
"Acaranya besok malam," ujar Dyrtha seraya mengangsurkan sebuah undangan pada Robert.
Roberto membaca sejenak undangan tersebut, sebelum kemudian melipat dan menyimpannya.
"Kau akan mengajak Sita?" Tanya Dyrtha kepo.
"Ya!" Jawab Robert tegas.
"Pasti nanti penampilan Sita juga sebelas dua belas dengan istri Matthew Orlando. Kan mereka sama-sama wanita sederhana yang tiba-tiba jadi istri seorang pengusaha." Dyrtha tertawa mengejek.
"Sebenarnya apa masalahmu pada Sita, hingga kau selalu saja mengejek penampilan Sita yang sederhana?" Tanya Robert geram.
Robert sebenarnya sudah berusaha menahan diri, tapi Dyrtha seolah tak mau berhenti mengejek Sita dan penampilannya yang sederhana. Robert lama-lama merasa jengah pada sepupunya tersebut.
"Tidak ada masalah apa-apa!" Kilah Dyrtha seraya mengangkat kedua tangannya.
"Berhentilah mengejek atau menyindirnya kalau begitu!" Perintah Robert tegas.
"Siapa yang mengejek Sita? Aku tadi hanya mengungkapkan pendapatku saja," Dyrtha masih berusaha menyanggah dan Robert tentu saja semakin menatap geram pada Dyrtha. Ingin rasanya Dyrtha tendang saja, bokonh sepupunya yang menyebalkan tersebut.
Robert bangkit berdiri masih sambil menahan geram di hatinya.
"Kau mau kemana?" Tanya Dyrtha penuh selidik.
"Pulang!" Jawab Robert seraya menyambar undangan dari Matthew Orlando. Wajah sepupu Dyrtha itu terlihat kesal.
"Kau sekarang bucin sekali pada janda itu, hah?" Ledek Dyrtha sekali lagi, dan Robert tiba-tiba sudah menghampiri Dyrtha dengan cepat, lalu mencengkeram kerah kemeja pria itu.
"Tidak usah membawa-bawa status Sita!"
"Sita itu istri sahku sekarang!" Ucap Robert tegas.
"Iya, aku tahu!" Sergah Dyrtha berusaha melepaskan cengkeraman Robert di kemejanya. Robert mendengus, lalu melepaskan cengkeramannya dan berbalik pergi.
"Dasar bucin!" Gerutu Dyrtha setelah Robert meninggalkan ruangan tersebut.
****
Robert sedikit mengendurkan dasinya saat tiba di kediaman Hadinata.
"Selamat sore, Tuan!" Sapa seorang maid yang menyambut Robert, lalu membawakan tas serta jas Robert.
"Sore. Angga dimana?" Tanya Robert pada maid tersebut.
"Sedang diajak keluar oleh Tuan besar."
"Sita?" Robert ganti menanyakan keberadaan sang istri.
__ADS_1
"Ada di halaman belakang bersama Nyonya," terang maid tadi dan Robert langsung menuju ke halaman belakang. Terlihat Sita yang sedang duduk santai bersama Mami Indri dan seperti sedang membahas sesuatu.
"Robert, sudah pulang?" Sapa Mami Indri yang terlebih dahulu melihat kedatangan Robert. Sita ikut menoleh, dan langsung tersenyum pada suaminya tersebut.
"Iya, Mi!" Jawab Robert seraya menghampiri Sita, lalu mengecup puncak kepala Sita cukup lama.
"Sedang membahas apa?" Tanya Robert kepo.
"Acara resepsi pernikahan kalian! Memangnya apa lagi?" Jawab Mami Indri sedikit terkekeh.
"Lalu bapak dan ibu mana? Tidak diajak rapat juga?" Robert sudah duduk di lengan kursi yang diduduki oleh Sita. Tangan Robert masih terus merangkul Sita dengan mesra.
"Bapak sedang pergi bersama Papi dan Angga. Katanya tadi mau diajak Papi main golf," Sita tertawa kecil.
"Dan ibu sedang istirahat karena sedikit sakit kepala," ujar Sita menjelaskan.
"Mami juga mau istirahat."
"Ngomong-ngomong, kau mendapat undangan dari Matthew Orlando?" Tanya Mami Indri pada Robert.
"Iya, Mi! Tadi Dyrtha yang memberikannya," jawab Robert yang sedikit kesal saat menyebut nama Dyrtha karena sepupunya itu yang berulang kali mengejek Sita.
"Nanti kau datang bersama Sita, ya! Sekalian kau berikan juga undangan pernikahan kalian," pesan Mami Indri yang sudah beranjak dari duduknya.
"Iya, Mi! Acaranya masih besok malam."
"Acara apa besok malam?" Tanya Sita seraya mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Robert.
"Tujuh bulanan sekalian ulang tahun perusahaan kalau tidak salah. Nanti kita datang saja, agar tahu detailnya," jawab Robert seraya memperhatikan baju yang dikenakan oleh Sita. Sebuah baju terusan sederhana berbahan katun.
"Kau tidak suka memakai dress, ya?" Tanya Robert yang sedikit membuat Sita kaget.
"Dress? Seperti yang dikenakan mami tadi?" Sita balik bertanya dan Robert langsung mengangguk.
"Bukannya Mami kemarin membelikan banyak untukmu?" Tanya Robert lagi
"Iya, aku memakainya kalau mau bepergian. Kalau di rumah, aku rasa pakai daster saja cukup," jawab Sita seraya tertawa kecil, sebelum kemudian wanita itu menyadari ada yang salah.
"Kau tidak suka aku memakai daster seperti ini, ya?" Tanya Sita seraya menunjuk ke daster katunnya.
Robert diam sebentar sebelum kemudian menjawab pertanyaan Sita.
"Kau nyaman tidak?" Robert malah balik bertanya sekarang seraya meminta Sita untuk berdiri, lalu memperhatikan kembali daster Sita yang panjangnya hanya sebatas lutut tersebut.
"Nyaman," jawab Sita sedikit ragu.
"Tapi aku tak akan memakainya lagi jika kau tidak suka," lanjut Sita yang langsung membuat Robert mengulas senyum.
__ADS_1
"Pakai saja kalau kau merasa nyaman." Tukas Robert seraya menarik Sita agar kembali duduk. Robert hebdak mencium binir Sita namun dihalangi oleh tangan istrinya tersebut.
"Nanti dilihat oleh maid," ujar Sita yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Memang apa masalahnya kalau dilihat?" Robert menyingkirkan tangan Sita dan melanjutkan kecupannya pada bibir Sita.
"Emmmhh!" Sita menggelinjang saat tangan Robert tiba-tiba sudah merem*s salah satu gundukan kenyal miliknya.
Robert tertawa kecil dan wajah Sita sudah semerah tomat sekarang.
"Aku rasa sudah saatnya kita pindah ke kamar," Robert bangkit berdiri dan hendak membawa Sita kd dalam gendongan.
"Robert, aku bisa berjalan sendiri ke kamar," Sita menolak untuk digendong oleh Robert.
"Baiklah, ayo!" Robert menggandeng tangan Sita dan sedikit tergesa menarik istrinya tersebut masuk ke dalam rumah, tapi tidak ke arah tangga, melainkan ke salah satu kamar yang ada di lantai bawah.
"Ini kamar siapa?" Tanya Sita saat Robert dengan tergesa menarik Sita masuk, lalu mengunci pintunya.
"Kamar untuk tamu," jawab Robert yang sudah mengungkung Sita hingga merapat ke tembok, lalu melancarkan kembali kecupannya pada istrinya tersebut.
Tangan Robert meraba ke pangkal paha Sita seolah sedang mencari keberadaan sesuatu yang sejak kemarin menghalangi Robert untuk menyentuh Sita.
"Sudah selesai," ujar Sita di sela-sela pagutan panasnya bersama Robert.
Robert menghentikan sejenak pagutannya, lalu tersenyum pada Sita yang nafasnya sudah terengah-engah.
"Kita bisa lembur malam ini berarti," ucap Robert yang langsung membuat Sita menggigit bibir bawahnya.
"I love you, Sita!" Bisik Robert yang langsung menimbulkan gelenyar serta getaran aneh di aliran darah Sita. Hati Sita sesaat juga terasa menghangat mendengar satu kalimat yang diucapkan Robert tersebut.
"I love you," bisik Robert sekali lagi yang langsung membuat bibir Sita refleks menggumamkan,
"I love you too!"
.
.
.
Mau lanjut kok udah pagi 😅😅😅
Nanti ajalah.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1