jawab Robert yang langsung membuat Liam diam. Namun sesaat kemudian Liam tertawa terbahak-bahak.


"Calon mertua, hah?" Goda Liam pada asisten sekaligus sekretarisnya tersebut.


Robert tak menjawab dan hanya tersenyum simpul. Liam memang suka menggoda dan meledek jadi tak perlu Robert tanggapi dengan serius.


"Aku turun dulu," pamit Robert seraya keluar dari mobil.


"Ini maksudnya kau menyuruhku pulang dan mengemudi sendiri?" Liam berdecak tak percaya karena tadi Robert memang duduk di belakang kemudi dan sekarang pria itu turun begitu saja meninggalkan Liam.


"Ya! Bawa saja mobilku! Nanti aku pulang naik taksi," jawab Robert enteng.


"Dasar sekretaris tak tahu diri!" Liam bersungut-sungut dan segera pindah ke belakang kemudi, lalu melajukan mobil milik Robert itu dan meninggalkan rumah sakit.


Sementara Robert langsung masuk ke dalam rumah sakit, saat ia tak sengaja berpapasan dengan seorang pria...


Sial!


"Robert!" Panggil pria yang sedang tak ingin Robert temui tersebut. Robert mempercepat langkahnya dan berusaha menghindari pria yang kini mengejarnya tersebut.


"Robert!" Panggil pria itu lagi yang masih terus mengejar Robert.


Pintu lift di depan Robert terbuka dan Robert secepat kilat masuk ke dalamnya lalu bergegas menutup pintu. Pintu sudah tertutup setengah saat sebuah sepatu menahan pintu lift dan pria sialan yang tadi mengejar Robert menyelinap masuk ke dalam lift.


"Kau pikir bisa kabur dariku?" Ucap pria itu yang kini sudah berdiri di samping Robert dengan nada meledek. Robert hanya diam.


"Aunty sakit." Ucap pria itu lagi.


"Bukan urusanku!" Jawab Robert dingin.


"Tapi dia mami kandungmu, Robert!" Pria itu meninggikan nada bicaranya.


"Aku bukan lagi bagian dari keluarga itu!"


"Mereka sudah menolak dan mengusir Sheila! Jadi itu artinya mereka juga sudah mengusirku. Jadi aku tak perlu lagi kembali, Dyrtha!" Ucap Robert menatap tegas pada pria bernama Dyrtha tersebut. Dyrtha hanya diam dan pintu lift sudah terbuka. Robert keluar dari dalam lift meninggalkan Dyrtha yang masih membisu.


Robert mengendurkan dasinya, lalu menggulung lengan kemejanya dengan frustasi. Pria itu duduk di salah satu bangku tunggu yang kebetulan ia lewati dan menghela nafas frustasi berulang kali.


"Kau boleh menjalin hubungan dengan gadis manapun, tapi tidak dengan gadis ini, Robert! Papi tidak akan pernah merestuk hubungan kalian!" Teriak Papi Guntur menatap sengit ke arah Robert dan Sheila yang baru saja memberitahu kabar rencana pernikahan mereka.


"Robert mencintai Sheila, Pi! Dan Robert akan menikahinya dengan atau tanpa restu dari Papi!" Sergah Robert keras kepala sembari menggenggam erat tangan Sheila.

__ADS_1


"Tidak boleh!" Bentak Papi Guntur penuh emosi.


"Kau tidak boleh menikahi gadis ini--"


"Robert mencintai Sheila dan Robert akan menikahinya!" Potong Robert tak kalah emosi.


"Robert dengarkan papimu dan jangan membantah!" Mami Indri menuding ke arah Robert dan ikut membentak putra semata wayangnya tersebut.


"Robert tidak mau!" Jawab Robert marah.


"Robert akan pergi dari rumah ini jika Papi dan Mami tak merestui hubungan Robert dan Sheila!" Ancam Robert pada kedua orangtuanya.


"Tinggalkan gadis ini, Robert!" Perintah Papi Guntur penuh emosi.


"Tidak akan!"


"Sheila tidak ada hubungannya dengan perseteruan Papi di masa lalu bersama ayahnya Sheila!"


"Tetap saja! Dia itu putri dari pria keparat yang hampir mencelakakan mamimu!"


"Dan Papi tak sudi gadis ini menjadi menantu di keluarga Hadinata!"


"Tinggalkan dia atau--"


"Atau apa?" Robert menatap berani pada sang papi.


"Tak perlu repot-repot melakukannya, karena Robert akan amgkat kaki dari rumah ini mulai sekarang!" Ucap Robert tegas masih dengan tatapan beraninya.


"Robert jangan keras kepala dan tinggalkan saja gadis ini! Kamu putra mami satu-satunya!" Mami Indri memohon pada Robert.


"Robert tidak akan pernah meninggalkan Sheila, Mi!"


"Lebih baik Robert pergi dari rumah ini!" Pungkas Robert seraya menarik tangan Sheila dan mengajak gadis itu untuk keluar dari kediaman Hadinata.


"Om Robert!" Suara Angga yang menegurnya, langsung membuat lamunan Robert tentang semua masa lalunya menjadi buyar.


"Om Robert melamun?" Tanya Angga penuh selidik.


"Tidak!" Kilah Robert cepat seraya mengulas senyum ke arah bocah enam tahun tersebut.


"Angga tadi sudah makan?" Tanya Robert selanjutnya seraya meraih tubuh Angga dan membawanya ke dalam pangkuan. Robert menghirup aroma khas dari tubuh Angga yang terasa menenangkan.


Ah, Robert jadi ingat pada calon anaknya yang kini sudah di surga.


"Belum! Mama belum pulang soalnya," jawab Angga jujur. Rasa iba langsung menyusup ke dalam relung hati Robert.

__ADS_1


"Memangnya, Angga kalau mau makan harus menunggu mama pulang?" Tanya Robert lagi yang langsung dijawab Angga dengan anggukan kepala.


"Biasanya mama kalau pulang kerja bawa makanan untuk Angga dan Nenek. Kalau Kakek sudah dapat makan dari rumah sakit," cerita Angga lagi.


"Hmmm." Robert mengangguk-angguk mengerti.


"Angga mau makan apa? Ayo beli makanan bersama Om ke kantin rumah sakit!"


"Sekalian kita belikan untuk Nenek, ya!" Ajak Robert selanjutnya seraya menurunkan Angga dari pangkuannya, lalu Robert ganti menggandeng tangan kecil Angga dan keduanya berjalan ke arah kantin rumah sakit.


****


Sita membuka pintu kamar perawatan Pak Alwi dan langsung melihat Bu Tutik yang terlelap di samping bed perawatan Pak Alwi yang juga masih terlelap. Sepertinya kedua orang tua angkat Sita tersebut sedang sama-sama kelelahan.


"Angga!" Panggil Sita seraya memeriksa kamar mandi untuk memeriksa apa Angga ada di dalam sana. Namun ternyata tidak ada.


"Angga!" Panggil Sita lagi pada Angga yang memang kerap menyelinap keluar dari kamar perawatan. Meskipun akhirnya Angga bisa kembali ke kamar tanpa tersesat, namun tetap saja, hal itu membuat cemas.


Apalagi Angga sudahbberjanji untuk tak menyelinap lagi sejak Robert membelikannya setumpuk buku cerita. Dan kini bocah itu sudah mengingkari janjinya lagi.


"Sita, kamu sudah datang?" Tanya Bu Tutik yang sudah terjaga dari tidurnya.


"Angga dimana, Bu?" Tanya Sita setelah meletakkan tas selempangnya dengan asal di meja dan kembali mencari Angga.


"Tadi katanya mau main-main sebentar di luar. Lalu ibu tertidur sebentar." Bu Tutik terlihat merutuki dirinya sendiri yang ketiduran dan lalai menjaga Angga.


"Biar Sita yang mencari. Pasti masih di sekitar sini," ujar Sita cepat menenangkan sang ibu yang terlihat khawatir.


Sita membuka pintu kamar perawatan dan saat itulah, Robert yang menggandeng Angga sudah berdiri di depan kamar perawatan.


"Hai, Sita! Kau sudah pulang kerja?"


.


.


.


Yang kemarin penasaran sama Tuan muda Hadinata di "Mendadak Jadi Nona Muda" bab 59, udah tahu jawabannya, kan?


😁😁😁


Udah lupa, Thor!


Yaudah kalau lupa.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2