
Sita mengangsurkan loyang terakhir berisi adonan kue yang sudah selesai ia cetak ke tangan Teresa. Wanita itu menghela nafas beberapa kali sembari memperhatikan Teresa yang langsung dengan cekatan memasukkan loyang tadi ke dalam oven.
"Apa keputusanku ini salah, Tere?" Tanya Sita akhirnya pada Teresa setelah wanita itu bercerita panjang lebar perihal hubungan rumitnya bersama Robert.
"Aku tidak akan membenarkan atau menyalahkan, karena jika aku berada di posisimu lalu suamiku menggumamkan nama wanita lain, mungkin aku juga akan marah."
"Tapi posisi Sheila di sini juga bukan wanita lain di kehidupan Robert. Dia istri Robert sebelum kau." Tutur Yeresa panjang lebar yang memilih bersikap senetral dan sebijak mungkin.
"Jika Robert hanya menggumamkannya sskali atau dua kali, aku mungkin akan maklum. Tapi ini berkali-kali..." Sita menghela nafas kecewa.
"Aku boleh tanya sesuatu, Sita?" Tanya Teresa tiba-tiba sembari menarik kursi untuk ia duduk di dekat Sita. Taknlupa Teresa juga memasang timer untuk mengingatkan agar kuenya tidak gisong dj dalam oven.
"Tanya apa?" Raut wajah Sita hanya datar.
"Apa kau masih ragu pada Robert selama ini?" Tanya Teresa hati-hati yang tak langsung dijawab oleh Sita. Wanita itu terdiam untuk beberapa saat.
"Maaf jika pendapatku salah, tapi kalau dari yang aku lihat, kau masih merasa ragu pada cinta Robert. Jadi mungkin hal.itulah yang juga membuat Robert tak kunjung move on dari mendiang istrinya." Teresa akhirnya menjawab sebduru pertanyaannya dan wanita itu mulai berteori.
"Maaf, aku bingung," Sita menatap tak mengerti ke arah Teresa.
"Kau masih ragu pada cinta Robert selama ini," Teresa menggunakan kalimat sejelas mungkin.
"Bagaimana aku tak ragu jika dia saja masih memikirkan tentang mendiang istrinya--"
"Tidak, bukan itu maksudku, Sita!" Teresa menyela dengan cepat.
"Seperti ceritamu tadi, kalau Robert terus teringat pada Sheila karena dia merasa bersalah serta belum.bisa mewujudkan keinginan terakhir Sheila--"
"Iya itu berdasarkan pengakuannya. Tidak tahu bagaimana hatinya!" Sita gantian memotong kalimat Teresa dan wanita itu mulai sinis sekarang.
"Robert mencintaimu!" Sergah Teresa yang langsung membuat Sita berdecak.
"Dia hanya mencintai Sheila! Baginya, dunianya itu hanya Sheila, cintanya hanya untuk Sheila, semuanya untuk Sheila!"
"Aku hanya pelarian atau mungkin hanya penghangat ranjangnya!" Cerocos Sita mulai emosi.
"Itu tidak benar!" Sergah Teresa lagi.
"Jika memang Robert tidak mencintaimu, pria itu tidak mungkin kembali untuk mencari informasi tentang dirimu dan berusaha mendekatimu setelah apa yang terjadi malam itu di antara kalian!"
"Robert bisa saja langsung lepas tangan dan pura-pura tak melakukan appaun kepadamu setelah kejadian malam itu jika memang Robert tak mencintaimu!"
"Lalu jangan lupakan, bagaimana Robert berusaha melindungimu pada kasus Akshara. Robert tak akan melakukan semua itu jika memang dia tak mencintaimu, Sita!"
"Robert itu mencintaimu!" Beber Teresa panjang lebar mencoba meyakinkan Sita yang terus saja ragu pada cinta Robert.
"Tapi dia masih belum move on dari masa lalunya bersama Sheila!" Sita kembali memberikan alasan.
"Maka itu tugasmu untuk membuat Robert move on!" Ujar Teresa yang langsung membuat Sita mengernyit tak paham.
"Sekarang begini," Teresa sudah merengkuh kedua pundak Sita.
__ADS_1
"Kau mengatakan kalau Robert belum move on dari Sheila, sedangkan kau sendiri juga nelum move on dari Aksha-"
"Aku sudah move on dan melupakan pria brengsek itu!" Sergah Sita berapi-api.
"Ya, tapi kau masih merasa ragu pada cinta Robert, karena kau takut kalau Robert akan melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Akshara di masa lalu."
"Aku hanya waspada! Memang apa salahnya?" Kilah Sita mencari pembenaran.
"Justru itu kesalahanmu!"
"Kau belum sepenuhnya membuka hati untuk Robert, kau masih ragu padanya, tapi kau marah-marah saat ternyata Robert juga belum move on dari Sheila!" Teresa tertawa kecil.
"Robert tak akan pernah move on, jika kau tidak menghilangkan keraguanmu itu dan mulai membuka hari untuknya." Pendapat Teresa lagi yang malah membuat Sita semakin bingung.
"Sekarang mudahnya begini--"
Suara alarm yang memberitahu kur sudab matang, membuat Teresa menjeda kalimatnya.
"Aku angkat kuenya dulu," pamit Teresa seraya bangkit berdiri dan menuju ke arah oven. Setelah mengeluarkan loyang-loyang kue dan nenatikan oven, Teresa kembali menghampiri Sita lagi dan memberikan segelas air untuk sahabatnya tersebut.
"Baiklah, aku ulangi." Teresa menarik nafas.
"Sekarang mudahnya begini,"
"Jika kau ingin Robert segera move on dari Sheila dan tak terus-terusan menggumamkan nama Sheila saat tidur, kau harus membantu Robert!" Tutur Teresa panjang lebar memberikan saran dan nasehat untuk Sita.
"Membantu bagaimana maksudmu?" Tanya Sita bingung.
"Tunjukkan kalau kau juga mencintai Robert! Tunjukkan kalau kau selalu ada untuknya dan siap menjadi masa depannya." Ujar Teresa panjang lebar.
"Tapi aku sudah membuat Robert kecewa kemarin karena tak menjaga baik-baik calon anaknya--"
"Hei! Itu bukan salahmu, oke!"
"Itu sudah suratan takdir, dan kau masih bisa hamil lagi, Sita!" Teresa mengusap punggung Sita dan mencoba memberika semangat pada sahabatnya tersebut.
"Lalu bagaimana jika Robert masih saja menggumamkan nama Sheila saat dia tidur?" Tanya Sita selanjutnya merasa bingung.
"Bangunkan dia dan jangan buru-buru marah!"
"Ajak dia bicara pelan-pelan dan dari hati ke hati. Tanyakan apa yang mengganggu perasaannya dan katakan kalau dia bisa menceritakan apapun kepadamu perihal Sheila atau masalalunya. Kau harus jadi pendengar yang baik dan jangan sedikit-sedikit berprasangka!" Nasehat Teresa panjang lebar.
"Kau harus membuat Robert merasa nyaman dan memainkan peranmu sebagai istri" sambung Teresa lagi.
"Perlahan tapi pasti, Robert akan berhenti bermimpi tentang Sheila, jika kau selalu ada untuknya dan memberikan perhatian yang berlimpah. Percaya padaku!" Pungkas Teresa sambil kembali merengkuh kedua pundak Sita.
"Yakinkan dirimu dulu, Sita! Buka hatimu dan hilangkan keraguanmu! Robert bukan pria brengsek seperti Akshara!"
"Robert adalah pria baik yang mencintai kau dan juga menyayangi Angga! Jadi kau tak perlu takut Robert akan menyakitimu apalagi mengkhianatimu kedepannya!" Ujar Teresa sekali lagi memberikan nasehat serta keyakinan pada Sita.
"Baiklah!" Sita mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Aku akan mulai memperbaiki diri dan membimbing Robert agar ia bisa move on dari masa lalunya."
"Aku akan berusaha jadj istri yang baik untuk Robert dan menghilangkan semua keraguanku selama ini." Tutur Sita penuh tekad yang langsung membuat Teresa mengulas senyum. Teresa langsung memeluk Sita dengan hangat.
"Terima kasih atas semua nasehat bijakmu, Tere!" Ucap Sita tulus yang hanya mrmbuat Teresa mengangguk-angguk.
"Ma!" Panggil Angga yang sudah menyusul ke dapur.
"Iya. Ada apa?"
"Katanya Papa mau menyusul kesini? Trus ini kan sudah dua hari kita di sini. Kok Papa belum datang?" Tanya Angga yang sepertinya sudah sangat rindu pada Robert.
"Papa mungkin masih sibuk, Sayang! Besok pasti papa akan kesini," ujar Sita mencoba memberikan pengertian pada sang putra.
"Baiklah!" Angga mengangguk-angguk dan sedikit membenarkan kacamatanya
"Angga, ayo main lagi!" Panggil Timmy seraya menarik tangan Angga dan mengajaknya keluar dari dapur.
"Angga sepertinya sudah kangen pada Robert. Kau tidak mau menelepon Robert?" Teresa memberikan sebuah usul.
"Aku tidak hafal nomornya." Sita merutuki dirinya sendiri yang enggan menghafal nomor Robert.
"Apa sebaiknya aku membawa Angga kembali pulang saja sekalian minta maaf pada Robert atas sikapku yang berkebihan ini?" Tanya Sita meminta pendapat Teresa.
"Itu juga bukan ide yang buruk. Tapi tunggulah dulu sampai besok, karena barangkali Robert sedang dalam perjalanan kemari," imbuh Teresa yang kembali memberikan saran.
"Baiklah." Sita baru sekesai mengangguk, saat terdengar suara benturan dari luar rumah, disusul tangusan Angga yang menggema.
"Angga!"
Sita dan Teresa melesat keluar dari dapur untuk melihat apa yang terjadi. Angga yang tadinya sedang bermain sepeda bersama Timmy terlihat menangis kesakitan dan tubuhnya tertimpa sepeda Timmy yang berukuran lumayan besar.
"Mama! Tangan Angga!" Tangis Angga yang tak berhenti memanggil-manggil Sita.
Buru-buru Sita dan Teresa menolong Angga dan menyingkirkan sepeda Timmy.
"Mana yang sakit?" Tanya Sita memastikan.
Angga langsung menunjuk ke tangan kirinya. Sita memegang dengan hati-hati dan Angga langsung menjerit tak karuan.
"Jangan-jangan patah! Ayo kita bawa ke rumah sakit!" Usul Teresa yang langsung bergerak cepat untuk memanggil taksi.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1