
"Astaga!" Jerit Liam saat mendapati Robert yang sudah duduk di kursi kebesarannya di Halley Development.
Dasar mantan asisten menyebalkan!
Masih bagus Liam tak terkena serangan jantung!
"Uncle Liam!" Sapa Angga juga yang entah muncul darimana. Apa kantor Liam sudah berubah jadi playground bermain anak-anak sekarang?
"Pagi!" Sapa Robert seraya tersenyum pada Liam.
"Kau sedang apa disini? Mau menggantikan aku jadi direktur juga?" Tanya Liam bersungut-sungut pada Robert.
"Tidak!" Jawab Robert seraya beranjak dari kursi kebesaran Liam.
"Aku hanya mampir dan memastikan kalau asisten baru yang aku kirimkan bekerja dengan sangat baik disini," ujar Robert yang sudah ganti menghampiri Liam dan menepuk punggunh pria itu.
"Dia bekerja dengan amat sangat baik. Hanya saja sikapnya kaku sekali seperti robot. Atau jangan-jangan dia memang robot?" Jelas Liam yang diakhiri dengan cecaran pertanyaan.
Robert hanya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong, kau terlihat sumringah sekali. Semalam dapat berapa ronde memangnya?" Tanya Liam kepo.
"Aku tidur bersama Angga semalam.", jawab Robert jujur.
"Serius? Aku pikir kau dan Sita menginap ke hotel karena kasur di rumah Pak Alwi kecil," Liam terkekeh dan mendadak ingat pada dirinya yang dulu sering ndusel-ndusel di kasur kecil Yumi di kost-an saat proses pedekate.
Apa kabar kost-an itu sekarang?
"Kami bertiga memang tidur di hotel semalam. Bapak dan Ibu juga karena rumah sedang di renovasi," jelas Robert.
"Ck! Kalau bersama Angga tak usah cerita!" Liam berdecak dan sudah tak tertarik lagi pada cerita Robert.
"Aku sekalian mau pamit, karena pagi ini kamu mau berangkat," ujar Robert setelah keheningan beberapa saat.
"Cepat sekali? Lalu Pak Alwi dan Bu Tutik bagaimana? Katanya rumah mereka sedang si renovasi?"
"Mereka akan ikut ke kota sebelah sementara waktu. Nanti kalau rumah sudah jadi, baru aku antar kemari lagi," jelas Robert.
"Ya sudah kalau begitu! Sebaiknya memang kau itu mengeratkan lagi hubunganmu dengan kedua mertuamu itu!" Nasehat Liam sok bijak.
"Hubunganmu denagn kedua orang tua Yumi sendiri bagaimana? Akrab juga?" Robert membalikkan kata-kata Liam.
__ADS_1
"Akrab sekali!" Jawab Liam sombong.
"Aku kan menantu kesayangan mereka dan satu-satunya yang berharga," sambung Liam lagi tetap dengan nada sombong yang membuat Robert terkekeh.
"Baiklah kalau begitu! Aku akan pergi sekarang."
"Angga!" Panggil Robert pada Angga yang sedang sibuk membaca sebuah buku yang ia temukan di rak. Entah buku apa yang dibaca, tapi sepertinya bukan buku cerita anak.
"Itu buku apa? Kau mau jadi direktur juga?" Tanya Liam penuh selidik seraya memeriksa buku yang tadi dibaca Angga.
"Buku bisnis?" Liam berdecak dan geleng-geleng kepala.
"Calon direktur di perusahaan Hadinata," ujar Robert pamer.
"Apa Faranisa boleh mendaftar sebagai calon istri Angga?" Tanya Liam berkelakar.
"Bisa dipertimbangkan mungkin jika nanti Angga tertarik," sahut Robert menanggapi kelakaran Liam.
"Pasti tertarik!" Ujar Liam penuh percaya diri.
"Kami pergi dulu! Salam untuk Yumi, Fairel, dan Faranisa." Pamit Robert akhirnya seraya menggandeng tangan Angga.
"Oh, ya! Ngomong-ngomong, Fairel kemarin bertanya kenapa Om Robert sekarang jarang datang dan mengajaknya bermain." Tukas Liam yang mengikuti langkah Robert dan sepertinya hendak mengantar Robert ke lift.
"Aku cari waktu senggang dulu." Liam tidak janji.
"Ada playground luas di rumah Omi dan Opi, Uncle!" Celetuk Angga pamer pada Liam.
"Benarkah? Omi dan Opinya Angga rumahnya besar, ya?" Tanya Liam kepo.
"Besar sekali! Lebih besar dari rumah Uncle Liam!" Jawab Angga lebay.
"Iya, iya!" Liam berdecak dan sedikit sinis, sedangkan Robert hanya tertawa kecil. Kini mereka bertiga sudah sampai di depan lift.
"Kami pergi dulu," pamit Robert sekali lagi.
"Ya! Jaga baik-baik Angga dan Sita dan jangan mengabaikannya lagi!" Pesan Liam pada sang mantan asisten.
"Kemarin itu hanya khilaf," Robert mencari alasan seraya melangkah masuk ke dalam lift.
"Khilaf!" Cibir Liam bersamaan dengan pintu lift yang akhirnya tertutup. Robert memperhatikan satu tangan Angga yang masih terbalut perban dan menggantung di depan dada.
__ADS_1
"Masih sakit?" Tanya Robert pada Angga yang langsung menggeleng.
"Kita pulang hari ini, kan, Pa?" Angga balik bertanya pada Robert.
"Iya! Kau juga sudah kangen pada Omi dan Opi?"
"Iya, Pa!" Jawab Angga antusias bersamaan dengan lift yang akhirnya tiba di lantai paling bawah gedung Halley Development.
****
"Hai, sudah lama yang tiba?" Sapa Robert pada Sita yang sudah terlebih dahulu tiba di bandara bersama Pak Alwi dan Bu Tutik.
"Sekitar tiga puluh menit yang lalu. Kau dan Angga tadi kemana?" Tanya Sita setelah menjawab pertanyaan Robert.
"Ke kantor Liam sebentar karena kemarin aku mengirimkan asisten baru untuknya," jelas Robert.
"Lalu?"
"Liam sudah merasa cocok katanya. Jadi aku sudah resmi resign dari Halley Development sekarang," Robert tertawa kecil dan melempar tatapannya sejenak pada Angga yang sedang sibuk bercerita pada Pak Alwi.
"Syukurlah kalau begitu," gumam Sita seraya menyandarkan kepalanya di bahu Robert.
"Kapan kita bisa honeymoon?" Tanya Robert yang tangannya sudah melingkar di pinggang Sita. Robert sedikit menarik istrinya tersebut agar semakin merapag ke arahnya.
"Mungkin satu atau dua minggu lagi." Sita mengendikkan kedua bahunya.
"Kau mau honeymoon kemana nanti? Aussie? Atau keliling Eropa?" Tanya Robert lagi memberikan pilihan yang langsung membuat Sita membelalak.
"Kenapa harus jauh-jauh? Tidak di dekat-dekat sini saja?" Tanya Sita merasa ragu.
"Agar kau tidak bisa kabur lagi dan meninggalkan aku sendiri," jawab Robert yang langsung membuat Sita sedikit tersipu.
"Aku tidak kabur, oke! Aku hanya sedang menenangkan diri!" Ujar Sita mencari pembenaran.
"Baiklah, aku percaya!" Robert tertawa kecil dan lanjut mengecup kening Sita.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.