Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
MASA LALU (2)


__ADS_3

Flashback beberapa tahun sebelumnya....


"Lepas!" Sentak Robert pada Dyrtha yang hendak menuntunnya masuk ke dalam UGD sebuah rumah sakit.


"Berhentilah berkelahi seperti tadi, Rob!" Nasehat Dyrtha yang mulai kesal pada Robert yang belakangan ini gemar sekali berkelahi. Entah ada apa dengan pria ini sebenarnya.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" Tanya seorang perawat yang kebetulan sedang berjaga di UGD.


"Tolong obati luka-lukanya!" Ujar Dyrtha pada perawat dengan nametag Sheila tersebut. Dyrtha hebdak membuka topi yang dijrnakan oleh Robert, namun lagi-lagi tangannya kembali disentak oleh Robert yang akhirnya membuka topinya sendiri.


"Aku tidak butuh diobati!" Sungut Robert seraya memberikan topinya dengan kasar pada Dyrtha yang hanya berdecak.


"Robert!" Panggil perawat itu tiba-tiba yang ternyata mengenal Robert.


Tentu saja hal itu langsung menbuat Robert mendongakkan kepalanya.


"Masih gemar berkelahi?" Tanya perawat bernama Sheila itu lagi.


"Kau siapa?" Tanya Robert yang masih berusaha mengingat-ingat wajah Sheila.


"Sheila! Kita satu sekolah saat SMA dan kau pernah menyelamatkan aku dari para pemuda brengsek yang hampir mencelakaiku," jelas Sheila masih sambil mengulas senyum.


"Itu sudah lama sekali," gumam Robert yang tetap tak ingat pada gadus bernama Sheila tersebut.


"Ya, kita juga sudah tak pernah bertemu lagi setelah lulus SMA, karena aku harus kuliah di luat kota. Jadi mungkin kau sudah lupa," ujar Sheila yang tangannya mulai cekatam mengobati luka di tangan dan wajah Robert.


"Tapi kau masih mengingatku?" Tanya Robert yang mendadak penasaran dengan perawat bernama Sheila tersebut.


"Aku tak akan pernah meluoakan wajah orang yang pernah menyelamatkan nyawaku," ucap Sheila lembut seraya menempelkan plester ke luka di dahi Robert.


"Aku akan menunggu di luar saja," gumam Dyrtha yang merasa jadi obat nyamuk di dalam ruangan IGD. Sepupu Robert itu akhirnya keluar dan menunggu di luar UGD.


Robert masih menatap lekat wajah Sheila yang begitu cekatan mengobati luka-lukanya.


"Kenapa kau berkelahi?" Tanya Sheila selanjutnya yang akhirnya sudah selesai mengobati luka-luka Robert.


"Hanya sedang memberikan pelajaran pada orang-orang brengsek," jawab Robert mencari pembenaran.


"Harus dengan kekerasan?" Tanya Sheila lagi yang sesaat membuat Robert diam.


"Kalau aku boleh memberikan nasehat, sebaiknya kau sumpan saja tenagamu tang untuk berkelahi itu dan menyalurkannya pada hal lain," nasehat Sheila pada Robert.


"Hal lain misalnya apa?" Tanya Robert meminta pencerahan.


"Olahraga, melakukan hobi, apa saja asal itu hal positif dan tak merugikan dirimu sendiri maupun orang lain," tutur Sheila panjang lebar memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Baiklah, nanti kucoba."


"Ngomong-ngomong,kau bekerja di rumah sakit ini?" Tanya Robert selanjutnya berbasa-basi pada Sheila.


"Ya!"


"Biasa pulang bekerja jam berapa?" Robert mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Sheila yang langsung terlihat gugup.


"Memang kenapa?" Tanya Sheila terbata.


"Mau men-traktirmu saja karena sudah mengobati lukaku-"


"Itu memang pekerjaanku!" Sheila menyela kalimat Robert.


"Dan juga sudah memberikan aku nasehat bijak," Robert menyambung kalimatnya dan wajah Sheila mendadak jadi bersemu merah.


"Kau sudah punya pacar, Sheila?" Tanya Robert lagi to the point.


"Apa?" Sheila menatap tak percaya pada Robert yang tak ada lagj basa-basi dan bertanya secara to the point.


"Pacar. Aku tak mau nanti pacarmu marah, misalnya aku mengajakmu makan di luar."


"Aku tidak punya pacar," jawab Sheila cepat yang langsung membuat Robert mengulas senyum.


"Jam tiga."


****


Sebulan setelah pertemuan tak sengaja mereka di rumah sakit, Sheila dan Robert akhirnya mulai berpacaran. Robert juga mulai mendengarkan nasehat Sheila untuk tak lagi berkelahi dan fokus pada pekerjaan saja. Semakin lama, niat Robert untuk mempersunting Sheila sebagai istri semakin kuat karena Robert sepertinya sudah tergila-gila pada gadis perawat itu.


"Kapan aku boleh bertemu dengan ayahmu, Sheila?" Tanya Robert saat Sheila baru masuk ke dalam mobilnya. Sudah menjadi rutinitas untuk Robert mengantar jemput Sheila setiap pulang dan pergi bekerja. Tapi hingga detik ini, Robert belum pernah sekalipun bertemu dengan Ayah Sheila.


Sheila selalu mengatakan kalau sang ayah jarang di rumah dan lebih banyak berada di luar kota karena pekerjaan.


"Bertemu ayah? Mau apa?" Tanya Sheila tergagap.


Sheila selalu terlihat gugup setiap kali Robert menyinggung tentang ayahnya. Seolah ada hal besar yang ditutupi oleh Sheila.


"Aku ingin sebuah hubungan yang serius." Robert sudah menggenggam tangan Sheila.


"Aku ingin secepatnya mempersuntingmu sebagai istri," lanjut Robert lagi.


"Nanti setelah ayahmu merestui, aku akan ganti membawamu bertemu Papi dan Mami," ujar Robert lagi menatal bersungguh-sungguh pada Sheila yang terlihat shock.


"Kita baru berpacaran beberapa bulan, Robert! Apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Sheila merasa ragu.

__ADS_1


"Tentu saja tidak!" Robert mengecup tangan Sheila.


"Aku benar-benar sudah merasa nyaman denganmu, Sheila! Dan aku sangat serius dengan keputusan ini," sambung Robert lagi


"Jadi kapan aku bisa bertemu ayah kamu?" Tanya Robert sekali lagi.


"Nan-"


"Nanti aku kabari," jawab Sheila tergagap.


"Baiklah!" Robert mengulas senyum dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kawasan rumah sakit.


Namun saat sampai di gang yang menuju ke rumah Sheila, Robert dan Sheila tak sengaja melihat seorang pria yang sedang dihakimi oleh massa.


"Ayah!" Gumam Sheila yang langsung menyiruh Robert menghentikan mobilnya.


"Ayah!" Sheila hendak mendekat ke arah pria yang sedang dipukuli beramai-ramai tersebut, namun Robert mencegah dengan cepat.


Pria paruh baya itu terus dipukuli oleh warga karena sepertinya baru saja terpergok melakukan aksi pencurian dengan kekerasan.


"Selamatkan ayah, Robert!" Mohon Sheila yang hanya membuat Robert bergeming dan mendekap erat Sheila.


Robert memperhatikan dengan seksama wajah pria yang kini sedang menjadi bulan-bulanan massa tersebut dan kelebat bayangan saat sekawanan perampok menghadang mobil yang ditumpangi Robert bersama sang mami kembali berkelebat di benak Robert.


"Robert, lari!" Teriak Mami Indri pada Robert yang ketakutan.


"Kejar anak laki-laki itu!" Perintah salah seorang perampok yang wajahnya masih lekat di ingatan Robert hingga detik ini.


Dan itu adalah wajah yang sama dengan yang kini sedang ditangisi oleh Sheila.


Jadi, Sheila adalah anak dari perampok yang pernah menyekap Mami Indri dan hampir membuat Robert celaka?


.


.


.


Sik, mblundet 🙈🙈


Ke masa lalu bentar, biar tahu dengan detail masa lalu Robert.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2