Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
APA MASALAHNYA?


__ADS_3

"Minum dulu!" Teresa mengangsurkan segelas air putih pada Sita yang masih terlihat gemetar. Angga sendiri sudah dibawa pergi jalan-jalan oleh Will bersama Timmy dan Bethany agar bocah itu melupakan kejadian yang baru saja ia lihat.


Tadi setelah Robert digelandang oleh polisi, Sita memang langsung menghubungi Teresa dan menceritakan semuanya. Sita tadinya minta pada Teresa agar diantar ke kantor polisi, namun Teresa mencegah dan menenangkan Sita. Teresa berpikir, jika Robert sampai menyerahkan diri dan menggantikan posisi Sita, mungkin pria itu memang punya koneksi dan pemecahan masalahnya di kantor polisi nanti. Kehadiran Sita bisa-bisa malah membuat semua rencana Robert menjadi runyam. Jadi sekarang Sita akan tinggal sementara di rumah Teresa sampai Pak Alwi dan Bu Tutik kembali.


"Kau tadi sudah makan? Wajahmu pucat," tanya Teresa khawatir yang langsung membuat Sita menggeleng. Sita memang tak ada selera makan beberapa hari belakangan efek dari kehamilannya. Dan sekarang ditambah masalah baru lagi membuat wanita itu merasa semakin bingung.


Sita hanya ingin melihat wajah Robert sekarang.


"Kau harus makan!" Ucap Teresa seraya bangkit berdiri lalu pergi ke arah dapur. Tak berselang lama, Teresa sudah kembali membawakan sepiring nasi lengkap untuk Sita. Namun baru suapan pertama yang masuk ke perut Sita, wanita itu sudah merasakan mual. Sita segera berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah.


"Sita!" Teresa menyusul ke kamar mandi dan mengusap-usap punggung Sita.


"Maaf!" Ucap Sita yang wajahnya sudah semakin pucat. Sita baru saja akan keluar dari kamar mandi saat kemudian wanita itu jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.


"Sita!"


****


"Robert ternyata adalah putra tunggal keluarga Hadinata!" Ungkap Liam seraya menatap satu persatu anggota keluarga Halley yang kini berkumpul di ruang tengah kediaman Halley. Tidak semuanya sebenarnya. Hanya ada Kak Thalia dan Abang Daniel, serta Anne dan Abi, lalu Dad Devan dan Mom Belle.


"Dia menyembunyikan identitasnya selama ini, melamar kerja di Halley Development, padahal dia sendiri punya belasan perusahaan yang tersebar di seantero negeri!"


"Pria itu benar-benar kurang ajar!" Liam sudah bersungut-sungut dan Yumi terpaksa bangkit berdiri seraya mengusap punggung Liam agar emosi suaminya itu sedikit reda. Yumi tak mau Liam terkena darah tinggi di usia muda.


"Kalau menurut Abi bukan sepenuhnya salah Abang Robert!" Pendapat Abi yang langsung membuat semuanya menoleh ke arah suami Anne tersebut.


"Abang Liam yang tak menyelidiki asal-usul Abang Robert denagn detail!" Pendapat Abi lagi.


"Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Robert yang bekerja dengan cekatan serta memiliki ilmu bela diri yang mumpuni. Kata Liam waktu itu, kapan lagi punya sekretaris yang bisa merangkap jadi bodyguard juga." Timpal Yumi seraya menirukan ucapan Liam saat memuji-muji Robert saat pria itu pertama kali menjadi sekretarisnya dan sudah sukses membuat hidung Ben jadi berdarah.


"Kau pikir aku maho sampai aku jatuh cinta pada Robert?" Liam bersungut pada Yumi.


"Kepincut? Tertarik? Kesengsem?" Yumi mengoreksi istilahnya dan membuat para anggota keluarga Halley tertawa kecuali Liam tentu saja yang tetap bersungut.


"Memang masalahnya apa kalau ternyata Robert adalah putra tunggal keluarga Hadinata?" Tanya Mom Belle yang akhirnya ikut angkat suara.

__ADS_1


"Liam tidak suka dibohongi, Mom!" Jawab Liam dengan nada bicara meninggi.


"Bekerja sebagai asisten tapi ternyata dia sendiri seorang konglomerat!"


"Mungkin sudah bosan jadi orang kaya dan tuan direktur, Bang! Jadi mencoba profesi baru sebagai asisten Abang Liam Halley yang banting stir dari tuan model jadi tuan direktur," celetuk Anne ikut-ikutan berpendapat.


"Liam juga heran. Kenapa para klien tak ada yang mengenalinya? Apa sebelum-sebelumnya tuan Hadinata itu menyembunyikan wajah putra mahkotanya?" Liam masih bersungut.


"Robert mengubah penampilannya!" Ujar Abang Daniel seraya menunjukkan perbandingan foto Roberto Hadinata dengan Robert Erlangga.


"Wow! Ternyata Abang Robert macho juga saat rambutnya gondrong dan ada jambangnya." Puji Anne seraya bersiul setelah melihat penampakan Robert saat menjadi tuan muda Roberto Hadinata.


"Anne!" Tegur Mom Belle pada sang putri yanv masih sempat-sempatnya memuji pria lain di depan Abi yang notabene adalah suami sahnya.


"Tenang, Mom! Abi tidak cemburuan seperti Dad atau Abang Liam."


"Bukan begitu, Sayang?" Anne mengerling nakal pada Abi lalu mencium sekilas pipi suaminya tersebut. Langsung terdengar dengkusan dari Dad Devan yang sejak tadi hanya diam.


"Kau mau dicium juga?" Mom Belle mencium pipi Dad Devan dan Anne langsung tergelak.


"Anne sudah beranak pinak, Dad masih saja cemburu melihat Anne mesra-mesraan sama Abi!" Ledek Anne pada Dad Devan.


"Hanya? Ini hal penting, Kak!" Sergah Liam emosi.


"Iya, terserah! Kau kan direkturnya. Kalau kau merasa dirugikan atas kebohongan Robert, tinggal kau pecat saja pria itu." Ujar Thalia ikut-ikutan bersungut. Memang sebelas dua belas adik kakak beda ibu tersebut.


"Lalu kau tak akan punya sekretaris yang merangkap jadi bodyguard lagi," Abang Daniel meledek Liam.


"Kau bisa ganti menjadi sekretaris sekaligus asisten Liam, Daniel!" Usul Dad Devan pada sang menantu.


"Daniel sudah jadi asistennya Kyle, Dad!" Daniel mengingatkan.


"Resign!"


"Dan mulailah mengabdi pada Halley Development! Kau itu menantu keluarga Halley dan bukan menantu keluarga Arthur! Kyle biar mencari asisten baru!" Ucap Dad Devan tegas.

__ADS_1


"Daniel mau jadi asistennya siapa itu biarkan menjadi pilihannya, Dev! Kenapa kau malah mengatur-atur?" Sergah Mom Belle seraya memukul lengan Dad Devan.


"Aku cuma mengarahkan!"


"Lagipula, kita punya tiga menantu pria, tapi tak ada satupun yang mengabdi pada Halley Development!" Dad Devan kembali bersungut-sungut.


"Abi saja yang jadi asisten abang Liam bagaimana, Dad?" Usul Abi mengajukan diri.


"Tidak!" Tolak Dad Devan tegas.


"Kau sudah bagus-bagus mengurus B&D Resto, jadi jangan coba-coba selingkuh!" Dad Devan mendelik ke arah Abi yang hanya meringis.


"Nanti biar Yumi yang jadi sekretaris Liam, Dad!" Thalia memberikan jalan keluar.


"Faranisa akan langsung punya adik selusin dan pekerjaan di kantor tak akan beres kalau Kak Yumi jadi sekretarisnya abang Liam," celetuk Anne memberikan gambaran andai Yumi yang jadi sekretaris Liam. Semuanya sontak tergelak.


"Kau pikir otakku hanya berisi hal-hal mesum?" Liam menoyor kepala Anne yang selalu menyebalkan.


"Abang!" Cebik Anne yang hendak membalas namun meleset. Saat itulah, terdengar salam dari pintu depan.


"Selamat malam!"


Semua anggota keluarga Halley kompak menoleh pada pria yang kini penampilannya berantakan tersebut.


"Robert!"


"Ayo duduk sini!" Mom Belle mempersilahkan dengan ramah dan Robert merasa sedikit ragu karena delikan mata Liam yang sepertinya kurang bersahabat. Apa tuan direktur itu sedang marah sekarang?


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2