
"Om Dyrtha!" Seru Angga pada seorang pria yang sedang berjalan ke arah Robert, Sita, dan Angga.
"Brengsek!" Umpat Robert saat melihat sepupu menyebalkannya itu yang sudah benar-benar mirip cenayang. Kenapa Dyrtha bisa berada dimanapun Robert berada dan seolah bisa menebak Robert ada di mana.
"Hai, Buddy!" Sapa Dyrtha pada Angga sebelum kemudian Dyrtha mengajak bocah enam tahun itu untuk melakukan tos.
"Mau bertemu Omi dan Opi, ya?" Tanya Dyrtha selanjutnya pada Angga yang tentu saja membuat Sita mengernyitkan kedua alisnya.
Siapa pria ini?
"Dia siapa?" Tanya Sita pada Robert yang masih menggeram kesal.
"Sepupuku. Tapi tidak usah kau hiraukan apapun yang dia bicarakan! Dia memang menyebalkan sejak dulu," terang Robert berbisik-bisik pada Sita.
"Eheeeem!" Dyrtha yang melihat Robert sedang berbisik-bisik pada Sita langsung berdehem untuk menegur keduanya.
"Jadi, ini..."
"Ini Mamanya Angga, Om!" Angga menyahut dengan cepat dan memberitahu Dyrtha.
"Mamanya Angga, ya! Apa itu artinya itu juga adalah istrinya Papa Robert," tanya Dyrtha selanjutnya sedikit berbisik pada Angga.
"Heem! Angga sekarang punya Papa dan Mama," jawab Angga pamer
"Hai, Sita! Aku Dyrtha, sepupunya pria ini," Dyrtha memperkenalkan dirinya pada Sita yang tampak mengernyit heran.
"Kau tahu namaku?" Tanya Sita masih mengernyit.
"Tentu saja! Robert sering cerita tentang kau."
"Tapi kau terlihat biasa saja, ya! Padahal aku pikir-"
"Dyrtha!" Tegur Robert pada Dyrtha yang menatap Sita dengan remeh. Dasar tidak sopan.
"Seleramu beda jauh dari sebelumnya, tapi tak masalah asal hubunganmu dengan Aunty dan Uncle segera membaik," bisik Dyrtha mengomentari penampilan Sita. Namun bisikan Dyrta tidak bisa dibilang pelan karena Sita bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Aku tak butuh komentarmu!" Gertak Robert galak, dan Dyrtha hanya tersenyum sinis.
"Ngomong-ngomong, Kathlyn dimana, Om?" Tanya Angga selanjutnya pada Dyrtha. Rupanya bocah itu juga masih ingat pada Kathlyn yang namanya pernah disebut oleh Dyrtha. Benar-benar luar biasa ingatan Angga!
"Ada! Angga mau ketemu?" Dyrtha sudah membawa Angga ke dalam gendongannya dan membawanya ke pintu utama bandara.
"Iya!" Jawab Angga penuh semangat.
"Kau mau membawanya kemana, Dyrtha?" Tanya Robert seraya mengikuti langkah Dyrtha masih sambil menggandeng Sita.
"Bertemu Omi dan Opinya tentu saja!" Jawab Dyrtha santai.
__ADS_1
"Tapi sebaiknya kita ke butik dulu agar Aunty tak terlalu shock melihat menantu barunya," kekeh Dyrtha yang terang-terangan mengejek penampilan Sita yang memang terlihat sederhana.
Sita langsung menghentikan langkahnya dan Robert mau tak mau ikut berhenti.
"Ada apa? Mual lagi," tanya Robert khawatir.
"Apa maksud ucapan Dyrtha tadi? Mami kamu shock melihat penampilanku?" Tanya Sita meminta penjelasan Robert.
"Dyrtha hanya bercanda, tak perlu kau anggap serius! Dia memang menyebalkan seperti itu," jelas Robert seraya merapikan beberapa rambut Sita yang lolos dari ikatan, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
"Apa mami dan papimu akan mengusir aku dan Angga nanti? Pernikahan kita bahkan belum mereka ketahui," tanya Sita lagi memastikan.
"Mereka tak akan mengusir kau dan Angga, Sita!"
"Percayalah kepadaku!" Ucap Robert yang sudah merengkuh kedua pundak Sita dan berusaha meyakinkan istrinya tersebut.
Sita menatap lekat wajah Robert dan masih merasa ragu.
"Kau juga sedang mengandung calon cucu mereka, jadi mereka tak akan mungkin mengusirmu," lanjut Robert lagi yang tangannya sudah terulur untuk mengusap perut Sita.
"Ayo kita bertemu mereka!" Ajak Robert selanjutnya, dan Sita akhirnya mengangguk. Robert merangkul Sita dan keduanya melanjutkan langkah mereka mengikuti Dyrtha dan Angga yang sudah sampai di tempat parkir.
****
"Kau harus menuruti saranku, Robert!" Ujar Dyrtha lagi keras kepala.
"Kau tidak mencintai Sita dan Angga memangnya?" Tanya Dyrtha memojokkan Robert.
"Aku mencintai Sita dan aku juga menyayangi Angga! Jika Papi dan Mami keberatan dengan status Sita dan Angga, aku akan kembali pergi dari rumah dan tak perlu kembali ke rumah mewah mereka lagi!" Sergah Robert berapi-api.
"Kau benar-benar akan menjadi anak durhaka!"
"Kau mau menyiksa mami dan papimu dalam kesepian di hari tua mereka?" Cecar Dyrtha seraya berdecak berulang-ulang.
"Mereka yang menyiksa diri mereka sendiri! Mereka yang selalu menentang hubunganku dengan wanita manapun! Jadi ini bukan salahku!"
"Bukankah kau dulu juga menikah dengan wanita pilihanmu sendiri tanpa tentangan dari Uncle dan Aunty?" Robert membalikkan kata-kata Dyrtha.
"Mom dan Dad sudah meninggal, jauh sebelum aku menikah," ujar Dyrtha mengingatkan sang sepupu dan Robert langsung terlihat menyesal.
"Maaf, aku tak bermaksud-"
"Tidak apa-apa! Aku sudah terbiasa." Jawab Dyrtha santai.
"Itu juga alasanku selalu merongrong dan memaksamu untuk memperbaiki hubunganmu bersama Aunty Indri dan Uncle Guntur!"
"Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari saat kau sudah kehilangan mereka," ujar Dyrtha yang sedikit menyentil hati Robert.
__ADS_1
"Tapi aku juga tidak mau membohongi mereka perihal status Angga!" Robert masih saja keras kepala.
Dyrtha memang mengusulkan pada Robert untuk memakai skenario, kalau Angga adalaha anak Robert hasil cinta satu malamnya bersama Sita di masa lalu sebelum Angga menikahi Sheila. Jadi Dyrtha ingin membuat skenario seolah-olah Angga adalah cucu mahkota yang sudah lama hilang. Jadu dengan begitu, Mami Indri fan Papi Guntur akan langsung menerima kehadiran Angga tanpa bertanya lagi latar belakang bocah itu.
"Kau benar-benar suka bermain sulit, hah?" Dyrtha kembali berdecak dan kini pria itu mulai terlihat kesal.
"Sita akan langsung tersinggung jika aku memakai skenario konyolmu itu!" Sergah Robert mendelik pada Dyrtha.
"Aku akan menjelaskan pada Aunty di belakang dan bukan di depan Sita! Jadi istri jandamu itu tidak akan tahu-"
"Dyrtha!" Geram Robert pada Dyrtha yang membawa-bawa status Sita.
"Baiklah, jadi istri barumu itu tak akan tahu!" Dyrtha mengulangi kalimatnya.
"Lagipula, papa kandungnya Angga itu kan pria brengsek jadi bagusnya memang tidak usah dianggap ada." Lanjut Dyrtha lagi seraya tertawa kecil.
"Angga adalah anak kandungmu, oke!"
"Camkan itu!" Pungkas Dyrtha bersamaan dengan Sita dan Angga yang sudah selesai berganti baju. Mereka berempat memang sedang berada di sebuah butik di kota tersebut.
"Papa, lihat Angga!" Angga memamerkan setelan tuksedo mininya pada Robert yang langsung mengulas senyum.
"Angga ganteng, nggak?" Tanya Angga lagi meminta pendapat Robert.
"Ganteng sekali! Persis papa Robert saat kecil dulu!" Bukan Robert, melainkan Dyrtha yang malah memberikan komentar.
"Benarkah, Om?" Kedua mata Angva berbinar tak percaya.
"Benar!" Jawab Dyrtha yakin.
Sedangkan Sita yang kini mengenakan gaun selutut warna navy juga terlihat anggun dan sedikit berbeda. Robert menatap cukup lama pada istrinya yang terlihat lebih cantik tersebut karena sentuhan make up di wajahnya juga.
"Ada apa? Apa penampilanku aneh?" Tanya Sita merasa minder.
"Kau cantik," puji Robert seraya mengusap wajah Sita.
"Aku akan ganti baju dulu, lalu kita berangkat!" Ujar Robert selanjutnya dan Sita hanya mengangguk.
Robert segera masuk ke dalam ruang ganti, lalu setelah semuanya siap, mereka langsung meluncur ke sebuah hotel dimana acara anniversary pernikahan Papi Guntur dan Mami Indri digelar.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.