ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
TENDANGAN MAUT


__ADS_3

Ingat, kita sebagai kaum hawa harus pintar bela diri juga. Untuk menjaga diri dari kaum adam yang sukanya gak mau bertanggungjawab. Misalnya, ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya.


***


Sepertinya hari ini adalah hari tersial yang pernah Tyara alami sepanjang jalan kenangan. Bagaimana gak sial, pagi ini Tyara terlambat bangun dan gak sempat untuk sarapan. Terlebih lagi dia ketinggalan angkot yang biasa ngetem dulu di pertigaan depan komplek rumahnya. Alhasil, Tyara harus menunggu angkot selanjutnya.


Dan sekarang, dia terdampar di toilet cewek yang kotornya setipe sama wajah orang yang udah ninggalin pas lagi sayang-sayangnya.


Kotor banget dong temboknya, ada bekas lipstik, pensil alis lah bahkan ada kata-kata hujatan yang bahasanya luar biasa baku. Sekarang, Tyara sedang membersihkan tempat pembuangan sampah makanan manusia yang baunya kaya, kembang tujuh rupa versi layu.


Tyara membersihkannya dengan segenap cinta dan sesal yang menusuk relung hati yang paling dalam. Emosi dong, gila aja cewek secantik dia disuruh bersihin beginian.


Dan yang lebih parahnya lagi, dia di pantau sama si ketua osis yang gayanya sok cool banget, sial. Dia bersender di tembok sambil tangannya dimasukkan ke saku celananya.


'Di sekolah aja dia cool coba kalo diluar sekolah, udah kaya setan kesurupan. Lo pikir dah gimana caranya setan bisa kesurupan.' Gumam Tyara dalam hati.


"Yang bersih dong, tan, itu masih ada yang kotor tuh."


Mendengar perintah itu, Tyara hanya melirik dengan matanya yang tajamnya setajam silet.


"Gak niat banget sih." Ucapnya lagi.


'Siapa yang niat coba kalo disuruh bersihin beginian.' Rutuk Tyara dalam hati.


Akhirnya, selesai juga dia membersihkan tempat jahanam ini. Dengan kesal Tyara menyimpan kembali barang-barang yang tadi dipakainya.


Dia mengambil tas yang dipegang sama ketua osis sialan itu dengan paksa. Setelahnya dia pergi ke kelas dengan menghentak-hentakkan kaki.


Samar-samar dia mendenger sang ketua osis itu tertawa di belakang sana, 'dasar setan' Gumamnya pelan.


\*\*\*


Tyara sampai di depan pintu kelas XI-3, yaps, kelasnya. Pintunya sudah tertutup rapat, Tyara menarik nafasnya terlebih dahulu dan mengeluarkannya perlahan, bersiap untuk menerima wejangan.


Tyara mengetuk pintunya dan tidak lama kemudian terbukalah pintunya. Tyara menundukkan kepala,


"maaf pak saya terlambat tadi saya kesiangan terus ketinggalan angkot terus juga saya habis melaksanakan hukuman, maaf sekali lagi pak." Ucapnya seraya menundukkan kepalanya semakin dalam.


Tapi, kok, kaya ada yang aneh ya tidak ada jawaban gitu loh.


Tyara pun memberanikan diri untuk menengadahkan kepalanya dan menatap orang yang sekarang berdiri didepannya.


Ketika dia mengangkat kepala, ***** bukan guru. Pikirnya dengan wajah syok dan menahan malu.


Pasalnya, yang sekarang berdiri di hadapannya ini adalah, "Yeni! Kurang ajar, gue kira pak Tomo."


Yeni hanya tertawa melihat reaksi kaget Tyara, nama lengkap dia Ayeni Wulandari, sahabatnya sejak SMP.


Tyara pun memilih untuk masuk saja ke dalam kelas dengan wajah kesal.


"Lo baru dateng?" tanya seseorang setelah dia duduk di bangkunya.


Tyara menengok, "Iya, lebih parahnya gue disuruh bersihin toilet sama si ketua osis sialan itu." jawabnya geram.


Arva menaikkan alisnya sebelah, "Azka?" tanyanya.


Tyara mengangguk dan matanya mencari-cari dimana keberadaan Yeni. 'Nih anak kemana coba abis ngerjain gue gak balik-balik.' Pikirnya.


"Lo nyari Yeni?" Tanya Arva yang seakan mengerti raut wajahnya.


Arva pun menunjuk kearah pintu kelas menggunakan dagunya. Disana, Tyara melihat Yeni sedang mengobrol dengan seorang cowok. Dia tidak tahu pasti siapa cowok itu karena mata Tyara ini sedikit minus, dia hanya melihat cowok itu memberikan plastik hitam ke Yeni.


Tyara melihat Yeni mengangguk dan mulai berjalan masuk ke kelas, lebih tepatnya kearah meja mereka berdua.


Ketika Yeni sudah duduk di bangku, dia memberikan plastik itu ke Tyara serta senyuman yang tidak bisa diartikan.


"Dari siapa?" tanya Tyara penasaran seraya mengintip isi plastik itu. Ternyata isinya sebotol air mineral, susu cokelat serta roti isi cokelat.

__ADS_1


"Azka."


Tyara mengangkat kedua alisnya, "Buat apaan?" tanyanya dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.


"Buat dimakan sama diminum lah bloon," jawab Yeni sambil menoyor kening Tyara, "Dia kasian sama lo, capek abis bersihin toilet."


Tyara pun hanya memutar kedua bola matanya malas, "Pak Tomo mana? Tumben belom dateng biasanya gercep banget," tanyanya berusaha untuk mengalihkan percakapan.


"Rapat, kita freeclass sampe jam istirahat nanti."


"Serius?" tanya Arva.


"Lo gak dengerin pemberitahuan dari guru piket tadi?"


Arva menggeleng, "Tadi gue lagi maen Mobile legend."


Tyara mengambil plastik kresek itu dan mengeluarkan isinya, berniat untuk memakan rotinya.


Tiba-tiba saja Yeni bertanya, "Eh, gue masih bingung deh alasan kalian putus tuh apa sih?"


Seketika itu juga Tyara langsung tersedak mendengar pertanyaannya, dia sudah bertanya hal itu berulang kali, astralalaganala.


"Kepo lo," jawabnya ketus.


Yeni mengerucutkan bibirnya, tapi sesaat kemudian dia bertanya lagi, "Dia selingkuh ya? Makanya lo mutusin dia?"


Tyara melotot, "Enak aja gue yang mutusin, jelas-jelas dia yang udah mutusin gue."


"Ra, percayalah, diputuskan dan memutuskan itu sama sakitnya."


Tyara menaikkan kedua alisnya bingung, sebenarnya dia mengerti dengan ucapan Yeni tapi dia memilih bungkam.


"jadi, kalaupun dia yang mutusin lo otomatis dia juga ngerasain apa yang lo rasain." lanjut Yeni.


"Tapi, kok, dia seakan-akan baik-baik aja tanpa gue?" tanyanya kemudian.


Yeni tersenyum tipis, "Dia hanya pandai menyembunyikan perasaannya."


\*\*\*


Tyara, Yeni dan Arva sedang berjalan menuju kantin karena jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu.


"Lo pada mau makan apa?biar gue yang pesenin." tanya Tyara.


"Gue bakso sama es teh aja." jawab Yeni, kemudian Tyara beralih menatap Arva, "sama deh," kata Arva yang sudah mulai memiringkan ponselnya, always mobile legend.


Tyara berjalan ketempat penjual bakso yang kebetulan bersebelahan dengan penjual minuman. Dia pun menyebutkan pesanannya itu kepada abang tukang bakso.


Pesanannya pun akhirnya selesai disiapkan, bakso dan es teh, ketika dia hendak berbalik tiba-tiba saja nampan yang dipegangnya  juga ikut di pegang oleh seseorang.


Dia menengadahkan kepalanya berusaha untuk melihat siapa orang yang dengan lancangnya memegang nampannya.


Dan ternyata,


"Biar gue yang bawa, berat." Ucap orang itu seraya mengambil alih nampannya dan pergi meninggalkan Tyara begitu saja.


Dengan kesal Tyara pun mengikutinya, ketika sampai di meja tempat Yeni dan Arva duduk ternyata orang yang tadi merebut nampannya itu sudah pergi entah kemana.


Yeni memandang ke arahnya meminta penjelasan, "Kenapa dia yang bawa?"


Tyara menghendikkan bahu dan segera duduk lalu memakan bakso yang tadi dipesan.


Arva tiba-tiba saja berseru, "Cieee dibawain sama mantan, ekhem ekhem udah sih ajak balikan aja masih sama-sama sayang ini," ledeknya.


Tyara menatapnya tajam, "Lo pikir gue cewek apaan yang ngajak balikan duluan."


"Berarti, kalo dia yang ngajakin lo balikan, lo mau?" tanya Yeni sembari memasukkan sesendok bakso ke mulutnya.

__ADS_1


Tyara menimbang-nimbang seraya mengetuk-ngetukkan jari ke dagunya, "Gak tau ah."


Yeni dan Arva pun tertawa mendengar jawabannya.


Tyara mencari-cari sosok yang tadi membawakan makanannya itu. Dan, ketemu! Dia duduk di pojokan kantin bersama dengan Evano Wijaya, teman sekelasnya. Tapi, sepersekian detik selanjutnya matanya juga menangkap sosok lain yang ikut duduk disana. Lebih tepatnya disamping cowok itu, deket banget sist kaya perangko sama kop surat. Nempel betul.


Dia hanya menatap mereka berdua dengan tajam, tapi tiba-tiba saja cowok itu menoleh, iya! Menoleh ke arahnya. Mati! Tyara ketauan. Dengan cepat dia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.


Berharap cowok itu sudah tidak melihatnya, Tyara memberanikan diri untuk melihatnya lagi. Tapi, 'shit gue ketauan lagi' . Rutuknya dalam hati.


Dengan cepat Tyara langsung beralih ke mangkok bakso yang tadi dia cuekkin, dia langsung memakannya dan bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa.


Merasa diperhatikan, Tyara menengadahkan kepalanya dan menatap Yeni dengan alis yang dinaikkan sebelah.


"Diliatin Azka noh," ucap Yeni sembari menunjuk menggunakan garpu yang sedang di pegangnya.


"Ciee.. diliatin mantan," sambar Arva.


Tyara berusaha untuk bersikap biasa saja padahal di dalam hatinya sudah panik tujuh keliling.


Yaps, benar, dia mantannya Tyara Pramestika. Azka Zahfriel, kelas XI-1 yang sekaligus menyandang sebagai ketua Osis SMA Nursa. Kenapa dulu dia bisa berpacaran dengan Azka itu adalah ya, karena dia ganteng. Siapa sih yang gak nolak kalau di deketin dan di tembak oleh cogan, apalagi cogannya ketua Osis.


Tyara dan Azka putus itu kira-kira tiga bulan yang lalu, lumayan lama gak sih? Anggep aja lama. Tapi, sebulan yang lalu Azka mencoba untuk mendekatinya lagi. Tapi, Tyara yakin Azka pasti punya maksud terselubung.


Dan harus kalian tahu, alasan Azka memutuskan hubungannya masih belum di ketahui olehnya.


\*\*\*


Malam ini Tyara sedang sendiri di rumah, keluarganya sedang pergi ke bandung mengunjungi rumah neneknya. Asisten rumah tangga yang biasa pun sedang pulang kampung karena anaknya jatuh sakit.


Ting nong..


Suara bel pintu rumahnya berbunyi, dengan malas Tyara bangkit dari sofa dan segera membuka pintu.


Betapa terkejutnya Tyara ketika dia membuka pintunya, ada manusia setan disini yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Ngapain lo."


Azka nyengir, "mau bertamu dong."


"Gue gak nerima tamu yang modelnya kaya lo," ucap Tyara sembari bersiap untuk menutup pintu kembali dengan cepat Azka menahan pintu itu.


"Kasih gue kesempatan, Ra"


"Apalagi..." ucap Tyara sembari memutar kedua bola matanya. "Mending lo pulang deh," lanjutnya mulai jengah.


Azka menggeleng, "Gak, gue gak mau pulang."


"Gila."


Dia bingung bagaimana caranya mengusir Azka dari istananya. Tiba-tiba aja ada lampu diatas kepalanya dan dia mendapatkan sebuah ide.


Dengan senyum licik Tyara menatap kearah Azka kembali, "madep belakang lo."


"Ngapain?" tanya Azka bingung.


"Buruan."


Walaupun dia masih bingung dengan ucapan Tyara tapi dia tetap menurut, Tyara menyiapkan ancang-ancang.


Satu...


Dua...


Tiga..


Wuuusss...

__ADS_1


Tyara menendangnya dengan sekuat tenaga dan Azka pun terlempar lumayan jauh. Tyara tertawa jahat, rasain tuh tendangan maut gue. Gumamnya dalam hati.


***


__ADS_2