
"Kau tidak pernah cerita atau sekedar memberitahu kami, Robert!" Ungkap Mami Indri yang wajahnya menunjukkan raut kekecewaan, setelah Robert bercerita panjang lebat mengenai kehamilan Sheila serta kecelakaan yang menimpa istrinya tersebut hingga merenggut nyawa Sheila serta calon anak Robert.
"Robert pikir Mami dan Papi masih benci pada Sheila. Bahkan Robert juga sempat berpikir kalau yang menabrak Sheila adalah orang suruhan papi," ucap Robert lirih.
"Apa?" Papi Guntur dan Mami Indri langsung serempak terkejut.
"Papi memang tidak setuju kamu menikah dengan Sheila! Tapi papi tidak mungkin sekejam itu dan membunuh calon cucu kandung papi!" Sergah Papi Guntur merasa tak terima.
"Maaf!"
"Seharusnya Robert mendengarkan Sheila waktu itu," gumam Robert penuh sesal.
Mami Indri bangkit dari duduknya, lalu menghampiri sang putra yang masih tertunduk.
"Mami turut berduka atas kepergian Sheila, Robert!" Ucap Mami Indri seraya memeluk sang putra.
"Apa mami masih membenci Sheila?" Tanya Robert lirih
Mami Indri menggeleng.
"Sheila juga menantu Mami, Robert!"
"Mami tidak membencinya," ungkap Mami Indri bersungguh-sungguh yang langsung membuat Robert menghela nafas lega.
"Sheila."
Sita baru saja membentangkan selimut untuk menyelimuti Robert, saat tiba-tiba Robert kembali menggumamkan nama mendiang istrinya tersebut.
"Sheila!" Gumam Robert sekali lagi.
"Lalu bagaimana jika Robert masih saja menggumamkan nama Sheila saat dia tidur?"
"Bangunkan dia dan jangan buru-buru marah!"
"Ajak dia bicara pelan-pelan dan dari hati ke hati. Tanyakan apa yang mengganggu perasaannya dan katakan kalau dia bisa menceritakan apapun kepadamu perihal Sheila atau masalalunya. Kau harus jadi pendengar yang baik dan jangan sedikit-sedikit berprasangka!"
Sita menghela nafas sejenak, lalu bersimpuh di samping Robert yang memang tertidur di sofa di dalam kamar perawatan Angga. Sita membangunkan suaminya itu dengan perlahan.
"Robert!" Sita mengguncang lembut pundak Robert dan pria itu langsung terkejut lalu membuka kedua matanya yang sudah basah.
Robert menatap lekat wajah Sita yang terlihat kabur, lalu pria itu buru-buru menyeka airmatanya.
"Apa aku menyebut nama Sheila lagi?" Tanya Robert menatap penuh sesal pada Sita yang langsung mengangguk.
__ADS_1
"Maaf," gumam Robert yang langsung membuat Sita menarik nafas panjang. Sita bangkit dari lantai, lalu duduk di sofa, di samping Robert yang kini juga sudah duduk.
"Kemarilah!" Sita membimbing Robert agar meletakkan kepalanya di pangkuan Sita
"Kau bermimpi tentang Sheila lagi?" Tanya Sita tanpa sedikitpun menunjukkan raut marah atau cemburu.
"Hanya sekilas. Aku melihat Sheila yang tersenyum ke arahku sambil melambaikan tangan. Jadi aku memanggilnya dan aku benar-benar tidak tahu kalau aku benar-benar memanggil namanya dalam tidur." Jelas Robert yang cara bicaranya masih dipenuhi rasa bersalah.
"Apa Sheila masih terlihat sedih?" Tanya Sita lagi seraya mengusap lembut wajah Robert.
"Tidak." Jawab Robert seraya memejamkan kedua matanya beberapa saat.
"Sheila sudah tidak sedih seperti sebelum-sebelumnya dan dia sudah tersenyum."
"Apa mungkin karena aku sudah bicara pada Mami dan Mami juga sudah tak lagi membenci Sheila?" Robert ganti menatap penuh tanya pada Sita.
"Bisa jadi," jawab Sita yang sudah ganti menangkup wajah Robert.
"Dan kau mungkin hanya sedang merindukan Sheila. Jadi mumpung kita sedang berada di kota ini, bagaimana kalau besok kita mengunjungi makam Sheila agar hati dan perasaanmu sedikit lega?" Usul Sita yang langsung membuat Robert menatap tak percaya pada Sita yang sama sekali tak marah seperti sebelum-sebelumnya.
"Kau tidak marah atau tersinggung karena aku masih ingat pada Sheila?" Tanya Robert bingung.
Sita tersenyum tipis.
"Dan aku sangat yakin kalau kau sudah cukup dewasa untuk bisa membedakan mana yang menjadi masa lalumu dan mana yang menjadi masa depanmu," Tukas Sita yang masih menangkup wajah Robert.
"Kau dan Angga adalah masa depanku. Tapi Sheila tetap akan menempati satu sudut hatiku yang terdalam," ujar Robert yang langsung membuat Sita mengangguk.
"Aku tahu."
"Kau temani aku ke makam Sheila besok, ya!" Pinta Robert seraya mendekap Sita dan berulang kali mengecup puncak kepala istrinya tersebut.
"Ya!"
****
Sita menaburkan kelopak bunga di atas makam Sheila sambil sedikit merapikannya, sementara Robert mengusap-usap batu nisan Sheila.
"Hai, Shei!"
"Kau sudah bahagia di sana bersama putra kita?"
"Dan putraku bersama Sita," Robert merangkul pundak Sita yang hanya mengulas senyum tipis.
__ADS_1
"Aku yakin kau juga sedang menjaganya di sana," ujar Robert lagi yang malah membuat Sita menjadi berkaca-kaca.
"Aku sudah memulai hidupku yang baru bersama Sita dan Angga. Sita wanita yang baik seperti halnya kau, Sheila!" Robert kembali mengusap batu nisan Sheila.
"Kau akan tetap ada di sudut hatiku yang terdalam."
"Dan aku juga akan mencintai Sita sebesar cintaku padamu dulu." Pungkas Robert penuh tekad sebelum pria itu mengajak Sita untuk bangkit berdiri. Sita mengusap batu nisan Sheila beberapa saat, lalu meletakkan setangkai bunga mawar putih sebelum pergi meninggalkan makam tersebut.
"Kita pulang besok pagi-pagi. Papi dan Mami sudah kangen berat pada Angga dan terus-terusan bertanya kapan kita pulang," ujar Robert yang masih merangkul erat Sita.
"Kau memberitahu Mami dan Papi soal tangan Angga?" Tanya Sita khawatir.
"Belum. Besok saja biar Angga cerita sendiri," Robert tertawa kecil bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering dari dalam saku.
"Aku angkat telepon sebentar," izin Robert pada Sita yang hanya mengangguk.
Robert berbicara beberapa saat di telepon, lalu menutupnya dengan cepat.
"Ada yang tertarik dengan rumahnya dan ingin melihat-lihat."
"Kau akan ikut atau mau aku antar pulang?" Robert memberikan pilihan pada Sita.
"Tertarik bagaimana? Kau menjual rumahmu?" Sita menatap tak percaya pada Robert.
"Bukankah aku harus fokus pada masa depanku sekarang?"
"Terlalu banyak kenanganku bersama Sheila di rumah itu dan aku tak bisa lagi tinggal di sana bersama kau, Angga, dan anak-anak kita kelak," ujar Robert seraya menangkup wajah Sita.
"Lagipula, sudah ada rumah Bapak dan Ibu yang akan menjadi persinggahan kita nanti saat pulang kesini," imbuh Robert lagi.
Sita hanya mengangguk dan memilih untuk menghargai keputusan Robert tersebut.
"Aku boleh ikut bertemu calon pembeli rumah itu?" Tanya Sita akhirnya yang langsung membuat Robert mengulas senyum.
"Tentu saja!" Robert kembali merangkul Sita dan pasangan suami istri itu melangkah bersama meninggalkan kompleks pemakaman.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.