Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
MENIKAHLAH DENGANKU!


__ADS_3

Sita diam membeku saat melihat Robert yang kini sudah berdiri di depan rumah Teresa seraya merangkul Angga.


"Itu mama, Om!" Celetuk Angga memberitahu Robert.


"Sita, apa kau baik-baik saja?" Tanya Robert yang wajahnya terlihat cemas. Sita yang tadi hanya membeku seolah tersadar lalu mengangguk samar pada Robert.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Sita lirih.


"Om Robert mau jemput Angga dan Mama, ya?" Tanya Angga yang sudah mendongakkan kepalanya ke arah Robert.


"Kita tak akan kemana-mana, Angga! Kita menginap di rumah Timmy malam ini!" Ucap Sita tegas pada sang putra. Angga langsung merengut.


"Sebaiknya kau mengajaknya masuk dan bicara di dalam saja!" Saran Teresa pada Sita seraya berbisik.


"Aku tak akan memberitahunya!" Balas Sita ikut berbisik.


"Terserah! Tapi jika mau berdebat, silahkan selesaikan di dalam sebelum tetangga mendengar!" Saran Teresa lagi seraya berjalan ke arah pintu utama rumahnya.


Bethany terlihat sudah mengantuk . Jadi Teresa segera mengambil putrinya itu dari gendongan Will, lalu masuk ke dalam rumah.


"Masuklah ke dalam, Robert!" Ujar Will mempersilahkan.


"Terima kasih, Will!" Jawab Robert canggung.


"Ayo, Timmy, Angga!" Will ganti mengajak kedua bocah laki-laki di depannya untuk ke dalam. Timmy menurut namun Angga menolak.


Sita hanya menghela nafas dan akhirnya ikut masuk ke dalam rumah Teresa. Robert mengekori wanita itu dan langsung duduk bersama Angga di kursi ruang tamu.


"Kau sakit?" Tanya Robert khawatir karena melihat Sita yang membawa seplastik obat di tangannya.

__ADS_1


"Hanya shock dan sedikit pusing. Makanya tadi Tere mengantarku ke dokter," Jelas Sita tetap tanpa menyebut tentang kehamilannya.


"Kau sendiri, bagaimana ceritanya bisa bebas dan sudah disini? Tahu rumah Tere darimana?" Cecar Sita menyelidik pada Robert, sebelum kemudian Sita ingat pada Robert yang dekat dengan keluarga Halley terutama Liam Halley. Mungkin mereka yang membantu membebaskan Robert entah dengan uang sogokan entah dengan koneksi yang mereka miliki. Orang kaya memang selalu bisa melakukan apa saja!


"Aku hanya dimintai keterangan di kantor polisi tadi dan berhubung yang tewas adalah tahanan yang kabur juga, jadi mereka membebaskan aku," cerita Robert sedikit janggal. Tapi Sita hanya mengangguk dan pura-pura percaya.


"Soal rumah Teresa?" Sita mengulangi pertanyaannya yang kedua.


"Anne Halley yang memberitahu kontak Tere, dan aku menghubungi Tere tadi sebelum kemari," jelas Robert menjawab pertanyaan Sita.


"Hoooaaaam!" Angga yang sejak tadi duduk di samping menguap lebar dan sepertinya sudah ngantuk juga.


"Ayo ke kamar Timmy dan tidur, Angga!" Ajak Sita seraya bangkit dari duduknya. Angga menggeleng.


"Angga mau bobok sama Om Robert, Ma!"


"Om Robert nginep disini juga malam ini, kan?" Tanya Angga yang sudah meletakkan kepalanya di pangkuan Robert.


"Nanti Om Robert pergi. Trus kalau ada yang mau nyelakain Angga dan Mama lagi bagaimana?"


"Mama sampai nggak berani pulang karena takut di rumah. Om jagain Angga dan Mama, ya!"


"Om Robert kan pahlawannya Angga!" Cerocos Angga panjang lebar yang hanya ditanggapi Robert dengan senyum tipis. Berbeda dengan Sita yang langsung menghela nafas berkali-kali.


Sita memperhatikan Angga yang sudah mengantuk. Perlahan tetapi pasti, kedua netra bocah enam tahun itu akhirnya terpejam dan tangan Robert tetap tak berhenti mengusap-usap kepala Angga.


Sita sudah kembali bangkit dan hebdak mengambil Angga dari pangkuan Robert, namun cepat dicegah oleh Robert.


"Dia akan bangun jika langsung kau pindahkan."

__ADS_1


"Tunggu lima sampai sepuluh menit dulu," tukas Robert lagi yang mau tak mau terpaksa membuat Sita kembali duduk di tempatnya tadi. Robert sudah kembali mengusap-usap kepala Angga, lalu dengan perlahan melepaskan kacamata yang masih melekat di wajah Angga dan memberikannya pada Sita.


"Angga tidur dimana?" Tanya Robert sedikit berbisik dan menatap pada Sita yang tampak gugup.


"Ka-mar Timmy," jawab Sita.


"Robert mengangguk dan segera menggendong Angga dengan perlahan. Sita ikut bangkit berdiri dan menunjukkan pada Robert kamar yang akan dipakai Angga dan dirinya tidur malam ini.


Sita membenarkan letak bantal, sebelum Robert merebahkan dengan hati-hati tubuh Angga di atas tempat tidur. Robert kembali mengusap kepala Angga, lalu mencium kening bocah itu cukup lama.


Sedangkan Sita hanya mematung melihat perhatian serta kasih sayang tulus dari Robert pada Angga. Pria itu bahkan bukan siapa-siapanya Angga. Tak ada hubungan darah apapun. Lalu kenapa kasih sayangnya melebihi seorang ayah pada anaknya? Apa Robert juga melakukan hal yang sama pada semua anak di keluarga Halley?


Sita menghela nafas sekali lagi.


"Kau bisa pulang sekarang, Robert! Angga sudah tidur," ucap Sita mengusir Robert secara halus. Wanita itu masih berdiri di dekat pintu dan belum beranjak dari tempatnya.


Robert bangkit berdiri dan mendekat ke arah Sita yang kembali merasa gugup. Robert menatap lekat wajah Sita dan tentu saja hal itu malah membuat Sita menjadi salah tingkah. Robert sudah semakin dekat pada Sita yang refleks melangkah mundur. Tapi tak bisa terlalu jauh karena ada dinding kamar di belakang Sita.


"Sita!" Robert tiba-tiba sudah meraih tangan Sita yang tentu saja membuat Sita kaget. Bukan itu saja, Robert kini bahkan sudah berlutut dengan satu kakinya di depan Sita dengan tetap menggenggam tangan wanita itu.


"Menikahlah denganku, Sita!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2