Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
SANDIWARA?


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Sita akhirnya diperbolehkan pulang.


"Mama!" Sambut Angga saat Sita baru saja tiba di rumah. Sita segera memeluk erat putra semata wayangnya tersebut.


"Angga makan banyak, ya?" Tanya Sita serayamencubit genas pipi Angga yang kini terlihat chubby.


"Makanan di rumah Omi dan Opi enak-enak, Ma! Semua yang Angga mau juga langsung dibuatin sama Om koki," cerita Angga dengan mata berbinar senang.


Ternyata Angga masih diperlakukan dengan sangat baik oleh Mami Indri dan Papi Guntur, sekalipun kedua orang tua Robert tersebut sudah tahu kalau Angga bukan putra kandung Robert. Apa itu artinya, Mami Indri dan Papi Guntur benar-benar sudah menerima Sita dan Angga di keluarga mereka?


Tapi Robert...


"Bagaimana, sudah pandai menembak bolanya?" Pertanyaan Robert pada Angga menyentak lamunan Sita.


"Sudah, Papa! Kemarin sudah masuk sepuluh kali. Lalu pagi ini masuk emoat kali," cerita Angga pada Robert penuh antusias.


"Bagus sekali!" Robert langsung mengajak Angga tos, lalu membawa bocah enam tahun itu ke dalam gendongannya.


"Ayo masuk!" Robert juga turut merangkul Sita dan mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Welcome!" Sambut Dyrtha yang sudah duduk bersama seorang gadis kecil yang hampir sebaya dengan Angga. Sepertinya itu adalah Kathlyn yang merupakan putri Dyrtha yang sering diceritakan oleh Angga.


"Kau sedang apa disini?" Tanya Robert sedikit ketus pada sepupunya tersebut.


"Menjenguk istrimu, karena kata Aunty, Sita pulang hari ini."


"Kau tahu sendiri kemarin aku berada di luar kota dan sibuk dengan pekerjaan yang seharusnya kau lakukan. Jadi baru sekarang aku sempat menjenguk Sita. " jawab Dyrtha panjang lebar yang hanya membuat Robert berdecak.


"Ngomong-ngomong, aku turut berduka soal Robert junior," ujar Dyrtha lagi yang nada bicaranya sudah berubah prihatin. Pria itu juga menepuk punggung Robert untuk mengungkapkan rasa dukanya.


"Terima kasih," jawab Robert lirih yang lagi-lagi kedua netranya menunjukkan raut kesedihan.


Terlihat dengan sangat jelas dan nyata!


"Kalian akan segera mendapatkan gantinya! Nanti aku belikan tiket honeymoon kalau perlu," hibur Dyrtha selanjutnya yang hanya membuat Robert mengulas senyum tipis dan Sita yang tetap berekspresi datar.


"Istrimu tidak ikut kesini?" Tanya Robert berbasa-basi pada Dyrtha.


"Ikut. Tapi dia sedang di kamar dan istirahat karena ngidam," jawab Dyrtha seraya meringis.


"Kathlyn mau punya adik?" Robert tampak terkejut.


"Ya!" Jawab Dyrtha sedikit merasa canggung.


"Selamat!" Sita mengulurkan tangannya pada Dyrtha dan mengulas senyum.


"Terima kasih. Semoga kau menyusul juga secepatnya," jawab Dyrtha ikut tersenyum pada Sita meskipun terkesan dipaksakan.

__ADS_1


Ya, sejak awal pria ini memang menyebalkan dan kata-katanya pada Sita selalu pedas dan meremehkan.


"Kau sebaiknya juga istirahat, Sita!" Saran Robert yang kembali merangkul pundak Sita. Angga sendiri sudah langsung bermain bersama Kathlyn dan larut dalam dunia anak-anak mereka.


"Ya," jawab Sita mengangguk samar.


"Kau tidak akan ikut istirahat juga kan, Rob? Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan tentang perusahaan. Kau sudah cuti selama tiga tahun lebih dan mulao besok kau haris kembali menjadi tuan direktur Roberto Erlangga Hadinata!" Tutur Dyrtha panjang lebar berceramah pada Robert.


"Nanti kita bicarakan setelah aku mengantar Sita ke kamar!" Jawab Robert tegas yang lanjut merangkul Sita menuju ke arah tangga. Sepertinya kamar Robert dan Sita berada di lantai dua.


Kemarin saat baru pertama datang ke rumah ini, Sita memang belum tahu dimana kamarnya, karena Sita keburu pingsan di kamar mandi, lalu pendarahan, dan mengalami keguguran.


Ah, sudahlah!


Sita hanya ingin secepatnya melupakan hal sedih itu.


Robert membuka pintu kamar yang berhiaskan ukiran mewah. Isi di dalam kamar benar-benar lengkap dan mewah. Dan kamar ini besarnya setara dengan rumah Pak Alwi yang menjadi tempat tinggal Sita selama ini.


"Ayo masuk!" Ajak Robert yang masih merangkul pundak Sita.


"Ini kamarmu?" Tanya Sita canggung.


Sebuah pertanyaan bodoh, Sita!


Tentu saja ini adalah kamar Robert.


"Kamar kita berdua," jawab Robert yang sudah ganti menarik Sita ke dalam dekapannya.


"Apa maksudmu, Sita?" Tanya Robert bingung.


"Tentang pernikahan kita!"


"Bukankah kau menikahiku karena aku terlanjur mengandung anakmu kemarin?"


"Tapi semuanya sudah selesai, tidaka ada apa-apa lagi di antara kita, jadi...." Sita menjeda kalimatnya sejenak lalu menarik nafas panjang.


"Jadi kita akhiri saja semuanya." Lanjut Sita dengan nada lirih.


"Apa maksudmu, Sita? Aku tak pernah menganggap pernikahan ini sebuah sandiwara!"


"Aku mencintaimu, aku juga mebcintai Angga!"


"Dan kau lihat sendiri, Mami dan Papi juga menyayangi Angga!" Sergah Robert yangvsudah merengkuh kedua pundak Sita dan menatap tak mengerti pada ustrinya tersebut.


"Aku mencintaimu!" Ungkap Robert sekali lagi.


"Bohong!" Sergah Sita cepat.

__ADS_1


"Kau hanya menjadikan aku pelarian! Kau menikahiku hanya karena rasa bersalah atas apa yang pernah terjadi di antara kita malam itu! Kau tidak pernah mencintaiku!"


"Kau tidak pernah mencintaiku Robert!" Sita memaksa untuk melepaskan kedua lengan Robert dari pundaknya.


"Kau hanya mencintai Sheila!" Lanjut Sita lagi dengan nada sendu.


"Cintamu, duniamu, perasaanmu, semuanya hanya untuk Sheila, karena kau selalu saja menggumamkan namanya sata kau tidur!" Beber Sita yang akhirnya mengungkapkan semua uneg-uneg yang selama ini ia pendam. Sita sudah jengah bersandiwara dan berharap.


Berharap cinta pada seorang duda yang tak pernah move on dari mendiang istrinya.


"Apa maksudmu?"


"Aku menggumamkan nama Sheila?" Robert menatap bingung pada Sita yangbhanya mengangguk samar.


"Kita sudahi saja semuanya, Robert!"


"Tak ada lagi yang perlu kau pertanggungjawabkan sekarang, dan kita tak perlu lagi saling menyakiti!" Sita menyeka kasar airmata di pipinya sendiri.


"Aku menyayangi Angga, Sita! Apa aku tidak bisa tetap menjadi papa sambung untuk Angga?" Pinta Robert memohon.


"Kau menyayangi Angga karena sorot mata Angga yang teduh mengingatkanmu pada Sheila," ujar Sita yang terasa bagai tikaman belati di hari Robert. Meskipun tak bisa dipungkiri kalau yang dikatakan Sita memang benar adanya. Pertama kali bertemu dan menatap mata Angga, ingatan Robert langsung tertuju pada Sheila yang memiliki sorot mata teduh juga seperti Angga.


"Kau akan menyakiti hati Angga jika membawanya pergi dari rumah ini, Sita! Bisakah sekali saja kau memikirkan perasaan putramu?"


"Angga putraku dan aku lebih paham tentang perasaan Angga! Jadi tak perlu mengguruiku!" Sergah Sita menatap tajam pada Robert, sebelum kemudian wanita itu berbalik dan hendak keluar dari kamar.


"Bisakah kau membiarkan Angga tidur disini malam ini?" Pinta Robert memohon pada Sita yang sudah sampai di ambang pintu kamar.


"Dan kau juga harus istirahat agar kandungmu bisa cepat pulih!" Lanjut Robert lagi yang masih saja perhatian pada Sita. Namun lagi-lagi bayangan saat Robert terus-terusan menggumamkan nama Sheila, membuat hati Sita begitu terluka.


"Aku akan keluar dan kau bisa istirahat di sini," ujar Robert yang sudah ikut melangkah ke pintu kamar, lalu keluar seperti ucapannya pada Sita tadi.


"Melihat Mami dan Papi yang menerimamu dengan tangan terbuka, membuat aku ingat pada keingin Sheila yang tak pernah terwujud hingga kini. Sheila sangat ingin merasa diterima di keluarga ini sebagai menantu."


"Mungkin itulah yang membuat aku terus-terusan bermimpi tentang Sheila." Robert tersenyum kecut.


"Lalu tanpa sadar aku juga menggumamkan namanya," lanjut Robert lagi.


"Aku benar-benar minta maaf jika itu melukai perasaanmu, tapi aku masih berharap kalau hubungan psrnikahan kita tak perlu berakhir secepat ini." Robert menghela nafas dan meraih tangan Sita yang masih mematung.


"Aku mencintaimu, Sita!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2