Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
MAAF!


__ADS_3

Robert menggendong tubuh Sita yang pingsan dan langsung membawanya menuju ke mobil.


"Cepat ke rumah sakit!" Perintah Robert galak pada sopir yang duduk di belakang kemudi.


"Baik, Tuan!" Jawab sopir bersamaan dengan mobil yang sudah melaju meninggalkan kediaman Hadinata.


"Mama!" Teriak Angga yang berlari ikut berlari keluar dan berusaha mengejar mobil Robert yang tak lagi terlihat.


"Mama! Papa!" Teriak Angga yang akhirnya hanya bisa berdiri di teras rumah dan merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi pada Sita.


"Angga," Mami Indri sudah merangkul Angga yang masih berdiri di teras rumah.


"Mama kenapa, Omi?" Tanya Angga menatap sendu pada Mami Indri.


"Omi juga tidak tahu. Omi dan Opi akan ke rumah sakit-"


"Angga ikut!" Angga memegang lengan mami Indri dengan kuat.


"Angga hanya mau tahu Mama kenapa! Ajak Angga Omi!" Mohon Angga pada Mami Indri. Bisa Mami Indri lihat mata Angga yang sudah berair di balik kacamatanya.


"Bawa saja, Mi!" Ujar Papi Guntur yang baru keluar dari rumah. Mobil sudah siap di depan teras dan Papi Guntur segera meraih tangan Angga.


"Ayo, Angga!" Ajak Papi Guntur yang langsung membuat Angga buru-buru menghapus air matanya. Angga nengikuti Papi Guntur masuk ke dalam mobil dan Mami Indri juga menyusul masuk.


"Selamatkan Mama, Ya Tuhan!" Angga berdoa, sesaat sebelum mobil melaju meninggalkan kediaman Hadinata. Mami Indri dan Papi Guntur hanya saling bertukar pandang, sebelum kemudian keduanya sama-sama menatap pada Angga yang duduk di antara mereka dan masih khusyuk berdoa. Tak ada sepatah katapum yang keluar dan hanya ada kebisuan sepanjang perjalanan.


****


Dokter keluar dari ruangan dan Robert yang sejak tadi menunggu buru-buru menghampirinya.


"Dokter,"


"Maaf," ucap dokter lirih menatap prihatin pada Robert yang sudah tahu ini mengarah kemana.


"Kami terpaksa melakukan tindakan karena embrio gagal berkembang." Dokter menepuk pundak Robert.


"Apa itu artinya..." Robert menatap tak percaya pada dokter di depannya tersebut.


Di saat bersamaan, Papi Guntur, Mami Indri, dan Angga juga sudah tiba di rumah sakit.

__ADS_1


"Robert, bagaimana kondisi Sita?" Tanya Mami Indri pada Robert yang wajahnya sudah terlihat lesu. Robert tak menjawab pertanyaan sang mami dan langsung terduduk di kursi yang ada di dekatnya, lalu pria itu menyugar rambutnya dengan frustasi.


Apa ada yang salah dari keinginan Robert untuk menjadi seorang papa?


Setelah calon anak pertamanya bersama Sheila yang pergi sebelum sempat Robert peluk, kini calon anak keduanya yang baru beberapa minggu tumbuh di dalam kandungan Sita juga ikut pergi.


"Papa," panggil Angga seraya menghampiri Robert dan mengusap wajah pria itu.


"Mama baik-baik saja, kan? Kenapa papa menangis?" Tanya Angga seraya mengusap air mata yang meleleh di kedua sudut mata Robert.


"Mama baik-baik saja," jawab Robert lirih seraya meraup Angga ke dalam pelukannya.


Papi Guntur ikut duduk di samping Robert namun tak berucap sepatah katapun. Oeia paruh baya tersebut hanya menepuk punggung Robert seolah mengungkapkan rasa prihatin atas hal sedih yang baru menimpa Robert. Sementara Mami Indri hanya bersedekap dan menarik nafas panjang berulang kali. Mami kandung Robert tersebut juga melihat sejenak ke dalam kamar perawatan Sita, sebelum akhirnya kembali keluar dan ikut duduk bersama Robert, Papi Guntur, dan juga Angga yang kini berada di dalam pangkuan Robert. Empat orang itu hanya diam dan saling membisu


****


Sita mengerjapkan mata, saat seorang perawat sedang mengganti kantung infusnya yang sudah kosong dengan yang baru.


"Selamat pagi, Nyonya!" Sapa petawat itu ramah.


"Pagi," jawab Sita lirih.


"Saya permisi kalau begitu, Nyonya! Selamat pagi!" Pamit perawat tadi seraya berbalik, lalu keluar dari kamar perawatan Sita.


Sita menoleh ke arah sofa yang tak jauh dari bed perawatannya. Robert masih terlelap dan berbaring di sana sembari memeluk Angga yang juga sama-sama terlelap. Rasa bersalah langsung menyusup ke dalam relung hati Sita karena tidak bisa menjaga calon anak Robert dengan baik. Robert pasti merasa sedih dan sangat kecewa karena harus kembali kehilangan calon anaknya.


Sita mengusap butir bening yang meluncur dari kedua matanya, saat terdengar pintu kamar perawatan yang dibuka dari luar. Mami Indri masuk ke dalam kamar perawatan Sita, dan seperti biasa penampilan Mami kandung Robert itu selalu terlihat modis.


"Kau sudah bangun?" Tanya Mami Indri seraya menarik satu kursi untuk duduk di samping bed perawatan Sita.


"Selamat pagi, Nyonya!" Jawab Sita berbasa-basi sekaligus menyapa Mami Indri. Rasa sungkan untuk memanggil Mami pada mertuanya ini semakin membuncah di hati Sita, terlebih kini Sita yang tak lagi mengandung cucu mahkota keluarga Hadinata.


Sita hanyalah orang asing!


"Sepertinya kau begitu kesulitan memanggilku Mami." Mami Indri tertawa kecil.


"Seharusnya kau mengatakan sejak awal tentang kehamilanmu, agar kita semua bisa menjaganya dengan maksimal." Mami Indri menghela nafas berulang kali dan nampak sekali raut kekecewaan di wajah wanita paruh baya tersebut.


"Tapi semua mungkin sudah suratan takdir. Kau bisa merencanakan kehamilan lagi setelah pulih nanti."

__ADS_1


"Robert adalah putra kami satu-satunya dan kau sebagai istrinya, harus bisa melahirkan seorang putra yang kelak akan menjadi pewaris di keluarga Hadinata," tukas Mami Indri panjang lebar yang entah mengapa malah membuat ludah Sita menjadi pahit.


Harus bisa melahirkan seorang putra?


Apa itu artinya, pernikahan ini memang tak ada artinya dan hanya menjadi sarana untuk keluarga ini mendapatkan calon penerus di keluarga Hadinata?


"Intinya, tak perlu menunda-nunda jika nanti kau sudah pulih dan dokter juga sudah memberikan lampu hijau untuk hamil lagi." Tutur mami Indri lagi panjang lebar yang hanya dijawab Sita dengan anggukan samar.


"Mami!" Sapa Robert yang rupanya sudah bangun. Robert melepaskan pelukannya pada Angga dengan hati-hati karena bocah enam tahun itu masih tidur pulas.


"Mami hanya mampir untuk melihat kondisi Sita dan memberikannya dukungan atas apa yang baru saja terjadi," jelas Mami Indri serata bangkit dari duduknya.


"Jangan sedih-sedih lagi, Sita! Kau dan Robert pasti akan mendapatkan ganti secepatnya," ujar Mami Indri seraya mengusap kepala Sita.


"Mami pulang duluan, Robert!" Pamit Mami Indri selanjutnya pada Robert yang juga sudah mendekat ke bed perawatan Sita.


"Ya!" Jawab Robert singkat. Mami Indri menghampiri Angga sejenak dan mencium kening bocah itu sebelum lanjut keluar dari kamar perawatan Sita.


"Mami dan Papi menyayangi Angga," ungkap Robert seolah sedang memberitahu Sita yang hanya mengangguk samar.


Robert sudah ganti duduk di kursi di danoing bed perawatan Sita, lalu pria itu meraih tangan Sita dan menggenggamnya.


"Maaf!" Ucap Sita lirih, menatap penuh rasa bersalah pada Robert.


Rasa bersalah karena Sita tidak bisa menjaga calon anak Robert dengan baik.


"Semua sudah takdir," Robert tersenyum kecut dan rasa bersalah di hati Sita rasanya semakin berlipat-lipat sekarang. Robert mungkin terlihat tegar sekarang, namun Sita yakin kalau hatinya pasti begitu kecewa dan terluka.


Ya, semua memang salah Sita!


.


.


.


Aku kebut ini dulu hari ini 😭. Hutang 3000 kata 😭😭


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2