
"Bapak yakin mau ikut pergi?" Tanya Sita yang sedang membantu Bu Tutik mengemas beberapa pakaian dan menyusunnya ke dalam sebuah tas besar. Rencananya Bu Tutik akan ke rumah saudaranya dan menginap beberapa hari karena ada acara.
"Iya, Bapak sudah sehat, Sita! Jadi bapak akan pergi menemani ibu."
"Lagipula, kasihan ibu kamu kalau pergi sendiri," jelas Pak Alwi.
"Baiklah, kalau begitu!" Sita mengalungkan syal ke leher Pak Alwi agar tak kedinginan di jalan.
"Angga sudah tidur? Kok tumben nggak ada suaranya?" Tanya Bu Tutik pada Sita.
"Iya, tadi tidur cepat, Bu! Sepertinya tidak tidur siang, ya?" Sita balik bertanya pada sang ibu.
"Keasyikan main dengan Nak Robert tadi, jadi lupa tidur siang." jelas Bu Tutik seraya tertawa kecil.
"Robert kesini lagi?" Tanya Sita yang raut wajahnya langsung berubah.
"Ya! Yang tadi agak lama dan sempat mengajak Angga keluar juga. Katanya ke kedai es krim." Jawab Bu Tutik.
"Kebiasaan! Sudah dibilang jangan dekat-dekat!" Gumam Sita kesal.
"Memang apa masalahnya, Sit? Nak Robert itu terlihat tulus menyayangi Angga! Kenapa kamu sewot begitu?" Cecar Bu Tutik berpendapat.
"Masalahnya, Sita tidak mau kalau Angga itu jadi bergantung pada Robert, Bu!" Jawab Sita dengan nada meninggi.
"Hhhh!"
"Kapan kamu akan mulai membuka hati, Sit? Angga itu juga butuh sosok seorang papa!" Tukas Bu Tutik akhirnya yang merasa tak tahan lagi dengan kerasnya hati Sita.
"Sudah ada bapak yang menjadi sosok papa untuk Angga selama ini!" Sergah Sita mencari pembenaran meskipun kemudian celotehan Angga saat meminta papa pada Sita kembali berkelebat di benak ibu satu anak tersebut.
"Ma, Om Robert boleh jadi papanya Angga, nggak?"
"Om Robert baik hati, mau jadi papanya Angga, nggak?
"Ma, kenapa Angga nggak punya papa seperti teman-teman yang lain? Angga kan juga ingin diajak memancing atau diajari sepeda oleh papa."
Hati Sita mencelos mengingat semua celotehan Angga tersebut.
"Tetap saja rasanya berbeda, Sita!" Nasehat Pak Alwi lembut.
"Dan semakin bertambahnya usia Angga, anak itu akan semakin merindukan sosok seorang papa," sambung Pak Alwi lagi.
__ADS_1
"Sita akan memberikan Angga pengertian, Pak! Angga anak yang patuh dan pengertian, jadi dia pasti akan memahami semuanya," tukas Sita sebelum kemudian wanita itu berlalu ke kamar mandi dan muntah-muntah.
"Sit apa asam lambungmu kambuh lagi?" Tanya Bu Tutik yang sudah menyusul Sita.
"Sepertinya begitu, Bu!" Jawab Sita seraya berkumur-kumur.
"Jangan suka menunda-nunda makan! Jaga kesehatan!" Nasehat Bu Tutik seraya mengusap lembut punggung Sita.
"Iya, Bu! Sita akan jaga kesehatan."
Beep beep!
Terdengar suara klakson dari depan rumah.
"Itu taksinya Bapak dan Ibu sudah datang," ujar Sita yang berferak cepat menyambar tas berisi pakaian kedua orang tuanya tadi. Sita membawanya ke depan rumah, dan Bu Tutik serta Pak Alwi mengikuti langkah Sita.
"Mungkin Ibu dan Bapak akan menginap empat sampai lima hari,", ungkap Bu Tutik memberitahu Sita.
"Nanti Angga biar Sita titipkan pada Teresa selagi Sita bekerja, Bu! Jawab Sita menenangkan sang ibu.
"Baiklah! Ingat pesan ibu tadi dan jangan telat-telat makan lagi!" Pesan Bu Tutik sekali lagi.
"Iya!"
Sita melambaikan tangan dan menunggu hingga taksi meluncur pergi meninggalkan rumah sederhana Sita.
Wanita itu menghela nafas dan masuk ke dalam rumah serta tak lupa mengunci pintu depan.
Sita mengambil sesuatu dari kamarnya yang sudah sejak beberapa hari lalu ia beli namun Sita masih merasa ragu untuk memakainya. Wanita itu lanjut masuk ke kamar mandi, membawa sebuah mangkuk plastik. Setelah menampunh air seninya, Sita membuka kemasan berwarna biru yang tadi ia ambil dari kamar. Sita segera melakukan tes dan menunggu beberapa saat. Tangan wanita itu gemetar saat mengangkat testpack dari dalam mangkuk plastik. Sita memperhatikan dengan seksama garis merah di atas benda pipih panjang tersebut dan seketika Sita langsung membeku.
Bagaimana ini?
Tok tok tok!
"Ma!"
"Mama di dalam?" Ketukan di pintu, serta panggilan dari Angga membuyarkan lamunan Sita.
"Iya, Angga! Ada apa?" Seru Sita dari dalam kamar mandi. Tangan Sita sudah dengan cekatan membereskan semua yang baru saja ia lakukan. Sita membungkus rapi testpack tadi dan menyumpalkannya ke tempat sampah yang berada di dalam kamar mandi.
"Angga kebelet, Ma! Mama masih lama?" Jawab Angga kembali bersetu dari luar kamar mandi.
__ADS_1
"Sebentar mama keluar!" Jawab Sita tergagap dan memeriksa sekali lagi barangkali ada sesuatu yang tercecer dan membuat Angga curiga. Tapi semuanya sudah bersih dan setelah memastikan sekali lagi, Sita bergegas membuka pintu kamar mandi dan keluar.
"Angga kebelet, Ma!" Ucap Angga lagi yang langsung merangsek masuk, setelah Sita keluar dari kamar mandi. Sita sendiri lanjut berjalan ke dapur untuk mengambil air minum karena kini kerongkongannya terasa kering.
Haruskah Sita menghubungi Robert dan berterus terang tentang semua ini?
Tapi waktu itu Sita terlanjur mengatakan pada Robert kalau ia memakai kontrasepsi. Apa Robert akan percaya nantinya?
Sita meneguk satu gelas air putih lagi karena kini hatinya merasa bimbang. Semua ini terjadi karena kebodohan Sita yang mau-mau saja menerima pekerjaan bergaji tinggo dalam waktu semalam.
Andai malam itu Sita tak bertemu Madam, pasti Sita tak akan pernah tidur dengan Robert dan mengandung anak pria itu sekarang.
Sita benar-benar bimbang sekarang!
****
Robert terbangun dan melirik jam di atas nakas yang baru menunjukkan pukul dua dinihari. Mimpi Robert malam ini sedikit aneh dan berbeda dari sebelum-sebelumnya. Jika biasanya bermimpi tentang Sheila adalah hal biasa bagi Robert, namun malam ini Robert justru memimpikan hal lain.
Seorang wanita yang sedang menggendong sesuatu di tangannya...
Sita!
Robert mengusap wajahnya sendiri berulang kali, lalu bangkit dari atas tempat tidur dan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Robert duduk termenung di minibar yang ada di dapur, sembari memainkan botol airvmineral yangbbaru saja ia ambil dari dalam kulkas.
Pria itu kembali memikirkan tentang mimpinya tadi. Belakangan ini atau lebih tepatnya sejak Robert tidur dengan Sita, Robert memang jadi sering memikirkan mama kandung Angga itu. Rasa bersalah, rasa ingin bertanggung jawab dan sebuah perasaan aneh lain menjadi alasan Robert untuk selalu menemui Sita, meskipun pada akhirnya wanita itu selalu menghindar dan enggan bertemu Robert. Beruntun ada Angga yang selalu bisa menjadi alasan Robert.
"Hhhh!"
Robert menghela nafas dan tersenyum simpul, lalu pria itu meneguk air dari botol di tangannya hinggavtandas tak bersisa.
"Aku memakai kontrasepsi!"
Kalimat Sita pagi itu, saat Robert mengatakan kalau ia akan bertanggung jawab apabila terjadivsatu hal yangbtak diinginkan kembali berkelebat di benak pria itu. Jika benar Sita memakai kontrasepsi, maka kecil kemungkinan wanita itu akan mengandung anak Robert.
Meskipun Robert sendiri masih bertanya-tanya, untuk apa Sita memakai kontrasepsi jika wanita itu saja sudah berpisah dari mantan suaminya lima tahun lebih?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.