Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
TERIMA KASIH


__ADS_3

"Jadi bagaimana, sudah kelihatan jenis kelaminnya?" Tanya Papi Guntur pada Sita dan Robert yang baru menyelesaikan sarapannya.


"Kata dokter, adiknya Angga cewek, Opi!" Celetuk Angga yang langsung menjawab pertanyaan Papi Guntur.


"Benarkah?" Tanya Mami Indri memastikan.


"Iya, Mi! Sudah jelas terlihat dan kata dokter cewek," jawab Sita yang masih saja beranggapan kalau Mami Indri dan Papi Guntur mengharapkan seorang cucu laki-laki.


"Syukurlah! Nanti cucu kita jadi lengkap, ya, Mi!" Ucap Papi Guntur tiba-tiba yang benar-benar diluar dugaan Sita. Bahkan raut wajah papi mertua Sita tersebut juga menyiratkan kebahagiaan sekaligus rasa syukur.


"Jangan terlalu lelah, dan perbanyak istirahat, Sita! Apalagi sekarang sudah masuk tujuh bulan," pesan Mami Indri seraya mengusap perut Sita.


"Iya, Mi!" Jawab Sita patuh dan berusaha mengulas senyum.


"Jadi pergi?" Tanya Robert pada Sita yang langsung mengangguk.


"Mau kemana?" Tanya Mami Indri.


"Sita ingin jalan-jalan dan belanja beberapa perlengkapan bayi, Mi!" Jawab Robert.


"Tapi nanti langsung pulang kalau Sita sudah lelah, Robert!" Pesan Mami Indri.


"Iya, Mi!"


"Angga-"


"Angga ikut Papi ke kantor hari ini," tukas Papi Guntur.


"Kenapa dibawa ke kantor, Pi? Nanti kalau mengganggu atau membuat rusuh bagaimana?" Tanya Sita khawatir.


"Enggaklah! Calon direktur, ini!" Ujar Papi Guntur yang sudah menggandeng tangan Angga dan mengajak bocah itu meninggalkan ruang makan.


"Yeay! Ke kantor bareng Opi!" Sorak Angga girang.

__ADS_1


"Aku akan ganti baju dulu," ujar Sita akhirnya memecah kebisuan. Robert langsung sigap membantu Sita untuk bangkit berdiri, lalu membiarkan istrinya itu pergi ke kamar untuk berganti baju.


****


"Yah, antri," gumam Sita saat melihat penjual rujak langganannya yang sedikit ramai.


"Mau beli di tempat lain saja? Atau mau menunggu?" Tanya Robert memberikan pilihan.


"Tunggu saja. Tempat lain belum tentu seenak disini," jawab Sita setelah menimbang-nimbang.


"Aku belikan air minum dulu, nanti kita menyeberang bersama," pesan Robert yang sudah duluan keluar dari mobil


"Aku bisa menyeberang sendiri, Robert! Nanti kau menyusul, ya!" Jawab Sita yang baru saja akan keluar. Tapi dengan cepat dicegah oleh Robert.


"Jangan!" Robert menatap memohon pada Sita, karena kelebat bayangan saat Sheila menyeberang sendiri, lalu mobil sialan itu datang dan menghancurkan dunia Robert, kembali menari-nari di benak Robert.


"Jangan menyeberang sendiri!" Pinta Robert lagi memohon pada Sita yang langsung diam dan menatap lekat wajah Robert.


"Istri Robert meninggal karena tertabrak mobil saat sedang hamil enam bulan."


"Baiklah, aku akan menunggu disini sementara kau membeli minum. Nanti kita menyeberang bersama," ucap Sita akhirnya dan Robert langsung terlihat menarik nafas lega.


"Aku tak akan lama!" Ujar Robert yang sudah berlari ke arah sebuah warung kecil di pinggir jalan. Tak berselang lama, Robert sudah kembali lagi seraya membawa sebotol air mineral untuk Sita.


"Sudah!" Robert membukakan pintu untuk Sita, dan membimbing istrinya itu agar turun perlahan.


Sita menggamit erat lengan Robert dan pasangan suami istri tersebut menyeberang dengan hati-hati, lalu langsung menuju ke tukang rujak langganan Sita


****


Suara tangisan bayi dari dalam kamar persalinan, merobek keheningan malam. Jam menunjukkan pukul satu dinihari, saat bayi Sita dan Robert akhirnya lahir ke dunia, setelah melalui proses persalinan yang lumayan cepat. Sita bahkan masih jalan-jalan dan bercengkerama bersama Angga sore tadi, lalu Robert membawa Sita ke rumah sakit pukul sepuluh malam karena wanita itu sudah merasakan kontraksi. Dan tepat pukul satu dinihari, bayi mungil Sita dan Robert sudah lahir.


"Selamat, jenis kelaminnya perempuan," ucap dokter yang membantu proses persalinan Sita.

__ADS_1


Selesai dibersihkan, bayi langsung diletakkan di dada Sita dan Robert tak kuasa menahan airmata haru, saat akhirnya bayi mungil yang delama ini ia nantikan dan ia rindukan akhirnya lahir dengan sehat dan sempurna.


"Dia cantik," puji Robert seraya mengusap-usap pipi gembil bayi perempuannya.


"Wajahnya Robert sekali," Sita tersenyum kecil.


"Tapi hidupnya seperti Angga," ujar Robert yang langsung diiyakan oleh Sita.


"Sudah menyiapkan nama?" Tanya Sita selanjutnya pada sang suami.


"Ya!"


"Aura," bisik Robert memberitahu Sita.


"Kenapa nama itu?" Tanya Sita penasaran.


"Karena ia adalah aura baru di kehidupanku. Begitupun dengan kau dan Angga," jelas Robert yang langsung membuat Sita mengangguk.


"Hai, Baby Aura!" Sapa Sita lirih yang merasa benar-benar gemas pada kedua pipi gembil baby Aura.


"Hai, Baby Aura! Tumbuhlah menjadi wanita kuat dan tegar seperti mamamu," ucap Robert seraya mengusap kepala mungil baby Aura, lalu lanjut mencium kening Sita.


"Terima kasih karena sudah berjuang melahirkan bidadari kecil kita."


.


.


.


Tamat....


Eh, ada bonchap dikit habis ini 😁😁

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2