
Gimana mau move on, tiap hari aja ketemu
terus
\*\*\*\*
"Jadi, apa rencana lo sekarang?"
Tyara menghendikkan bahunya tak tahu, tapi matanya tetap fokus menatap dua orang di depan sana yang sedang asyik mengobrol dan tertawa.
"Yaudah, sih, lo ikutin aja permainan dia."
"Dia tuh emang cuma mau mainin hati gue doang kali ya, kesel deh."
Tyara meminum milkshake strawberrynya, sedangkan Arva yang duduk bersamanya mengetukkan jarinya di meja. Posisi Arva dan Tyara ini berada di pojok ruangan dekat dengan pintu masuk Cafe.
"Padahal gue mau liat perjuangan dia dulu, kalo emang dia mau serius lagi sama gue baru gue kasih dia kesempatan kedua," lanjut Tyara dengan emosi yang tertahan.
"Move on aja," ucap Arva santai.
Tyara menatap Arva tajam, "gimana mau move on kalo tiap hari aja ketemu, ngomong mah gampang apalagi dia udah bikin gue baper lagi, sial."
"Salah lo yang baperan."
Tyara semakin menatap Arva tajam, "gak bisa ngebantu banget sih lu jadi manusia heran." Dia tidak terima dibilang baperan oleh Arva, ya... walau kenyataannya memang benar.
Arva menengok ke belakang, "mereka berdiri kayanya mau pulang."
Kontan Tyara segera mengambil buku menu dan menutupi wajahnya, seolah dia sedang membaca menu. Sedangkan Arva memilih memainkan ponselnya.
Ting...
Pintu masuk berbunyi, itu tandanya seseorang baru saja membuka pintunya. Arva melirik dan seseorang yang tadi menjadi perbincangannya telah keluar dari Cafe.
"Dia udah pergi."
Tyara menurunkan buku menu itu dia bernafas lega karena tidak ketahuan.
"Azka sama siapa ya, tadi?" tanya Tyara.
Arva menghendikkan bahunya, mereka memang tidak melihat wajah perempuan yang bersama Azka tadi karena duduknya yang membelakangi meja yang Tyara tempati. Dan ketika mereka keluar pun Tyara juga tidak sempat melihatnya.
__ADS_1
***
Sabtu malam ini terasa sangat hampa, apalagi bagi Tyara si manusia jomblo. Yang bisa dilakukan di malam ini ya hanya menonton tv dan sesekali menscroll Instagram yang isinya kebanyakan mengumbar kemesraan bersama sang pujaan hati. Sedangkan manusia jomblo? Ya, hanya bisa melihatnya sembari menggigit jari, iri. Termasuk Tyara.
Orang bilang, jadi jomblo itu enak. Mau jalan sama siapa saja tidak ada yang melarang, pergi sana pergi sini tidak perlu ijin kepada sang pacar. Yang jadi masalahnya itu, kalau jomblo mau jalan sama siapa? Gebetan? Yang deketin saja tidak ada, teman? Temannya pun sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Jadi jomblo itu terkadang menyiksa. Setiap jalan ke mall, melihat sepasang kekasih berjalan sembari bergandengan tangan, rangkul-rangkulan dan bercanda ria.
Tidak salah bukan, jika seorang jomblo merasa iri dengan mereka yang berpacaran atau apapun itulah sebutannya untuk dua pasang individu yang saling membagi cinta.
Iri jika sedang sakit ada yang memberikan perhatian, selain keluarga. Nonton bioskop ada yang nemenin, selain teman. Bergandengan tangan, suap-suapan ketika makan dan mengumbar kemesraan di sosial media seperti pasangan yang lainnya.
Tapi sepertinya, itu hanyalah akan menjadi mimpi semata untuk seorang jomblo akut, seperti Tyara yang sekarang sedang memandangi instastory sang mantan. Azka Zahfriel, yang sekarang sedang berada di sebuah taman bersama seorang gadis yang tidak diketahui wajahnya. Karena hanya sekelebat, macam mba kunti saja.
Dia tersenyum miris, malam minggu kemarin dia yang bersama Azka mengelilingi pasar malam tapi sekarang? Ah, sudahlah.
Sok ganteng banget, ewh
Dia menyimpan kembali ponselnya dan pergi ke dapur untuk mengambil camilan serta minuman dingin untuk mendinginkan hatinya yang tiba-tiba mendadak panas.
"Loh, tumben gak keluar?"
Tyara menengok ketika seseorang berdiri di hadapannya, "Mager," jawabnya singkat.
"Mager atau emang gak ada yang ngajak jalan?" tanya mamanya Tyara sembari mencolek pipi Tyara.
"Terjadi sebuah kecelakaan tunggal di jalan Flamingo pada kamis dini hari, korban mengalami luka parah dan dibawa ke rumah sakit"
"Tyara! Woi, buru kesini!"
"Apaan? Malem-malem teriakan, berisik," ucap Tyara.
"Liat berita, itu mobil yang kecelakaan kok kaya gue kenal, ya?" kak Rei menunjuk ke layar tv yang sedang menampilkan berita kecelakaan.
Tyara terdiam untuk beberapa saat setelah melihat berita itu, "iya, gue juga kaya gak asing sama warnanya." Tyara kembali terdiam sembari mendengarkan siaran berita tersebut, "Mobil siapa ya, itu kecelakaannya kamis sampe sekarang masih diberitain?" lanjutnya.
"Keabisan bahan kali makanya diberitain ulang, udah ah ganti channel laen aja gue males mikir."
Tyara mengangguk acuh dia tidak memusingkan berita itu, toh mobil yang seperti itu tidak hanya satu, pasti banyak.
"Oh, iya. Tadi ada yang ngirim paket tuh."
"Paket? Malem-malem gini?"
__ADS_1
"Sekalian malem mingguan kali, gak kaya lo yang cuma bisa meratapi nasib jadi jomblo."
Tyara memutar kedua bola matanya padahal dirinya pun juga sama hanya berdiam diri di rumah, "Mana?" tanya Tyara.
Kak Rei menunjuk ke arah sofa yang lain, Tyara segera mengambilnya dan dia tercengang melihat paket yang biasanya terbungkus dengan rapi tapi ternyata yang dia terima malah berbeda.
Sebuket bunga mawar putih dan satu tangkai bunga mawar merah. Dia memandang bingung bunga mawar merah itu, entah maksudnya apa setangkai bunga mawar merah hadir di tengah-tengah mawar putih.
Mungkin bonus. Pikirnya
Dia duduk kembali ke tempatnya semula, sebelah kak Rei. "Dari siapa?" tanyanya.
Kak Rei menghendikkan bahunya tak tahu, "Emang gak ada nama pengirimnya?" Tanyanya.
Tyara menggeleng, dia memutar-mutar buket bunga itu mencari sesuatu barangkali terselip sepucuk surat atau post it. Tapi nyatanya tidak ada satupun kertas yang dia temukan, Tyara pun memilih untuk kembali menonton tv.
Ponselnya berbunyi,
1 pesan masuk dari nomor tidak dikenal? . Ucapnya dalam hati.
+62819xxxxxxx :
Sudah diterima bunganya?
Tyara mengerutkan alisnya bingung, karena dia tidak mengenali nomor itu. Dan yang membingungkan lagi bunga itu ternyata pemberian dari orang yang mengirim pesan ini.
1 pesan masuk lagi dari nomor yang sama.
+62819xxxxxxxx :
Pasti lo bingung kenapa disitu ada setangkai mawar merahnya, anggep aja mawar putih itu hati lo dan mawar merah itu adalah cinta gue yang mungkin lama kelamaan akan mengisi seluruh hati lo lagi.
Dia tersenyum tipis, halah.
Tapi siapa ya yang ngirimin gue bunga?. Gumamnya dalam hati.
Enggan untuk memikirnya lebih lanjut Tyara membawa bunga itu dan berjalan ke lantai atas berniat untuk menonton Drakor, dikamarnya.
Setelah lama menonton dan adegan-adegan romantis selalu bergentayangan, Tyara terdiam. Sepertinya dia salah, ini malam minggu dan dia malah menonton drakor? Semakin menyiksa batin sekali ternyata. Tyara mendengkus, mematikan film Drakor itu dan menutup kembali laptopnya.
Ia beranjak berjalan ke arah sudut ruangan, tempat dimana meja belajarnya berada. Dia membuka lacinya yang selalu ia kunci dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Tyara memandang sebentar benda yang sekarang ada di genggamannya dan kembali naik ke atas kasur.
"Ternyata gini ya rasanya kehilangan yang disengaja, eh? Disengaja? Apa sih."
__ADS_1
Tyara terdiam dan memandang benda itu sembari terus berbicara yang tidak jelas.
\*\*\*\*