
"Saya ingin menikahi Sita, Pak!" Ucap Robert dengan nada tegas dan raut wajah serius. Tadinya Robert dan Pak Alwi sedang berbincang di ruang tamu rumah Pak Alwi. Sita sendiri sedang di belakang bersama Bu Tutik, entah sedang berbuat apa.
Pak Alwi diam sejenak dan sepertinya kaget juga dengan lamaran Robert yang tiba-tiba.
"Nak Robert serius?" Tanya Pak Alwi akhirnya yang sepertinya masih merasa ragu dengan keseriusan Robert.
"Saya serius, Pak! Saya ingin menikahi Sita dan menjadi papa untuk Angga," jawab Robert bersungguh-sungguh.
"Apa tidak sebaiknya dipikirkan lagi secara masak-masak, Nak Robert?" Ujar Pak Alwi memberikan saran.
"Sudah saya pikirkan dan saya pertimbangkan, Pak! Dan saya sudah benar-benar serius."
"Saya ingin menikah dengan Sita," ucap Robert sekali lagi dengan nada lebih tegas.
"Saya berjanji tidak akan menyakiti Sita dan akan berusaha untuk membuatnya bahagia," lanjut Robert berjanji pada Pak Alwi.
Sepertinya pria di depan Pak Alwi itu memang keras kepala.
"Sita!" Pak Alwi akhirnya memanggil Sita yang kemudian keluar dengan wajah yang terlihat gugup. Sepertinya Sita tadi menguping pembicaraan Robert dan Pak Alwi.
"Iya, Pak! Ada apa?" Tanya Sita yang langsung duduk di dekat Pak Alwi.
"Sita, Nak Robert baru saja menyampaikan keinginannya untuk meminang kamu. Apa kamu bersedia?" Tanya Pak Alwi pada Sita yang hanya menundukkan wajahnya.
Sita mengangkat sejenak wajahnya dan menatap pada Robert yang ternyata tengah menatapnya dengan lekat.
"Bagaimana, Sita? Kau setuju tidak?" Tanya Pak Alwi sekali lagi karena Sita tak kunjung memberikan jawaban.
"Iya, Pak!" Jawab Sita akhirnya dengan suara lirih.
"Iya setuju?" Pak Alwi memastikan dan Sita mengangguk samar.
"Coba ngomong sendiri ke Robert!" Titah Pak Alwi yang langsung membuat Robert bangkit dari duduknya. Robert mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku, lalu bersimpuh di hadapan Sita seperti yang tadi malam ia lakukan. Mungkin bedanya tadi malam Robert melamar tanpa cincin, sedangkan sekarang pria itu sudah membawa cincin untuk Sita.
"Maukah kau menikah denganku, Sita Anggraini?" Tanya Robert yang benar-benar mengulangi tindakannya semalam. Sita benar-benar dibuat salah tingkah, atas sikap romantis Robert tersebut.
Sita menatap lekat wajah Robert sebelum kemudian bibirnya berucap lirih,
"Ya, aku mau."
Robert mengulas senyum dan segera menyematkan cincin tadi ke jari manis Sita. Lalu setelahnya Robert kembali duduk di kursi dan berbicara lago pada Pak Alwi.
"Apa bisa jika pernikahannya digelar besok pagi, Pak?" Tanya Robert meminta izin.
__ADS_1
"Kenapa mendadak sekali, Nak Robert?" Tanya Pak Alwi sedikit curiga.
"Karena..." Robert menatap sejenak pada Sita yang wajahnya sudah berubah tegang.
"Lusa saya harus pulang ke rumah orang tua saya, Pak! Saya ingin membawa Sita dan Angga sekalian," terang Robert akhirnya berkata jujur.
"Kau masih punya orang tua?" Sita terlihat kaget.
"Ya, mereka masih sehat." Jawab Robert dengan raut datar.
Lucu juga kalau dipikir-pikir.
Bertahun-tahun Robert pergi dari rumah dan tak pernah menganggap mereka sebagai orangtuanya. Namun kini tiba-tiba Robert malah mengakuinya.
"Jadi, Nak Robert ini hendak menikahi Sita tanpa sepengetahuan orang tua Nak Robert?" Tanya Pak Alwi mulao khawatir.
"Mereka sudah tahu, Pak! Saya sudah menghubungi. Dan mereka juga tak pernah ikut campur tentang siapa pendamping hidup yang saya pilih. Mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada saya," terang Robert mengarang indah. Meskipun dalam hati Robert juga berdoa agar nanti Papi Guntur dan Mami Indri mau menerima Sita serta Angga dengan tangan terbuka.
Pak Alwi mengangguk dan akhirnya bernafas lega.
"Jadi bagaimana, Pak?" Robert masih menantikan izin Pak Alwi untuk menikahi Sita besok.
"Kalau memang itu sudah jadi keputusan Nak Robert untuk menikah besok, bapak tak akan menghalangi. Bukankah hal baik harus disegerekan?" Tutur Pak Alwi yang langsung membuat bibir Robert melengkungkan senyum. Robert menatap pada Sita yang sejak tadi hanya menundukkan wajahnya. Disaat bersamaan, Angga yang tadi tidur sudah bangun juga.
"Ma, Om Robert sudah pulang?" Tanya Angga dengan suara serak khas bangun tidur dan kedua tangan yang masih mengucek-ngucek matanya.
"Papa masih disini, Angga!"
Sita dan Robert mebjawab berbarengan, namun dengan jawaban berbeda.
Angga sudah berhenti mengucek matanya dan bicah itu sedikit kaget saat tadi Robert menyebut papa dan bukan Om.
"Tadi Om Robert bilang papa?" Tanya Angga seraya mendekat ke arah Robert.
"Ya! Sekarang panggilnya papa, ya!"
"Om sudah jadi papanya Angga mulai sekarang," jelas Robert seraya membawa Angga ke dalam pangkuannya. Kedua mata Angga terlihat berbinar tak percaya, dan bocah itu langsung memeluk Robert.
"Benar, Om Robert sudah jadi papanya Angga mulai sekarang?" Angga masih belum percaya.
"Iya, bener!" jawab Robert seraya mengusap-usap punggung Angga.
"Yeay! Angga punya papa!" Angga tirun dari pangkuan Angga dan melompat-lompat bahagia.
__ADS_1
"Kakek, Angga punya Papa!" Seru Angga pada Pak Alwi yang ikut tersenyum bahagia dan mengangguk.
"Angga, berhenti melompat!" Sita memperingatkan sang putra, saat kemudian Angga langsung melompat ke pangkuan Sita dan dengkulnya menabrak perut Sita.
"Auw!" Sita mengaduh dan raut wajah Robert juga sudah berubah khawatir.
"Maaf, Ma!" ucap Angga cepat seraya mengusap perut Sita.
"Sakit, ya?" Tanya Angga lagi yang sudah membuat Sita ketar-ketir. Apalagi tadi saat Sita di dokter kandungan, Robert juga membawa Angga masuk ke ruang periksa. Meskipun tadi Robert tak mengatakan kalau Angga akan segera punya adik, tapi tetap saja Sita merasa waswas kalau-kalau Angga keceplosan.
"Enggak, kok!" Jawab Sita cepat.
"Om-"
"Eh, Papa!" Angga mengoreksi panggilannya pada Robert.
"Apa, Angga?"
"Nanti Papa antar Mama ke dokter yang tadi, ya! Biar perut mama diperiksa lagi," pinta Angga pada Robert yang langsung membuat Pak Alwi mengernyit.
"Ke dokter?"
"Kamu sakit, Sita?" Tanya Pak Alwi menyelidik.
"Sita...."
"Sita salah makan kemarin, Pak! Jadi muntah-muntah. Makanya tadi Robert mengantarnya ke dokter agar diperiksa dan ditangani dengan tepat," Robert yang akhirnya menjelaskan pada Pak Alwi. Pria itu sepertinya memang pandai mengarang cerita.
"Masih berhubungan dengan asam lambung kamu kemarin itu, Sit?" Tanya Bu Tutik yang sudah ikut bergabung di ruang tamu.
"Iya, Bu!" Jawab Sita yang masih sedikit gugup karena kehamilannya hampir saja diketahui oleh Pak Alwi dan Bu Tutik.
"Lain kali diperhatikan lagi makannya, Sita! Jangan sampai telat, jangan makan sembarangan juga!" Nasehat Bu Tutik selanjutnya.
"Iya, Bu!" Jawab Sita patuh.
Obrolan kembali berlanjut, dan ganti membahas tentang pernikahan Robert dan Sita yang rencananya akan digelar besok secara sederhana.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.