Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
STATUS


__ADS_3

Acara pernikahan Sita dan Robert sudah selesai digelar secara sederhana. Beberapa tamu yang merupakan tetangga Bu Alwi dan Bu Tutik masih berdatangan ke rumah setelah acara selesai untuk memberikan selamat. Hingga sore menjelang, Robert dan Sita akhirnya baru bisa beristirahat.


"Seharusnya kau menggelar pernikahan yang mewah untuk Sita dan tidak sesederhana ini, Tuan muda! Apa ini karena status Sita-"


"Sama sekali bukan!" Sela Robert memotong tuduhan Liam.


"Waktunya terlalu mepet dan aku hanya tidak mau membuat Sita serta kedua orang tua Sita menjadi shock," terang Robert memaparkan alasan.


"Kau yang membuatnya jadi mepet! Kenapa harus buru-buru dan tak mempersiapkannya dulu? Membawanya bertemu kedua orang tuamu dulu misalnya, lalu baru menikahinya," Tanya Liam heran.


"Sita akan kembali berubah pikiran jika dia tahu siapa aku sebenarnya." Ujar Robert lagi.


"Bukankah dulu kau dan Yumi juga menikah dadakan tanpa meminta izin dari Aunty dan Uncle?" Lanjut Robert lagi mengingatkan Liam pada kelakuannya dulu yang nyaris membuat Dad Devan jantungan. meskipun saat itu Robert belum kenal Liam, tapi Robert tahu cerita lengkapnya dari Anne dan Abi serta anggota keluarga Hally lain yang kerap membahasnya saat acara keluarga. Bapak dua anak itu langsung salah tingkah.


"Itu lain cerita! Aku sedang menyelamatkan Yumi dari rentenir tua bangka," kilah Liam mencari alasan yang langsung membuat Robert tertawa kecil.


"Anggap saja aku juga sedang menyelamatkan Sita kalau begitu," ujar Robert yang langsung membuat Liam berdecak.


"Menyelamatkannya dari dirimu sebelum khilaf?" Sindir Liam yang lagi-lagi hanya membuat Robert tersenyum tipis.


"Sebaiknya kau pulang sekarang karena aku juga ingin segera mengajak Sita masuk ke kamar," usir Robert halus pada Liam yang langsung mendengus. Liam buru-buru menghampiri Yumi yang masih mengobrol bersama Sita.


"Ayo pulang, Sayang! Jangan mengganggu mereka yang mau berreproduksi!" Ajak Liam seraya merangkul pundak Yumi.


"Ya, aku juga sudah lelah." Jawab Yumi yang kemudian berpamitan pada Robert, Sita, serta kedua orang tua Sita.


"Kami perlu membawa Angga agar prosesnya berjalan lancar?" Tawar Liam sedikit terkekeh yang langsung berhadiah cubitan dari Yumi.


"Angga mau diajak kemana, Uncle Liam? Angga mau di rumah dan bobok sama papa," celetuk Angga yang ternyata mendengar kata-kata Liam tadi. Bocah enam tahun itu juga sudah melompat ke dalam gendongan Robert.


"Angga yakin, tidak mau main bersama Fairel dan Keano di rumah Uncle? Ada perosotan dan kolam bola, lho!" Liam mengiming-imingi Angga. Namun bocah itu menggeleng dengan tegas.


"Baiklah kalau begitu! Uncle akan pulang dulu!" Liam mencubit gemas pipi Angga.


"Selamat sekali lagi untuk kalian bertiga, ya! Kami pulang dulu!" Yumi akhirnya berpamitan dan cipika-cipiki sekali lagi pada Sita.

__ADS_1


Setelah mobil Liam dan Yumi meninggalkan rumah Sita, Pak Alwi menghampiri Robert dan Sita yang baru saja akan masuk ke kamar.


"Bapak ingin bicara pada kalian berdua, tentang apa yang terjadi di rumah kemarin malam," ujar Pak Alwi yang langsung membuat Sita dan Robert saling bertukar pandang. Tapi mungkin memang ada tetangga yang memberitahu Pak Alwi tadi saat acara.


"Robert boleh menidurkan Angga dulu, Pak? Sepertinya sudah mengantuk," izin Robert seraya menunjuk pada Angga yang memang sudah menguap beberapa kali.


"Ya!" Pak Alwi akhirnya memberikan izin.


"Ma!" Panggil Angga saat Robert membawa bocah itu masuk ke kamar.


"Ada apa?"


"Ayo bobok sama Angga juga!" Rengek Angga manja tidak seperti biasa. Pak Alwi sudah berlalu pergi dan Sita terlihat ragu untuk ikut masuk ke kamar juga. Meskipun sebelum-sebelumnya Sita selalu tidur berdua bersama Angga dan memeluk putranya tersebut.


"Angga mau dipeluk sama Mama dan Papa," pinta Angga lagi merengek pada Sita.


"Ayo!" Robert yang masih menggendong Angga akhirnya menarik tangan Sita juga dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Sita sedikit tersentak kaget namun wanita itu tetap mengikuti kemauan Angga.


"Tidak akan muat untuk bertiga," ucap Sita pada Robert seraya mengendikkan dagunya ke kasur yang hanya berukuran 120x200 cm di depan mereka.


"Papa akan tinggal bersama Angga mulai sekarang, kan?" Angga yang sudah setengah mengantuk masih saja berceloteh dan melontarkan beberapa pertanyaan pada Robert.


"Iya, Angga! Papa akan tonggal bersama Angga dan Mama mulai sekarang."


"Berarti Angga tak perlu takut lagi kalau ada orang jahat yang datang ke rumah."


"Mama juga tak perlu kerja lagi, kan, Pa?" Tangan kecil Angga sudah mengusap lengan Sita yang masih memeluk dari belakang.


"Iya! Papa yang akan bekerja mulai sekarang dan mama akan di rumah menemani Angga sepanjang hari," jawab Robert yang sepertinya sabar sekali menjawab pertanyaan Angga.


"Lalu kita nanti tinggal dimana, Pa? Di rumah ini atau di rumah Omi dan Opi?kemarin kata Om Dyrtha, Papa akan mengajak Angga ke rumah Omi dan Opi yang banyak mainannya. Angga juga mau bertemu Kathlyn, Pa!" Tanya Angga lagi panjang lebar yang ternyata masih ingat saja pada Dyrtha serta ucapan konyol sepupu Robert tersebut.


Robert saja sudah lupa!


Lalu kenapa Angga bisa tetap ingat?

__ADS_1


Sepertinya ingatan Angga memang luar biasa!


"Besok kita ke rumah Opi dan Omi, ya!" Jawab Robert akhirnya masih sambil mengusap-usap kepala Angga.


"Iya, Pa!" Jawab Angga lirih yang sepertinya sudah sangat mengantuk. Kedua mata Angga mulai memejam dan tak berselang lama, nafas putra sambung Robert itu juga sudah mulai teratur.


"Apa mami dan papimu tidak akan keberatan dengan statusku dan juga Angga?" Tanya Sita yang kembali merasa ragu.


"Tidak akan!" Jawab Robert bersungguh-sungguh.


"Kau tak pernah cerita kepadaku soal hubunganmu dengan Pak Alwi dan Bu Tutik-"


"Yang hanya seorang anak angkat?" Sita memotong dan menyambung sendiri kalimat Robert.


"Sama sekali tidak bisa ditebak karena kau begitu berbakti dan menyayangi mereka," ujar Robert mebatal kagum pada Sita. Robert benar-benar tahu status Sita yang ternyata adalahbanak angkat Pak Alwi dan Bu Tutik saat mengurus dokumen pernikahan.


"Dulu aku dan Teresa tinggal di sebuah panti asuhan. Lalu saat aku seusia Angga, Bapak dan Ibu datang ke panti dan mengadopsiku. Mereka membawaku pulang ke rumah, membelikan aku baju-baju bagus, mainan, lalu menyekolahkan aku dan memenuhi semua kebutuhanku."


"Mereka merawatku dengan penuh kasih sayang, seolah aku adalah putri kandungnya. Bahkan setelah aku menikah pun, Bapak masih memberikan sebuah rumah sebagai hadiah," Sita menyeka airmata yang jatuh di pipinya.


"Jadi aku berpikir, kalau aku juga harus membalas semua kebaikan mereka dan berbakti pada mereka. Lalu membuat Bapak dan Ibu bahagia juga di hari tuanya," lanjut Sita lagi penuh tekad. Dan Robert hanya mengangguk serta merasa semakin kagum pada sosok Sita.


"Angga sudah tidur. Sebaiknya kita menemui Pak Alwi dan menjelaskan tentang yang kemarin terjadi," ujar Robert setelah keheningan beberapa saat.


Sita mengangguk dan segera bangun perlahan agar tidak mengganggu tidur nyenyak Angga. Setelah membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Angga, Sita dan Robert keluar dari kamar dan bergegas menemui Pak Alwi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2