
"Maaf, apa saya bisa minta gaji di awal, Pak?" Tanya Sita takut-takut pada manajer toko yang baru saja menerimanya bekerja sebagai kasir.
"Kerja saja belum sudah minta gaji! Gajimu akan dibayar bulan depan!" Jawab manajer itu galak.
"Iya, maaf! Saya hanya tanya, Pak!" Ujar Sita seraya menundukkan wajahnya.
"Kerja dulu yang benar!" Tegas manajer toko lagi.
"Baik, Pak! Saya mulai kerja kapan?" Tanya Sita selanjutnya.
"Besok pagi. Datang ke toko jam delapan dan jangan sampai terlambat! pakai seragam, jangan lupa!" Manajer toko menyodorkan dua stel seragam kasir pada Sita.
"Iya, Pak! Terima kasih banyak. Saya permisi."
"Selamat siang!" Pamit Sita selanjutnya seraya undur diri dari kantor manajer.
Sita sedikit bernafas lega karena akhirnya dia sudah kembali mendapatkan pekerjaan. Tapi masih ada yang mengganjal di hati Sita perihal biaya operasi Pak Alwi. Jika menunggu gaji Sita bulan depan, itu terlalu lama dan kata dokter operasi juga harus dilakukan sesegera mungkin.
Apa Sita mencari pinjaman uang saja, ya?
Tapi mau meminjam pada siapa?
Tak mungkin Sita meminjam uang pada Teresa. Sahabat Sita itu juga punya banyak kebutuhan dan dia sudah terlalu banyak membantu Sita. Rasanya sungkan sekali jika Sita harus terus merepotkan Teresa dan Will.
"Pekerjaannya mudah saja! Hanya menemani pelanggan dan kau akan dibayar dengan tinggi." Ucapan salah satu pelanggan kue yang menawarkan pekerjaan dengan bayaran tinggi pagi tadi mendadak berkelebat di benak Sita.
Apa sebaiknya Sita mencoba itu, ya? Demi biaya operasi Pak Alwi, apa salahnya?
Sita segera mengambil ponselnya di dalam tas, lalu menghubungi nomor yang tadi diberikan oleh pelanggan kuenya. Tak berselang lama, sebuah alamat dikirim ke ponsel Sita dan tanpa membuang waktu lagi, Sita segera naik angkutan umum menuju ke alamat yang tertera.
Semoga ini bukan keputusan yang salah!
****
"Jenis kelaminnya laki-laki!" Ucap dokter yang langsung membuat Robert dan Sheila tersenyum bahagia.
"Beratnya sudah sesuai dengan usia kandungan. Semuanya bagus." Imbuh dokter lagi yang semakin membuat hati Robert dilingkupi kebahagiaan.
"Robert junior akan lahir beberapa bulan lagi," ujar Sheila ada Robert yang sedang membantunya untuk bangun.
"Ya! Aku akan menggendongnya nanti, mengajaknya bermain bola, mengajarinya naik sepeda!"
Robert sudah sangat antusias saat mengungkapkan semua rencananya bersama Robert junior pada Sheila. Hingga suara dering ponsel yang terdengar nyaring, membuyarkan semua mimpi indah Robert tersebut. Robert bangun dengan mata yang basah karena lagi-lagi ia bermimpi tentang Sheila dan calon putranya yang bahkan belum sempat ia gendong.
Robert menatap ke sekitar hingga kemudian pria itu sadar jika ia masih berada di dalam ruangannya di Halley Development. Langit di luar gedung sudah berubah menjadi semburat oranye, menandakan kalau malam akan datang sebentar lagi.
Ponsel Robert yang tergeletak di atas meja kembali berdering dan menampilkan nama Liam Halley di layarnya. Segera Robert menghapus airmata yang masih menggenang di pelupuk matanya, lalu mengangkat telepon dari Liam.
"Halo!" Sapa Robert seraya berdehem beberapa kali.
"Rob, kau sudah pulang?"
"Tidak! Aku masih di kantor dan ketiduran tadi," jawab Robert seraya mengendurkan dasi di lehernya.
"Kebiasaan!"
"Cepat pulang, mandi, ganti baju, lalu gantikan aku menemui Tuan Kim!"
__ADS_1
"Jam berapa?" Tanya Robert seraya melirik arlojinya.
"Jam tujuh di hotel Semesta! Nanti aku kirim detailnya."
"Baiklah! Aku siap-siap dulu." Jawab Robert seraya beranjak dari duduknya dan memeriksa lemari tempatnya menyimpan kemeja serta baju cadangan lain di kantor. Robert memang kerap menginap di kantor Halley Development tanpa sepengetahuan Liam. Baginya itu lebih baik ketimbang harus pulang ke rumah, lalu tenggelam dalam kesepian. Terlalu banyak kenangan Robert bersama Sheila di rumah mungilnya itu.
"Rob, boleh aku memberimu saran?"
"Saran apa?" Tanya Robert dengan nada malas.
"Ada sebuah kelab malam di seberang hotel Semesta. Nanti setelah bertemu Tuan Kim, sebaiknya kau bersenang-senang sebentar di kelab malam itu."
"Baiklah, terima kasih saranmu." Jawab Robert datar.
"Jangan hanya berterima kasih tapi kau harus melakukannya! Itu perintah dari Liam Halley!"
"Iya!" Jawab Robert yang sedang enggan berdebat dengan Liam.
"Bisa kututup teleponnya sekarang? Aku harus bersiap pergi." Izin Robert selanjutnya pada Liam yang entah ingin bercerocos apa lagi.
"Tutup saja! Tinggal tekan tombol merah di layarmu! Kenapa harus minta izin?"
Tuut! Tuut!
Telepon diputus oleh Liam begitu saja. Dasar pria aneh!
Robert mengusap wajahnya sendiri beberapa kali sebelum kemudian pria itu meneguk segelas air untuk membasahi tenggorokannya. Robert lanjut keluar dari ruangannya dan pergi ke kamar mandi yang masih berada di lantai yang sama. Robert akan bersiap-siap dan berangkat dari kantor.
****
"Kenapa pakai baju seperti ini?" Tanya seorang wanita yang dipanggil Madam tersebut dengan nada galak pada Sita.
"Ck!"
"Ikut aku!" Perintah Madam yang hanya membuat Sita mengangguk. Sita mengikuti langkah wanita berusia empat puluh tahunan itu dan ia dibawa ke sebuah ruangan dimana banyak sekali baju-baju kurang bahan.
Apa?
"Pakai ini!"madam menyodorkan sebuah baju terusan warna merah maroon pada Sita. Kalau dilihat dari potongannya, baju itu hanya akan menutup sampai atas lutut Sita saat dikenakan.
Ya ampun!
Sita mau dipekerjakan sebagai apa memangnya? Wanita penggoda?
"Madam, saya mengundurkan diri saja dan tak jadi bekerja malam ini," ucap Sita cepat yang sudah berbalik dan hebdak pergi. Namun dia pria bertubuh tegap menghadang langkah Sita dan melarangnya pergi.
"Kau sudah bilang bersedia. Jadi tidak bisa mundur lagi!" Ucap Madam dengan senyuman licik.
"Pakai baju itu dan cepat temui pelanggan! Mereka sudah membayar mahal!" Perintah Madam sekali lagi dengan nada galak yang benar-benar membuat Sita merutuki kebodohannya sendiri.
"Dan minum air di atas nakas itu sampai habis!" Sambung madam masih dengan perintah galaknya.
"Itu air apa?" Tanya Sita berani.
"Apa matamu buta? Itu air putih biasa!"
"Minum dan habiskan, atau aku tak akan membayarmu!" Perintah madam sekali lagi tetap dengan nada galak.
__ADS_1
Sita akhirnya mengganti bajunya dengan gaun kurang bahan tadi,lalu meneguk hingga habis air di dalam gelas. Setelah itu, Sita diantar oleh anak buah madam menuju ke sebuah kelab malam.
Benar firasat Sita, ia akan dipekerjakan sebagai jal*ng malam ini pada lelaki hidung belang.
Bagaimana ini?
"Duduk di sofa yang di sebelah sana dan tunggu pelanggan datang! Jangan coba-coba untuk kabur!" Ujar anak buah madam memperingatkan Sita.
Sita tak membantah dan hanya menurut, lalu duduk di sofa yang tadi ditunjuk anak buah madam. Tidak ada siapa-siapa dan Sita hanya sendirian. Kalimat doa terus Sita rapalkan, berharap calon pelanggan yanga akan menyewanya tidak jadi datang entah terkena serangan jantung mendadak, tiba-tiba tersambar petir, atau mobilnya terlindas truk. Apa saja asal pria hidung belang itu tidak datang.
"Kenapa tiba-tiba jadi panas?" Gumam Sita yang langsung sibuk mengipasi tubuhnya sendiri dengan telapak tangan. Sita merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba menghinggapi tubuhnya. Sebuah perasaan yang sudah bertahun-tahun tak lagi Sita rasakan karena pengkhianatan Akshara.
"Aku kenapa?" Gumam Sita bertanya pada dirinya sendiri.
"Sita?" Sapa seorang pria tua yang sudah duduk di samping Sita dan mengusap wajah Sita. Rasanya nyaman sekali.
Tidak!
Sita tidak boleh terbuai begini.
Hati Sita berontak dan Sita buru-buru menyentak tangan nakal pria tua yang mulai menjamah tubuhnya.
"Pergi!" Usir Sita yang masih berusaha mengendalikan dirinya sendiri yang sebenarnya mulai hilang kewarasan.
"Aku sudah membayarmu! Jadi tidak usah jual mahal!" Bentak pria tua itu seraya mencengkeram wajah Sita dengan kasar.
"Aku tidak mau!" Balas Sita seraya menyentak tangan pria tua itu. Sita bangkit berdiri dengan susah payah dan berusaha menjauh dari pria tua tadi.
"Kesini kau, Jal*ng!" Panggil pria tua tadi seraya mengejar Sita uang berlari ke arah meja bar. Sita hampir tertangkap saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya dan merengkuh Sita ke dalam dekapannya.
"Sita, kau sedang apa disini?" Tanya pria yang wajahnya terlihat kabur di mata Sita tersebut.
"Kau siapa?" Tanya Sita lirih nyaris tanpa suara.
"Hei! Kembalikan wanitaku!" Bentak pria tua yang tadi bersama Sita.
"Dia milikku dan aku sudah membayarnya tiga kali lipat!" Jawab pria yang kini masih mendekap Sita di dalam pelukannya.
Sita merasa tak asing dengan suara itu. Tapi otak Sita mendadak buntu dan tak bisa mengingatnya.
"Keparat! Aku membayarnya duluan!" Pria tua tadi terlihat marah.
"Maaf! Dia milikku," jawab pria satunya santai seraya berjalan ke arah pintu keluar kelab malam sambil masih merangkul Sita. Pria itu mempercepat langkahnya saat pria tua yang tadi marah mengejarnya bersama beberapa bodyguard.
"Ayo cepat!"
"Robert! Kau Robert, kan?" Tanya Sita yang akhirnya bisa mengingat nama pria yang baru saja menyelamatkan dirinya.
"Ya, itu aku! Ayo pergi dari sini!" Jawab Robert seraya mengajak Sita masuk ke mobil, dan bersembunyi dari kejaran pria tua hidung belang tadi.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.