Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
SUDAH BERAPA LAMA?


__ADS_3

Sita menyingkirkan lengan Robert yang masih melingkar di pinggangnya dengan perlahan. Sesekali bibir Robert masih menggumamkan nama Sheila dan pria itu sepertinya juga menangis dalam tidurnya.


Sita menghela nafas dan segera menyibak selimut, lalu membenarkannya kembali agar Robert merasa nyaman. Sita memunguti bajunya, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Semalam, setelah Robert pamit tidur, pria itu memang tidak bangun lagi dan tidak juga melanjutkan pergelutannya bersama Sita yang sebelumnya berhenti di tengah-tengah. Tapi Sita tak mau mempersoalkannya sekarang.


Sita hanya ingin mandi dan membersihkan diri, lalu secepatnya pulang dan memeluk Angga.


"Hai, kau sudah mandi?" Tanya Robert yang ternyata sudah bangun dan kini berdiri di depan pintu kamar mandi, saat Sita sudah selesai membersihkan diri.


"Aku pikir kita harus pulang pagi-pagi sebelum Angga bangun," jawab Sita seraya menyelipkan rambut basahnua ke belakang telinga.


"Kau tidak membangunkan aku semalam?" Tanya Robert yang tangannya sudah terulur dan mengusap dada Sita yang sudah tertutup blouse yang semalam.


"Aku ketiduran," jawab Sita berdusta.


Sita bahkan belum memejamkan matanya sejak semalam dan busa mendengar Robert yang berulangkali menggumamkan nama Sheila dalam tidurnya.


"Dan aku juga baru saja bangun," lanjut Sita lagi.


"Lalu, kau tidak membangunkan aku? Padahal kita bisa melakukannya saat bangun tadi," Robert sedikit tersenyum nakal pada Sita.


"Kita harus segera pulang, Rob!" Ujar Sita mengingatkan seraya menahan tangan Robert yang hendak bergerak semakin jauh. Namun diluar dugaan, Robert malah menggenggam tanagn Sita dan membawanya ke tempat lain.


Ke pangkal paha pria itu lebih tepatnya!


Oh, ya ampun!


Sita bahkan baru sadar kalau sejak tadi Robert memang masih naked dan tak mengenakan apapun.


"Temani aku mandi sebentar!" Pinta Robert antara merayu dan memohon.


"Robert, aku sudah mandi-" suara Sita tercekat dan wanita itu refleks menggigit bibir bawahnya saat Robert membimbing tangannya untuk bergerak sambil menggenggam milik Robert yang sudah mulai mengeras.


"Sebentar saja," bisik Robert sensual seraya menggigit kecil telinga Sita.


Sita kembali menggigit bibir bawahnya dan sedikit menggelinjang akibat tindakan Robert barusan.


Sita belum sempat menolak, saat Robert tiba-tiba sudah ******* bibir Sita, lalu sedikit mendorong istrinya itu masuk kembali ke kamar mandi.


Ya,


Sepertinya acara mandi Sita tadi hanya sia-sia karena kini Robert sudah kembali melucuti semua bajunya dan mengajak Sita bercinta di dalam bathtube.


****


Sita bergegas turun dari mobil Robert, saat melihat Angga yang sudah duduk sendirian di teras rumah Pak Alwi dengan wajah sembab. Sepertinya putra Sita itu baru saja menangis.


"Angga!" Sapa Sita yang langsung membuat Angga berlari dan memeluk Sita dengan erat.


"Mama dari mana?" Tanya Angga yang kini bibirnya sudah merengut.


"Dari...." Sita masih memikirkan sebuah alasan untuk Angga, saat Robert sudah menyusul turun dan langsung mengangkat tubuh Angga.


"Hai, Jagoan! Sudah bangun?" Sapa Robert masih sambil menggendong Angga dan membawanya masuk dari rumah.


"Papa dan Mama tadi darimana?" Sita masih mendengar pertanyaan samar-samar dari Angga pada Robert. Anak serta suami Sita tersebut sudah menghilang ke dalam rumah.

__ADS_1


Sita menghela nafas beberapa kali dan akhirnya ikut menyusul masuk.


"Ma! Apa benar, nanti kita akan pergi naik pesawat?" Seru Angga tiba-tiba saat Sita baru masuk ke ruang makan. Angga dan Robert sudah duduk di sama bersama Pak Alwi yang sedang menyesap tehnya.


"Hah, naik pesawat?" Sita terlihat kaget dan wanita itu langsung menatap pada Robert yang hanya mengulas senyum.


Robert memang mengatakan kalau mereka akan berangkat ke rumah orang tua Robert sore ini. Tapi Robert sama sekali tak memberitahu Sita kalau mereka akan pergi naik pesawat. Dimana sebenarnya kedua orang tua Robert tinggal?


"Robert," Sita sedikit berbisik pada Robert dan wanita itu masih bingung.


"Iya!" Jawab Robert yang sudah paham sembari mengangguk.


"Nanti jangan lupa bawa oleh-oleh juga untuk Kakek, ya!" Celetuk Pak Alwi menimpali obrolan Angga dan Robert.


"Siap, Kakek!" Jawab Angga yang sudah tak semabb lagi dan sudah tersenyum lebar. Bocah itu juga tak lepas dari pangkuan Robert dan terlihat lahap memakan sarapannya jarena disuapi oleh Robert


Padahal sebelum-sebelumnya Angga sudah mandiri dan jarang minta disuapi oleh Sita. Tapi belakangan bocah ini jadi manja sekali pada Robert terutama setelah Robert sah menjadi papa sambungnya.


Mungkin Angga memang merindukan sosok seorang papa.


****


Liam lagi-lagi dibuat terkejut saat baru tiba di ruangannua dan Robert sydah ada disana sedang merapikan beberapa berkas.


"Ya ampun! Kau mau membuat aku terkena serangan jantung?" Omel Liam pada sang asisten yang sebentar lagi mungkin akan berubah status menjadi mantan asisten.


"Maaf! Aku tadi datang sedikit pagi, karena aku harus menyelesaikan banyak hal sebelum mengambil cuti beberapa hari ke depan," ujar Robert yang matanya tetap fokus menatap pada layar monitor di depannya.


"Kau mau jadi asistenku sampai kapan memangnya, Tuan Muda?" Tanya Liam seraya duduk di kursi kebesarannya.


Mungkin seharusnya Robert saja yang duduk disini dan Liam yang jadi asisten.


"Sampai kau dapat asisten baru. Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya?" Jawab Robert yang tangannya masih terlihat mengetikkan sesuatu.


"Kenapa tidak mengambil cuti mulai hari ini? Bukannya semalam habis lembur bersama Sita?" Tanya Liam lagi yang sepertinya akan mulai menginterogasi Robert perihal malam pengantinnya semalam, setelah hampir tahun tak menyentuh wanita.


"Kau masih ingat cara melakukannya?" Tanya Liam seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Robert yang hanya tersenyum tipis.


"Melakukan apa?"


"Bercinta!" Jawab Liam blak-blakan.


Robert tak menjawab dan lagi-lagi hanya mengulas senyum tipis disertai gelengan kepala kali ini.


"Baiklah, aku tak jadi tanya!"


"Lalu kapan kau akan membawa Sita dan Angga bertemu kedua orang tuamu? Yakin mereka tak akan menolak dan mengusir Sita? Mengingat dulu Sheila-"


"Sita dan Sheila berbeda!" Robert menyela kalimat Liam dengan cepat.


"Dan aku hanya ingin menunjukkan peranku sebagai anak dengan membawa istri serta anakku bertemu mereka. Jika nantinya mereka mengusir istri dan anakku, aku hanya tinggal pergi dan tak perlu lagi menginjakkan kaki di rumah mereka," jawab Robert tegas yang bahkan menyebut kedua orangtuanya dengan kata mereka, seolah papi dan mami tuan muda ini adalah orang asing.


Sepertinya perseteruan Robert dan kedua orang tuanya benar-benar serius! Dan Robert adalah pria keras kepala!


"Baiklah, terserah!" Liam mengangkat kedua tangannya dan memilih untuk tak melanjutkan pertanyaannya.


"Kapan kalian berangkat?" Tanya Liam lagi tanpa embel-embel.

__ADS_1


"Nanti sore," jawab Robert singkat sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.


Liam tak bertanya lagi dan ikut menyalakan laptopnya, lalu berkutat dengan pekerjaan juga. Sesekali dua pria itu akan berdiskusi serius sebelum kemudian mereka kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.


****


[Kau jadi datang malam ini, kan? Nasib Sita ada di tanganmu, Robert!] -Dyrtha-


[Kau tidak mau melihat wanita yang kau cintai mendekam di penjara, kan?] -Dyrtha-


[Aku tunggu kedatanganmu bersama Sita dan Angga] -Dyrtha-


Robert menghapus deretan pesan yang masuk dari Dyrtha. Entah darimana sepupunya itu tahu nomor Robert yang sekarang.


"Pa! Rumah Opi dan Omi masih jauh dari sini?" Tanya Angga yang sejak tadi tangannya digandeng oleh Robert keluar drai bandara kota. Sedangkan Sita memilih untuk mengekor saja di belakang suami dan anaknya.


"Hanya sekitar lima belas menit naik taksi." Jawab Robert seraya tersenyum pada Angga.


"Tapi kita ke butik sebentar, ya!" Ujar Robert pada Angga sekaligus pada Sita yang berada di belakangnya.


Namun Robert sedikit terkejut saat melihat ke arah Sita yang wajahnya sedikit pucat.


"Kau kenapa?" Tanya Robert khawatir seraya memeriksa suhu tubuh Sita.


"Hanya sedikit mual," jawab Sita sebelum wanita itu meneguk air mineral yang ada di tangannya.


"Mau muntah?" Tanya Robert lagi khawatir.


"Tidak! Hanya mual saja," jawab Sita bersungguh-sungguh.


"Kau bawa obat mual dari dokter, kan?" Tanya Robert memastikan.


"Iya, sudah aku minum tadi sebelum naik pesawat. Tapi sekarang malah mual lagi," ujar Sita seraya menarik nafas panjang. Robert membimbing istrinya tersebut untuk duduk di salah satu bangku panjang yang mereka lewati.


"Kita langsung ke hotel saja dan tak usah ke acara," putus Robert setelah menimbang kondisi Sita yang sepertinya sedang kurang sehat. Mungkin pengaruh kehamilannya juga.


"Tidak, tunggu," Sita menggenggam lengan Robert.


"Kita mau kemana sebenarnya?" Tanya Sita menatap serius pada Robert karena suaminya itu yang seperti menyimpan banyak sekali rahasia dari Sita.


"Ke acara wedding anniversary Mami dan papi," jawab Robert jujur.


"Sudah berapa lama kau tidak pulang dan bertemu kedua orangtuamu?" Tanya Sita lagi penuh selidik.


"Hampir empat tahun," jawab Robert seraya meringis.


"Anak macam apa kau ini?" Sita menatap tak percaya pada Robert yang tetap meringis. Saat tiba-tiba Angga berseru pada sesrorang yang datang menghampiri keluarga kecil itu.


"Om Dyrtha!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2