
*Dia tidak direbut, dia meninggalkanmu*
\*\*\*\*
Tyara berjalan di koridor sekolah dengan tergesa-gesa, dia membawa beberapa buku paket yang tadi diperintahkan untuk mengambil buku paket itu oleh gurunya.
Sebenarnya, tadi dia sudah meminta Yeni untuk menemaninya tapi dilarang oleh gurunya, ambil sendiri itu hukuman untuk kamu karena telat masuk jam pelajaran saya. Seperti itulah perkataan yang diucapkan gurunya tadi.
Perpustakaan ada di lantai bawah sedangkan kelasnya ada di lantai dua, kalian pasti sudah tahu bagaimana rasanya naik turun tangga dengan membawa buku-buku yang lumayan tebal.
Ketika dia akan berbelok untuk memasuki wilayah kelas sebelas, matanya menangkap sosok cowok yang sejak kemarin memenuhi pikirannya. Mereka berlawanan arah, dan sepertinya cowok itu akan turun ke lantai satu.
Ketika Tyara menatapnya cowok itu pun menengok, Tyara tersenyum tipis. Alih-alih mendapatkan senyuman balik tapi yang dia dapatkan hanya alis yang menaik sebelah yang langsung melengos dan mempercepat langkahnya.
Mata Tyara melotot sempurna dia berbalik dan menghadap belakang, "Azka!" teriak Tyara.
Azka menghentikan langkahnya tapi beberapa detik selanjutnya dia kembali melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Tyara yang menganga melihatnya.
Tyara yang tersadar karena mulutnya yang terbuka langsung menutup mulutnya kembali, takut lalat masuk. Dia menghendikkan bahunya acuh dan melenggang pergi ke kelasnya.
"Tadi gue ketemu Azka, tapi dia diemin gue."
"Kok bisa?" tanya Yeni setengah berbisik.
Tyara menghendikkan bahunya, "gak tau" dia berpikir apakah dia mempunyai salah dengan cowok itu, tapi seingat dia sepertinya tidak.
Sudahlah, Tyara memang cewek yang tidak peka. Padahal jelas-jelas perkataan dia sudah menyakiti hati Azka, yaa, walaupun tidak sepenuhnya sakit.
"Lo ada salah kali"
Tyara berpikir kembali mencoba mengingat-ingat adegan yang sempat terjadi di depan rumahnya kemarin.
"Gue mau tanya sama lo"
Azka yang hendak memasuki mobilnya menghentikan pergerakannya, "tanya apalagi?"
Tyara menghembuskan nafasnya pelan, "kenapa dulu lo mutusin gue? Apa alasannya?"
Azka menggeleng, "gak ada"
"Gak ada? kenapa sih, dari dulu sampe sekarang setiap gue tanya alasan lo mutusin gue apa lo gak pernah ngasih gue jawaban."
"Gak ada yang perlu dibicarain lagi, Ra. Dan sekali lagi gue tanya sama lo kenapa lo tiba-tiba minta gue buat jauhin lo?"
Tyara terdiam,
Azka menaikkan alisnya sebelah, "gak bisa jawab? yaudah, sekarang impas." Ucapnya dan masuk ke dalam mobil, "tenang aja gue gak akan ganggu lo lagi kok di sekolah." lanjutnya sembari tersenyum tipis dan bergegas pergi.
Tiba-tiba saja sebuah penghapus melayang kearah mereka berdua, Tyara yang tersadar dari lamunannya segera menghindar kearah samping.
__ADS_1
"Aduh" ringis seseorang dari arah belakang, "bu, kan yang mengobrol mereka berdua kenapa jadi saya yang dilempar penghapus," lanjutnya.
Bu Dini, selaku guru yang mengajar hari ini menatap Arva dengan tatapan yang menyiratkan penyesalan, "siapa yang suruh kamu duduk disitu coba," omelnya.
"Lah, kan saya memang duduk disini"
"Apa iya?" tanya bu Dini bingung.
Arva mendengkus sembari menyerahkan penghapus itu kembali kepada sang empunya.
"Emang dari dulu juga saya duduk disitu, bu."
"Gak usah bohong, kamu pindah-pindah duduk kan?" tanya bu Dini tak mau kalah.
"Apa deh, bu? Pindah duduk dari mana? Ibu tuh kalo salah malah ngelak ya kaya bajaj."
"Guru itu selalu benar, jika gurunya salah maka..."
"Murid yang harus meminta maaf" potong Arva sembari mencium punggung tangan bu Dini, "saya udah minta maaf bu, saya kembali ke tempat asal aja lagi males berdebat nih, bu," lanjutnya.
Bu Dini tersenyum, dia menang. Lalu, matanya beralih menatap kearah Tyara dan Yeni.
"Tyara! Yeni! Kenapa kalian mengobrol?!"
Tyara dan Yeni yang sedang bersembunyi dibalik buku pun menurunkan bukunya, mereka menyengir, "tidak, bu. Kami tidak mengobrol." Ucap Tyara disetujui oleh anggukan kepala dari Yeni.
"Lalu, kalian sedang apa?"
"Berdiskusi"
"Diskusi apa?"
Belum sempat bu Dini berkata tapi bel tanda istirahat telah berbunyi.
***
Tyara dan Arva sedang menikmati makanannya di kantin sedangkan Yeni berkata bahwa dia sedang malas makan di kantin, alhasil hanya mereka berdualah disini.
Arva melihat Tyara yang memakan makanannya tanpa minat, seperti ada yang sedang dipikirkan olehnya.
"Ada masalah, Ra?"
Tyara kaget, "gak ada."
Arva menaikkan alisnya sebelah, sepersekian detik selanjutnya matanya menangkap seseorang yang sedang berjalan masuk kearah kantin. Dan sepertinya dia akan melewati meja yang di tempati oleh Arva dan Tyara.
Ketika orang itu hampir mendekati mejanya, Arva menyenggol tangan Tyara yang bebas. Tyara menengok, menggunakan matanya Arva memberi kode kepada Tyara.
Tyara yang mengerti pun mengikutinya, dia menengok ke belakang dan matanya langsung bertabrakan dengan mata hitam dan tajam yang sudah mendiamkannya pagi ini.
Sekian detik lamanya, mata hitam itu langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Tyara yang melihatnya pun juga segera mengalihkan pandangannya kembali.
Arva menatap bingung dua sejoli ini, pasalnya beberapa hari yang lalu mereka berdua sangat dekat tapi hari ini seperti ada dinding yang sengaja dibangun diantara keduanya.
Sebenarnya Arva ingin bertanya perihal masalah apa yang sedang di alami oleh dua sejoli itu. Tapi, dia mengurungkan niatnya ketika melihat raut wajah Tyara yang sulit untuk di telaah, abstrak.
__ADS_1
"Gue selesai," Tyara membanting sendok yang tadi dipegangnya dan pergi keluar dari kantin yang tiba-tiba saja terasa sangat sesak untuknya.
Arva yang mengerti suasana hatinya hanya bisa menghembuskan nafas, jika sudah seperti ini dia tidak berani untuk berbicara kepada Tyara. Karena Tyara sedang dalam mode badmood, jangan diganggu jika tidak ingin mendengar amukan macan. Diamkan saja nanti juga akan balik seperti sediakala.
Tyara berjalan di koridor dengan kaki yang di hentak-hentakkan, entah kenapa hatinya tiba-tiba saja menjadi gelisah.
Kenapa gue badmood ya, ucapnya dalam hati.
Ketika dia akan berbelok memasuki kelasnya tiba-tiba saja jalannya dihadang oleh seseorang.
"Apa?!" tanyanya galak.
"Azka mana?"
"Mana gue tau"
"Lo gak bareng dia?"
"Gue gak tau, Vano! Sana, ah. Hussh hush.." usir Tyara sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan masuk ke kelas.
Vano menggaruk kepalanya yang tak gatal, "emangnya gue ayam diusir begitu," gerutunya dengan bibir yang cemberut dan mulai melangkah pergi ke kantin.
Di perjalanan menuju kantin dia bertemu dengan Arva, "Va, lo ada temu sama Azka gak?"
"Di kantin tuh, sama Aliya"
"Oh, thanks bro," ucap Vano sembari menepuk bahu Arva pelan dan kembali melanjutkan langkahnya.
***
Bel tanda jam pelajaran terakhir telah berbunyi, koridor yang tadinya sepi mendadak ramai karena penghuni sekolah Nursa berdesak-desakkan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tak terkecuali tiga rantang ini, mereka pun berjalan menyusuri kerumunan siswa dan siswi yang entah kapan sepinya.
"Ra, kayanya gue gak bisa bareng lo, deh."
"Kenapa?"
"Gue harus jemput nyokap gue di bandara," ucap Yeni dengan wajah bersalah.
Tyara tersenyum tipis, "Yaudah, gak apa-apa kali."
"Serius?"
Tyara mengangguk meyakinkan Yeni pun pergi setelah berpamitan dengannya dan Arva yang sedari tadi diam.
Tyara menoleh kearah Arva, "lo kenapa diem aja?"
Arva tersentak, "gak apa-apa, lo pulang bareng siapa?"
"Bareng lo," jawab Tyara sembari memberikan cengirannya.
Arva mengangguk mereka pun pergi ke parkiran motor dan bergegas untuk pulang.
Malam harinya di sebuah Cafe yang bernama Cafe Raya, terlihat empat pasang mata yang sedang memandang dua orang yang berjarak tiga meja darinya dengan intens. Sesekali orang yang di pandangnya tertawa dan terlihat sangat menikmati obrolannya.
__ADS_1
"Jadi, apa rencana lo sekarang?"
\*\*\*\*