
HAPPY READING!!
...*****...
...Ketika kita lengah, selalu ada cara bagi orang-orang untuk membuat kita patah lalu akhirnya menyerah....
...*****...
"BUNDA! ABANG! ADIS PULANGG!!"
Teriakan itu menggema seiring dengan langkahnya yang mendekat ke arah sofa, ketika mendapati banyak orang di ruang tamu senyumnya merekah, "Halo abang-abang ganteng!"
"Halo bidadari cantik, anaknya bundadara."
"Halo juga calon istrinya babang Diyas, tumben baru pulang, Dis." Ujar Diyas sembari melambaikan tangan dan tidak lupa kedipan mata.
"Najis! Pedopil lo!" sahut Vano sembari mengeplak kepala bagian belakang Diyas.
Adis terkekeh melihat tingkah Diyas dan Vano, "Tadi ada les makanya baru pulang, kan Adis udah kelas enam, jadi sibuk banget buat kelulusan," sahut Adis yang diakhiri dengan kekehan.
Lalu, tatapannya jatuh pada sosok Tyara, "Lho? Kak Tyara? Sejak kapan? Udah lama gak ketemu sama kak Tyara."
Tyara hendak membuka mulut tapi kembali tertutup ketika suara Diyas mengudara.
"Biasalah dek, abangmu lagi pedekate. Bilangin bunda sonoh udah mulai pacaran lagi dia biar abis dia."
Adis tidak terlalu mendengarkan ucapan Diyas, dia hanya fokus pada Tyara.
"Kak Tyara balikan lagi sama abang?" Netranya menyorot Tyara dengan binar yang tidak kunjung hilang, "Asyik! Waktu putus sama kakak, abang galau parah tau kak serius! Terus pernah dia bawa cewek ke rumah tapi itu juga cuma sekali doang."
"Adis, masuk kamar habis itu langsung mandi, makan terus istirahat." Azka tiba-tiba berdiri di samping Adis, membuat gadis itu mendengus, tatapan tajamnya ia lontarkan pada Azka sebelum akhirnya menyeret langkahnya untuk pergi ke kamar.
"Kak Tyara, lain kali kita ngobrol lagi ya, nanti Adis ceritain betapa terpuruknya bang Azka dulu, see you!" serunya ketika tubuhnya sudah berada di dekat pintu kamar. Tanpa menunggu balasan Tyara, gadis itu membanting pintu kamarnya dengan kuat.
Braakk!!!
"Astaghfirullah!" Vano memegang sebelah dadanya dengan mata yang tertuju kearah pintu kamar Adis, "Adek lo bener-bener ya, bar-bar banget."
Ting nong!!
Terdengar suara bel rumah, Azka yang mendengar itu pun langsung beranjak dari duduknya dan segera berjalan kearah pintu utama. Ketika sampai, ia membelalakkan matanya kaget.
Surai cokelat yang panjangnya sebatas punggung itu berterbangan tatkala angin berhembus sedang. Lalu tubuh gadis itu berputar dan menghadap kearah Azka yang berada dibelakangnya, dia tersenyum dan menghampiri Azka lalu memeluknya erat.
"Gue kangen banget sama, lo."
Azka diam membisu, kedua tangannya berada di sii tubuh sedang matanya menatap lurus ke depan.
Satu menit.
Hingga akhirnya gadis itu menguraikan pelukan yang tak terbalas, ia mendongak dan menatap Azka dengan intens.
"Lo lupa sama gue?"
Azka tetap diam, hendak menyuarakan isi hati namun mulutnya tetap terkunci. Ia bahkan tidak sadar bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Luna..."
Satu nama itu berhasil lolos dari mulut Azka yang telah lama membisu, ia menunduk menatap netra kecoklatan Luna yang berpendar lalu, senyum tipis kembali terukir dari bibir gadis bersurai cokelat itu.
"Iya! Ini gue, Luna." Masih dengan senyum yang terpatri ia merentangkan tangannya, "Lo gak kangen sama gue? Udah lama lho kita gak ketemu."
Melihat Azka yang masih bergeming, Luna berinisiatif untuk memangkas jarak yang terbentang diantara mereka berdua. Kedua tangan gadis itu melingkar di pundak Azka, lalu selang beberapa detik Azka membalas pelukan itu.
Sedang Tyara yang berdiri di belakang Azka masih diam membatu memperhatikan mereka berdua yang sedang melepas rindu. Sesuatu dalam dirinya mendidih ketika sosok gadis dihadapannya itu kembali membuka suara.
"Gue kangen banget sama lo, Zka!" Dengan kepala yang bersandar di dada bidang Azka.
Azka mengelus punggung Luna pelan, lalu detik berikutnya ia menguraikan pelukan mereka. Luna menatap kearah belakang Azka, "Dia siapa?" Tanyanya pada Azka.
Azka mengikuti arah pandang Luna, ia mengumpat dalam hati ketika lupa akan sosok Tyara yang sedang berada di rumahnya saat ini. Ketika Tyara hendak membuka mulutnya, Azka sudah lebih dulu angkat suara, "Namanya Tyara."
Walaupun belum puas akan jawaban dari Azka, Luna tetap membulatkan mulutnya dan mengangguk singkat. Ia menyeret langkahnya mendekati Tyara dan menyisakan jarak beberapa centi saja, tangan kanannya terulur ke hadapan Tyara, "Luna Geolani, sahabat lamanya Azka," bisiknya.
Sedetik kemudian Luna kembali membentangkan jaraknya, gadis itu berbalik untuk menatap Azka, "Tante Rani ada? Gue masuk duluan ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Azka, Luna menyeret langkahnya untuk masuk ke dalam rumah Azka.
*****
"Ngapain cemburu, cuma sahabat ini."
Saat ini, Tyara, Yeni serta Arva sedang berada di kantin untuk istirahat. Dan, Tyara sudah menceritakan semua yang terjadi kemarin di rumah Azka kepada dua sahabatnya itu.
"Heh, kupret! Gak ada sejarahnya laki-laki dan perempuan itu pure sahabat, pasti salah satu dari mereka ada yang nyimpen rasa," ujar Yeni sembari memukul pundak Arva pelan.
"Pea lo, ya. Kan kita bertiga, beda sama Azka."
Arva menaikkan alisnya bingung, "Apa bedanya, njir."
"Kalo gue bilang beda, ya, beda."
Tyara hanya diam memandangi dua sahabatnya yang sedang berdebat, dia tidak ingin ambil pusing dan lebih memilih untuk memperhatikan saja.
Benar apa yang dikatakan oleh Yeni, laki-laki dan perempuan tidak akan bisa menjadi sahabat tanpa melibatkan perasaan. Pasti salah satu diantara mereka ada yang menyimpan rasa, dan karena itulah Tyara terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Yeni.
Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja kantin dengan perlahan, seiring berjalannya waktu ia hanya diam dengan tatapan mata yang kosong.
Ketika sedang asyik dengan dunianya, tiba-tiba saja seseorang merangkul pundaknya. Sontak Tyara tersadar dari lamunannya dan langsung menepis tangan itu, ketika ia menoleh ke samping kanannya untuk melihat siapa pelakunya dia tersenyum kaku dan langsung menyeruput minumannya yang esnya sudah mulai mencair.
Sedangkan orang yang merangkulnya itu menaikkan alisnya bingung, lalu ia duduk di samping Tyara dan menatapnya intens.
"Ada apa?" Tanyanya sembari terus menatap lurus kearah Tyara.
Tyara hanya menggeleng pelan.
"Pake nanya lagi, ya salah elo lah, Jamaluddin," ujar Yeni ketus.
Azka menunjuk dirinya sendiri, "Gue?"
"IYE!"
__ADS_1
"Lah, kok ngegas," seru Diyas yang entah datang darimana, "Eh mas bro!" ujarnya kepada Arva.
"Dah lama nih kita gak nongki-nongki," sahut Arva.
"Gimana kalo balik sekolah kita nongki? Sambil nyari cewek, biar gak dikatain jomblo mulu gue." ujar Diyas dengan wajah yang dibuat semengenaskan mungkin.
"Nyari doang, dapet kaga," seru Vano sembari menyeruput minuman milik Arva sedangkan sang pemiliknya hanya melototkan matanya. Yang dipelototi hanya menghendikkan bahunya acuh.
"Azka!"
Sang pemilik nama pun menoleh kearah sumber suara, ia melepaskan tangan orang yang merangkul pundaknya.
"Kok gue ditinggalin sih,?!" ujar orang itu sembari berkacak pinggang.
"Kan biar lo bisa berbaur sama yang lainnya, Lun," sahut Azka.
Luna mencembikkan bibirnya, kemudian ia langsung duduk di samping kiri Azka sedang Tyara berada di samping kanannya.
"Lo gak pesenin gue makan atau apa gitu?"
"Kan lo bisa mesen sendiri, gak usah manja kenapa, sih."
Melihat mereka berdua berbincang membuat yang lainnya hanya diam sembari memperhatikan, sedangkan Tyara memilih untuk memainkan handphonenya dibandingkan harus mendengar drama Indosiar di hadapannya ini.
Karena merasa diperhatikan, Luna pun melihat ke sekelilingnya ia tersenyum tipis menatap yang lainnya dan kembali menjatuhkan pandangannya pada Azka.
"Temenin gue beli batagor, yuk," ujarnya sembari tersenyum.
Azka hanya diam memperhatikan.
"Ayooo," Luna beranjak dari duduknya tak lupa juga menarik tangan Azka untuk ikut dengannya.
Azka yang tangannya ditarik oleh Luna hanya bisa pasrah dan mengikutinya, sampai-sampai ia tidak melihat raut wajah Tyara yang berubah dan seketika pergi meninggalkan yang lain dengan kebingungan.
Ya, Luna pindah ke sekolah yang sama dengan Azka karena orang tuanya yang berpindah tugas di kota ini dan tentu saja alasan Luna ingin bersekolah disini karena hanya Azka yang dia kenal di kota ini.
****
Tyara berjalan dengan tergesa-gesa melewati koridor kelas, langkah kecilnya semakin dipercepat saat ia melirik jam di layar handphonenya. Bel pulang sekolah yang baru saja berbunyi membuat parkiran sekolah dipadati oleh murid-murid, panas matahari menyengat siapa saja yang tidak mencari perlindungan.
Tyara celingukan mencari keberadaan seseorang, sampai matanya menangkap punggung tegap yang berdiri di samping motor yang sangat ia kenal. Langkahnya yang pendek terayun menghampiri laki-laki itu.
"Azka!" Seru Tyara dan langsung membuat Azka berbalik.
"Kok lama?"
"Di koridor macet tadi," ujar Tyara sembari menjauhkan tangan Azka yang bertengger di atas kepalanya, "Emang kita mau kemana sih?"
"Jalan-jalan dong, udah lama kan kita gak jalan-jalan," sahut Azka dan membuat mata Tyara berbinar.
Baru saja hendak membuka mulutnya, Tyara dibuat bungkam saat ada suara lain yang memanggil Azka dari belakang.
"Gue pulang bareng lo, ya."
...*****...
__ADS_1