
Sita membuka pintu kamar dan senyuman lebar langsung tersungging di bibir wanita tiga puluh tahun tersebut. Hamparan kelopak bunga mawar, serta aroma harum semerbak langsung memanjakan mata dan indera pemciuman Sita.
Lengan Robert sudah melingkar di pinggang Sita, dan kepala suami Sita tersebut juga sudah menyusup di ceruk leher Sita.
"Kamar pengantin seperti keinginanmu," bisik Robert mesra yang langsung membuat Sita mengangguk dan kembali tersenyum.
"Sedikit terlambat, tapi aku menyukainya."
"Terima kasih!" Ucap Sita yang sudah berbalik dan kini ganti mengalungkan kedua lengannya di leher Robert.
Acara resepsi pernikahan Robert dan Sita memang baru saja berakhir. Dan kini dua sejoli tersebut sudah hanyut dalam sebuah pagutan yang dalam nan intim.
"Ayo mandi dulu, sebelum kita menikmati malam panjang berdua," ajak Robert yang sudah menggendong tubuh Sita, lalu membawa istrinya tersebut masuk ke dalam kamar mandi.
****
Beberapa bulan kemudian...
Sita masuk ke kamar Angga, menyusul Robert yang sejak tadi memang sudah bersama Angga dan melakukan obrolan sesama pria. Angga sudah terlelap di dalam dekapan Robert seperti biasa.
"Angga sudah tidur?" Tanya Sita seraya duduk di tepi tempat tidur Angga dan mengusap kepala putranya tersebut.
Angga memang beruntung. Setelah selama enam tahun bocah ini begitu rindu kasih sayang seorang ayah, kini Angga mendapatkan kasih sayang yang begitu berlimpah dari Robert, Mami Indri, dan Papi Guntur.
__ADS_1
"Sudah sejak tadi," Robert tertawa kecil, lalu bangun perlahan agar Angga tidak merasa terganggu. Robert langsung bersimpuh di depan Sita dan meletakkan kepalanya di perut Sita yang sudah membulat.
Satu bulan setelah pulang dari honeymoon keliling Eropa, Sita memang langsung positif hamil lagi. Tentu saja itu adalah sebuah kebahagiaan untuk Robert yang sejak dulu selalu merindukan kehadiran seorang anak.
Robert bahkan begitu protektif pada Sita dan berusaha agar Sita selalu merasa bahagia. Robert tidak mau kejadian buruk yang sebelum-sebelumnya terulang lagi dan mengganggu kehamilan Sita.
"Papi dan Mami sepertinya berharap kalau jenis kelaminnya laki-laki," ujar Sita seraya mengusap kepala Robert yang masih bersandar di pangkuannya.
"Kata siapa?" Tanya Robert seraya mengangkat kepala. Sita hanya mengendikkan bahu.
"Laki-laki atau perempuan tak masalah. Asal nanti lahir dengan sehat dan selamat," ujar Robert seraya mengusap wajah Sita.
"Tapi bukankah ia kelak yang akan menjadi pewaris di keluarga Hadinata? Cucu yang begitu dinantikan Mami dan Papi yang akan menjadi penerusmu."
"Tapi Angga bukan-"
"Angga adalah putraku!" Potong Robert seraya meletakkan telunjuknya di bibir Sita.
"Robert..."
"Angga masih terlalu kecil untuk mengerti. Alubtak akan menyembunyikan jati diri Angga dan siapa sebenarnya ia. Tapi bukan sekarang waktu yang tepat untuk memberitahu Angga."
"Angga akan bingung jika kita menceritakan semuanya sekarang. Nanti setelah Angga cukup dewasa, aku pasti menceritakan semuanya pada Angga. Aku yakin saat itu Angga sudah akan bisa bersikap bijak dan memahami semuanya," tukas Robert panjang lebar.
__ADS_1
"Untuk saat ini, biarlan Angga menjadi putraku dan juga cucu di keluarga Hadinata, Sita! Papi dan Mami juga menyayangi Angga." Sambunh Robert lagi yang langsung membuat kedua mata Sita berkaca-kaca.
"Kenapa menangis?" Tanya Robert khawatir.
"Aku hanya bahagia karena dipertemukan dengan pria sebaik dirimu," ucap Sita nyaris tanpa suara yang langsung membuat Robert tersenyum tipis.
"Aku juga beruntung dipertemukan dengan wanita setegar dirimu yang memberiku banyak pelajaran hidup," ujar Robert yang sudah membimbing Sita untuk bangkit berdiri, lalu memeluk wanita tersebut dengan erat.
"Tetaplah di sisiku hingga nanti kita menua bersama!" Pinta Robert yang langsung membuat Sita mengangguk-angguk.
"Aku mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu."
.
.
.
Mungkin besok tamat 😁😁😁
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.