
Tyara menatap langit malam di balkon kamarnya, angin malam menerpa rambutnya. Ia semakin mengeratkan selimut yang digunakan untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya udara malam.
Dia menantikan kehadiran seseorang yang biasanya selalu hadir dan berdiri di bawah balkon kamarnya sambil tersenyum memandangnya.
Sudah dua jam Tyara menunggu tapi orang itu tak kunjung datang. Ponsel yang di genggamnya bergetar.
+62819xxxxxxxx :
Masuk,Ra. Angin mlm g bgs bwt kshtn lo.
Nomor yang sama seperti yang dulu mengiriminya bunga mawar, Tyara celingukan mencari keberadaan pengirim pesan itu. Pasti dia ada di sekitar sini, buktinya dia tahu bahwa Tyara sedang berada di balkon.
+62819xxxxxxxx :
G ush dicari, lo g akn bs nemuin gue.
Lo msk trs tdur, gue g mau liat lo sakit.
Tyara membaca isi pesan yang baru saja masuk itu, dia mendengus dan berjalan masuk ke kamarnya. Tyara merasa ini tidak adil, ketika orang itu bisa melihatnya tapi dia tidak bisa melihat orang itu dan anehnya kenapa ia mau saja menuruti perintah orang itu.
Berguling ke kiri dan kanan kadang tengkurap kadang terlentang. Kesal, ia bangun dan duduk di kasurnya menarik boneka doraemon yang selalu menemaninya tidur. Ia memeluk erat boneka itu, setetes air mata jatuh diatas kepala bonekanya.
Dia rindu seseorang yang menyebabkannya sulit untuk tidur malam ini, hatinya merasa gelisah dan tak karuan pikirannya melayang entah kemana.
Tyara kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian ia sudah terlelap ke alam mimpi.
Di lain tempat, Vano yang sekarang sedang duduk di samping ranjang memandang sendu seseorang yang terbaring disana, dia terus berdoa agar seseorang yang matanya terpejam dengan begitu rapat itu bisa segera bangun dari tidurnya.
Vano menguap ketika kantuk sudah mulai datang menyerangnya, beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya guna menghilangkan rasa kantuknya.
Vano kembali duduk di samping ranjang itu dengan wajah yang sudah lumayan segar, kantuk yang tadi menyerangnya pun perlahan sudah menghilang.
Vano tersentak kaget melihat sebulir air mata keluar dari salah satu mata yang terpejam itu, hanya setetes tapi mampu membuatnya bangkit dan mengambil ponselnya untuk menelfon seseorang.
"Lil!, lo harus kesini, gue ngeliat dia netesin air mata, dia nangis lil! Nangis! Gue gak tau kenapa dia nangis tapi Lo harus cepet kesini."
"Gue otw"
Vano menyimpan kembali ponselnya dan kembali duduk di samping ranjang, jejak air mata itu masih ada dan Vano pun tidak ada niatan untuk menghapusnya.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok laki-laki dengan wajah khawatir sekaligus bahagia.
"Dia udah ada perkembangan" Vano tersenyum setelah mengucapkan itu, "Entah apa yang dia tangisin gue berharap semoga dia lekas bangun."
__ADS_1
"Tapi gue juga gak mau berharap terlalu banyak, Van. Gue takut harapan itu yang malah bikin gue kecewa nantinya."
Vano mengangguk paham, disatu sisi dia bahagia karena sudah ada perkembangan tapi di sisi lain dia juga takut, takut jika ekspektasinya tidak sesuai.
"Tenang aja, mulai sekarang gue akan jagain dia dari deket." Ucapnya kepada seseorang yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
***
"Cepet naik"
"Naik kemana?"
"Ke pelaminan, mau? " Azka menaikkan alisnya sebelah.
"Orang gila dasar."
"Kan gue gila juga karna Lo" jawab Azka sembari tersenyum jahil.
"Dih, emang gue ngapain lo sampe lo jadi gila?"
Azka menaikkan alisnya, "ngapain ya? Gue juga bingung pokoknya gue gila karna lo deh," jawabnya sembari memberikan cengiran khasnya dan mata genitnya.
Tyara memandang Azka dengan wajah yang tidak bisa diartikan antara jijik dan.... Ah sudahlah.
"Kenapa gue harus naik ke motor lo?"
"Ya kan gue mau nganterin elo, bodoh."
"Hmm... Bentar gue mikir dulu." Jawab Tyara sembari memegang dagunya layaknya orang yang sedang berpikir.
"Ah kelamaan, batal udah batal."
Azka memakai helmnya dan mulai menyalakan motornya bersiap untuk pergi.
"Ih iya iya gue ikut." Buru-buru Tyara naik ke atas motor Azka.
Dibalik helmnya Azka tersenyum tipis dan segera menjalankan motornya meninggalkan parkiran sekolah yang sudah mulai sepi tak berpenghuni.
Di sepanjang perjalanan pulang baik Azka maupun Tyara sama-sama terdiam. Tyara dengan pikirannya sendiri dan Azka juga sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ini gue lagi boncengin manusia kan ya bukan batu," celetuk Azka tiba-tiba.
Tyara mengernyit mencoba memahami ucapannya, sedangkan Azka melirik dari kaca spion.
__ADS_1
"Ternyata bener gue boncengin batu bukan manusia."
Tyara yang baru sadar dengan ucapan Azka pun langsung memukul bahunya, "enak aja lo mau gue kutuk lo jadi batu?"
Azka terkekeh pelan, "ampun ibu suri." Celetuknya asal.
"Hah? Kok ibu suri sih?"
Azka hanya menghendikkan bahunya acuh sembari mempercepat laju motornya.
Motor berhenti tepat di depan gerbang rumah Tyara, ia turun dari motor Azka dan membenarkan roknya yang sedikit berantakan.
"Makasih ya."
Azka menengok dan mengangguk, tanpa berlama-lama lagi dia pamit dan langsung melesat pergi meninggalkan Tyara yang masih diam membeku.
"Ih kok gitu doang?" Gerutu Tyara, dia pun masuk ke dalam rumahnya dan disambut oleh kak Rei.
"Widih, dianterin siapa tuh."
Tyara melirik kakaknya sebentar, "Azka" jawabnya sembari terus berjalan ke arah kamarnya yang ada di lantai dua.
"Anjay, balikan nih ceritanya asiiikk."
Tyara berhenti di anak tangga ketiga dia menengok ke belakang melihat kakak laki-laki nya yang sekarang sedang senyum-senyum nakal.
"Siapa yang balikan?"
"Elo" tunjuk Rei pada Tyara dengan wajah polosnya
"Dih, sok tau banget." Jawab Tyara dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Emang iya balikan, kan. Asik traktirannya dong pj, pajak balikan."
Tyara kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kakaknya, "Kok Lo jadi lambe gini sih, kak?" Ucapnya sembari bersedekap.
Rei menaikkan alisnya sebelah, "lambe? Maksudnya?"
Tyara memutar kedua bola matanya dan kembali lagi melanjutkan langkahnya.
Sedangkan Rei hanya menggaruk kepalanya dengan bingung, dia menghendikkan bahunya dan berjalan kearah dapur.
***
__ADS_1
Maap pendek dan lama up nya🥺