
Sita dibuat terperangah saat baru memasuki ballroom sebuah hotel, dimana acara anniversary pernikahan kedua orangtua Robert digelar. Menilik dari konseo acaranya yang amat sangat mewah, serta tamu undangan yang hampir semuanya mengenakan baju dan jas mahal, kedua orangtua Robert sepertinya bukan orang sembarangan.
"Ada apa?" Tanya Robert pada Sita yangvterpihat ragu saat akan mrlangkah lebih ke dalam lagi. Sita mengeratkan genggaman tangannya pada Angga dan wanita itu mrmatung di tempatnya. Sementara Dyrtha sudah hilang tak tahu rimbanya. Entah kemana perginya sepupu Robert tersebut.
"Tempatnya besar sekali, Ma! Bagus juga, banyak bunga-bunga," celetuk Angga menatap ke sekelilingmya yang memamng dihiasi dekorasi bunga-bunga sehar dan bukan hanya sekedar bunga plastik seperti yang sering Sita temui saat menghadiri acara di tetangganya dulu.
"Ini rumah Omi dan Opi, ya, Pa?" Tanya Angga menatap pada Robert yang langsung mengulas senyum.
"Bukan, Angga! Ini bukan rumah Omi dan Opi. Tapi nanti Papa akan mengajak Angga ke rumah Omi dan Opi," janji Robert pada putra sambungnya tersebut.
"Ayo masuk dan bertemu Mami dan Papi," ajak Robert selanjutpada Sita yang hanya mematung, saat tiba-tiba seorang pria berbadan tegao dan mrngenakan baju safari hitam menghampiri Robert.
"Tuan muda, anda datang?" Pria itu terlihat menyapa Robert dengan segan dan memanggil Robert...
Tuan muda?
Sita menatap pada Robert yangvraut wajahnya hanya datar dan tak sedikitpun membalas tatapan Sita.
"Papi dan Mami masih menemui tamu?" Tanya Robert berbasa-basi pada pria tadi.
"Iya, Tuan. Akan saya beritahu kalau anda datang," ujar pria berbaju hitam tadi seraya berlalu dari hadapan Robert dan Sita.
Robert menggeser langkahnya dan merangkulkan lengannya pada Sita, serta tangan lainnya meraih Angga dan melingkar di dada Angga.
"Apa maksudnya ini, Robert? Kenapa pria tadi memanggilmu tuan muda? Kau siapa sebenarnya?" Cecar Sita seraya mendongakkan kepalanya ke arah Robert, berharap suaminya itu akan memberikan penjelasan.
"Aku Robert," jawab Robert yang hanya membalas tatapan tajam Sita sekilas sebelum kemudian pria itu kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Kau menyimpan rahasia apa sebenarnya-"
"Roberto!" Sapaan dari seorang wanita parih baya, membuat Sita tak jadi melanjutkan cecarannya pada Robert.
"Kau datang?" Wanita paruh baya tadi tiba-tiba sudah memeluk Robert erat. Sita segera menarik Angga dan sedikit melangkah mundur demi menjaga jarak dari ibu dan anak yang sepertinya tengah melepas rindu tersebut.
__ADS_1
"Ma!" Angga menarik lengan Sita, dan Sita langsung berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Angga.
"Ada apa?"
"Itu Ominya Angga, ya?" Tanya Angga sedikit berbisik pada Sita. Sesekali putra Dita itu akan membenarkan kepalanya dan menatal.lekag pada Robert yang sedang dipeluk oleh Mami Indri. Robert hanya diam mematung, seolah tak sedikitpun rindu pada sang mami.
"Mama tidak tahu," ujar Sita akhirnya menjawab pertanyaan Angga.
"Roberto!" Seorang peia paruh baya ganti menyapa Robert. Raut wajahnya serupa dengan Robert dan terlihat beberapa kemiripan di antara keduanya.
"Kau akhirnya pulang?" Nada bicara Papi Guntur terdengar sinis.
"Papi!" Tegur Mami Indri pada sang suami.
"Siapa wanita ini, dan--"
"Opi!" Panggil Angga pada Papi Guntur yang langsung mengernyit. Sita buru-buru mendekap Angga dan kembali beringsut mundur serta menjaga jarak dari Papi Guntur.
"Hai, Jagoan!" Papi Guntur tiba-tiba sudah berjongkok dan menyapa Angga, serta menatap lekat wajah anak laki-laki berusia enam tahun tersebut.
"Opi!" Sapa Angga lagi seraya memeluk Papi Guntur.
"Apa dia anakmu, Robert?" Tanya Mami Indri memastikan. Dan Robert langsung mengangguk samar.
"Ya!" Jawab Robert singkat dan Mami Indri ikut bersimpuh untuk ganti memeluk Angga.
"Omi!" Sapa Angga pada Mami Indri yang matanya terlihat berbinar bahagia. Mami Indri tak berhenti mengusap wajah Angga.
"Cucu Omi!" Mami Indri kembali memeluk Angga dengan haru.
"Berapa usia Angga?" Tanya Papi Guntur selanjutnya.
"Enam tahun, Opi!" Jawab Angga antusias.
__ADS_1
"Sama seperti cerita Dyrtha, Pi! Mami kira anak itu hanya membual!" Ujar Mami Indri yang seolah tak mau melepaskan pelukannya pada Angga.
"Kenapa baru sekarang kamu bawa mereka pulang, Robert?" Papi Guntur sudah bangkit berdiri dan menatap pada Robert seolah minta penjelasan.
"Robert baru bertemu dengan mereka, Pi." Ujar Robert yang tentu saja semakin membuat Sita bingung.
"Kau terlalu sibuk mengejar anak penjahat itu--"
"Papi!" Tegur Robert tak senang karena lagi-lagi Papi Guntur mencela Sheila.
"Sudah, Pi! Kangan merusak suasana! Robert sudah pulang sekarang dan cucu serta calon menatu kita juga sudah pulang--"
"Robert dan Sita sudah menikah, Mi!" Sela Robert mengoreksi. Mami Indri langsung mengulas senyum bahagia.
"Bagus sekali kalau begitu. Nanti Mami akan mengurus resepsi pernikahan kalian berdua," ujar Mami Indri lagi yang begitu antusias.
"Resepsi?" Sita bergumam bingung. Wanita itu benar-benar bingung dengan semua yang terjadi malam ini. Sita merasa seperti orang bodoh yang berada di tengah-tengah sekumpulan orang kaya yang entah sedang membahas apa.
Ada banyak sekali pertanyaan yang bercokol di kepala Sita sekarang. Dan Sita ingin menanyakan semuanya pada Robert.
Sita harus tahu semua yang disembunyikan oleh Robert tentang asal-usulnya, lalu tentang Papi Guntur dan Mami Indri yang bisa-bisanya mengura Angga adalah anak kandunh Robert.
Drama macam apa ini yang sedang terjadi malam ini sebenarnya?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1