Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
PENJELASAN ROBERT


__ADS_3

"Kenapa tidak dimakan kuenya? Mual lagi?" Tanya Robert pada Sita yang sejak tadi hanya terlihat melamun. Bahkan kue yang sejak tadi Robert bawakan sama sekali tak disentuh oleh Sita.


"Bisakah kau jelaskan tentang semua ini?" Sita menatap tajam pada Robert.


"Bagian mana yang harus aku jelaskan?" Tanya Robert seraya mengusap wajah Sita. Namun Sita dengan cepat mengelak seolah enggan disentuh oleh Robert.


"Semuanya!" Jawab Sita serata memalingkan wajahnya dari suaminya tersebut.


"Tentang awal mula hubunganmu dengan Sheila dan kenapa papi serta mamimu bisa menentangnya. Lalu tentang kau yang tiba-tiba menikahiku-"


"Baiklah, itu karena aku sedang hamil anakmu." Sita masih menalingkan wajahnya dari Robert.


"Tapi tentang Angga yang kau akui sebagai anak kandungmu?" Sita sudah memutar kepalanya dan menatap tak oercaya pada Robert.


"Ayo ikut!" Robert membimbing Sita untuk bangkit berdiri dan sepertinya akan membawa istrinya tersebut ke suatu tempat.


"Angga," Sita mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan Angga.


"Angga bersama mami dan papi. Jadi dia tidak akan mencari kita," ujar Robert menenangkan.


Robert mengajak Sita keluar dari ballroom hotel, lalu keduanya menuju ke lobi utama hotel.


"Selamat malam, Tuan muda!" Sapa seorang karyawan hotel yang berdiri di belakang meja resepsionis. Gesturenya begitu sopan dan segan.


"Kunci kamar paling atas," ucap Robert seraya mengulurkan tangannya. Karyawan hotel tadi langsung memberikan sebuah kunci kamar pada Robert, lalu mengantar Robert dan Sita juga ke lift yang berbeda dengan yang digunakan orang-orang untuk berlalu lalang. Sepertinya ini adalah lift khusus.


"Terima kasih!" Robert mengangguk pada karyawan tadi sebelum pintu lift tertutup. Kini hanya ada Robert dan Sita dibdalam lift.


"Ini hotelmu juga?" Tanya Sita sedikit sinis.


"Milik Papi lebih tepatnya. Aku hanya diberi kebebasan akses," jawab Robert yang masih bisa mengulas senyum. Sita hanya menghela nafas, dan beban di pundaknya mendadak jadi berlipat-lipat beratnya. Sita sedang mengandung seorang cucu mahkota keluarga Hadinata.


Ting!


Lift akhirnya tiba di lantai paling atas dari bangunan hotel tersebut. Hanya ada satu kamar di sana dan sepertinya memang kamar khusus dan tidak disewakan. Robert membuka pintu kamar tersebut dan sebuah kamar hotel nan mewah langsung terpampang di depan mata Sita.


Sekali lagi, Sita dibuat terperangah dengan apa yang kini ia lihat. Benar-benar keluarga konglomerat!


"Ayo masuk! Nanti karyawan hitel akan mengantar makanan. Kau harus makan-"


"Aku mau mendengar semua penjelasanmu!" Sita menyela dan mengingatkan Robert tentang tujuan mereka kesini tadi.


"Iya, aku akan .enjelaskan semuanya, tapi kau juga harus makan!" Robert sudah merengkuh kedua pundak Sita.


"Kau belum makan sejak dari airport tadi, dan aku tidak mau kau sakit," lanjut Robert lagi menatap lekat wajah Sita.

__ADS_1


Sita menghela nafas sebelum akhirnya menjawab,


"Baiklah!"


Robert lanjut membimbing Sita untuk duduk di sofa mewah yang berada dj kamar tersebut. Robert juga mengambilkan segelas air putih hangat untuk Sita, lalu duduk di samoing istrinya tersebut.


"Jadi, kenapa kau berbohong?" Sita menagih penjelasan Robert.


"Dyrtha mengancamku," jawab Robert berusaha untuk jujur.


"Kau takut pada Dyrtha?" Sita menatap tak percaya pada Robert yang katanya adalh tuan muda, putra mahkota.


"Bukan disitu letak permasalahannya." Robert berusaha menyusun kata-kata sebaik mungkin agar Sita tak bingung maupun salah paham.


"Aku ceroboh saat membersihkan sidik jarimu dari barang bukti malam itu."


"Sidik jarimu masih tertinggal di sana," ucap Robert hati-hati yang langsung membuat Sita terkejut.


"Tapi kasus itu ditangani oleh temannya Dyrtha, jadi aku berhasil membuat kesepakatan."


"Teman Dyrtha bersedia menghapus namamu dari kasus itu, dengan syarat aku harus pulang ke rumah papi, dan mengakhiri perseteruan di antara aku dan Papi," terang Robert panjang lebar yang benar-benar di luar dugaan Sita.


"Lalu kenapa kau harus membawa aku dan Angga masuk ke dalam kehidupanmu yang pelik ini? Kenapa tidak mencari wanita lain saja?" Cecar Sita lagi meminta penjelasan serta alasan Robert.


"Karena kau mengandung anakku, Sita!" Jawab Robert tegas.


"Aku tidak bisa menjadi pria brengsek yang hanya memanfaatkan kesempatan untuk bisa menidurimu yang malam itu terpengaruh obat sialan, lalu pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa."


"Aku tidak bisa!" Ujar Robert bersungguh-sungguh.


Suta hanya menghela nafas karena ternyata alasan Robert menikahinya seperti dugaan Sita dibawal. Robert hanya merasa bersalah dan mingkin juga sedang mencari pelarian.


Bukankah selama ini yang masih mengisi hati Robert hanyalah Sheila, Sheila, dan Sheila?


Tidak mungkin Robert terus menggumamkan nama mendiang istrinya itu, jika memang hatinya sudah move on dan benar-benar mencintai Sita.


Robert tak pernah mencintai Sita!


Robert menikahi Sita hanya karena rasa bersalah dan karena Sita sudah terlanjur hamil anaknya. Dan mungkin karena tatapan teduh Angga yang mengingatkan pria itu pada mendiang istrinya.


Sita diam untuk beberapa saat dan kembali meneguk air minum yang tadi diberikan oleh Robert.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan papimu, hingga kau memutuskan pergi dari rumah, lalu mengubah identitasmu juga?" Tanya Sita selanjutnya setelah wanita itu menghela nafas berulang kali.


"Papi menentang hubunganku bersama Sheila," jawab Robert jujur yang malah membuat hati Sita menjadi ketar-ketir sekarang.

__ADS_1


Apa ini juga alasan lain Robert berbohong perihal status Angga pada Papi Guntur dan Mami Indri? Robert tidak mau hubungannya dengan Sita kembali ditentang oleh Papi Guntur.


Jika bersama Sheila yang sempurna saja, hubungan Robert ditentang mentah-mentah, lalu apa kabar jika bersama Sita yang hanya seorang janda miskin?


"Itu alasanmu juga berbohong soal status Angga?" Tanya Sita mengungkapkan sekalian uneg-uneg di hatinya.


"Sama sekali bukan!" Kilah Robert cepat.


"Lalu, kenapa kau tidak mengatakan semuanya secara jujur saja dan apa--"


"Kita tak perlu membuatnya menjadi runyam, oke!" Robert menyela kalimat Sita dengan cepat dan sudah kembali merengkuh kedua pundak istrinya tersebut.


"Papi dan Mami sudah menerima kau dan Angga dengan tangan terbuka. Jadi tak perlu lagi membuat ini menjadi rumit!"


"Tapi aku tidak mau hidup dalam kebohongan! Angga bukan anak kandungmu!" Sergah Sita lagi tetap keras kepala.


"Ini semua demi kebaikan kau dan Angga juga, Sita!"


"Lagipula, kau juga sedang mengandung anakku sekarang!"


"Jadi tolong mengertilah!" Robert menohon pada Sita.


"Jika hubunganku bersama Papi dan Mami kembali memanas, Dyrtha akan jembali membuka kasus sialan itu, dan aku tidak mau jika kau sampai mendekam di jeruji besi!" Ujar Robert lagi menatap sedih pada Sita.


"Aku tak mau hal itu terjadi."


"Jadi tolong mengertilah!" Tutur Robert bertubi-tubi seraya meraup Sita ke dalam pelukannya.


Robert tidak mau Sita mendekam di penjara bukan karrna Robert mencintai Sita. Tapi karena Sita sedang mengandung anaknya.


Tidak usah terlalu berharap, Sita!


.


.


.


Nggak paham sama sifatnya Sita.


Terlalu parnoan dan kebanyakan ragu๐Ÿ™„๐Ÿ™„


Yang bikin karakter tokoh macam itu siapa, sih?


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2