
Kalau memang jodoh mah, dia pasti akan kembali, kok.
******
Happy reading 💕💕
Tyara berjalan masuk melewati gerbang sekolahnya, dia memeluk dirinya sendiri untuk melindungi tubuhnya yang memakai jaket levis dari udara pagi yang dingin.
Tak seperti biasanya, Tyara yang selalu berlangganan datang telat kali ini dia datang lebih awal daripada hari-hari sebelumnya. Entah ada angin apa sampai dia mau berangkat lebih pagi dari biasanya, ketika hendak menaiki anak tangga yang menuju ke kelasnya di lantai dua matanya menangkap seseorang yang juga tengah berjalan di depannya.
Dari postur tubuhnya Tyara sudah bisa menebak siapa orang itu, sampai tiba-tiba orang itu berhenti dan menengok ke belakang.
Azka tersenyum ketika melihat Tyara yang berdiri tak jauh di belakangnya. Tyara yang tersadar karena senyuman Azka segera memberikan senyumannya walaupun sedikit kaku, dia kembali melanjutkan langkahnya sedangkan Azka masih setia berdiri di tempatnya.
"Tumben dateng pagi"
"Lagi gak mau dihukum sama ketos" jawab nya sinis, tidak, Tyara tidak bermaksud untuk sinis kepada Azka tapi entah kenapa malah nada sinislah yang keluar bukan nada yang ramah seperti orang bercanda.
Azka tertawa renyah, "sama, gue juga lagi gak mau ngehukum orang."
"Oh gitu."
Azka berdeham, "pikiran gue lagi kalut banget, Ra."
Tyara menaikkan alisnya sebelah, "kenapa?"
"Gue juga gak tau kenapa."
"Dih, gak jelas lo."
Azka hanya menjawab perkataan Tyara dengan kekehan.
Mereka melanjutkan langkahnya sembari terus berbincang ringan. Sesekali Tyara tersenyum dan memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang.
Sampai akhirnya Tyara pamit untuk masuk ke kelasnya dan Azka pun berjalan menuju kelasnya.
***
Azka duduk di bangku yang ada di depan kelas Tyara, dia bersandar sambil memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian bel istirahat berbunyi nyaring.
"Astaghfirullah!"
Azka membuka matanya ketika mendengar suara pekikan disampingnya. Dia menoleh dan mendapati salah satu guru yang baru saja keluar dari kelas Tyara yang sedang mengelus dadanya sembari membenarkan letak kacamatanya.
"Bapak kenapa?" tanya Azka dengan wajah tanpa dosa.
"Ngapain kamu disini?"
"Duduk."
"Iya, saya tahu kamu sedang duduk, tapi sedang nunggu siapa?" tanya pak Tomo sambil memindahkan letak buku yang dipegangnya.
Belum sempat Azka menjawab, Tyara keluar dari kelasnya. Tyara yang melihat Azka sedang duduk di depan kelasnya menghentikan langkahnya.
"Azka? Ngapain disini?"
Azka dan Pak Tomo spontan menoleh ketika mendengar suara seseorang.
"Jemput lo."
Pak Tomo yang masih berada disana menatap Azka dan Tyara secara bergantian.
"Kalian, balikan?"
__ADS_1
"Ehh? E..enggak, kita gak..."
"Kalo iya emang kenapa, Pak? Dan kalo enggak juga kenapa?" potong Azka lalu menarik tangan Tyara agar berdiri disampingnya.
"Gimana, ya.. kamu kan ketua Osis Azka, sedangkan Tyara tukang telat, nakal dan dia nih, tadi di kelas saya malah tidur, ini habis saya hukum. Masa kamu mau punya pacar yang sifatnya seperti dia."
Tyara meringis ketika mendengar penuturan Pak Tomo yang dengan gampang nya membuka aibnya.
Azka melirik Tyara yang sekarang sedang menunduk, "Itu urusan saya, pak, nanti biar saya yang hukum dia."
Pak Tomo mengangguk, "ya sudah kalau kamu bisa merubah dia jadi lebih baik lagi tidak apa-apa asal tidak mengganggu pelajarannya saja." Ucap pak tomo sembari tersenyum , "ya sudah saya duluan ya Azka." Lanjutnya dan melangkah pergi dari sana.
Tyara menginjak kaki Azka yang membuat sang pemilik kaki menoleh dan menatapnya, "Lo mau hukum gue, hah?!" tanya Tyara galak.
Azka menaikkan alisnya sebelah, "Kapan gue bilang?"
Tyara membelalakkan, "Tadi."
"Kapan, jam berapa, menit berapa, detik berapa, hari apa, bulan apa."
Tyara menghentakkan kakinya, dia berjalan menuju kantin mengacuhkan ocehan Azka. Azka terkekeh melihat tingkahnya, dia menyusul Tyara dan menggenggam tangannya. Azka hanya menghendikkan bahunya ketika Tyara menoleh dan melihat genggaman tangannya.
"Mau makan apa?" tanya Azka ketika mereka sudah duduk di bangku yang kosong.
"Bakso sama es teh aja."
Azka mengangguk lalu pergi ke tempat penjual bakso. Tak selang beberapa menit Azka pergi datanglah Yeni, Arva serta Vano.
"Woi! Ngapain lo disini sendirian bae udah kaya jomblo."
Tyara menatap Arva sinis, "eh santuy dong matanya minta gue colok nih anak." Lanjut Arva.
"Lo sama siapa, Ra?"
"Azka"
Tyara, Yeni dan Arva menengok ke arah sumber suara sedangkan yang ditatap hanya nyengir tanpa dosa.
Vano terkekeh, "sorry sorry mba bro dan mas bro gue cuma kaget." Vano kembali membenarkan posisi duduknya, "terus Azkanya mana?" Lanjutnya.
"Ada apa nih nyebut-nyebut nama gue."
Azka menyimpan nampan yang berisi makanannya dan Tyara, "kenapa nyebut-nyebut nama gue?" Tanyanya lagi kepada Vano.
Sedangkan yang ditanya hanya memberikan cengirannya sembari menggelengkan kepalanya.
"Kita-kita gak dipesenin nih?" tanya yeni kepada Azka.
"Iya! Lo gak mesenin kita juga? Gila parah banget." Sambar Vano yang sekarang menatap Azka penuh dengan penghakiman.
"Mana gue tau lo pada mau ikut makan disini." Ucap Azka datar sembari memberikan bakso dan es teh pesanan Tyara.
Belum sempat Tyara menyentuh mangkok itu Arva dan Vano sudah lebih dulu mengambil alih.
"Ih, itu kan punya gue kenapa dimakan Vano, Arva"
"Khaan lwo bhisa pwesen lawgih." ucap Arva tidak jelas sembari mengunyah bakso.
Sedangkan Vano hanya mengangguk menyetujui.
Tyara berdecak sebal, "kalo lagi makan gak boleh ngomong."
"Kan elo sendiri yang ngajakin ngomong." sahut Vano seusai dia menelan makanannya.
Mendengar jawaban Vano Tyara hanya memutar kedua bola matanya malas.
__ADS_1
Azka berdiri kembali dari duduknya, "yaudah biar gue pesenin lagi."
Mendengar itu Yeni langsung tersenyum sumringah, "gue juga ya bakso sama es jeruk." Ucapnya disertai senyuman.
Azka menaikkan alisnya sebelah sembari menyodorkan tangannya, "duitnya?"
Yang ditanya hanya menyengir.
Tyara menatap miris bakso yang sekarang sudah mulai habis, Azka pun menarik tangannya untuk ikut bersamanya.
"Gue males Azka lo aja sana."
"Gak, gue males kalo jalan sendiri."
"Lah tadi juga sendiri, kan" ucap Tyara sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Azka dan berhasil.
"Ya itu kan tadi." Jawab Azka dan kembali menggenggam tangan Tyara.
Tyara yang pasrah pun kini hanya ikut menuruti saja, mereka berdua pergi ke tempat tukang bakso.
Sedangkan, Vano dan Arva sudah selesai dengan acara makan memakannya mereka mengelus perutnya yang kekenyangan Yeni melihat itu pun hanya memutar kedua bola matanya.
"Kok mereka bisa ada disitu sih" celetuk Azka entah kepada siapa.
Tyara menengok ke kanan dan ke kiri memastikan kepada siapa Azka berbicara. Mereka sekarang sedang berdiri tepat di depan tukang bakso itu.
"Padahal kan gue pengen berduaan sama lo eh malah diganggu sama si cecunguk itu."
Tyara masih bingung, dia sebenarnya ingin menyahuti perkataan Azka tapi dia ragu.
"Kok lo diem bae sih, Ra. Gue kan ngomong sama lo." Kali ini Azka menatap jelas kearah Tyara yang menatapnya dengan kebingungan.
"Oh? Lo ngomong sama gue?" Tunjuknya pada diri sendiri.
Azka berdecak dan kembali menghadap ke abang tukang bakso yang sedang meracik pesanan mereka.
"Lah? Letak salah gue dimana dah?" Gumam Tyara pelan dia bingung dengan sikap Azka.
Usai memesan bakso serta es jeruk pesanan Yeni, Tyara dan Azka kembali ke tempat mereka duduk.
"Vano sama Arva mana?" tanya Tyara pada Yeni yang sedang bermain hanphone.
"Balik ke kelas duluan katanya lo lama."
"Giliran kenyang aja malah cabut." Celetuk Azka sembari memberkan bakso serta es jeruk Yeni.
Yeni menyimpan hanphonenya dan memulai untuk memakan baksonya tak lupa juga dia berterima kasih kepada Azka dan Tyara.
"Lo juga makan."
Tyara mengangguk dan mulai memakan baksonya, Azka pun juga ikut makan baksonya yang sekarang sudah mulai dingin karena ternyata bakso miliknya tidak disentuh sedikit pun oleh Vano mau pun Arva.
Setelah selesai makan mereka bertiga kembali ke kelasnya masing-masing, tentu saja dengan Azka yang masih setia berjalan di samping Tyara padahal jelas-jelas kelasnya sudah ia lewatin kalau bukan untuk mengantarkan Tyara ke kelasnya.
Sebelum ia melihat Tyara duduk di bangkunya dengan sempurna ia tidak akan beranjak dari tempatnya berdiri.
"Cinta banget kayanya lo sama dia." Celetuk seseorang tepat di telinganya.
Azka sudah tahu siapa orangnya Azka memilih untuk tidak menanggapi ocehan itu dan memilih untuk pergi ke kelasnya.
"Dih, sombong banget gue ajak ngomong ga nyaut."
Azka yang sudah berjalan ternyata mendengar ucapan itu dia pun berhenti dan menengok ke arah belakang, "berisik." ucapnya datar dan kembali melanjutkan langkahnya.
Orang itu hanya menaikkan alisnya sebelah dan juga pergi meninggalkan kelas Tyara.
__ADS_1
*****