
Sita memejamkan matanya sejenak untuk menikmati suara gemericik air dari taman kecil yang berada tepat di depannya dan Mami Indri. Dua wanita itu sedang duduk di kursi taman yang berada di taman samping kediaman Hadinata.
Seorang maid datang membawakan teh mawar serta aneka camilan, lalu menyajikannya di meja yang berada di tengah-tengah Mami Indri dan Sita.
"Kenal Robert dimana?" Tanya Mami Indri membuka percakapan.
"Di sebuah supermarket," jawab Sita sedikit ragu.
"Kau?" Mami Indri mengernyit.
"Saya sedang bekerja sebagai kasir, Nyo-"
"Maaf!" Koreksi Sita cepat.
"Saya sedang bekerja sebagai kasir, Mami," Sita mengulangi jawabannya.
"Kasir?" Wanita paruh baya di hadapan Sita tersebut semakin mengernyit.
"Robert sering mampir untuk membeli rokok dan minuman kemasan," Sita memperjelas. Tapi kejadian itu benar adanya saat Sita sedang bekerja di Yellowmart dekat Halley Development. Lalu Robert sering bolak-balik ke Yellowmart hanya untuk membeli minuman kemasan, kadang rokok, dan kadang air mineral saja.
"Tapi kata Dyrtha, kau dan Robert pernah terlibat one stand night sebelum Robert menikah dengan Sheila. Lalu kenapa kau tidak mencari Robert dan minta pertanggungjawaban?"
"Kau malah memilih membesarkan Angga sendirian dan membiarkannya tumbuh di lingkungan yang mungkin tidak layak."
"Angga seharusnya sudah mendapatkan pendidikan terbaik sejak dini, andai kau mau jujur dan minta pertanggungjawaban Robert!" Mami Indri bercerocos panjang lebar dan kepala Sita mendadak jadi pening sekarang.
Skenario yang dibuat Dyrtha benar-benar telah membawa Sita ke dalam kebohongan demi kebohongan.
"Nyonya, boleh saya jujur tentang satu hal?" Sita akhirnya menjawab setelah berulang kali menarik nafas panjang. Sita tak mau lagi kebohongan ini terus berlanjut.
"Panggil Mami, Sita! Kau harus membiasakan diri terutama jika kita nanti berkumpul bersama teman-teman Mami." Ujar Mami Indri panjang lebar yang lagi-lagi membuat Sita haris menarik nafas panjang.
Sita menelan ludahnya dengan susah payah.
"Iya, Mami!"
Mami Indri mengangguk dan mengulas senyum.
"Jadi, kau tadi ingin bicara jujur tentang apa?" Tanya Mami Indri selanjutnya dengan nada bicara lembut.
"Tolong jangan membuat ini rumit, Sita!"
"Jika hubunganku dengan mami dan papi kembali memanas, Dyrtha akan kembali membuka kasus itu!"
Kalimat permohonan dari Robert kembali berkelebat di benak Sita. Haruskah Sita jujur sekarang?
Sita dan Mami Indri mengalihkan pandangan mereka sejenak, saat terlihat Robert yang asyik bermain bersama Angga, dimana Angga sedang naik di punggung Robert yang berpura-pura menjadi kuda. Tawa lepas keduanya sesaat membuat hati Sita mencelos.
Jika Sita jujur sekarang, besar kemungkian ia dan Angga akan langsung ditendang keluar dari kediaman Hadinata. Padahal Angga terlihat begitu bahagia di rumah besar ini. Tawa Angga bahkan belum pernah selepas itu. Angga seolah sudah menemukan sosok papa yang benar-benar sempurna dan memahami Angga segalanya.
"Sita!" Teguran Mami Indri menyentak lamunan Sita.
"Saya sebenarnya adalah seorang janda," ucap Sita akhirnya membuat pengakuan.
__ADS_1
Mami Indri yang sedang memegang cangkir di tangannya, langsung meletakkan benda itu ke atas meja dan menatap penuh selidik pada Sita.
"Dan Angga...." Sita memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas panjang.
"Namanya adalah Airlangga, dan dia bukan anak kandung Robert," ungkap Sita selanjutnya setelah susah payah wanita itu menelan ganjalan pahit di tenggorokannya.
"Airlangga adalah anak saya bersama mantan suami saya yang sudah mati di tangan saya."
"Semua cerita Dyrtha tentang Angga dan saya hanya sebuah skenario demi memperbaiki hubungan Robert dengan anda dan tuan Hadinata, Nyonya!" Tutur Sita panjang lebar mengungkapkan semua kebohongan yang sudah dilakukan oleh Robert dan Dyrtha.
"Maaf!" Pungkas Sita lirih seraya menatap penuh penyesalan pada Mami Indri. Sita bangkit berdiri dengan cepat, lalu meninggalkan Mami Indri tanpa pamit.
"Toilet dimana?" Tanya Sita pada Maid yang kebetulan berpapasan dengannya. Perut Sita rasanya seperti diaduk-aduk sekarang.
"Di sana, Nona!" Maid menunjukkan pada Sita letak toilet, dan Sita segera masuk ke dalam, lalu mengunci pintu.
"Apa Sita baik-baik saja, Mi?" Tanya Robert yang sudah menghampiri Mami Indri. Tadi Robert sempat melihat Sita berjalan tergesa ke arah toilet dan Robert khawatir kalau-kalau Sita salah makan atau makan sesuatu yang membuatnya mual.
Mami Indri tak langsung menjawab pertanyaan Robert dan malah menatap tajam.pada putranya tersebut. Dan dusaat bersamaan, Angga juga sudah menghampiri Robert serta Mami Indri.
"Papa! Ayo main lagi!" Ajak Angga seraya menarik lengan Robert.
Mami Indri menatap sejenak pada Angga yang berkacamata dan berwajah bulat seperti bentuk wajah Sita.
"Namanya adalah Airlangga, dan dia bukan anak kandung Robert."
"Angga!" Mami Indri berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Angga yang langsung mengulas senyum dan menatap Mami Indri penuh binar kehangatan.
"Angga main dulu di playground bersama Mbak, ya!"
"Baik, Omi!" Jawab Angga patuh yang langsung berlari kembali ke playground. Angga mengambil bola basket di sudut playground, lalu melemparnya berulang-ulang ke dalam ring basket kecil yang berada di dalam playground.
"Ada apa, Mi?" Tanya Robert menangkap sesuatu yang tak beres disini.
Apa yang baru saja diobrolkan oleh Sita dan Mami Indri memangnya.
"Kita bicara di kamar Mami, agar Papimu tahu sekalian!" Jawab Mami Indri seraya berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Tahu apa maksudnya?" Tanya Robert tak mengerti yang langsung mengikuti langkah Mami Indri.
Mami Indri tak menjawab, dan terus mengayunkan langkahnya menuju ke kamar. Sedangkan Robert terus mengekiri sang mami bersama sejuta pertanyaan yang kini bercokol di benaknya.
"Papi!" Panggil Mami Indri setelah wanita paruh baya itu membuka pintu kamar, lalu masuk bersama Robert dan kembali menutupnya.
"Ada apa ini?" Tanya Papi Guntur yang menatap bergantian pada Robert dan Mami Indri.
"Sita baru saja membuat pengakuan!" Mami Indri bersedekap dan menatap tajam pada Robert.
"Pengakuan tentang dirinya dan Angga yang sebenarnya bukan anak kandung Robert!" Lanjut Mami Indri dengan nada bicara yang mulai meninggi. Tapi tentu wanita paruh baya itu tak akan khawatir ada yang menguping dari luar, karena kamar ini kedap udara.
"Apa?" Raut wajah Papi Guntur langsung berubah menjadi terkejut.
"Apa itu benar, Robert?" Papi Guntur ganti bertanya pada Robert yang sejak tadi diam.
__ADS_1
"Jawab, Robert! Apa itu benar? Apa kau sudah dengan sengaja membohongi Papj dan Mami?" Mami Indri berkata dengan berapi-api dan menunjuk-nunjuk pada Robert.
"Iya itu benar!" Jawab Robert tegas dan lantang.
Mami Indri langsung memegangi dadanya dan sedikit terhuyung ke belakang. Buru-buru Papi Guntur menahan tubuh istrinya tersebut.
"Keterlaluan kamu, Robert! Apa maksudmu-"
"Robert hanya ingin memperbaiki hubungan diantara kita bertiga!" Sela Robert mengungkapkan alasannya sebelum Papi Guntur selesai bertanya.
"Lagipula, apa masalahnya jika Robert menikahi Sita dan menjadi papa sambung untuk Angga?"
"Robert mencintai dan menyayangi mereka berdua!" Lanjut Robert tetap dengan nada tegas dan suara yang lantang.
"Dan jika sekarang Mami serta papi menentang pernikahan Robert dan Sita, maka Robert akan kembali angkat kaki dari rumah ini bersana Sita, Angga, dan calon anak Robert yang ada di dalam kandungan Sita!" Ungkap Robert lagi yang langsung membuat Papi Guntur dan Mami Indri membelalakkan kedua mata mereka.
"Sita sedang hamil?" Tanya mami Indri tak percaya.
"Ya! Sita sedang hamil dua bulan! Sita sedang mengandung calon anak Robert, calon cucu Mami dan Papi!" Jawab Robert yang suaranya terdengar bergetar.
Hati Robert mencelos mengingat calon anak pertamanya bersama Sheila yang bahkan belum sempat Robert beritahukan pada Mami Indri dan Papi Guntur. Andai waktu itu Robert tak keras kepala dan mendengarkan sedikit saja permintaan Sheila.
Tapi semua memang sudah takdir!
"Kita akan punya cucu, Pi!" Ucap Mami Indri akhirnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kita akan punya cucu!" Gumam Mami Indri lagi, bersamaan dengan pintu kamar yang diketuk dari luar.
Ketukan terdengar tergesa dan berulang-ulang sepertinya ada sesuatu yang penting.
Robert yang paling dekat dengan pintu akhirnya bergerak untuk membuka pintu, sementara papi Guntur membimbing Mami Indri untuk duduk di sofa yang ada di kamar.
"Ada apa?" Tanya Robert pada maid yang tadi mengetuk pintu. Wajah maid itu terlihat panik ketakutan.
"Nona Sita, Tuan," ucap maid gemetaran.
"Sita kenapa?" Tanya Robert tak sabar.
"Nona Sita pingsan di kamar mandi dan ada darah dari pangkal pahanya-"
"Apa?" Robert mendorong maid tadi dan segera berlari ke arah kamar mandi untuk melihat kondisi Sita.
"Sita!"
Tidak!
Calon anakku!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.