
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat dan Sita masih berada di dalam pelukan Robert. Hingga dering ponsel Robert memecah kebisuan antara Robert dan Sita.
"Halo, Dyrtha!" Sapa Robert pada sang sepupu yang menghubunginya.
"Kau dan Sita dimana? Aku tak melihat kalian dimanapun."
"Kami di atas. Apa Angga mencari?" Tanya Robert mengkhawatirkan Angga.
"Tidak! Tenang saja! Angga sudah akrab dengan Kathlyn dan silahkan kalian lanjutkan honeymoon-nya!"
"Nanti Angga biar pulang bersamaku."
"Aku dan Sita akan turun sebentar lagi-" Robert menghentikan kalimatnya sejenak, saat Sita tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Robert, lalu masuk ke kamar mandi dan muntah-muntah.
"Aku bilang tidak usah ya tidak usah! Lanjutkan saja honeymoon kalian dan Angga akan aman bersamaku."
"Oke, bye!"
Tuut tuut!
Sambungan teleppn terputus dan Robert meletakkan ponselnya begitu saja. Pria itu buru-buru menyusul Sita ke kamar mandi.
Sita masih muntah-muntah di dalam kamar mandi dan Robert mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.
"Kita ke rumah sakit, ya!" Ajak Robert khawatir karena Sita tak berhenti muntah-muntah.
"Tidak--"
Hoek!
"Aku baik-baik saja." Sita berucap dengan terbata-bata karena muntah-muntahnya tak kunjung berhenti.
Robert kembali keluar dari kamar mandi untuk mengambilkan air putih hangat. Dan saat Robert kembali, Sita sudah terduduk di lantai kamar mandi serta terlihat kepayahan.
"Minum dulu," Robert membantu Sita untuk minum, lalu menggendong istrinya itu keluar dari kamar mandi.
"Gaunnya kotor," lapor Sita yang sudah dibaringkan Robert di atas tempat tidur.
"Aku lepas sebentar," Robert menanggalkan gaun Sita dengan perlahan, lalu pria itu kembali menghubungi Dyrtha dan meminta sepupunya tersebut untuk mengirimkan baju untuk Sita.
"Sita tak akan butuh baju malam ini, Robert! Kau yang akan menghangatkannya!" Gelegar tawa Dyrtha di ujung telepon benar-benar membuat Robert geram dan ingin menendang bokong sepupunya itu.
__ADS_1
Dasar Dyrtha menyebalkan.
"Dingin," kekuh Sita seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh yang hanya terbalut sepasang underwear. Sita juga langsung berbalik dan membelakangi Robert yang sedang menatapnya dengan aneh.
Sesaat kemudian, Sita merasakan pergerakan Robert yang sudah naik ke atas ranjang, lalu masuk ke dalam selimut dan mendekap Sita dari belakang.
"Masih dingin?" Tanya Robert berbisik di tengkuk Sita lalu berlanjut ke kecupan yang cukup lama di bawah telinga Sita. Sepertinya akan ada bekasnya besok pagi!
"Sekarang masih dingin?" Robert bertanya sekali lagi dan dekapan pria itu terasa semakin mengerat.
Sita tak tahu mengapa, tapi ia merasa begitu nyaman dipeluk oleh Robert seperti ini. Apalagi aroma wangi yang menguar dari tubuh Robert, membuat pikiran Sita menjadi berkelana kemana-mana.
"Sedikit," gumam Sita yang akhirnya menjawab pertanyaan Robert.
"Masih mual?" Tanya Robert lagi dan Sita hanya menggeleng samar.
"Makanannya tadi masih utuh," Sita mengingatkan Robert perihal makanan yang tadi diantar pelayan hotel saat Sita dan Robert tengah berdebat. Sita sama sekali belum menyentuh makanan tadi.
"Kau lapar?" Tanya Robert seraya tertawa kecil.
"Aku baru saja menguras isi perutku." Sita mengingatkan Robert.
"Ah, iya! Aku lupa." Robert memaksa untuk membalik tubuh Sita dan kini istrinya itu sudah menghadap ke arah Robert.
"Aku bisa makan sendiri," tolak Sita halus.
"Baiklah." Robert sudah bangun, lalu pria itu juga membantu Sita untuk bangun.
"Apa Angga tidak akan mencariku?" Tanya Sita khawatir.
"Angga sedang bermain bersama Kathlyn dan nanti akan diurus oleh Dyrtha," jawab Robert santai seraya membawa troli berisi makanan mendekat ke arah Sita.
Sita tadinya akan turun dari atas ranjang, namun kemudian wanita itu menyadari kalau ia hanya mengenakan sepasang underwear. Akhirnya Sita tetap di atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Apa tidak ada handuk atau jubah mandi yang bisa aku kenakan?" Tanya Sita merasa tidak nyaman.
"Ada kemejaku," jawab Robert seraya tertawa kecil, lalu pria itu melepaskan kemejanya.
Sita langsung terkejut saat melihat Robert yang kini bertelanjang dada. Meskipun sebenarnya Sita sudah melihat dan sempat mengusapnya juga. Tapi kenapa rasanya canggung sekali?
Robert memakaikan kemejanya ke tubuh Sita dan tak ada penolakan. Sita hanya diam dan menurut.
__ADS_1
"Kita makan di meja sana saja!" Sita menunjuk ke meja bulat dengan dua kursi di sisi berbeda. Sepertinya itu memang meja untuk makan.
"Tidak mau disini saja?" Tawar Robert ragu.
"Tidak! Rasanya aneh makan di atas ranjang." Sita sudah menyibak selimutnya, lalu turun dari atas ranjang. Namun baru berdiri sebentar, pandangan Sita tiba-tiba sudah berkunang-kunang.
"Awas!" Robert menahan tubuh Sita dengan sigap, lalu kembali mendudukkan istrinya itu di atas ranjang.
"Sudah, jangan keras kepaka lagi, dan..." Robert mengambil satu piring berisi makanan, lalu menyendok sedikit dan menyuapkannya pada Sita.
"Dan makan yang banyak!" Robert melanjutkan kalimatnya sambil mengulas senyum.
"Aku mau adiknya Angga tumbuh sehat dan punya pipi chubby," lanjut Robert menyampaikan keinginannya yang justru membuat hati Sita mencelos. Sita menelan makanan di mulutnya dengan susah payah karena mendadak ia ingin menangis.
"Kenapa menangis?" Tanya,Robert seraya mengusap butir bening di sudut mata Sita.
"Hanya kelilipan," jawab Sita salah tingkah. Robert tertawa kecil dan lanjut menyuapi Sita, namun kali ini Sita menolak.
"Aku sudah kenyang."
"Dan kau belum makan,' Sita mengingatkan Robert.
"Suapi aku," Robert mengerling nakal pada Sita dan menyodorkan sisa makanan Sita tadi.
"Ini sisaku! Kenapa tak ambil yang baru?" Tanya Sita bingung.
"Aku lebih suka menghabiskan sisa makananmu," ujar Robert sebelum kemudian pria itu membuka lebar mulutnya dan minta Sita untuk segera menyuapinya.
Sita ganti menyuapi Robert dan suaminya itu makan dengan lahap, hingga makanan di piring tandas tak bersisa.
Sepertinya Robert benar-benar sedang kelaparan!
.
.
.
22.30 WIT
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.