Aku Janda Kamu Duda

Aku Janda Kamu Duda
TAMU TAK TERDUGA


__ADS_3

"Siang!" Sapa Robert seraya meletakkan sebotol kopi di atas meja kasir seperti biasa. Sita juga tak tahu kenapa Robert selalu datang membeli kopi dan rokok saat dirinya berjaga sebagai kasir.


"Lima puluh lima ribu," ucap Sita datar seraya menatap lekat wajah Robert. Rasanya menenangkan dan seolah membuat Sita enggan berpaling.


"Ada apa?" Tanya Robert yang merasa diperhatikan oleh Sita.


"Tidak ada!" Jawab Sita cepat-cepat seraya mengalihkan pandangannya.


"Angga sudah mulai masuk sekolah, ya?" Tanya Robert berbasa-basi karena kebetulan di belakang Robert juga tidak ada antrian.


"Bulan depan baru mulai masuk. Bulan ini baru pendaftaran." Jawab Sita yang mendadak terbersit ide untuk meminjam uang saja pada Robert karena uang yang seharusnya untuk membayar uang sekolah Angga dirampas oleh Akshara beberapa hari yang lalu.


Tapi sepertinya tidak usah!


Robert pasti akan menolak saat Sita mengembalikan uang itu nanti.


"Kenapa malah melamun?" Tegur Robert yang langsung membuat Sita tersentak.


"Tidak! Hanya sedang memikirkan sesuatu." Jawab Sita cepat.


"Uang untuk masuk sekolah Angga sudah ada?" Tanya Robert yang ternyata peka juga.


"Ada!" Jawab Sita berdusta.


Robert mengulas senyum tipis dan mengambil barang yang tadi ia beli.


"Aku boleh mengajak Angga jalan-jalan saat akhir pekan?" Tanya Robert sekali lagi sebelum pria itu benar-benar pergi.


Sita tak langsung menjawab dan tampak berpikir beberapa saat.


"Hanya jalan-jalan ke mall," ujar Robert lagi berusaha merayu Sita agar memberikan izin.


"Kenapa tidak mengajak Fairel atau Keano saja? Kenapa harus Angga?" Tanya Sita penuh selidik.


"Keano dan Fairel sudah jalan-jalan bersama papa mereka masing-masing saat akhir pekan." Robert tertawa kecil.


"Tak apa jika kau tak mengijinkan. Aku hanya bertanya dan tak memaksa," pungkas Robert akhirnya yang hanya membuat Sita menghela nafas.


"Aku pergi dulu, bye!" Pamit Robert serata berlalu pergi dan Sita tak berhenti menatap pada punggung proa itu hingga ia menghilang ke arah pintu utama swalayan.


****


"Ma, tadi saat Angga main di taman dekat rumah Timmy, ada om om yang bilang ke Angga kalau dia papanya Angga." Laporan Angga saat Sita baru saja menjemput bocah itu benar-benar membuat Sita kaget.


"Trus Om itu juga maksa-maksa buat ngajak Angga pergi. Tapi Angga tidak mau dan Angga langsung lari ke rumah Timmy." Angga melanjutkan laporannya.

__ADS_1


"Tante Teresa kemana memangnya?" Tanya Sita penuh selidik.


"Sedang pergi sebentar membeli bahan kue."


"Tadinya memang tante Tere nyuruh Angga dan Timmy jangan kemana-mana. Tapi Angga malah main ke taman," Angga meringis saat bocah itu berkata jujur tentang perbuatan salahnya.


"Lain kali, kalau Tante Tere nyuruh Angga di rumah ya jangan kemana-mana! Nanti kalau ketemu orang jahat bagaiamana?" Nasehat Sita pada sang putra.


"Iya, Ma! Maaf!"


"Angga nggak akan mengulanginya lagi," janji Angga seraya membenarkan kacamata yang selalu melekat di wajahnya.


Sita mendadak jadi khawatit tentang om om yang diceritakan Angga tadi. Mungkinlah itu Akshara yang hebdak mengambil Angga dari Sita?


Jika benar, Sita sebaiknya hati-hati karena Aksha pasti punya niat jahat jika pria itu ingin mengambil Angga. Bukankah Aksha membenci Angga dan tak mau mengakui Angga sebagai anaknya? Lalu kenapa mendadak dia ingin mengambil Angga?


"Sekarang Angga mandi dulu, ya! Mama mau siapkan makan malam," titah Sita selanjutnya pada Angga yang hanya mengangguk patuh.


Sita lanjut pergi ke dapur dan menyalakan lampu. Suasana rumah memang sepi dari pagi sampai sore karena Bu Tutik dan Pak Alwi belum pulang dari rumah saudara mereka.


Sita menatap ke sekeliling dapur karena merasa ada sesuatu di dapur yang terletak di bagian belakang rumah tersebut. Tatapan mata Sita langsung tertumbuk ke arah pintu belakang yang memang langsung mengarah ke pagar belakang yang berbatasan dengan jalan di belakang rumah.


Sita mendekat ke arah pintu karena merasa ada yang tidak beres dengan kuncinya. Tadi pagi sebelum Sita berangkat perasaan sudah Sita kunci. Lalu kenapa sekarang kuncinya...


"Lepas!" Sita berusaha berontak.


"Katakan dimana anak sialan itu!" Gertak Akshara lagi membentak Sita dengan galak.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu membawa Angga-"


"Uhuuuk! Uhuuk!"


Nafas Sita tersengal saat jepitan lengan Aksha di lehernya terasa semakin kuat.


"Uhuuuk!"


"Lepas!" Sita berusaha meronta dan tangannya menyikut-nyikut Akshara yang masih menjepitnya dari belakang.


"Anak sialanmu itu akan jadi sumber uang untukku," Akshara berbisik di telinga Sita yang tentu saja hal itu langsung membuat Sita murka.


Dasar keparat!


Maki Sita dalam hati.


Sita berontak sekuat tenaga tapi jepitan Akshara malah semakin kuat. Hingga tiba-tiba...

__ADS_1


Bugh!


Seseorang memukul Akshara dari arah belakang menggunakan payung hingga membuat cengkeraman lengan Akshara di leher Sita jadi mengendur. Sita meloloskan diri dengan cepat dan nafas wanita itu langsung tersengal.


"Angga!" Panggil Sita pada Angga yang ternyata tadi memukul Aksha dari belakang. Aksha sudah berbalik dan menatap sengit pada Angga yang kini mematung di tempatnya masih sambil memegang payung di tangannya.


"Angga, lari!" Komando Sita yang berusaha meraih tangan Angga. Namun tak sampai karena Angga sudah berbalik dan berlari ke arah pintu depan sesuai perintah Sita.


"Kembali kau anak keparat!" Teriak Akshara murka seraya mengejar Angga. Sita mengedarkan pandangannya ke sekeliling demi menemukan benda apa saja yang bisa ia gunakan untuk melumpuhkan Akshara hingga kemudian pandangan wanita itu tertumbuk pada linggis kecil milik Pak Alwi di sudut dapur. Sita mengambilnya dengan cepat dan mengejar Aksha sebelum pria itu menangkap Angga.


"Mama!" Jerit Angga yang sepertinya sudah tertangkap oleh Akshara.


"Keparat! Lepaskan anakku!" Teriak Sita seraya mengayunkan linggis di tangannya tapi meleset dan tak berhasil mengenai Akshara.


Dan Akshara langsung mendorong tubuh Sita hingga wanita itu jatuh terduduk ke lantai.


"Mama! Tolong Angga!" Angga yang tubuhnya sudah diangkat oleh Akshara meronta-ronta minta dilepaskan.


"Aksha! Lepaskan Angga!" Teriak Sita seraya merangkak dan berusaha meraih kaki Akshara.


Berhasil!


Akshara langsung jatuh terjerembab bersama Angga karena satu kakinya ditarik oleh Sita. Angga langsumg bangun dengan cepat dan berlari keluar rumah.


Sementara Akshara yang juga sudah bangun, menatap penuh amarah ke arah Sita yang masih terduduk di lantai.


"Kau benar-benar wanita tak berguna!" Maki Akshara yang terus mendekat ke arah Sita yang juga terus beringsut mundur, sambil tangannya meraba-raba ke belakang seolah mencari sesuatu.


"Aku akan menghabisimu lalu menjual anak sialanmu itu!" Akshara nyaris menindih Sita, saat tangan Sita yang sudah menggenggam linggis tadi terayun ke depan dan tepat mengenai kepala Aksha. Tubuh mantan suami Sita itu terhempas ke samping lalu membentur tembok sebelum akhirnya terkapar di lantai dan bersimbah darah.


"Hah!"


Linggis di genggaman Sita lolos begitu saja dan Sita menatap penuh kengerian pada tubuh Akshara yang tak lagi bergerak.


Apa Sita baru saja membunuh pria keparat itu?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2