
Langit di luar kediaman Hadinata masih gelap, saat Sita yang sudah rapi masuk ke kamar Angga dengan perlahan. Robert masih berada di kamar Angga dan pria itu tertidur di sofa dengan laptop yang masih menyala. Seperti semalam Robert bangun dan mengerjakan sesuatu. Entahlah, Sita tak mau memikirkannya.
Sita mengambil satu jaket dari almari, lalu memakaikannya dengan hati-hati pada Angga yang mulai menggeliat. Tak lupa Sita juga memakaikan sepatu ke kaki Angga, lalu setelah semuanya siap, Sita menggendong Angga yang masih tidur.
"Ma," gumam Angga yang sepertinya merasa terganggu dengan Sita yang membangunkannya mendadak.
"Ma, kita mau kemana?" Tanya Angga yang akhirnya terbangun. Bocah enam tahun tersebut mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Kita harus pulang ke rumah Kakek, Angga!" Jawab Sita sedikit berbisik pada Angga.
"Tapi kita baru beberapa hari disini, dan kata Papa, hari ini Angga mau didaftarkan masuk sekolah," protes Angga yang sepertinya tidak mau ikut bersama Sita.
"Tapi kita harus pulang, Angga! Kakek kangen pada Angga dan Mama," Sita mencoba membujuk Angga dan memberikan sebuah alasan.
"Papa ikut pulang, nggak? Kok Papa masih tidur?" Angga mengendikkan dagunya ke arah Robert yang memang masih terlelap dan sepertinya tak terganggu dengan perdebatan Sita dan Angga.
"Papa masih banyak pekerjaan di sini. Nanti Papa akan menyusul," jawan Sita mencoba meyakinkan Angga.
"Tapi nanti kita kembali lagi ke sini, kan, Ma?" Tanya Angga lagi yang langsung membuat Sita terdiam untuk beberapa saat.
"Nanti kita lihat kondisi kakek dulu, ya!" Jawab Sita akhirnya menemukan alasan yang tepat.
"Ayo!" Sita memakaikan topi ke kepala Angga, lalu menggandeng putranya tersebut untuk keluar dari kamar.
"Nggak pamit ke papa, Ma?" Tanya Angga seraya menahan tangan Sita saat mereka sampai di ambang pintu.
"Mama sudah pamit tadi," dusta Sita dan Angga tak protes lagi. Angga mengikuti langkah Sita menuju ke pintu utama kediaman Hadinata.
"Nona, anda mau kemana?" Tanya supir yang sedang di halaman dan membersihkan mobil-mobil milik keluarga Hadinata.
"Ke bandara," jawab Sita jujur.
"Mari saya antar," ujar pak sopir seraya membukakan pintu mobil untuk Sita dan Angga. Sita tak menolak dan memilih menurut saja. Lagipula, pagi-pagi buta begini kalau Sita memaksa untuk mencari taksi rasanya akan sia-sia juga.
"Angga belum pamit pada Oma dan Opa, Ma!" Angga mengingatkan Sita saat mobil sudah keluar dari gerbang utama kediaman Hadinata.
"Oma dan Opa masih tidur, dan Mama sudah pamit semalam. Jadi Angga tenang saja, ya!" Jawab Sita seraya mendekap erat sang putra.
Sita tidak tahu apa keputusannya kali ini benar atau salah. Tapi saat ini yang ingin Sita lakukan hanyalah menepi sejenak dan menenangkan diri.
****
Robert terbangun, saat ponselnya berdering tanpa henti dengan nama Dyrtha yang tertera di layar ponsel
__ADS_1
Brengsek!
Memangnya sudah jam berapa, sampai Dyrtha menelepon Robert berulang-ulang?
Robert melihat jam yang tergantung di kamar Angga, dan sesaat kemudian, pria itu langsung terlihat tergesa.
Robert keluar dari kamar Angga dan berlari ke kamarnya sendiri di lantai dua. Suasana kamar sepi dan semuanya juga sudah rapi. Apa Sita bangun pagi-pagi sekali?
Robert tak terlalu memikirkannya dan memilih untuk segera mandi serta bersiap ke kantor, bersamaan dengan ponselnya yang kembali berdering.
Dasar Dyrtha sialan!
****
"Sita mana, Robert?" Tanya Mami Indri saat Robert menuruni tangga sembari memasang dasinya.
"Bukannya sudah turun sejak tadi, Mi? Di kamar tidak ada," jawab Robert yang tetap fokus pada dasinya.
"Mami belum melihatnya sejak tadi. Kau yakin Sita tidak sedang di kamar?" Mami Indri bertanya sekali lagi saat kemudian Robert menyadari ada sesuatu yang salah.
"Mami sudah memeriksa semua ruangan di rumah ini? Mungkin saja Sita tersesat." Robert masih berpikir positif dan Mami Indri langsung memanggil semua maid di rumah, lalu meminta mereka semua mengecek satu persatu ruangan di kediaman Hadinata dengan detail demi menemukan Sita yang entah berada di mana.
"Sita!" Panggil Robert yang sudah melangkah menuju ke kamar Angga. Mami Indri ikut membuntuti putranya terssbut, untuk memastikan kalau Angga masih tidur di kamarnya.
"Angga!" Panggil Robert seraya berjalan ke arah tempat tidur Angga. Namun saat Robert menyibak selimut, pria itu hanya menemukan tempat tidur yang kosong tanpa Angga di sana.
Angga kemana?
"Angga kemana, Robert?" Tanya Mami Indri yang wajahnya sudah panik.
Robert keluar lagi dari kamar Angga dan mengumpulkan semua maid, sopir, seeta security di rumah.
"Sudah kami cari ke setiap sudut rumah, dan Nona Sita tidak ada dimana-mana, Nyonya!" Lapor seorang maid yang tadi di suruh oleh Mami Indri untuk mencari Sita.
"Robert," Mami Indri semakin cemas, saat tiba-tiba seorang sopir yang baru datang dan bergabung dengan yang lainnya melapor pada Robert.
"Tuan Robert, tadi Nona Sita dan Tuan Muda Angga pergi ke bandara. Saya yang mengantar," lapor sopir tersebut yan langsung membuat Mami Indri dan Robert kaget.
"Ke bandara? Mereka akan kemana?" Tanya Robert penuh selidik.
"Saya kurang tahu, Tuan! Nona Sita hanya minta di antar ke bandara," jelas sopir.
"Apa Sita membawa koper? Tas besar?" Gantian Mami Indri yang bertanya.
__ADS_1
"Tidak, Nyonya! Nona Sita hanya membawa satu tas selempang dan ransel milik Tuan Muda Angga," jelas sopir.
Robert menghela nafas dan segera mengambil ponselnya di saku yang sejak tadi tak berhenti berdering.
"Dyr-"
"Kau kemana? Sudah kubilang untuk ke kantor hari ini!"
"Sita pergi dari rumah dan aku harus menyusulnya-" Robert mencoba menjelaskan pada Dyrtha, saat sepupunya itu kembali menyela.
"Dia sedang ke rumah orang tuanya."
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Robert penuh selidik.
"Dia memberitahuku sebelum pergi."
"Dia menemuimu?" Tanya Robert lagi tak sabar.
"Ya!"
"Lalu kau bicara apa kepadanya, hah? Kau memakinya dan mencercanya lagi? Kau menghinanya, hingga ia pergi?" Cecar Robert yang mulai berapi-api pada Dyrtha
"Datanglah ke kantor dan akan kuceritakan semuanya!"
"Dasar brengsek!" Maki Robert sebelum kemudian pria itu menutup tekepon, lalu melesakkan ponselnya ke dalam saku.
"Robert, kau mau kemana?" Mami Indri menahan lengan Robert yang hendak pergi.
"Sita sedang ke rumah orang tuanya, karena Angga mendadak ribdu pada Kakeknya, Mi! Jadi Mami tak perlu khawatir!" Robert merengkuh kedua pundak Mami Indri dan berusaha menenangkan mami kandungnya tersebut.
"Lalu kapan mereka akan kembali? Kau akan menyusul mereka?" Tanya Mami Indri lagi.
"Iya, Robert akan menyusul nanti dan mengajak mereka pulang lagi kalau rasa rindu Angga pada Kakeknya sudah terobati," jelas Robert yang langsung membuat Mami Indri menarik nafas lega dan mengangguk-angguk.
"Robert akan ke kantor sebentar, Mi!" Pamit Robert selanjutnya seraya mencium punggung tangan Mami Indri.
"Hati-hati!" Pesan Mami Indri pada Robert yang sudah mengayunkan langkahnya menuju ke pintu utama kediaman Hadinata.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.