Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
SEHARUSNYA


__ADS_3

"Pak!" Panggil Sita pada pak sopir yang ssdang fokus mengemudi.


"Iya, Nona!"


"Bapak tahu rumah Dyrtha?" Tanya Sita yang tangannya masih terus mengusap-usap kepala Angga yang kini tidur di pangkuannya. Sepertinya Angga memang masih mengantuk, jadi tadi bocah tersebut tidur lagi setelah mobil melaju meninggalkan kediaman Hadinata.


"Maksudnya Pak Dyrtha, keponakan Tuan dan Nyonya?" Tanya pak sopir memastikan.


"Iya, yang itu. Bapak tahu alamat rumahnya?" Sita bertanya sekali lagi.


"Tahu, Nona!" Jawab pak sopir yakin.


"Bisa mampir sebentar ke sana?" Pinta Sita yang langsung diiyakan oleh pak sopir.


"Siap, Nona!"


****


Sita turun sendiri karena Angga masih tidur di dalam mobil. Kini wanita itu menatap pada pintu kayu yang menjulang kokoh di depannya. Sita menekan bel di samping pintu setelah menepis semua rasa ragu di dalam hatinya. Tidak sopan sebenarnya bertamu ke rumah orang pagi-pagi begini, tapi Sita tak punya pilihan dan Sita hanya ingin bicara pada Dyrtha yang menjadi pencetus ide konyol yang akhirnya membuat rumit hubungan Sita, Robert, dan kedua orang tua Robert.


Sita menekan bel sekali lagi, sebelum kemudian pintu dibuka dari dalam oleh seorang wanita yang sepertinya seusia dengan Sita. Apakah ini istri Dyrtha?


"Sita?" Tanya wanita itu memastikan.


"Kau Sita, istrinya Robert, kan?" Tanyanya sekali lagi.


"Iya. Kau?"


"Aku Mizty, istrinya Dyrtha. Kita belum pernah bertemu sepertinya tapi aku pernah melihat fotomu," jelas Mizty seraya mengulurkan tangannya dan mengajak Sita berkenalan.


"Iya, maaf karena tak mengenalimu," Sita membalas jabat tangan Mizty.


"Ayo masuk! Kau sendiri? Robert dan Angga mana?" Cecar Mizty sembari mempersilahkan Sita untuk masuk ke dalam, lalu duduk di sofa ruang tamu. Rumah Dyrtha memang tak sebesar rumah Robert, namun tetap sama-sama mewah, karena sepertinya mereka memang klan orang-orang kaya.


"Angga ada di mobil. Masih tidur, jadi aku titip di pak supir," jelas Sita sedikit sungkan.


"Lalu kesini ada apa?" Tanya Mizty selanjutnya penuh selidik.


"Aku ingin bicara pada Dyrtha. Apa dia sudah bangun?" Tanya Sita sedikit ragu.


"Ya, dia masih berolahraga di belakang. Akan aku panggilkan," jawab Mizty seraya bangkit berdiri dan menatap sedikit aneh pada Sita.


Tak berselang lama, setelah Mizty masuk ke dalam, Dyrtha keluar menemui Sita dengan tatapan yang sama anehnya dengan Mizty tadi. Benar-benar suami istri yang kompak!


"Kau kesini pagi-pagi buta ada apa?" Tanya Dyrtha heran.


Dan jangan tanya tentang nada bicara pria itu. Sudah pasti sinis serta meremehkan seperti sebelum-sebelumnya.


Ah, tapi Sita sudah biasa!


"Aku dan Angga akan pulang pagi ini dan kembali ke kehidupan kami yang seharusnya."


"Maksudnya?" Dyrtha menyela dengan cepat.


"Aku akan kembali ke rumah kedua orangtuaku." Sita memperjelas kalimatnya.


"Kau akan minta cerai dari Robert, begitu? Tidak bersyukur sekali kau itu!"


"Sudah bagus Robert mau menikahimu, menyelamatkanmu dari kasus yang bisa saja menjebloskanmu ke dalam penjara, mengakui Angga yang sebenarnya adalah anak dari suamimu yang brengsek itu sebagai anaknya agar kau diterima oleh kedua orang tua Robert. Lalu kenapa kau malah ingin pergi sekarang?" Cecar Dyrtha yang benar-benar membuat Sita ingin naik pitam.


"Tuan dan Nyonya Hadinata sudah tahu kalau Angga bukanlah anak kandung Robert!" Ujar Sita tegas dan lugas, yang langsung membuat Dyrtha kaget.


"Kau mengacaukan semuanya?" Dyrtha menatap tak percaya pada Sita.

__ADS_1


"Kenapa kau-"


"Aku hanya tidak mau menjalani hidup yang penuh kebohongan!" Sergah Sita memotong kalimat Dyrtha.


"Kau akan mengacaukan hubungan Robert dengan kedua orangtuanya lagi!"


"Aku sudah bicara pada Nyonya Indri," sergah Sita sekali lagi.


"Dan aku rasa tak akan ada lagi selisih paham di antara Robert serta kedua orang tuanya." Lanjut Sita lagi.


"Tapi misalnya Robert kembali bersitegang dengan Tuan dan Nyonya Hadinata, silahkan kau lakukan ancamanmu waktu itu pada Robert tentang kau yang ingin menjebloskan aku ke penjara dan membuka kembali kasus Akshara!" Ujar Sita yang kembali membuat Dyrtha kaget.


"Robert menceritakannya kepadamu?"


"Ya!" Jawab Sita cepat.


"Bukankah karena hal itu juga, Robert akhirnya mau menikahiku? Bukan karena dia mencintaiku, tapi karena paksaan serta ancaman darimu!" Imbuh Sita lagi.


"Itu tidak benar!" Sanggah Dyrtha cepat.


"Kau sudah hamil anak Robert-"


"Iya, itu alasan lainnya," Sita memotong kalimat Dyrtha sekali lagi.


"Tapi sekarang aku sudah tak lagi mengandung anak Robert, jadi aku pikir tanggung jawab Robert sudah selesai disini." Sita membuang nafas dengan kasar.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja, Sita! Kau masih berstatus sebagai istri sah Robert!" Dyrtha memperingatkan.


"Hanya status." Sita kembali menghela nafas dengan kasar, lalu bangkit berdiri.


"Apa maksudnya dengan 'hanya status'? Kau pikir ini sebuah pernikahan sandiwara," Dyrtha menatap tak percaya pada Sita.


"Bukankah ini semua memang sandiwara yang kau cetuskan agar Robert kembali berbaikan dengan kedua orang tuanya?" Jawab Sita seraya tersenyum kecut.


"Robert hanya mencintai Sheila!" Ucap Sita tegas.


"Sheila sudah meninggal! Cemburumu konyol sekali, Sita!" Dyrtha berkata sinis.


"Tapi Robert masih mencintainya, karena Sheila adalah dunia Robert! Sheila adalah segalanya untuk Robert!" Sergah Sita penuh emosi.


"Kau hanya sedang emosi dan cemburu," tebak Dyrtha lagi sok tahu.


"Aku tidak cemburu! Aku akan pergi sekarang!" Pungkas Sita seraya keluar dari rumah Dyrtha.


"Baiklah! Pergilah sebentar dan nanti Robert pasti akan langsung menjemputmu!"


"Saranku, tak usah sok jual mahal, jika nanti Robert menjemputmu dan memintamu untuk kembali pulang bersamanya!" Seru Dyrtha pada Sita yang sudah masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama, mobil hitam tersebut sudah melaju meninggalkan rumah Dyrtha.


"Mau minggat tapi malah melapor kesini. Dasar wanita!" Gumam Dyrtha sebelum pria itu masuk ke dalam rumahnya.


****


Robert masih termangu setelah Dyrtha bercerita panjang lebar tentang apa yang dikatakan Sita di rumahnya pagi ini.


"Kau akan menyusul wanita baperan itu dan membujuknya untuk kembali?" Tanya Dyrtha sok tahu.


"Sita mengatakan, kalau aku selalu menggumamkan nama Sheila saat aku tidur. Itu pasti yang membuat Sita berpikir kalau aku masih belum move on dari Sheila," gumam Robert yang sama sekali tak nyambung dengan pertanyaan Dyrtha.


"Memangnya kau benar-benar menggumamkan nama Sheila saat sedang tidur bersama Sita?" Tanya Dyrtha tak percaya.


"Mana aku tahu? Aku hanya sering bermimpi tentang Sheila belakangan ini karena melihat Sita yang diterima oleh Mami dan Papi sedangkan Sheila dulu tidak." Jawab Robert seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja. Robert memutar kursi tersebut dan melempar pandangannya ke jendela dk belakangnya.


"Kau masih memikirkan Sheila berarti selama ini. Karena itulah kau jadi bermimpi tentang mendiang istrimu itu dan tanpa sadar menggumamkan namanya saat tidur," Dyrtha mulai berteori.

__ADS_1


"Aku hanya menyesali kebodohanku dulu yang tak mau mendengarkan kata-kata Sheila!"


"Dulu saat Sheila hamil, dia membujukku agar pulang dan memberitahu mami dan papi-"


"Tunggu! Sheila hamil?" Dyrtha menyela kalimat Robert.


"Ya, apa aku belum cerita kalau saat kecelakaan itu terjadi, Sheila sedang mengandung calon anak kami. Tapi mereka berdua tak selamat," raut wajah Robert sudah berubah sendu.


"Sheila pernah mengatakan padaku kalau nanti setelah anak kami lahir, Sheila ingin membawanya bertemu Mami dan Papi, karena Sheila yakin meskipun Mami dan Papi membenci Sheila, mereka tak akan mungkin membenci cucu kandung mereka."


"Sayangnya Sheila sudah pergi bersama calon putra kami sebelum keinginannya itu terwujud." Robert menghapus air matanya yang sudah menggenang.


"Kau tidak menceritakan semua itu pada Aunty dan Uncle?" Tanya Dyrtha seraya menepuk punggung Robert. Sepupu Dyrtha itu hanya menggeleng.


"Aunty pernah cerita kalau dia pernah bermimpi sedang menggendong seorang cucu laki-laki yang lucu menggemaskan. Lalu dia pernah bertanya-tanya juga apa Robert sudah punya seorang putra."


"Kau harus menceritakan semuanya pada Uncle dan Aunty Robert!"


"Sheila memang tak akan pernah hidup lagi, tapi jika Uncle dan Aunty tak lagi membencinya dan mau menerima Sheila sebagai menantu mereka, kau juga tak akan terlalu terbebani lagi dan menanggung rasa bersalah pada Sheila!" Nasehat Dyrtha bijak.


"Lalu kau bisa kembali fokus memperbaiki hubunganmu bersama Sita."


"Karena jika hatimu masih dipenuhi rasa bersalah pada Sheila, kau akan terus memimpikannya dan menyebut-nyebut namanya saat tidur! Dan bukan hanya Sita, tapi wanita manapun yang tidur bersamamu pasti juga akan merasa illfeel!" Lanjut Dyrtha panjang lebar.


"Apa kau sedang membela Sita sekarang? Aku kira kau tidak terlalu suka padanya." Tanya Robert sedikit menyindir Dyrtha.


"Memang! Dia sebenarnya tak terlalu cocok menjadi pasanganmu karena penampilannya terlalu sederhana. Tapi berhubung aunty dan uncle yang sepertinya sudah sangat menyukai Sita dan menerima wanita sederhana itu sebagai menantunya, jadi aku bisa apa?"


"Lagipula, bukankah penampilan masih bisa diperbaiki dan dipermak?" Lanjut Dyrtha lagi yang langsung berhadiah tinjuan dari Robert.


"Kesederhanaannya yang membuat Sita berbeda!" Ungkap Robert yang langsung membuat Dyrtha bersiul.


"Berarti sebenarnya kau memang sudah jatuh cinta pada Sita, kan?" Goda Dyrtha seraya menaik turunkan alisnya.


"Aku tak mungkin menikahinya kalau tak jatuh cinta kepadanya!" Sergah Robert yang akhirnya membuat pengakuan.


"Aku pikir itu hanya pernikahan sandiwara," kekeh Dyrtha yang langsung membuat Robert mendengus.


"Aku akan menyusulnya-"


"Hei! Jangan coba-coba kabur sebelum pekerjaanmu selesai!" Dyrtha menahan Robert yang hendak beranjak.


"Brengsek! Bukankah ada kau yang bisa menggantikan aku?" Sergah Robert emosi.


"Ya! Tapi kau juga perlu bicara dulu pada Aunty dan Uncle perihal Sheila!"


"Kau tidak mau Sita marah lagi karena kau masih menggumamkan nama Sheila saat kalian bercinta nanti, kan?" Dyrtha memperingatkan sang sepupu.


"Kau benar!" Robert tak jadi marah.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaan dua hari kedepan hari ini kalau begitu, lalu aku akan bicara pada Mami dan papi nanti malam, dan besok aku baru akan menyusul Sita."


"Mungkin dia juga masih butuh waktu untuk menenangkan diri," tutur Robert yang akhirnya bisa berpikir jernih.


"Rencana bagus!" Dyrtha menepuk punggung Robert, dan dua pria itu lanjut berkutat dengan pekerjaan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2