
Robert meletakkan sebotol kopi kemasan dingin ke atas meja kasir, lalu pria itu menatap pada Sita yang kebetulan sedang menjadi kasir hari ini.
"Ada yang lain la--" kalimat Sita langsung terhenti tatkala melihat Robert yang ternyata membeli kopi tersebut.
"Rokok!" Robert mengendikkan dagunya ke etalase berisi rokok di belakang Sita.
"Yang bungkus putih," lanjut Robert lagi.
"Rokok tidak bagus untuk kesehatan," ujar Sita seraya men-scan rokok serta kopi yang tadi dibeli oleh Robert.
"Lalu apa yang bagus untuk kesehatan?" Tanya Robert yang sepertinya sedang berniat memancing obrolan bersama Sita.
"Maaf, aku sedang bekerja," ujar Sita berusaha menghindari obrolan bersama Robert.
"Semuanya lima puluh lima ribu!" Ucap Sita yang langsung membuat Robert menyodorkan lembaran berwarna merah ke arahnya. Sita menerima uang Robert dengan cepat, lalu memberikan kembalian.
"Kau suka kopi?" Tanya Robert seraya membuka penutup botol kopinya, lalu meneguk minuman itu di depan Sita.
"Tidak! Aku tidak minum kopi!" Jawab Sita tegas.
"Baiklah!" Robert mengulas senyuman tipis, lalu pergi berlalu dari hadapan Sita dan langsung menuju ke pintu keluar swalayan.
Sita menghela nafas dan kembali fokus bekerja serta berusaha menepis senyuman Robert tadi. Kenapa Sita jadi sering memikirkan pria itu?
****
Tok tok tok!
Suara ketukan dari pintu depan membuat Angga yang masih fokus membaca buku cerita, mendongakkan kepalanya dan berjalan ke arah pintu depan.
"Siapa, Angga?" Tanya Bu Tutik yang sudah menyusul langkah Angga.
"Nggak tahu, Nenek!" Angga membiarkan Bu Tutik saja yang membuka pintu, dan saat melihat siapa yang datang, senyuman lebar langsung tersungging di bibir Angga.
"Om Robert!" Seru Angga yang langsung memeluk kaki Robert.
"Hai! Lama tak bertemu dan kau sudah semakin tinggi, ya?" Sapa Robert yang sudah berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Angga.
"Angga makan banyak! Biar cepat tinggi," ujar Angga penuh antusias.
"Nak Robert!" Sapa Bu Tutik yang langsung membuat Robert kembali berdiri, lalu mencium punggung tangan ibu angkat Sita tersebut.
"Bapak sudah membaik, Bu?" Tanya Robert berbasa-basi.
"Sudah!"
"Sudah bisa beraktivitas yang ringan-ringan juga," terang Bu Tutik seraya mempersilahkan Robert untuk duduk di ruang tamu rumahnya yang sederhana
"Syukurlah kalau begitu," ucap Robert mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong, Nak Robert ada keperluan apa datang kemari? Sita kalau siang begini pergi bekerja dan tidak di rumah," tanya Bu Tutik yang ganti berbasa-basi pada Robert.
__ADS_1
"Saya hanya ingin bertemu Angga, Bu! Karena sudah beberapa hari tidak bertemu," jawab Robert seraya merangkul Angga ya g sejak tadi memang duduk di sebelah Robert.
"Om, kemarin buku Angga kan dirobekin sama Timmy. Tapi pas Angga ke rumah Keano, Angga dikasih buku baru sama mamanya Keano." Angga bercerita pada Robert dan memulai kecerewetannya.
"Oh, ya? Buku apa?" Tanya Robert se-antusias mungkin.
"Bentar!" Angga beranjak dari duduknya dan pergi mengambil buku cerita. Tak berselang lama, bocah enam tahun itu sudah kembali menghampiri Robert.
"Ini, Om!" Ucap Angga seraya menguap lebar.
"Angga sudah bobok siang?" Tanya Robert karena melihat Angga yang sepertinya mengantuk.
"Belum." Angga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bobok sini! Sambil Om bacakan cerita." Robert menepuk pahanya sendiri memberikan kode pada Angga agar merebahkan kepalanya di sana.
"Yeay!" Angga bersorak senang dan langsung berbaring di pangkuan Robert.
"Di suatu hari...." Robert mulai membaca cerita di dalam buku sambil tangannya tak berhenti mengusap-usap kepala Angga. Sesekali Robert akan menatap wajah Angga yang mirip Sita. Lalu Robert akan terssnyum.sendiri.
Robert terus membaca cerita yang ada di buku, hingga saat sampai di pertengahan cerita, Angga rupanya sudah tertidur. Robert tersenyum, dan menutup buku cerita, lalu mengusap kepala Angga berulang kali.
"Sudah tidur, Nak Robert?" Tanya Bu Tutik yang tadi pamit ke belakang saat Robert sibuk membacakan cerita untuk Angga.
"Iya, Bu! Sepertinya ngantuk berat," jawab Robert seraya terkekeh.
"Maaf kalau mungkin Angga sering merepotkan Nak Robert atau kerap mencari perhatian."
"Angga hanya merindukan sosok seorang papa." Ujar Bu Tutik yang langsung membuat hati Robert penasaran. Robert memang berniat mengulik masalalu Sita dan mencari hal spa yang membuat Sita seakan trauma menjalin hubungan. Wanita itu seolah membentengi dirinya dan enggan menjalin hubungan bersama pria lagi.
"Saat Angga belum genap satu tahun." Bukan Bu Tutik, melainkan Pak Alwi yang menjawab pertanyaan Robert.
"Siang, Pak!" Sapa Robert sopan pada bapak angkat Sita tersebut. Pak Alwi mengangguk dan ikut duduk di samping Bu Tutik.
"Awalnya Sita menikah dengan Akshara karena kami yang menjodohkan--"
"Maaf, apa Akshara itu nama papanya Angga?" Tanya Robert menyela.
"Ya!"
"Kami yang menjodohkannya dengan Sita karena kami mengira Akshara itu pria baik dan penyayang."
"Tapi keputusan kami ternyata salah besar." Pak Alwi tersenyum kecut dan bisa Robert lihat raut penyesalan yang teramat dalam di wajah tua tersebut.
"Akshara pria yang kasar, pemabuk, suka main wanita, dan yang paling parah dia pengedar juga. Saat ini dia masih di penjara karena tertangkap polisi saat sedang menjual narkoba pada beberapa artis," terang Bu Tutik yang raut wajahnya tak berbeda jauh dari Pak Alwi.
Serumit itu ternyata hubungan rumah tangga Sita di masalalu. Pantas saja jika wanita itu trauma dan merasa takut menjalin hubungan lagi.
"Sita dan Akshara berpisah saat Angga berusia enam bulan dan Akshara tak pernah lagi menemui Angga lagi setelah itu." Sambung Bu Tutik.
"Bapak juga tidak akan membiarkan Angga bertemu papanya yang brengsek dan kasar itu!" Sergah Pak Alwi emosi.
__ADS_1
"Jadi, sejak kecil Pak Alwi yang menjadi sosok papa untuk Angga?" Tebak Robert yang tangannya masih belum berhenti mengusap-usap kepala Angga yang semakin pulas di pangkuannya. Hati Robert terasa menghangat setiap menatap wajah Angga yang terlihat tenang saat tidur.
"Bapak selalu berusaha untuk bisa berperan sdbagai papa sekaligus kakek untuk Angga, Nak Robert!"
"Tapi begitulah, semakin bertambah usia Angga, semakin dia bisa melihat teman-temannya yang punya papa dan kakek. Jadilah terkadang Angga merengek ingin punya papa seperti teman-temanya," ungkap Pak Alwi seraya menatap pada Angga yang masih berada di pangkuan Robert.
"Sedangkan Sita sendiri hingga detik ini belum mau menikah lagi atau sekedar menjalin hubungan dengan seorang pria."
"Sita sepertinya trauma dengan rumah tangganya bersama Akshara dan kami juga tak mau memaksa Sita lagi untuk cepat-cepat menikah." Tutur Bu Tutik yang ternyata juga bisa memahami trauma yang ada pada diri Sita.
"Siapapun kelak yang akan dipilih oleh Sita untuk menjadj pendamping hidupnya, kami tidak akan pernah ikut campur. Semua hal itu biarlah menjadi keputusan Sita," ujar Pak Alwi lagi menyambung kalimat Bu Tutik.
Angga terlihat menggeliat di pangkuan Robert. Cepat-cepat Robert mengusao kepala bocah enam.tahun itu agar kembali terlelap.
"Nak Robert sendiri, belum menikah?" Tanya Pak Alwi berbasa-basi pada Robert.
"Sebenarnya saya sudah pernah menikah, Pak! Tapi istri saya meninggal tiga tahun yang lalu karena kecelakaan," ungkap Robert berusaha mengulas senyum meskipun hatinya masoh terasa tercabik-cabik saat mengingat kecelakaan yang merenggut nyawa Sheila.
"Kami turut berduka, Nak Robert!" Ucap Bu Tutik yang sepertinya kaget dengan jalan hidup Robert.
"Terima kasih, Bu!" Jawab Robert yang kembali berusaha mengulas senyum.
"Angga saya pindahkan saja ke kamar. Diman kamarnya?" Tanya Robert selanjutnya yang sudah bersiap untuk membopong Angga.
"Kamarnya masih jadi satu dengan Sita karena hanya ada dua kamar di rumah ini," terang Bu Tutik seraya bangkig berdiri dan menunjukkan kamar Sita pada Robert.
"Silahkan, Nak Robert!" Ujar Bu Tutik yang sudah membukakan pintu kamar Sita.
"Permisi, ya, Bu!" Izin Robert sebelum pria itu masuk dan merebahkan tubuh Angga ke atas tempat tidur yang terlihat rapi dibalut sprei warna biru tua. Aroma khas Sita yang pernah melelat pada tubuh Robert, langsung menguar dan memenuhi indera penciuman Robert hingga membuat pria itu memejamkan matanya untuk beberapa saat.
"Emmmhh!"
Des*han yang lolos dari bibir Sita mendadak terngiang dibtelonga Robert dan membuat pria itu menyunggingkan senyum.
Astaga!
Robert sepertinya sudah gila!
Robert menggeleng-gelengkan krpalanya dan segera mencium kening Angga, sebelum kemudian pria itu keluar dari kamar Sita.
Robert langsung berpamitan pada Bu Tutik dan Pak Alwi karena jam istirahat juga hampir berakhir dan Robert tak mau terkena omelan dari Liam.
.
.
.
.
Aku Up babnya Tiff-Gika sejak semalam belum lolos review, ya 😌😌
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.