Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
HADIAH


__ADS_3

"Jadi Akshara sudah tewas?" Tanya Pak Alwi sekali lagi setelah mendengar cerita Sita dan Robert tentang kronologi yang terjadi malam dimana Akshara berhasil menyusup masuk ke dalam rumah dan hampir mencelakao Sita serta Angga.


"Robert pikir, Akshara pantas mendapatkannya, Pak!"


"Dia hampir mencelakai Angga dan juga Sita," pendapat Robert yang tangannya sudah menggenggam erat tangan Sita.


"Tapi polisi tidak menahanmu?" Tanya Pak Alwi yang seolah mewakili pertanyaan Sita juga sejak kemarin. Bagaimana cara Robert bisa melenggang bebas keluar dari kantor polisi?


Sedangkan jika Sita yang kemarin ditangkap, mungkin Sita sudah mendekam di dalam sel sekarang.


"Polisi hanya meminta keterangan dari Robert dan membebaskan Robert, Pak!" Jawab Robert sama persis seperti yang ia katakan pada Sita kemarin.


"Syukurlah kalau begitu!"


"Akshara memang tak pernah berubah sejak dulu dan itu merupakan ganjaran setimpal untuknya!" Gumam Pak Alwi sedikiy geram.


"Beruntung sekarang Angga sudah mendapatkan sosok papa sebaik Nak Robert," lanjut Pak Alwi lagi yang ganti tersenyum pada Robert.


"Saya juga masih berusaha menjadi papa yang baik untuk Angga, Pak! Semoga ke depannya saya tidak mengecewakan Bapak, Ibu, Sita, dan juga Angga!"


"Saya akan terus berusaha," tutur Robert penuh tekad. Pak Alwi mengangguk dan kembali tersenyum pada menantunya tersebut.


Pak Alwi dan Robert kembali berbincang dan Sita memilih untuk pamit ke belakang untuk mengobrol bersama sang ibu.


Tepat pukul sembilan malam, Robert kembali masuk ke kamar, karena Pak Alwi juga sepertinya hendak istirahat.


"Belum tidur?" Tanya Robert pada Sita yang sedang berbaring seraya memeluk Angga. Sita rupanya juga sudah menggelar karpet di bawah temoat tidur, entah maksudnya untuk tidur siapa.


Robert?


"Kau bisa tidur di atas bersama Angga, dan aku akan tidur di bawah," ujar Sita yang sudah bangun dan beranjak dari atas tempat tidur. Robert tak menjawab dan malah melempar tatapan aneh pada Sita.


Apa Sita baru saja salah bicara?


"Apa Angga biasa terbangun saat tengah malam?" Tanya Robert tiba-tiba yang membuat Sita sedikit bingung.


"Apa?" Sita balik bertanya dan sedikit tergagap.


"Apa Angga biasa terbangun tengah malam dan mencarimu?" Robert mengulangi pertanyaannya.


"Tidak!"


"Hanya saat sakit saja Angga rewel dan suka terbangun tengah malam," jawab Sita sedikit memberikan penjelasan.


Robert mengangguk.


"Ayo pergi kalau begitu!" Ajak Robert yang sudah meraih lengan Sita.


"Pergi? Pergi kemana?" Tanya Sita sedikit bingung.


Robert membuka ponselnya sejenak dan membaca pesan yang masuk dari Liam.


[Hai, maaf tadi aku lupa mengatakan kalau aku dan Yumi punya hadiah untuk kau dan Sita malam ini. Mungkin hadiahku tak ada apa-apanya ketimbang kekayaanmu yang melimpah ruah itu. Tapi aku yakin kau tetap akan berterima kasih kepadaku karena tanpa hadiah dariku, kau dan Sita mungkin tak akan bisa lembur karrna kalian pasti tidut bersama Angga. Hahahahaha!] -Liam-

__ADS_1


[Datang saja ke hotel HanHans dan jangan lupa untuk membawa Sita! Bukan bantal dan guling! Happy wedding!] -Liam-


"Kita mau kemana, Robert?" Tanya Sita sekali lagi pada Robert yang malah senyum-senyum sendiri karena membaca pesan dari Liam.


"Mengambil hadiah dari Liam dan Yumi," jawab Robert seraya membuka pintu kamar. Namu Robert tak langsung melangkah keluar dan kembali masuk lagi,lalu mencium kening Angga cukup lama.


"Papa dan mama akan kembali besok sebelum Angga bangun," bisik Robert berjanji pada putra sambungnya tersebut.


Robert kembali menghampiri Sita yang masih berdiri di ambang pintu.


"Mau mengambil hadiah kemana?" Tanya Sita saat Robert kembali menggenggam tangannya, lalu menutup pintu kamar perlahan


"Nanti kau juga tahu," jawab Robert yang sudah ganti merangkul pinggang Sita. Keduanya langsung menuju ke pintu depan dimana ada Pak Alwi yang sepertinya baru selesai mengunci pintu depan.


"Mau kemana?" Tanya Pak Alwi pada sang menantu.


"Kami akan keluar dan mungkin pulang besok pagi, Pak!" Jawab Robert jujur yang langsung membuat Pak Alwi mengangguk paham.


"Sebaiknya memang begitu, agar Angga tak mengganggu," Pak Alwi tertawa kecil.


"Apa tidak apa-apa kalau Angga-"


"Bapak dan Ibu akan menjaga Angga, Sita! Jadi jangan khawatir!" Ujar Pak Alwi memotong kalimat Sita yang sepertinya masih merasa khawatir.


"Kami pergi dulu, Pak! Selamat malam!" Pamit Robert akhirnya tanpa berbasa-basi lagi. Tak berselang lama, mobil Robert sudah meluncur meninggalkan rumah Pak Alwi.


****


Sita sedikit kaget saat ternyata Robert mengajaknya check in ke sebuah hotel.


"Hadiah Liam ada disini," jawab Robert seraya mengendikkan bahu.


"Hadiah apa?" Tanya Sita lirih yang entah benar-benar tak tahu atau hanya pura-pura tak tahu.


"Aku juga tidak tahu. Ayo kita cari tahu!" Ajak Robert bersamaan dengan pintu lift yang sudah terbuka. Robert meraih lengan Sita dan menariknya dengan lembut keluar dari lift, lalu menuju ke salah satu kamar yang berada di lantai tersebut.


Robert membuka kunci pintu dan menyalakan lampu. Langsung terlihat kelopak bunga yang memenuhi lantai hingga tempat tidur yang berbalut sprei warna putih. Sita tertegun melihat semua kejutan yang kata Robert adalah hadiah dari Liam dan Yumi ini.


"Kau terkejut?" Bisik Robert yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Sita dan mendekap wanita yang baru beberapa jam yang lalu menjadi istrinya tersebut.


"Ya," jawab Sita singkat.


"Aku juga terkejut," ujar Robert yang kini sudah memutar tubuh Sita. Robert berlutut di hadapan Sita, dan menyibak blouse yang dikenakan Sita, lalu langsung mengusap dan menciumi perut Sita beberapa kali.


"Papa akan melihatmu tumbuh di dalam sini, menjagamu, dan menunggumu untuk lahir ke dunia." Ucap Robert sembari mencium perut Sita.


"Tumbuhlah sehat di dalam," ujar Robert lagi yang sepertinya benar-benar menantikan kehadiran calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan Sita.


"Jangan nakal!" Lanjut Robert lagi seraya tertawa kecil.


"I love you!" Pungkas Robert yang kembali mengecup perut Sita dengan begitu lama.


Sita hanya mematung dan lagi-lagi perasaan wanita itu terasa campur aduk tak karuan.

__ADS_1


"Kenapa melamun?" Tegur Robert yang sudah kembali berdiri dan menyatukan keningnya dengan kening Sita.


"Tidak apa-apa," jawab Sita tergagap.


"Mau mandi dan berendam air hangat dulu?" Tawar Robert yang tangsudah menangkup wajah Sita.


"Ter-serah kau saja," jawab Sita yang sepertinya merasa grogi.


Tentu saja Sita grogi!


Karena meskipun ia dan Robert sudah pernah melakukannya, namun malam itu kondisi Sita setengah sadar dan bahkan hingga detik ini Sita sama sekali tak ingat apa-apa saja yang sudah ia lakukan bersama Robert.


"Kau terlihat grogi," bisik Robert yang sudah mendaratkan bibirnya di atas bibir Sita. Robert langsung mencecap bibir Sita dan mengulangi apa yang sudah pernah ia lakukan.


Meskipun sedikit ragu, namun Sita juga berusaha untuk membalas kecupan Robert yang begitu melenakan. Kedua tangan Sita bahkan sudah mengalung di leher Robert. Cukup lama pasangan pengantin baru itu saling berpagutan.


Robert lanjut menggendong Sita dan membaringkannya dengan lembut ke atas tempat tidur. Robert kembali mengecup bibir Sita, lalu tangannya bergerak perlahan untuk membuka satu persatu baju yang dikenakan oleh istrinya tersebut. Robert tak menyisakan sehelai kain pun di tubuh Sita.


Selesai melucuti baju Sita, Robert ganti menanggalkan satu persatu baju di tubuhnya. Kini dua tubuh itu tak lagi berpenghalang dan langsung hanyut dalam pelukan, kecupan, serta sentuhan yang sama-sama melenakan bagi keduanya.


"Emmmmh!"


Sita menggigit bibir bawahnya, saat milik Robert akhirnya menyentak masuk.


"Sakit?" Tanya Robert khawatir, namun Sita hanya menggeleng.


Robert menggenggam tangan Sita, lalu mulai bergerak dengan lembut dan perlahan. Robert tidak mau tergesa ataupun bermain kasar, sekalipun gairah dalam dirinya sedang membuncah hebat.


Robert tidak mau hal buruk terjadi pada calon anaknya!


Robert terus bergerak dengan intens dan sama sekali tak mengalihkan tatapannya dari wajah Sita.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Sita kembali memulai obrolan.


"Ya!" Jawab Robert yang nafasnya sudah Mulai terengah. Sesekali tangan Robert akan memainkan ujung kecoklatn di dada Sita hingga istrinya itu menggelinjang.


"Kenapa kau mengatakan pada semua orang kalau kau yang sudah menghilangkan nyawa Akshara? Kenapa kau tidak bilang apa adanya saja?" Cecar Sita yang hingga detik inj masih penasaran dengan alasan Robert melindunginya.


"Karena aku tak mau melihatmu digelandang ke kantor polisi. Aku tidak mau wanita sebaik dirimu mendekam di jeruji besi." Jawab Robert seraya mengecup kening Sita.


"Lalu Dyrtha itu siapa? Dan kenapa dia menyuruh Angga untuk mengajakmu pergi ke rumah kedua orangtuamu?"


"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku, Robert?" Cecar Sita lagi yang langsung membuat Robert membisu.


Robert merasa bingung harus mulai menjelaskan darimana.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2