
Robert turun dari taksi yang mengantarnya ke rumah kedua orang tua Sita. Rumah masih dikelilingi garis polisi dan terlihat sepi. Sepertinya Sita dan Angga memang tidak mungkin berada di dalam.
Lalu kemana perginya ibu dan anak itu?
Mungkinkah ke rumah teman Sita yang berjualan kue itu? Tapi dimana rumah teman Sita itu? Robert benar-benar tidak tahu dan Robert harus bertanya kemana?
Tunggu!
Robert membuka ponselnya dan mencari kontak Sita. Segera pria itu menghubungi nomor yang kini tertera di layar ponselnya. Namun ternyata hanya operator yang menjawab dan mengatakan kalau ponsel tidak aktif.
"Sial!" Umpat Robert kesal.
"Kata Anne, Sita sekarang menjadi kurir pengantar kue dan sudah tak bekerja lagi di rumah depan itu! Jadi kau mau celingukan juga Angga tak akan ada. Mamanya tak lagi kerja disana!"
"Tahu darimana Sita jadi kurir pengantar kue?"
"Dia sering ke rumah Anne dan mengantarkan kue pesanan Anne. Apa kau mau pesan kuenya juga? Biar aku telepon Anne kalau kau mau. Hahahaha!"
Kalimat yang pernah dilontarkan Liam beserta gelak tawa dari tuan direktur itu mendadak berkelebat di benak Robert. Jika benar Anne pernah pesan kue yang diantar Sita, pasti Anne tahu alamat teman Sita yang pembuat kue itu! Atau minimal nomor kontaknya.
Robert tak membuang waktu lagi dan segera naik ke dalam mobilnya yang masih terparkir di depan rumah Sita. Pria itu menghela nafas sejenak sebelum lanjut mengemudikan mobil ke arah rumah Anne.
****
"Anne, Abi, dan Keano sedang di rumah Bu Belle, Nak Robert!" Ucap Bu Sani saat Robert mengetuk pintu dan menanyakan tentang keberadaan Anne dan keluarga kecilnya.
Bodoh!
Kenapa tadi tidak menelepon Anne dulu dan menanyakan posisi adik bungsu Liam itu?
Robert tak berhenti merutuki kebodohannya sendiri.
"Terima kasih infonya, Bu! Saya akan menyusul ke sana kalau begitu."
"Saya permisi, selamat malam!" Pamit Robert akhirnya setelah sedikit berbasa-basi pada mertua Anne tersebut.
Robert kembali masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan gang masuk rumah Anne dan membuka laci di dashboard mobil. Pria itu mengambil sebungkus rokok yang berada di sana, lalu memainkannya sejenak.
"Rokok tidak baik untuk kesehatan!"
Pesan dan nasehat Sita mendadak berkelebat di benak Robert. Pria itu urung membuka bungkus rokoknya, dan melemparnya ke jok di samping kursi kemudi. Robert menyugar rambutnya sejenak, sebelum kemudian melajukan mobilnya ke arah kediaman Halley. Sepertinya Robert akan dicecar banyak oleh Liam setelah ini!
****
"Kemarilah, Robert! Kami baru saja membicarakanmu," Yumi akhirnya ikut mempersilahkan Robert setelah keheningan beberapa saat dan Robert yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Kau kesini karena mau membuat pengakuan tentang asal-usulmu, hah?" Tanya Liam pada Robert dengan nada sinis.
"Sebenarnya tidak! Karena aku ingin menemui Anne," jawab Robert menyangkal tebakan Liam. Pria itu langsung menghampiri Anne yang masih rangkul-rangkulan bersama Abi.
__ADS_1
"Ada apa, Bang? Kok nyari Anne?" Tanya Anne bingung.
"Kau tahu alamat teman Sita yang berjualan kue itu? Sita dan Angga tak ada di rumahnya dan aku hendak mencari ke sana," Robert bertanya dan setengah berbisik.
"Anne tidak tahu, Bang!" Jawab Anne jujur.
"Kau pernah pesan kue kata Liam." Robert masih mengorek.
"Iya kan pesan lewat chat! Bukan datang ke rumahnya!" Jawab Anne seraya mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak tukang kue yang kata Robert adalah teman Sita. Hanya karena Sita kurirnya belum tentu juga mereka berteman. Tapi Robert sepertinya yakin sekali, jadi Anne akan memberikan kontak tukang kue bernama Tere Tere itu!
"Ada nomornya?" Tanya Robert tak sabar.
"Ini!" Anne memberikan ponselnya pada Robert agar pria itu menyalin sendiri kontak Tere ke ponselnya.
"Baiklah, terima kasih!" Robert mengembalikan ponsel Anne serelah selesai menyalin kontak.
"Jadi sebenarnya kau itu ada hubungan apa dengan Sita, Rob? Kalian pacaran?" Tanya Liam masih dengan nada sinis.
"Kami teman!" Jawab Robert cepat.
"Kata Liam kau putra Tuan Hadinata? Apa itu benar?" Sekarang gantian Mom Belle yang mencecar Robert.
"Duduklah dulu!" Yumi bangkit berdiri dan memberi ruang pada Robert untuk duduk di dekat Liam yang wajahnya masih tak enak dilihat.
"Soal itu, Aunty..." Robert menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau dia bukan putra mahkota Tuan Hadinata, mana mungkin dia sudah berkeliaran sekarang? Dia pasti masih di kantor polisi dan mendekam di dalam sel!" Ucap Liam lagi sinis.
"Aku memang Roberto Erlangga Hadinata!" Robert akhirnya membuat pengakuan dan menatap sedikit geram pada Liam.
"Lihat!" Liam menatap pada semua orang yang berada di ruangan tersebut seolah berkata,
"Aku benar, kan?"
"Lalu kenapa kau menjadi asistenku jika kau sendiri adalah seorang calon tuan direktur-"
"Dia sudah menjabat sebagai direktur di beberapa perusahaan milik Hadinata Group setelah lulus kuliah!" Daniel mengoreksi sekaligus memberitahu Liam.
"Ck! Apa kau sedang meledekku yang hanya direktur newbie?" Tanya Liam seraya berdecak pada Robert.
"Aku butuh pekerjaan waktu itu, jadi aku melamar ke Halley Development dan menjadi asistenmu!" Jawab Robert menjelaskan.
"Seorang tuan direktur butuh pekerjaan? Apa hidupmu sedang gabut?" Tanya Liam bersungut-sungut yang malah membuat Yumi dan yang lainnya menahan tawa.
"Aku bukan lagi seorang direktur saat aku melamar jadi asistenmu! Aku baru keluar dari rumah Mami dan Papi waktu itu dan melepaskan semua fasilitas serta apapun yang berhubungan dengan Mami dan Papi!" Robert akhirnya membuat pengakuan.
"Maksudnya kau baru minggat dari rumah, begitu?" Yumi turut bertanya demi memperjelas cerita Robert.
"Ya!" jawab Robert singkat.
__ADS_1
"Seperti di drama-drama itu, ya! Tuan direktur kabur dari rumah karena mau dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya, lalu menyamar sebagai rakyat jelata," Anne menimpali seraya menuturkan cerita drama yang pernah ia tonton.
"Benar begitu, Rob? Kau kabur karena menolak dijodohkan?" Tanya Liam kepo.
"Aku pergi karena Mami dan Papi menentang hubunganku dengan Sheila!" Jawab Robert seraya tersenyum kecut dan semuanya langsung bungkam.
Selalu ada raut kesedihan di wajah Robert, setiap pria itu menyebut nama mendiang istrinya tersebut.
"Aku dan Sheila hanya ingin membangun sebuah keluarga dan memulai semuanya dari awal. Lalu secara kebetulan kau membuka lowongan asisten, jadi aku mencoba melamar dan sedikit mengubah penampilanku agar kau tak curiga," beber Robert panjang lebar.
"Maaf jika sudah membuatmu merasa dibohongi, Liam! Tapi sejujurnya aku merasa senang menjadi asisten sekaligus sekretarismu. Aku menikmati pekerjaanku karena kau dan keluargamu, semuanya begitu welcome kepadaku."
"Aunty dan Uncle juga selalu memperlakukan aku layaknya putra mereka. Aku benar-benar merasa telah mendapatkan keluarga kedua saat berada di tengah-tengah keluarga Halley!" Tutur Robert panjang lebar.
"Kau memang bagian dari keluarga ini, Robert!" Mom Belle sudah menepuk punggung Robert.
"Tapi apapun masalahmu dengan kedua orang tuamu, mereka tetap adalah keluargamu yang sesungguhnya. Mereka adalah mami dan papimu."
"Jadi tidak baik jika kau marah pada mereka selama bertahun-tahun! Mereka pasti juga merindukan kehadiranmu, Robert! Jadi pulanglah dan temui mereka!"
"Tak ada gunanya terus-terusan mengibarkan bendera perang seperti ini!" Nasehat Mom Belle yang sejak dulu selalu berpikiran bijak.
"Robert juga berencana untuk pulang, Aunty!"jawab Robert yang masih menundukkan kepalanya.
"Lalu kenapa sekarang malah mencari Sita? Kenapa tidak langsung pulang saja?" Tanya Liam yang langsung berhadiah pukulan di lengan dari Yumi.
"Ada apa? Apa yang aku lewatkan? Kau tahu sesuatu tentang apa yang terjadi di antara mereka? Kenapa memberitahuku?" Cecar Liam panjang lebar pada Yumi yang hanya membuat Yumi memutar bola matanya.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan bersama Sita!" Ujar Robert menjawab pertanyaan Liam.
"Jangan bilang kau mau mengajak Sita menikah, lalu membawanya ke hadapan Papi dan Mamimu! Sheila yang seorang perawat saja ditolak mentah-mentah. Apa kabar Sita yang hanya kurir kue?" Liam berdecak tak percaya dan sebuah cubitan langsung mendarat di lengan tuan direktur cerewet itu.
"Apa lagi?" Liam menggeram pada Yumi. Dan Yumi hanya mendengus.
"Aku akan mencari Sita dulu." Pamit Robert akhirnya seraya bangkit dari duduknya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi, Robert!" Liam mendelik kesal ke arah Robert.
"Nanti saja setelah aku menemukan Sita!" Jawab Robert yang selalu membuat Liam kesal.
"Saya pulang dulu, Aunty, Uncle!" Robert berpamitan pada Mom Belle dan Dad Devan serta tak lupa berterima kasih pada Anne yang sudah memberikan nomor kontak Tere.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.