Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
DIA KEMBALI


__ADS_3

Sita keluar dari swalayan tempatnya bekerja saat hari beranjak gelap. Wanita itu langsung menuju ke tempat parkir untuk mengambil motornya. Motor pinjaman dari Teresa lebih tepatnya!


Sita baru selesai memakai helm, dan hendak menyalakan mesin motor, saat seseorang tiba-tiba muncul di depan motor Sita dan mencengkeram kap depan motor Sita.


Sita menahan nafas, saat melihat seseorang itu dalam keremangan. Wajahnya tertutup topi, tapi Sita masih bisa mengenalinya meskipun sudah lima tahun lebih Sita tak melihatnya.


"Kau bekerja disini sekarang?" Tanya pria itu seraya membuka topinya.


"Bukan urusanmu!" Jawab Sita ketus yang sudah menyalakan mesin motornya.


"Minggir!" Perintah Sita seraya menatap penuh amarah pada pria yang pernah menjadi suaminya tersebut. Namun saat mengingat perselingkuhan yang ia lakukan, Sita mendadak merasa jijik kepadanya.


"Minggir atau aku panggil security!" Ancam Sita sekali lagi pada Akshara yang menatap licik ke arahnya.


"Aku minta uang!" Ucap Akshara ti the point masih sambil menahan motor Sita agar tak melaju pergi.


"Aku tak punya uang!" Jawab Sita dengan nada suara yang sudah meninggi.


"Jangan bohong!" Akshara memukul kap depan motor Sita, lalu dengan cepat mencengkeram wajah Sita.


"Kau bekerja di swalayan itu! Jadi gajimu pasti besar dan kau pasti punya uang!"


"Cepat berikan uangmu!" Gertak Akshara galak seraya menarik wajah Sita mendekat ke wajahnya. Sita segera memalingkan wajahnya sebelun Akshara sempat menyentuh bibir Sita menggunakan bibirnya.


Menjijikkan!


"Berikan uangmu!" Gertak Akshara sekali lagi yang sudah memaksa untuk kembali mencium Sita.


"Lepas!" Sentak Sita berusaha meronta dan mekepaskan tangan Aksha yang masih mencengkeram wajahnya.


"Kau benar-benar keras kepala sejak dulu, Sita Anggraini!" Aksha sudah ganti menarik tas selempang Sita hingga talinya putus.


"Aksha!" Sita berusaha merebut kembali tas selempangnya, namub Akshara menghindar dengan cepat. Aksha mengambil amplop cokelat dari dalam tas Sita yang berisi gaji Sita bulan ini.


Sial!


"Kembalikan uang gajiku!" Teriak Sita pada Akshara yang langsung melempar tas Sita yang tadi sempat ia rebut.


"Ini uangku sekarang!" Jawab Akshara seraya mencium lembaran uang hasil keringat Sita selama satu bulan ini.


"Aksha! Itu untuk membayar uang masuk sekolahnya Angga!" Sita turun dari motor dan berusaha merebut uangnya kembali.


"Anak cengeng itu masih hidup?" Aksha tersenyum sinis pada Sita.

__ADS_1


"Kembalikan uangku!" Gertak Sita penuh emosi.


"Tidak akan! Anak cengeng itu tak perlu kau sekolahkan! Buang-buang uang saja!" Tukas Aksha yang benar-benar membuat Sita naik darah.


"Aksha!" Sita berusaha mengejar Aksha yang membawa kabur uangnya. Namun langkah Sita kalah cepat dari Aksha yang sudah menghilang di kegelapan malam.


"Auuw!" Sita meringis seraya memegangi perutnya bagian bawah. Wanita itu menarik nafas oanjang berulang kali demi meredakan sakit di perutnya.


"Akshara baj*ngan!" Maki Sita seraya kembali ke motornya masih sambil meringis sesekali karena nyeri di perutnya masih lumayan menyiksa. Sita duduk di motornya sebentar, dan setelah nyeri di perutnya sedikit reda, Sita segera pergi meninggalkan halaman parkir swalayan dan pulang ke rumah. Sekarang Sita benar-benar harus putar otak mencari uang untuk membayar uang masuk sekolah Angga.


Bagaimana sekarang?


****


Liam membuka pintu ruangan Robert dan pria itubteelihat masih sibuk dengan layar di depannya.


"Kau sudah mau pulang?" Tanya Robert seraya mengalihkan pandangannya sejenak dari layar komputer ke arah Liam yang masih berdiri di ambang pintu.


"Ya! Tapi sebelum pulang, aku punya pertanyaan untukmu," jawab Liam sok serius.


"Pertanyaan apa?" Tanya Robert dengan nada malas.


"Apa kau menyukai Sita?" Tanya Liam to the point. Robert tak langsung menjawab dan pria itu hanya diam cukup lama hingga Liam merasa bosan menunggu jawaban dari Robert.


"Rob!" Tegur Liam seraya melohat arloji di tangannya.


Kebiasaan!


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Liam bersungut pada Robert.


"Pertanyaan yang mana?" Tanya Robert seperti dugaan Liam.


Dasar menyebalkan!


"Apa kau menyukai Sita?" Liam mengulangi pertanyaannya dengan lebih lantang.


"Bukan urusanmu!" Jawab Robert berani.


"Tentu saja itu urusanku! Aku punya niat baik mencomblangkan kau dan Sita kalau memang kau menyukainya!" Ujar Liam blak-blakan.


"Mulia sekali niatmu! Tapi aku lebih suka berjuang sendiri--" Robert menghentikan kalimatnya secara tiba-tiba karena sepertinya Robert baru saja memberikan kode jawaban atas pertanyaan Liam tadi.


"Hahahaha! Kau menyukainya berarti!" Liam sudah menaik turunkan alisnya ke arah Robert.

__ADS_1


Robert memilih untuk tak menyahut dan pria itu kembali pura-pura sibuk dengan layar komputernya.


"Jangan tidur di kantor lagi malam ini, Robert Erlangga!" Pesan Liam memperingatkan Robert yang langsung mengangkat wajahnya kembali.


"Memangnya kapan aku tidur di kantor?" Tanya Robert pura-pura tak tahu.


"Tak usah pura-pura beg* begitu! Aku sudah memasang CCTV untuk mengawasi gerak-gerikmu, dan kau sudah tidur di kantor selama empat hari minggu ini!" Tukas Liam yang langsung membuat Robert mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangannya sendiri.


"Kau mau merangkap jadi detektif juga selain jadi tuan direktur?" Tanya Robert yang sudah bangkit berdiri lalu berkeliling di ruangannya sendiri untuk mencari keberadaan CCTV Liam.


"Kau tidak akan menemukannya!" Ejek Liam penuh percaya diri.


"Kau yakin?" Robert mengambil sebuah pajangan berbentuk buah apel, dimana ada satu lubang di depannya.


Sial!


Umpat Liam dalam hati karena baru saja ketahuan.


"Aku menemukan CCTV-mu, Pak direktur!" Robert ganti mengejek ke arah Liam.


"Taruh kembali di tempatnya!" Perintah Liam galak seraya menuding ke arah Robert bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering nyaring.


"Ibu negara sudah menelepon, Pak Direktur! Sebaiknya anda lekas pulang sebelum Ibu negara marah dan menyuruhmu tidur di luar," ujar Robert dengan ekspresi mengejek yang begitu lebay. Ibu negara adalah sebutan Robert untuk Yumi yang selalu menelepon Liam jika pria itu tidak pulang tepat waktu.


"Aku akan memasang CCTV yang baru!" Liam menuding sekali lagi paad Robert sekaligus memperingatkan.


"Aku akan pulang mulai malam ini, jadi tak perlu repot-repot!" Seru Robert pada Liam yang sudah masuk ke dalam lift.


"Pastikan kau pulang ke rumahmu sendiri dan bukan ke rumah Sita!"


"Kau harus menikahinya terlebih dahulu sebelum menjadikannya penghangat ranjangmu!" Pungkas Liam sebelum pintu lift tertutup.


"Dasar brengsek!" Gumam Robert seraya tersenyum simpul.


Saran Liam memang ada benarnya. Tapi Robert sudah terlanjur tidur bersama Sita beberapa waktu lalu, dan sekarang Robert tak berhenti memikirkan wanita itu.


Ada apa sebenarnya dengan Robert?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2