Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
I LOVE YOU


__ADS_3

Robert menatap lekat wajah Sita masih sambil bergerak naik dan turun di atas tubuh istrinya tersebut. Dua tubuh itu sudah sama-sama naked sejak tadi dan melakukan pergelutan lebih dari satu jam lamanya.


"Kau tidak capek?" Tanya Sita seraya mengusap dada Robert yang sudah di penuhi oleh peluh. Tubuh Sita sendiri juga sudah bermandikan peluh dan lengket dimana-mana. Pendingin udara di kamaf ini sepertinya tak berpengaruh apa-apa saking panasnya pergelutan Sita dan Robert.


"Tidak! Aku masih berhutang banyak." Kekeh Robert yang langsung membuat wajah Sita bersemu merah.


"Hutang apa?" Tanya Sita pura-pura bingung.


"Hutang cinta," bisik Robert mesra seraya mencecap bibir Sita. Tak ada penolakan sama sekali, jadi Robert lanjut mengecup dan melum*tnya dengan dalam. Sita tak malu-malu lagi membalas pagutan bibir Robert yang begitu ahli, bahkan wanita itu juga sudah melingkarkan kedua lengannya di leher Robert, serta semakin membuka lebar kedua pahanya agar Robert bisa menghujam dengan semakin dalam.


"Emmmhhh!" Lenguhan kembali lolos dari bibir Sita, saat kecupan Robert perlahan turun ke leher, lalu dada Sita yang ujungnya sudah menehang, menandakan kalau Sita masih sangat bergairah. Robert tersenyum simpul dan menjilati ujung dada Sita kanan dan kiri secara bergantian. Sita menggelinjang dang berulang kalk menggigit bibir bawahnya atas semua sentuhan kenikmatan yang diberikan oleh Robert. Rasanya benar-benar tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.


Robert yang masih belum mencapai pelepasan, membalik tubuh Sita dan berganti posisi. Robert melesakkan miliknya lagi dengan posisi berbeda sekarang, sambil mendekap tubuh polos Sita dari belakang dan tak berhenti menciumi tengkuk serta leher istrinya tersebut.


"Sudah!" Nafas Sita semakin tersengal seiring hentakan Robert yang semakin keras


"Sedikit lagi!" Robert sama terengahnya dengan Sita dan terus mrmpercepat gerakannya, hingga akhirnya milik Robert berkedut hebat lalu menyemburkan benihnya ke dalam rahim Sita.


Sita memejamkan mata dan berusaha mengatur nafasnya yang masih menburu, bersamaan dengan tubuhnya yang sudah ditarik oleh Robert dan didekap dengan erat dari arah belakang.


"I love you!" Robert masih terengah-engah.


"I love you, Sita!" Ulang Robert yang langsung membuat bibir Sita menyunggingkan senyuman. Sitamenfusap lengan Robert yang masih melingkar di tubuhnya dan tetap tersenyum karena ribuan kelopak bunga seakan sedang menyirami hati Sita sekarang.


"Nanti jadi honeymoon setelah acara pernikahan kita, ya!" Ujar Robert masih sambil mendekap Sita.


"Jadinya honeymoon kemana? Lalu Angga bagaimana?" Tanya Sita yangvsudah berbalik dan kini berbaring menghadap ke arah Robert. Sita mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Robert yang masih sedikit basah oleh peluh.


"Keliling Eropa, agar kau bisa sekalian belanja," Robert mengulas senyum.


"Aku akan menghabiskan uangmu," Sita tertawa kecil dan Robert ikut tertawa juga.


"Lalu Angga bagaimana?" Tanya Sita lagi.


"Angga sudah mulai sekolah. Jadi biarkan dia menikmati masa-masa sekolahnya."


"Sudaha ada Mami, Papi, Bapak, dan Ibu yang akan bersamanya disini. Angga tidak akan kesepian," ujar Robert yakin sekali.


"Jadi, kita pergi berdua saja?" Tanya Sita lagi pura-pura polos.


"Namanya juga honeymoon!" Robert mencolek hidung Sita dengan gemas.

__ADS_1


"Pergi berdua,nanti pulangnya bertiga!" Tukas Robert seraya mengusap perut Sita. Sita ikut meletakkan tangannya di atas tangan Robert yang masih berada di atas perutnya.


"Aamiin!" Gumam Sita lirih mengaminkan pengharapan Robert yang sudah sangat ingin menimang anak kandungnya.


****


Sita tiba di rumah saat hari sudah beranjak sore. Wanita itu juga menenteng satu paoerbag berisi gaun yang akan ia pakai malam ini ke acara bersama Robert.


"Kau bisa berdandan? Atau perlu mami panggilkan tukang rias?" Tanya Mami Indri sebelum Sita naik tangga menuju ke kamarnya.


"Tidak usah, Mi! Sita bisa sendiri," tolak Sita yang langsung membuat Mami Indri mengangguk.


"Sita ke atas dan siap-siap dulu, Mi!" Pamit Sita selanjutnya pada Mami Indri sebelum wanita itu melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya di lantai dua.


****


Robert pulang sedikit terlambat karena ada meeting dadakan. Pria itu membuka pintu kamar dan langsung terkejut saat mendapati Sita yang tengah merias wajahnya sendiri dengan cekatan di depan kaca.


"Hai! Baru pulang?" Sapa Sita yang langsung menyentak lamunan Robert yang tadinya terpesona dengan wajah Sita yang terlihat beda setelah wanita itu memakai make up.


Robert baru tahu kalau Sita ternyata pandai merias wajahnya sendiri.


"Kau dandan sendiri?" Tanya Robert yang langsung merengkuh kedua pundak Sita dari arah belakang, dan memperhatikan sekali lagi wajah cantik Sita yang benar-benar berbeda malam ini.


"Tidak!" Jawab Robert cepat.


"Kau cantik sekali," puji Robert yang sudah mencerukkan kepalanya di leher Sita.


"Aku baru tahu kalau kau pandai berdandan," ujar Robert masih tetap menatap wajah ayu Sita di kaca.


"Hanya make up simpel. Semua wanita pasti bisa melakukannya, Robert," tukas Sita merendah.


"Tapi kau terlihat beda."


"Mungkin karena aku jarang dandan," pendapat Sita seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Kau tidak mandi?" Tanya Sita yang sudah selesai mengoleskan lipstik berwarna kalem di bibirnya. Wankta itu bangkit berdiri dan membantu melepaskan dasi serta kancing kemeja Robert.


"Ini baru mau mandi. Kau mau menemani?" Goda Robert pada sang istri.


"Lalu kau akan membuat make up-ku luntur, dan aku harus kembali berdandan," jawab Sita seraya tertawa kecil.

__ADS_1


"Kita bisa terlambat ke acara nanti," timpal Robert ikut tertawa.


"Aku akan mandi sendiri saja," ujar Robert akhirnya yang langsung membuat Sita mengangguk.


"Akan kusiapkan bajumu," tukas Sita seraya berjalan ke arah lenari untuk mengambil baju Robert. Sementara Robert sudah menghilang ke dalam kamar mandi.


****


"Berapa jam istrimu menghabiskan waktu di salon sebelum datang ke acara ini?" Bisik Dyrtha yang malam ini turut datang ke acara Matthew Orlando. Namun Dyrtha terpaksa datang sendiri karena Mizty masih ngidam dan menolak mendampingi Dyrtha.


"Dia dandan sendiri dan berhentilah meremehkannya, karena aku tidak suka istriku kau ledek-ledek terus!" Robert memperingatkan Dyrtha sekali lagi.


"Tapi dia tidak keberatan aku ledek," Dyrtha seolah mencari pembenaran.


"Kau!" Robert menuding geram pada Dyrtha sebelum kemudian Sita menghampiri kedua pria tersebut.


"Sudah yang mengambil minum? Kenapa lama?" Tanya Sita pada Robert.


"Gaun mahal benar-benar mengubah penampilanmu seratus delapan puluh derajat, ya? Tak akan ada yang tahu kalau kau sebenarnya adalah-"


"Dyrtha!" Gertak Robert yang benar-benar sudah geram pada sepupunya tersebut.


"Aku hanya bicara apa adanya!" Kilah Dyrtha yang lagi-lagi masih membela diri.


"Adalah janda miskin yang beruntung karena dinikahi pria sebaik dan sekaya Robert. Terima kasih sudah mengingatkan asal-usulku!" Tukas Sita melanjutkan kalimat Dyrtha yang yadu dipotong Robert. Namun nada bicara wanita itu terdengar sinis.


"Aku selalu ingat asal-usulku dan jika malam ini aku berpenampilan glamour, karena aku menghormati Robert sebagai suamiku dan aku tak akan membuat Robert merasa malu di depan rekan-rekan kerjanya."


"Aku memang tidak terlahir dari keluarga kaya seperti dirimu, Dyrtha! Tapi aku tahu bagaimana membawa diri dan aku tak pernah merendahkan orang berdasarkan kasta sosialnya."


"Harta berlimpah tak lantas membuatmu terhormat kalau kau tidak punya etika dan masih suka merendahkan orang lain berdasarkan kasta sosialnya," pungkas Sita sebelum wanita itu mennggamit lengan Robert dan mengajak suaminya itu untuk jauh-jauh saja dari Dyrtha.


"Urusan kita belum selesai!' Robert menuding pada sepupunya tersebut dan Dyrtha tetap merasa tak bersalah.


"Cih! Sok bijak!" Gerutu Dyrtha setelah Sita dan Robert pergi.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2