Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
SUDAH TAHU


__ADS_3

Sita masih mematung dengan permintaan Robert barusan. Apa Robert baru saja melamar Sita?


"Menikahlah denganku, Sita!" Pinta Robert sekali lagi mengulangi kalimatnya yang tadi. Seakan terhenyak, Sita langsung menarik tangannya yang digenggam Robert dan wanita itu masih membisu.


Robert bangkit berdiri dan mendekat ke arah Sita yang hendak keluar dari kamar. Robert dengan cepat menahan tangan Sita.


"Aku tidak bisa, maaf!" Jawab Sita yang akhirnya buka suara.


"Sekalipun itu demi calon bayi yang berada di dalam kandunganmu?" Tanya Robert yang sontak membuat Sita kaget.


Bagaimana Robert bisa tahu?


"Atau aku harus mengatakan kalau itu calon anakku," sambung Robert lagi.


"Aku sedang tidak hamil! Sudah aku bilang kalau waktu itu aku memakai kontrasepsi," Sita masih berusaha mengelak. Lalu Robert meraih obat yang tadi dibawa Sita yang dibungkus plastik transparan. Meskipun sudah tiga tahun berlalu, namun Robert masih hafal dengan obat yang selalu diresepkan dokter untuk ibu hamil tersebut, karena dulu Robert yang selalu menyiapkan obat-obat itu saat waktunya Sheila harus minum obat.


"Lalu ini apa?" Tanya Robert menunjuk pada obat dan vitamin untuk ibu hamil di dalam kantong plastik.


"Dokter tak akan meresepkan obat-obat ini jika kau tidak sedang mengandung, Sita!" Robert berucap lagi dengan tegas dan Sita hanya membeku di tempatnya. Sita seolah kehilangan kata-kata untuk mengelak lagi. Wanita itu hanya diam membisu.


Robert kembali mendekat ke arah Sita, lalu merengkuh kedua pundak wanita itu. Tangan Ribert meraih dagu Sita dengan lembut, lalu sedikit mengangkat wajah yang kini tertunduk tersebut. Kedua mata Sita sudah berkaca-kaca sekarang.


"Maaf." Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Sita.


Sita juga tidak tahu kenapa ia mengucapkan permintaan maaf pada Robert. Mungkin karena rasa bersalah Sita yang sudah berniat merahasiakan kehamilannya dari Robert dan tak memberitahu pria itu sama sekali.


"Kapan bapak dan ibu pulang?" Tanya Robert yang sudah ganti meraup Sita ke dalam pelukannya. Aroma tubuh Robert seketika membuat Sita merasa berbunga. Sita tak tahu apa ini hanya efek dari kehamilannya atau Sita mulai menaruh perasaan pada Robert?


"Besok." Jawab Sita lirih menjawab pertanyaan Robert.


Robert sudah melepaskan pelukannya pada Sita dan pria itu ganti menundukkan wajahnya. Kedua tangan Robert sudah menangkup lembut wajah Sita, lalu tanpa sedikitpun merasa ragu, Robert menyatukan bibirnya dengan bibir Sita.


Kecupan lembut dari bibir Robert begitu membuat Sita merasa terhanyut dan tak sedikitpun melakukan penolakan. Hingga kemudian suara batuk-batuk dari Angga membuat dua insan itu terlonjak dan mengakhiri pagutan panas mereka.

__ADS_1


"Sebaiknya kau pulang sekarang!" Ucap Sita seraya menjaga jarak dari Robert.


"Kau yakin akan menginap disini malam ini?" Tanya Robert yang sepertinya masih enggan untuk pulang.


"Ya! Teresa sahabat baikku. Jadi aku dan Angga akan aman disini," jawab Sita meyakinkan Robert.


"Bisa kita keluar sebentar? Aku akan mengantarmu kesini lagi nanti," pinta Robert yang sejak tadi tak pernah melepaskan tatapannya dari wajah Sita.


"Mau kemana?" Tanya Sita merasa ragu.


"Mencari makan. Aku belum makan sejak siang," jawab Robert seraya mengendikkan bahu. Tapi terakhir kali Robert makan memanglah tadi siang, dan itupun hanya sedikit karena Robert sedikit kehilangan selera makan. Dan sekarang, perut Robert benar-benar keroncongan dan butuh diisi.


"Sebentar saja!" Sita mengajukan syarat.


"Iya! Sebentar saja dan aku akan mengantarmu kesini lagi." Janji Robert bersungguh-sungguh.


"Aku pamit ke Teresa dulu. Sekalian titip Angga," tukas Sita yang hanya membuat Robert mengangguk. Sita dan Robert keluar dari kamar Timmy yang akan dipakai Sita dan Angga menginap sementara malam ini. Will dan Teresa rupanya sudah duduk di kursi ruang tamu saat Sita dan Robert keluar.


"Mau kemana?" Tanya Teresa penuh selidik.


"Kau sudah memberitahu Robert, kan, Sita? Atau perlu aku yang memberitahunya?"


"Memberitahu apa?" Tanya Will bingung.


"Sita-"


"Robert sudah tahu!" Sela Sita cepat.


"Dan kami akan menikah besok setelah Pak Alwi dan Bu Tutik pulang," sambung Robert seraya merangkul pundak Sita yang masih terlihat canggung.


"Syukurlah kalau begitu!" Teresa bernafas lega.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Will yang sepertinya masih belum paham.

__ADS_1


"Sita hamil," bisik Teresa memberitahu sang suami. Bibir Will langsung membulat sebelum kemudian pria itu tersenyum tipis.


"Aku benar-benar tidak tahu kalau hubungan kalian sudah sejauh itu." Will ganti tertawa aneh.


"Tidak usah ikut campur! Mereka sudah sama-sama dewasa!" Teresa memukul lengan Will.


"Aku tidak ikut campur! Aku hanya berkomentar apa adanya." Kilah Will mencari alasan.


"Kami akan keluar sebentar, dan aku titip Angga," izin Sita akhirnya menyela perdebatan Will dan Teresa.


"Lama juga tidak apa-apa! Atau mau pulang besok pagi juga tidak masalah-"


"Will!" Geram Teresa yang kembali memukul lengan Will.


"Apa? Kita akan menjaga Angga dan melakukan simulasi orang tua dengan tiga anak malam ini," ucap Will yang sudah merangkul Teresa seraya mengerling nakal ke arah istrinya tersebut.


"Aku akan mengantar Sita kesini lagi nanti," ujar Robert ikut buka suara.


"Baiklah! Silahkan kalau mau pergi sekarang. Kami akan menjaga Angga!" Tukas Will mempersilahkan Sita dan Robert.


Atau Will sedang mengusir mereka berdua?


Setelah kembali berbasa-basi sedikit, Robert dan Sita akhirnya meninggalkan rumah Teresa dan naik mobil Robert. Entah kemana Robert akan membawa Sita.


.


.


.


Check in hotel 😆😆


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2