
Cahaya sinar mentari pagi sudah mulai menyinari, terlihat seonggok manusia yang masih tertidur dengan nyaman didalam selimut kesayangannya.
Dia menutupi wajahnya dengan selimut ketika Rei membuka gorden jendela kamarnya. Rei yang melihatnya pun menggelengkan kepalanya, "libur gini lo gak mau keluar apa?" tanyanya sembari berkacak pinggang.
"Libur itu waktunya buat hibernasi, gue gak mau buang-buang tenaga gue buat hal yang gak berguna di hari libur."
"Terserah lo kalo mau hibernasi seharian mah, ya tapi, di lantai bawah udah ada Azka yang daritadi nungguin lo."
Mendengar nama Azka disebut seketika saja mata yang tadinya terpejam rapat langsung terbuka dengan sempurna, "Azka?" tanyanya setelah dia sudah duduk dengan sempurna di kasurnya.
Rei hanya mengangguk dan akan bergegas pergi, tapi tiba-tiba saja belum sempat ia melangkahkan kaki lengannya sudah ditahan oleh Tyara.
"Apalagi?"
"Azka di bawah?"
Rei hanya mengangguk sebagai jawaban, dia pun langsung melepaskan tangan Tyara dan bergegas pergi dari kamar Tyara.
Tyara yang masih diam di kasurnya dalam beberapa saat langsung tersentak kaget ketika Rei kembali masuk ke dalam kamarnya, "buruan turun dia udah nungguin lo daritadi."
"ish.. iya iya, ini gue mau mandi dulu."
Tanpa menjawab perkataan adiknya Rei kembali pergi meninggalkan Tyara yang sedang terburu-buru untuk mandi.
Beberapa saat setelah mandi ia segera turun ke lantai bawah untuk menemui tamu tak diundang itu. Sesampainya di bawah terlihat Azka yang sedang tersenyum melihat kearahnya dengan gembira.
"Kenapa Lo senyum-senyum begitu," tanyanya sinis.
"Senyum itu kan ibadah mbak bro."
"Mencurigakan," ia memandang Azka dengan tatapan mengintimidasi, "ada apaan ke rumah gue?" lanjutnya.
"Gak ada apa-apa sih, cuma mau main doang." jawab Azka sembari mulai merebahkan tubuhnya di sofa.
Tyara yang melihat itu pun sudah tidak kaget lagi dengan tingkahnya, "gak penting banget sih Lo."
"Lah ini penting, gue ke rumah lo tuh penting tau."
"Yaudah, pentingnya tuh apa?"
Azka hanya menyengir, Tyara yang melihatnya pun hanya mengangkat alisnya sebelah.
"Nih," ucap Azka sembari menyodorkan 2 tiket nonton.
Tyara semakin tidak mengerti maksud dan tujuan Azka apa, "maksudnya?"
"Lo pura-pura bodoh apa emang bodoh beneran sih?"
"Dih."
"Ya ini, ceritanya gue ngajak lo nonton, gitu lho."
"Ceritanya? cuma ceritanya nih? bukan faktanya?"
Azka terlihat bingung dengan ucapan Tyara, "hah? gimana gimana? coba jelasin ke gue."
"Tau ah, males gue." ucap Tyara dan bergegas ke dapur mengambil minum untuknya dan Azka.
Azka mengerjapkan matanya bingung, "Salahnya gue dimana dah." tanyanya entah kepada siapa.
Tyara kembali lagi dengan membawa minuman serta beberapa cemilan untuk dimakan, "adanya cuma ini kalo mau makan kalo gak yaudah."
"Sebenernya lo niat nawarin apa gak sih."
Tyara hanya menghendikkan bahunya acuh dan mulai menyantap cemilan yang dibawanya, Azka yang melihatnya hanya melongo.
"Jadi, gimana? Mau gak ntar malem nonton sama gue? Itu film Doraemon, Stand By Me 2."
__ADS_1
Tyara hanya mengangguk.
"Apa sih? Jawab aelah gak jelas banget."
Tyara semakin menganggukkan kepalanya dengan kencang tapi tetap tak mengerti.
"Hah?"
Plakk!!
"Aduh, apa sih?! kenapa mukul-mukul coba."
"Ya elo bego banget," ucap Tyara penuh emosi.
"Jawab apaan anjir?!" sahut Azka tak kalah emosi.
"Serah lah, gak jadi gue."
Azka langsung membelalakkan matanya, "Oh!! iyaa, oke oke nanti malem gue jemput elo ya."
"Gak!"
"Dih, gitu ye si kampret."
"Batal udeh batal."
"Dih! Kok gitu sih?! Gak boleh, Ra!"
"Apa sih? Heboh banget deh," Tyara melempar bantal sofa dan tepat mengenai wajah tampan Azka.
Azka membelalakkan matanya kaget atas perlakuan itu, "Anjrit yaa, sumpah ayo nonton."
Tyara mengira Azka akan marah atas perlakuannya tapi ternyata dia tetap memaksanya mengajaknya nonton bioskop.
"Rewel deh, yaudah ntar malem jemput gue," ia mengambil camilannya dan kembali berkata, "kalo lama beneran gue gak jadi pergi sama lo."
Setelah mengatakan itu dia bergegas bangun dari duduknya dan langsung pergi dari rumah Tyara tanpa pamit terlebih dahulu, Tyara yang melihat itu pun hanya bisa melongo dengan mulut yang penuh makanan.
****
Malam harinya ketika Tyara sedang bersenandung di ruang Tv tiba-tiba saja terdengar suara seseorang berteriak dari pintu depan rumahnya.
"PERMISI PAKEEET!"
Tyara hanya diam mencerna suara itu, "paket? Emang gue ada mesen paket ya?"
"MBAK! WOI PAKET NIH PAKETT! GUE UDAH NUNGGU LAMA NIH ORANG KAGA NONGOL-NONGOL ANJIR."
Tyara mengernyit bingung mendengar ucapan dari kurir itu, "lah kok ngegas sih," ucapnya kesal.
Ia segera berdiri dari sofa yang sedang didudukinya ini, "Jadi bangun kan gue kampret banget nih kurir."
"APA, SIH MAS! SAYA GAK ADA MESEN PAKET ATAU APAPUN YA, JANGAN NGARANG DEH." semprotnya tanpa melihat siapa dalang dibalik semua ini.
Setelah sadar, Tyara membelalakkan matanya kaget dan langsung menempeleng pelakunya.
"Apa-apaan sih Lo, malem-malem teriak-teriak paket-paket bae padahal gue gak ada mesen paket kenapa juga segala gue bukain pintu," omel Tyara.
Sedangkan yang sedang dimarahi hanya cengengesan dengan wajah tanpa dosa.
"Gak usah cengar-cengir Lo, jelek."
"Yaelah, seenggaknya suruh masuk dulu kek gua ini pegel dari tadi berdiri sini."
Tyara mengangkat alisnya satu, "apa urusannya sama gue?"
"Anjir, Ra, gue kan tamu lo harusnya Lo merajakan seorang tamu."
__ADS_1
Tyara bersedekap, "gue pernah merajakan lo sampe akhirnya Lo ngeluarin sifat asli lo, iya raja Fir'aun."
Azka melotot kaget, "Astagfirullah lancar banget tuh mulut kalo udah ngatain gue."
Setelah mengatakan itu Azka langsung menerobos masuk dan duduk di sofa ruang Tv sedangkan Tyara hanya melihatnya dalam diam.
Azka menolah kepada Tyara yang masih saja berdiri didepan pintu, "ngapain masih disitu? Sini duduk, anggep aja rumah sendiri."
Tyara hanya memutar bola matanya malas kemudian menutup pintu dan duduk tepat didepan Azka.
Azka yang melihat Tyara duduk menatapnya bingung, "lho? Kok malah duduk?"
Tidak hanya Azka Tyara pun mengernyitkan alisnya heran, "Lah? emangnya kenapa?"
"Kita kan mau kondangan Tyaraaaa."
"Kondangan apa sih, njing?"
"Eh, kasar mulutnya kasar. Gak boleh ngomong kasar."
"Ya abisnya gak jelas banget, kondangan kemana lagi."
"Ke Nobita sama Sizuka, Tyara sayang."
"Maksudnya apa sih?"
Azka menjambak rambutnya frustasi, "nonton bioskop aelah."
Tyara hanya menganggukkan kepalanya mengerti sembari berkata Oh.
"Oh? Cuma oh tanggapan lo?"
"Terus?"
"Anjrit ya, sumpah dah kenapa dulu gue bisa naksir berat sama cewek macem lo sih, Ra? Gila gak habis pikir gue."
Tyara tertawa mendengar gerutuannya, "Ya mana gue tau lah pea kali ya."
"Yaudah, ayo."
"Ayo apa?"
Azka melempar dua buah tiket nonton bioskop kepada Tyara, Tyara yang melihat itu pun langsung membelalakkan matanya kaget.
"Ohh, berani lo ya begini ke gua? Oke, batal."
"Eh? Jangan anjrit, yaudah ayo kita berangkat sekarang," Azka langsung berdiri dan juga menarik tangan Tyara.
Tyara menghempaskan tangan Azka dengan santai, "ya entar dululah njir, gue ganti baju dulu Lo gak liat gue pake baju kumuh kaya begini, hah?"
Azka memandang Tyara dari ujung rambut sampai ujung kaki, ia hanya mengenakan kaos oblong kebesaran dan celana hotpants pendek yang menampilkan kaki jenjangnya yang begitu mulus dan putih, ia meneguk salivanya susah payah.
"Heh si kampret malah mesum nih gue yakin."
"Astagfirullah, Ya Allah maafin Azka," ucapnya sembari menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Tyara menggelengkan kepala dan langsung pergi ke lantai atas berniat untuk berganti pakaian yang jauh lebih rapi.
Setelah siap ia pun turun dan pamit terlebih dahulu kepada orang rumah dan langsung menarik lengan Azka untuk segera berangkat ke bioskop.
Sesampainya di bioskop lagi-lagi Azka berbuat ulah tentu saja hal itu membuat Tyara langsung bete habis-habisan.
"Elo tuh kenapa nyebelin banget sih? Kenapa gak pas dirumah gue tadi coba? Tau ah, kesel banget gue sama lo."
Mendengar Tyara yang terus saja marah membuatnya tidak tahan dan langsung pergi entah kemana.
\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Like dan komen jangan lupaaaa🔥