
"Omi! Opi!" Seru Angga penuh semangat saat baru turun dari mobil.
"Angga, hati-hati!" Robert buru-buru mengejar Angga yang sudah berlari ke arah Mami Indri dan Papi Gubtur yang menyambut mereka di teras rumah. Robert hanya tidak mau putra sambungnya itu kembali jatuh karena tangannya saja masih diperban dan digendong.
"Ini kenapa?" Tanya Papi Guntur saat melihat tangan kiri Angga yang terbalut perban dan disangga di depan dada.
"Jatuh dari sepeda, Opa!"
"Tapi Angga cuma nangis sebentar," lapor Angga yang langsung membuat Papi Guntur dan Mami Indri khawatir.
"Bagaimana ceritanya Angga bisa jatuh, Robert?"
"Lalu ini tangannya patah atau bagaimana?" Cecar Mami Indri pada Robert yang sudah menyusul ke teras.
"Patah, Mi! Tapi sudah dioperasi dan sudah tahap pemulihan. Kata dokter akan cepat sembuh, karena Angga masih dalam tahap pertumbuhan.
"Ck! Seharusnya kau itu menjaga Angga lebih hati-hati!" Omel Papi Guntur pada Robert yang hanya menggaruk kepalanya.
"Iya, Pi! Robert yang teledor." Jawab Robert meskipun sebenarnya yang terjadi pada Angga memang kecelakaan dan sebuah ketidak sengajaan. Tapi kalau Robert mengelak, yang terjadi hanyalah perdebatan tanpa henti antara Robert dan sang papi. Jadi Robert akan mengalah saja.
"Lalu itu?" Mami Indri menunjuk ke arah Sita yang turun belakangan bersama Pak Alwi dan Bu Tutik.
"Itu kakek dan Neneknya Angga, Omi!" Bukan Robert, melainkan Angga yang menjelaskan pada Mami Indri.
"Robert mengajaknya kemari agar bisa silaturahmi dengan Mami dan Papi. Bukankah katanya Mami dan Papi mau menggelar resepsi pernikahan untuk Robert dan Sita juga?" Tukas Robert panjang lebar menagih janji kedua orang tuanya di acara anniversary pernikahan mereka kala itu.
"Iya, Papi belum pikun dan masih ingat dengan janji Papi waktu itu! Papi hanya sedang mencari waktu yang tepat karena khawatir Sita masih sedih setelah keguguran kemarin," ujar Papi Guntur mencari alasan.
"Sita sudah baik-baik saja, Pi!" Jawab Robert bersungguh-sungguh.
"Nanti Mami yang akan mengurus semuanya," pungkas Mami Indri seraya berjalan menghampiri Pak Alwi dan Bu Tutik yang juga sudah tiba di teras bersama Sita.
"Siang, Mi!" Sapa Sita seraya mencium punggung tangan Mami Indri yang langsung mengulas senyum karena Sita tak lagi memanggilnya Nyonya.
"Kau sehat?" Tanya Mami Indri yang sudah ganti memeluk Sita.
"Sehat, Mi!" Jawab Sita yang sebenarnya masih sedikit canggung pada Mami Indri karena Sita yang pernah berbicara dengan lancang pada mami kandung Robert ini perihal Sheila tempo hari.
"Maaf jika kata-kata Mami tempo jari soal momomgan menyinggung hatimu, Sita! Mami hanya berharap kamu akan secepatnya kembali hamil setelah kejadian kemarin."
__ADS_1
"Apa kau masih merasa sedih?" Tanya Mami Indri khawatir.
Sita menggeleng.
"Sita sudah tidak sedih lagi, Mi!" Jawab Sita bersungguh-sungguh.
"Syukurlah. Kalau begitu."
"Ini kedua orang tuamu, ya?" Mami Indri sudah ganti memeluk Bu Tutik dengan hangat,lalu saling bertanya kabar. Pun dejgan Papi Guntur yang sudah ikut menyapa Pak Alwi yang masih terlihat bingung melihat besarnya rumah Robert dan kedua orangtuanya.
Sita paham betul perasaan kedua orang tua angkatnya tersebut, karena dulu saat pertama diajak pulang ke rumah ini, Sita juga menunjukkan ekspresi yang sama dengan Pak Alwi dan Bu Tutik. Sita juga tak menyangka kalau Robert adalah putra tunggal serta satu-satunya pewaris di keluarga Hadinata yang memiliki banyak perusahaan.
"Mari masuk dan istirahat di dalam, Bu!" Ajak mami Indri selanjutnya pada Bu Tutik yang masih tak berhenti berdecak kagum pada kediaman mewah keluarga Hadinata.
"Rumahnya besar sekali, Bu!" Puji Bu Tutik yang hanya membuat Mami Indri mengulas senyum.
"Anggap saja rumah sendiri, Bu! Mari masuk dan istirahat!" Ajak Mami Indri sekali lagi dan para orang tua tersebut sudah menghilang ke dalam rumah, meninggalkan Sita serta Robert yang masih berdiri di teras.
"Angga langsung ke playground?" Tebak Sita yang tak lagi melihat Angga di teras.
"Dia hanya membaca buku dan tak akan melompat-lompat." Ujar Robert memastikan.
"Padahal Mami sudah memanggilkan guru privat."
"Lebih enak bersekolah di sekolah formal dan bertemu teman-teman." Pendapat Robert yang sepertinya juga sudah pernah merasakan merananya home schooling.
"Kau dulu berapa tahun home schooling memang?" Tanya Sita mulai kepo. Pasangan suami istri itu sudah melangkah dan masuk ke dalam rumah.
"Hampir empat tahun. Lalu aku merengek pada mami, dan akhirnya diizinkan sekolah di sekolah formal."
"Mami hanya khawatir aku terluka atau terkena bully-an."
"Entahlah!" Robert mengendikkan kedua bahunya.
"Mami membawakanmu bodyguard juga?" Ledek Sita yang langsung membuat Robert berdecak.
"Tentu saja tidak! Aku anak pemberani seperti Angga!" Sanggah Robert membela diri.
"Baiklah, aku percaya, Anak pemberani!" Sita mengacak rambut Robert dengan usil, meskipun wanita itu harus sedikit berjinjit.
__ADS_1
"Sita!" Protes Robert pada Sita yang langsung berlalu ke playground untuk menyusul Angga.
"Ma, lihat!"
"Buku ceritanya Angga udah semakin banyak!" Pamer Angga pada Sita yang baru menghampirinya.
"Wow! Banyak yang baru," ujar Sita seraya memeriksa satu persatu buku yang ada di rak. Semuanya adalah buku cerita untuk anak dan benar-benar aman dibaca oleh Angga.
"Angga suka buku-bukunya?" Tanya Robert yang juga sudah menyusul ke playground, lalu memangku Angga yang masih sibuk dengan satu buku di tangannya.
"Suka, Papa!"
"Tapi kapan Angga bisa naik sepeda lagi?" Tanya Angga sedikit merengut.
"Nanti, secepatnya! Angga sabar dulu dan sementara ini kita naik mobil dulu," Robert mengangkat tubuh Angga lalu menaikkannya ke mobil mainan besar yang ada di playground.
"Robert, hati-hati!" Pesan Sita yang terus mengawasi tangan Angga agar tak tertindih atau terjepit. Putra Sita itu sudah duduk di atas mobil dan Robert sekarang mendorongnya kesana kemari seolah Angga masih seorang balita.
"Angga bisa nyetir sendiri, Pa!" Protes Angga yang langsung membuat Robert tergelak. Bisa Sita lihat Robert yang tawanya begitu lepas, seolah menikmati perannya sebagai seorang papa bersama Angga.
"Papa mau naik juga," goda Robert pada Angga.
"No! Tidak muat!" Jawab Angga cepat yang lagi-lagi langsung membuat Robert tertawa lepas.
Sita hanya duduk sambil tersenyum melihat keakraban Robert dan Angga. Tanpa ikatan darah pun, kedekatan Robert dan Angga sudah melampaui kedekatan anak dan papa kandungnya.
.
.
.
Kok ceritanya gabut, ya?
Mana masih kurang 6k kata lagi sebelum bisa tamat 🤔🤔🤔
Kira-kira dikasih konflik apa lagi, ya? Atau kita beralih ke keluarga Halley saja buat selingan 🤣
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.