Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
SIAPA?


__ADS_3

"Shock, kelelahan, tekanan darah rendah." Dokter geleng-geleng kepala setelah memeriksa kondisi Sita.


Teresa memang langsung membawa Sita ke klinik dekat rumahnya saat tadi Sita pingsan tiba-tiba.


"Ibunya sedang hamil?" Tanya dokter pada Sita yang sudah sadar.


"Teman saya ini single, Dok! Jadi tak mungkin dia hamil." Jawab Teresa cepat mendahului Sita yang sudah gugup.


"Begitu? Makanya saya tanya agar tidak salah memberikan obat." Ujar dokter seraya menuliskan resep obat di atas kertas.


Namun penjelasan dokter justru membuat Sita ketar-ketir karena Sita juga tak mau mencelakai janin yang kini sedang tumbuh di rahimnya.


"Ini resepnya-"


"Dokter!" Sita menyela ucapan dokter dan menatap sejenak pada Teresa yang terlihat bingung.


"Iya bagaimana, Bu? Ada keluhan lain?" Tanya dokter menatap penuh tanya ke arah Sita.


"Saya sedang hamil enam minggu. Bisa tolong berikan obat yang aman untuk janin saya," pinta Sita yang akhirnya terpaksa berkata jujur. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Teresa sekarang, karena Sita memilih untuk menundukkan saja wajahnya.


"Hamil enam minggu, ya! Baiklah!" Dokter mengambil kembali kertas resep yang tadi ia berikan pada Teresa, lalu ganti menulis resep yang baru.


"Ini saya tambahkan vitamin untuk kehamilannya dan obat mual juga. Diminum secara teratur dan dijaga asupan nutrisinya, ya, Bu! Perbanyak makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan jangan stress," nasehat dokter panjang lebar.


"Dan jangan lupa untuk memeriksakan kandungannya secepatnya," imbuh dokter lagi.


"Iya, Dokter! Saya mengerti. Terima kasih banyak!" Ucap Sita yang langsung undur diri. Sita masih diam dan menggenggam erat kertas berisi resep obat dari dokter tadi dan berjalan ke arah apotik untuk mengambil obat


Teresa masih diam dan terus mengekori Sita, hingga setelah Sita menyerahkan kertas resep tadi, Teresa baru buka suara.


"Kau hamil dengan siapa?" Tanya Teresa setengah berbisik. Sita hanya bungkam dan enggan menatap pada Teresa yang tengah menggeram ke arahnya.


"Sita! Aku bertanya kepadamu!"


"Bukan urusanmu, dan tolong jangan ceritakan ini pada Angga, Bapak ataupun Ibu!" Jawab Sita yang akhirnya menatap tatapan tajam Teresa.


"Jangan ceritakan pada siapapun!" Mohon Sita sekali lagi pada Teresa.


"Apa ini ada hubungannya dengan pria bernama Robert itu?" Tebak Teresa yang langsung membuat hati Sita mencelos.


"Apa Robert yang sudah menghamilimu? Sudah sejauh mana sebenarnya hubunganmu dengan Robert?" Cecar Teresa yang masih mendelik ke arah Sita.

__ADS_1


"Ini hanya sebuah ketidaksengajaan!" Sergah Sita seraya memalingkan wajahnya dari Teresa.


"Ketidaksengajaan?"


"Aku butuh uang untuk operasi bapak, lalu salah satu pelanggan kue menawarkan sebuah pekerjaan yang bisa membuatku mendapatkan uang dengan cepat-"


"Pekerjaan macam apa? Kenapa kau tak menghubungi aku dan Will kalau memang butuh uang? Kami berdua pasti akan mengusahakannya!" Cecar Teresa penuh emosi.


"Aku sudah sering merepotkan kalian berdua!" Sergah Sita mencari alasan.


"Orang yang memberiku pekerjaan memberikan aku minuman yang entah dicampur apa. Yang aku rasakan panas dan rasa ingin disentuh." Sita berkata dengan lirih.


"Lalu?" Teresa mengernyit penasaran.


"Lalu aku tak sengaja bertemu Robert dan dia yang menyelamatkan aku dari pria hidung belang yang hendak menyewaku." Tutur Sita panjang lebar.


"Menyelamatkan?" Teresa berkata dengan sinis.


"Menyelamatkan dengan cara menidurimu dan kau diam saja sampai kau hamil pun kau masih diam!"


"Kau harus memberitahunya, Sita!" Nasehat Teresa menatap tegas pada Sita yang tetap kekeh menggeleng.


Setelah mengambil obat, Sita kembali menghampiri Teresa.


"Lagipula, saat ini mungkin dia sedang berada di dalam sel. Jadi aku tak mau membuatnya semakin terbebani," Sita menghapus airmata yang jatuh di pipinya.


"Aku yakin kalau dia menyimpan perasaan kepadamu!" Kalimat yang dilontarkan Teresa membuat Sita mengernyit bingung ke arah sahabatnya tersebut.


"Dia tidak mungkin begitu saja mengakui perbuatan yang tak dia lakukan demi menyelamatkanmu dari jeratan hukum."


"Beritahu dia, Sita!" Ucao Teresa menatap penuh harap pada Sita yang kini merem*s perutnya.


"Dia berhak tahu," sambung Teresa lagi berusaha meyakinkan Sita.


Sita tak menjawab sepatah katapun dan langsung melangkah meninggalkan Teresa yang masih duduk di depan apotik klinik, bersamaan dengan ponsel Teresa yang berdering dari dalam tas.


"Halo, selamat malam!" Sapa Teresa ramah.


"Selamat malam. Benar ini dengan Tere, owner Tim's Cake?"


"Ya! Saya sendiri. Ada apa, ya, Pak? Maj membuat orderan?" Tanya Teresa seramah mungkin.

__ADS_1


"Tidak!"


"Maaf, maksud saya iya. Tapi apa boleh saya tahu alamat Tim's Cake? Saya akan kesana dan memilih kuenya sendiru."


"Maaf kami hanya melayani pengantaran, Pak! Dan biasanya kami buat kue by request. Tidak ada yang ready di rumah," terang Teresa seraya tertawa kecil.


"Begitu, ya! Lalu apa saya bisa minta alamatnya untuk menjelaskan orderan saya secara langsung? Kalau lewat chat atau telepon takut anda tak paham."


"Boleh!" Teresa menyebutkan alamat lengkapnya pada seseorang di seberang telepon tanpa pikir panjang.


"Baiklah terima kasih, Tere! Selamat malam!


"Sama-sama! Malam juga!" Pungkas Teresa seraya menyimpan kembali ponselnya dan lanjut mengejar Sita yang sudah sampai di depan klinik.


****


Will baru tiba di rumah bersama Timmy, Angga, dan juga Bethany saat bapak dua anak itu mendapati seirang pria yang melongok-longok ke gerbang rumahnya.


"Om Robert!" Seru Angga yang langsung turun dari mobil dan menghampiri Robert, lalu memeluk pria itu dengan erat.


"Mama mana?" Tanya Robert seraya mengusap kepala Angga.


"Tadi di rumah sama tante Tere." Angga menunjuk ke arah rumah Teresa yang kini gelap dan sepertinya tak ada orang.


"Om Will! Mama kemana?" Angga bertanya pada Will yang sedang membuka pintu gerbang dengan kunci yang ia bawa.


"Om tidak tahu, Angga! Om telepon tante Tere sebentar." Will baru menyelesaikan kalimatnya, saat sebuah taksi berhenti di dekat rumah. Teresa dan Sita turun bersamaan dari dalam taksi. Namun Sita langsung diam membeku saat melihat Robert yang sudah ada di depan rumah Teresa.


Apa Robert baru saja kabur dari penjara?


.


.


.


Belum ngetik bab MP di sebelah udah ngantuk 🥱🥱


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2