Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
CINCIN


__ADS_3

"Angga!" Panggil Kathlyn saat gadis lima tahun itu baru tiba di kediaman Hadinata bersama sang Mommy.


"Angga!"


"Kath!" Sapa Mami Indri seraya menghampiri Kathlyn.


"Omi, Angga mana?" Tanya Kathlyn to the point.


"Angga belum pulang. Tadi pergi bersama Opi dan Kakeknya."


"Kathlyn kesini sama siapa?" Tanya Mami Indri pada putri Dyrtha tersebut.


"Mommy. Tuuu!" Kathlyn mengarahkan telunjuknya ke arah pinti dimana Mizty baru menyusul masuk.


"Malam, Aunty!" Sapa Mizty pada Mami Indri.


"Malam! Tidak pergi bersama Dyrtha, Miz?"


"Tadi agak kurang enak badan, Aunty! Tapi sekarang sudah baikan dan Kathlyn juga merengek minta kesini bertemu Angga." jelas Mizty.


"Angga masih belum pulang. Ayo duduk dulu mumpung Kathlyn sudah asyik di playground," ajak Mami Indri pada Mizty.


"Ada tamu, Bu?" Tanya Bu Tutik yang sudah ikut bergabung bersama Mami Indri dan Mizty.


"Eh, ini ibunya Sita, ya?" Tanya Mizty yang langsung mencium punggung tangan Bu Tutik dengan sopan.


"Iya, ini Bu Tutik. Sementara tinggal disini sampai resepsi pernikahan Sita dan Robert digelar nanti." Jelas Mami Indri.


"Ini Mizty, Bu! Istrinya Dyrtha, sepupu Robert." Mami Indri ganti mengenalkan Mizty pada Bu Tutik yang hanya mengangguk dan mengulas senyum.


"Yang itu pasti Kathlyn." Tanya Bu Tutik seraya menunjuk ke arah Kathlyn yang bermain sendiri.


"Iya, Bu! Angga sering cerita, ya?" tebak Mizty seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Saat itulah Bu Tutik melihat cincin di jari manis Mizty yang mengingatkannya pada sesuatu.


"Nak Mizty, Ibu boleh lihat cincinnya? Kok sepertinya Ibu kenal," izin Bu Tutik tobat yang langsung membuat Mizty kaget.


"Masa?" Mizty melepas cincinnya tersebut dan menunjukkannya pada Bu Tutik.


"Mirip," gumam Bu Tutik.


"Bu Tutik punya yang serupa juga?" Tanya Mami Indri penuh selidik.


"Tapi ini cincin kawin dan kata Dyrtha pemberian mendiang ayahnya, Aunty!"


"Dan katanya dipesan khusus, jadi tidak ada yang menyamai," ujar Mizty lagi sedikit merasa aneh.


"Bu Tutik ada bawa cincinnya?" Tanya Mami Indri akhirnya menengahi.

__ADS_1


"Saya periksa dulu, Bu!" Pamit Bu Tutik seraya beranjak, lalu masuk ke kamarnya. Saat itulah, Angga, Papi Guntur dan Pak Alwi akhirnya tiba di rumah.


"Kathlyn!" Seru Angga yang langsung menghampiri Kathlyn yang sejak tadi bermain sendiri. Wajah muram Kathlyn seketika berubah ceria.


"Ada tamu?" Tanya Pak Alwi berbasa-basi pada Mizty dan Mami Indri.


"Ini istrinya Dyrtha, Pak Alwi! Sepupu Robert yang sering kemari itu," jelas Mami Indri.


"Oh,"


"Malam, Pak! Saya Mizty," sapa Mizty memperkenalkan diri sekaligus mencium punggung tangan Pak Alwi.


Sementara Bu Tutik sudah kembali membawa cincin yang tadi ia maksud.


"Ada, Bu Tutik?" Tanya Mami Indri penasaran.


"Apanya, Mi?" Tanya Papi Guntur penasaran.


"Cincin, Pi! Kata Bu Tutik, beliau punya cincin mirip cincin kawinnya Mizty," terang Mami Indri.


"Ini, Bu!" Bu Tutik sudah duduk di samping Mami Indri dan memberikan sebuab cincin pada mami Robert tersebut. Mami Indri membandingkan cincin Mizty dengan cincin Bu Tutik.


"Serupa," gumam Mami Indri yang langsung diiyakan oleh Mizty dan Bu Tutik.


"Sepertinya itu cincin couple, Mi!" Ujar Papi Guntur setelah ikut melihat.


"Ini sebenarnya milik Sita," ujar Bu Tutik yang benar-benar lupa dengan cincin di tangannya tersebut sampaj tadi ia melihat milik Mizty.


"Sita?" Tanya Mami Indri dan Mizty serempak.


"Apa itu cincin yang ada di kalung Sita waktu kita mengadopsinya dari panti asuhan, Bu?" Tanya Pak Alwi tiba-tiba yang langsung membuat semuanya menoleh ke arah pria paruh baya tersebut.


"Tunggu, Sita anak adopsi?" Tanya Mizty merasa tak percaya. Pun dengan Mami Indri dan Papi Guntur yang juga baru tahu dan tentu saja mereka kaget.


"Maaf, karena belum cerita, Bu! Tapi Sita memang anak angkat kami." Jelas Bu Tutik


"Kami mengadopsi Sita dari panti asuhan saat usianya dua belas tahun," imbuh Pak Alwi menyambung penjelasan Bu Tutik.


"Berapa usia Sita sekarang?" Tanya Papi Guntur akhirnya setelah melihat kemiripan di dua cincin yang kini ada di atas meja.


"Tiga puluh tahun," jawab Bu Tutik dan Pak Alwi serempak.


"Ada apa, Uncle? Apa Uncle tahu sesuatu?" Tanya Mizty penuh selidik karena melihat perubahan raut wajah Papi Guntur.


"Mungkinkah Sita anak dari Tirta dan istri pertamanya yang waktu itu pernah dikabarkan hilang?" Papi Guntur bergumam sendiri.


"Maksudnya Papa Tirta, Uncle?" Tanya Mizty yang ternyata mendengar gumaman Papi Guntur.

__ADS_1


Tirta adalah nama dari mendiang ayah kandung Dyrtha.


"Ya!"


"Papanya Dyrtha sudah pernah menikah dengan seorang wanita dan mereka punya seorang putri, sebelum ia menikahi adikku yang merupakan mama kandung Dyrtha." Papi Guntur terlihat berpikir.


"Tapi bukankah kata Tirta waktu itu, istri dan putrinya tewas dalam kecelakaan, Pi?" Tanya Mami Indri ragu.


"Tewas dan jasadnya tak pernah ditemukan." Papi Guntur mengoreksi dengan tegas.


"Bisa jadi sebenarnya mereka selamat waktu itu atau mungkin Sita saja yang selamat, lalu ditemukan seseorang dan dibawa pergi dari lokasi kecelakaan."


"Sita masih berusia dua tahun juga waktu kejadian itu. Jadi wajar jika dia tak ingat," Papi Guntur mulai berspekulasi.


"Mami ingat saat mami meledek Tirta karena memakaikan kalung berbandul cincin ini pada Dyrtha, kan?" Papi Guntur menunjukkan cincin kawin Mizty pada Mami Indri.


"Ya, kata Tirta, cincin itu punya makna dan satu pasangannya dipakai oleh putrinya yang sudah meninggal," Mami Indri akhirnya ingat.


"Apa itu artinya, Sita adalah saudara satu ayah dan beda ibu dengan Dyrtha, Aunty?" Tanya Mizty memastikan. Wajah wanita itu bahkan sudah berbinar karena baru saja mengetahui sebuah fakta baru.


"Aunty rasa begitu, Mizty! Kedua cincin ini sudah mengungkap semuanya." Jawab Mami Indri.


"Sekarang kita tahu kenapa Kathlyn dan Angga cepat sekali akrab. Ternyata mereka adalah sepupu," timpal Papi Guntur yang ikut berbinar senang.


"Dyrtha harus tahu berita ini." Mizty sudah bersiap menghubungi Dyrtha, saat terdengar suara pria itu dari pintu depan.


"Selamat malam, semuanya!"


.


.


.


Ekspresi Dyrtha pas tahu kalau ternyata Sita adalah saudaranya:


a. Pingsan


b. Semaput


c. Tak sadarkan diri


d. Pura-pura ogeb


🤣🤣🤣🤣🤣


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2