Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
SYARAT


__ADS_3

"Sheila sudah meninggal tiga tahun lalu."


Satu kalimat yang dilontarkan oleh Robert benar-benar membuat Dyrtha kaget.


"Kau tidak pernah mengabari?" Dyrtha menyayangkan sikap Robert.


"Untuk apa?" Robert tersenyum kecut.


"Lalu bocah laki-laki enam tahun bernama Angga itu? Itu putramu, kan? Bersama Sheila?" Cecar Dyrtha lagi yang hanya dijawab Robert dengan gelengan kepala.


"Angga adalah anak dari Sita, janda yang hampir dicelakai oleh mantan suami brengseknya." Robert kembali harus menahan geram saat ingat tentang pengkhianatan Akshara pada Sita di masa lalu. Meskipun Robert hanya tahu dari cerita Pak Alwi dan Bu Tutik, namun Robert sangat bisa memahami bagaimana hancurnya perasaan Sita akibat perbuatan bejat suaminya tersebut. Sita bahkan masih trauma hingga detik ini.


"Hmmm. Jadi tiga tahun setelah kepergian Sheila, kau akhirnya jatuh cinta pada seorang janda beranak satu yang punya mantan suami brengsek."


"Lalu suatu malam, saat kau ingin mengunjungi si janda, ada mantan suaminya yang datang dan hendak menganiaya si janda-"


"Namanya Sita!" Robert menyela dan memberitahu Dyrtha karena Robert merasa risih saat Dyrtha menyebut status Sita berulang-ulang.


"Baiklah, maaf!"


"Aku ulangi. Suatu malam kau mengunjungi Sita dan Angga ke rumahnya dan disaat yang bersamaan ternyata mantan suami Sita sedang berada di rumah Sita dan hampir menganiaya Sita serta Angga.


"Pertanyaannya, kau datang jam berapa? Karena kata tetangga Sita mobilmu baru datang setelah Angga keluar dari rumah dan berteriak minta tolong," Cecar Dyrtha yang sudah seperti detektif saja.


"Dyrtha! Apa kau mau menggantikan pekerjaanku?" Tanya kawan Dyrtha tadi yang sepertinya adalah seorang penyidik.


"Sama sekali tidak!" Jawab Dyrtha cepat seraya meringis.


"Silahkan lakukan pekerjaanmu, Randy! Dan aku akan menyimak saja!" Tukas Dyrtha selanjutnya pada kawannya tersebut. Randy mengangguk dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Robert.


"Darimana kau mendapatlan linggis untuk memukul Akshara?" Tanya Randy setelah penjelasan panjangblebar Robert tentang kronologi kejadian.


"Di depan rumah Sita," jawab Robert seyakin mungkin setelah berpikir untuk beberapa saat.


"Linggis di depan rumah? Sedikit aneh."


"Linggis itu memang sudah disana dan aku tak sengaja melihatnya. Jadi aku tak berpikir panjang lagi dan mengambilnya." Cerita Robert mengarang indah.


Seorang petugas kembali masuk ke dalam ruangan dan memberikan sesuatu pada Randy. Keduanya berdiskusi sejenak, sebelum kemudian Randy menatap penuh selidik pada Robert.


"Kau yakin yang memukul Akshara hingga tewas adalah kau dan bukan Sita?" Tanya Randy sedikit berbisik pada Robert.


"Ya! Memang aku yang melakukannya!" Jawab Robert cepat.

__ADS_1


"Bukan tipe seorang Robert yang menghajar penjahat memakai benda atau senjata."


"Biasanya kau lebih suka memakai tangan kosong dan itu saja pernah membuat teman kuliahmu koma selama seminggu," gumam Dyrtha yang memang sudah hafal tabiat Robert luar dalam. Mereka besar bersama!


"Aku terdesak! Jadi aku terpaksa mencari senjata!" Sergah Robert bersungut pada Dyrtha.


"Terdesak?" Gantian Randy yang mengernyit bingung.


"Jadi sebenarnya Akshara menyerang kau atau Sita? Bukankah katamu tadi saat kau datang, Akshara sudah mencekik Sita. Lalu kau yang melihat linggis sebelum masuk ke rumah, segera mengambil dan menghantamkannya ke kepala Aksha?"


"Jadi, bagian mana yang membuatmu terdesak?" Cecar Randy yang benar-benar membuat Robert mati langkah sekarang.


"Dan lagi, setelah dilakukan pemeriksaan pada barang bukti, ada sidik jari Sita yang tertinggal di sana," sambung Randy sedikit berbisik pada Robert.


"Sita hanya membela diri jadi jangan menahannya!" .


"Tahan saja aku!" Ujar Robert menatap tegas pada Randy.


"Apa itu artinya-"


"Sudah kubilang dia hanya membela diri!" Sergah Robert lagi memotong kalimat Dyrtha yang belum selesai.


Randy dan Dyrtha saling berpandangan.


"Bisa saja!" Jawab Randy seraya tertawa kecil.


"Kalian berbisik-bisik apa?" Tanya Robert curiga.


"Randy sudah setuju untuk membantu menghilangkan nama Sita dari kasus ini, tapi aku punya syarat untukmu." Ujar Dyrtha yang sudah bisa ditebak oleh Randy.


"Aku tidak akan menuruti syaratmu!" Sergah Robert seraya mendelik pada Dyrtha.


"Aku akan menjemput Sita kalau begitu dan menjebloskannya ke dalam penjara karena sudah membunuh-"


"Jangan coba-coba! Sudah kubilang tahan saja aku!" sergah Robert lagi yang sudah ganti menuding ke arah Dyrtha.


"Jika kau yang ditahan, maka aku akan menghubungi Uncle agar ia datang kemari dan membebaskanmu, Putra Mahkota."


"Lalu Uncle akan memaksamu untuk pulang, menjodohkanmu dengan wanita pilihannya, dan kau akan hidup merana selamanya!" Dyrtha menakut-nakuti Robert.


"Tanpa kau menghubungi Tuan Hadinata, ia akan langsung tahu jika putra kesayangannya ditahan di kantor polisi," timpal Randy seolah memperjelas kalau selama ini papi kandung Robert itu masih mengawasinya dalam diam.


Robert berdecak karena merasa terpojok.

__ADS_1


"Baiklah, apa syaratmu?" Tanya Robert akhirnya pada Dyrtha dengan nada ketus.


"Bawa Sita dan Angga ke hadapan Uncle! Katakan kalau kau dan Sita pernah mempunyai hubungan di masa lalu dan Angga adalah hasilnya!" Cetus Dyrtha memaparkan rencana konyolnya sekaligus menantang Robert.


"Kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Robert tak mengerti.


"Untuk meredam perseteruanmu dengan Uncle!"


"Aku sudah lelah melihat perseteruan kalian yang sudah bertahun-tahun ini, lalu Aunty yang belakangan ini sering jatuh sakit karena memikirkanmu dan merindukan seorang cucu."


"Bayangkan jika kau pulang membawa Sita dan Angga-"


"Papi akan langsung mencecar Sita dan Angga, lalu mengusir mereka sama seperti mereka dulu mengusir Sheila!" Sergah Robert memotong khayalan Dyrtha.


"Tidak akan!"


"Uncle dulu membenci Sheila karena papanya Sheila adalah musuhnya." Pendapat Dyrtha menyangkal prasangka Robert.


"Kenapa kau begitu yakin?" Robert menatap penuh selidik pada sepupunya tersebut.


"Karena Uncle pernah mengatakan kalau kau boleh menikahi wanita manapun, dari kasta apapun, asalkan dia bukan putri dari musuhnya," jawab Dyrta masih penuh keyakinan.


"Omong kosong!" Decih Robert ketus.


"Minggu depan anniversary pernikahan Uncle dan Aunty! Beri mereka kejutan dan kibarkan bendera perdamaian!" Dyrtha membuka borgol di tangan Robert setelah menerima kunci dari Randy.


"Bagaimana jika aku tidak datang dan membawa Sita?" Robert bertanya tentang kemungkinan.


Dyrtha menghela nafas dan menatap sejenak pada Randy sebelum kemudian pria itu menjawab,


"Maka Randy akan melanjutkan penyelidikan kasus ini dan kau tahu akhirnya akan bagaimana. Bukan kau yang akan mendekam di penjara." Dyrtha mengendikkan kedua bahunya.


"Ancamanmu benar-benar murahan, Dyrtha! Aku tak percaya punya sepupu menyebalkan seperti dirimu!" Maki Robert kesal sebelum pria itu keluar dari ruangan meninggalkan Randy dan Dyrtha yang malah tertawa mengejek.


"Berjuanglah, Tuan Muda!" Seru Dyrtha yang hanya diabaikan oleh Robert.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2