ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
35


__ADS_3

......*****......


...Bukan,...


...bukan terjebak,...


...tapi kamu yang menceburkan diri ke dalam jurang masa lalu....


...susah payah keluar tapi kenapa malah memilih untuk kembali lagi?...


...*****...


Tyara mengerjapkan matanya beberapa kali, ia mencoba untuk bangun tapi ternyata kepalanya terasa sangat pusing sekali.


"Jangan bangun dulu," perintah penjaga UKS, "Kamu masih pusing, kan? Tidur aja dulu," lanjutnya.


Tyara hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Tyara, lo gapapa kan?" tanya Azka panik, ia menyerobot masuk ke dalam UKS padahal sudah dilarang oleh Arva dan juga Yeni diluar sana.


Yeni masuk dengan wajah kesalnya diikuti juga oleh Arva, "Gue udah bilang sama lo Tyara lagi gak mau diganggu sama lo kupret!" ucap Yeni kesal.


"Lah, emang gue salah apaan? Cewek gue sakit, otomatis gue harus peduliin dia dong!" jawab Azka tak kalah emosi.


"Emang ya, cowok tuh selalu bisa ngelupain kesalahan yang dia buat sendiri."


"MAKSUD LO?!" tanya Azka serta Arva secara berbarengan.


Yeni mengerjapkan matanya, melihat Azka dan Arva secara bergantian.


"Emang bener kan? Cowok tuh selalu kaya gitu, abis bikin salah terus besoknya langsung lupa sama apa salahnya sendiri."


"Tapi gak semua cowok kaya gitu, Yen," sahut Tyara pelan.


"Iya! Gak semua cowok kaya gitu, tapi yang kaya gitu udah pasti cowok."


Tyara menghembuskan nafasnya pelan, jika berdebat dengan Yeni pasti ia tidak akan menang.


"Apa yang sakit?"


Azka menghampiri Tyara dan berdiri disamping ranjang UKS.


"Gak ada, cuma pusing aja kok."


"Kenapa bisa pusing, sih? lo gak sarapan tadi?"


Tyara menggelengkan kepalanya pelan, "Lupa."


"Kan gue udah bilang jangan pernah ngelewatin sarapan, lo tuh punya darah rendah sama lambung bisa bahaya kalo kambuh." ucap Azka khawatir.


"Iyaaaa."


"Semua orang juga punya lambung kali, mas!" sahut Yeni ketus.


"Diem."


"Dih, lo yang diem lah, ngaco."


"Temen lo bisa diusir aja gak sih?" tanya Azka pada Arva sembari melirik Yeni tajam.


Sedangkan yang dilirik hanya menghendikkan bahunya acuh dan duduk di bangku yang berada di samping ranjang Tyara.


"Kenapa bisa lupa sarapan?" tanya Yeni tanpa basa-basi.


"Namanya orang lupa ya jelas lupa," sahut Azka.


"Gue gak nanya sama lo ye, kuproy!"


Mendengar ucapan Yeni membuat Tyara serta Arva tertawa.


"Gila, ganteng gini dibilang kuproy?"


"Emang rada mirip kuproy sih, sebenernya," ucap Tyara diakhiri dengan cengiran.


"RA!" teriak Azka tak terima.


"Aduh, ada apa ini teriak-teriak mas-mas dan mbak-mbak. Ini temennya lagi sakit lho, kok malah bikin bising sih," tegur penjaga UKS yang baru saja kembali dari luar.


"Hehe, maaf Bu," ucap Azka, "Yaudah, Ra, gue balik ke kelas dulu ya nanti pulang sekolah kita bareng," ucap Azka kepada Tyara dan langsung pergi kembali ke kelasnya setelah ia berpamitan kepada penjaga UKS sekaligus meminta tolong agar Tyara dijaga dengan baik.

__ADS_1


Tak lupa juga dengan Arva yang ikut keluar kembali ke kelasnya, tersisa Tyara dan Yeni di ruang UKS. Ah, dan juga penjaga UKS yang sedang sibuk di mejanya.


"Lo kenapa bisa lupa sarapan gini?" tanya Yeni kemudian.


"Gapapa kok, cuma bener-bener lupa aja gak keingetan sama sekali," alibi Tyara.


"Yakin? nyokap lo emang kemana?" tanya Yeni lagi memastikan.


"Mama gue lagi pulang ke Bandung, Oma gue tiba-tiba aja jatuh sakit dan dia pengen ditemenin sama mama disana."


"Kak Rei?"


"Rei ada acara kampus jadi harus berangkat pagi-pagi buat ngebantuin disana," jelas Tyara lagi.


"Kenapa lo gak bilang gue kalo lo belom sarapan? Kan bisa gue bawain atau beliin makan dulu, atau Arva juga kalo lo minta bantuan ke dia pasti dia bantu lo. Jangan ngerasa sendiri, Ra, ada gue sama Arva dan jangan lupain juga si bulol lo itu pasti dia selalu siap sedia kok disamping lo," ujar Yeni panjang lebar.


"Bulol?" tanya Tyara bingung.


"Bucin tolol, si Azka." sahut Yeni santai.


"Kenapa bucin tolol?"


"Ya, dia kan bucin banget sama lo dan selain bucin dia juga tolol banget gak bisa milih antara lo sama Luna." jelas Yeni sembari membuka bungkus roti yang sudah ia bawa untuk diberikan kepada Tyara, "Sorry aja nih kalo gue ngatain Azka tolol," lanjutnya lagi masih fokus pada kegiatannya tanpa melihat kearah Tyara.


Tanpa disadari oleh Yeni, mimik wajah Tyara sudah berubah ketika ia menyebut nama Luna.


Karena tidak ada jawaban dari Tyara, Yeni pun menyadari dan langsung melihat kearah Tyara.


"Kenapa, Ra? Ah, sorry gue nyebutin nama tuh cewek ya?" tanya Yeni bersalah.


"Gapapa kok," sahut Tyara dengan senyum palsunya.


"Kalo ada yang mau lo ceritain, cerita aja gapapa."


"Nggak, Yen, gak ada yang mau gue ceritain. Gue cuma lagi capek aja."


"Kenapa? Azka?"


Mendengar nama Azka membuat Tyara terdiam lagi, sebenarnya bukan Azka penyebabnya aslinya. Azka memang penyebab setengah rasa capek dia tapi ada hal lain yang benar-benar membuat dia sangat capek.


"Bokap lo?"


"Kenapa lagi?" Yeni kembali bertanya.


Ya, Yeni memang tahu segalanya tentang Tyara bahkan perceraian antara mama dan papanya Tyara pun ia tahu, sebab Tyara lah yang selalu bercerita kepadanya tentang masalahnya apapun itu.


Dia hanya bercerita kepada Yeni tidak kepada Arva, entahlah mungkin dia lebih bisa mempercayai Yeni ketimbang Arva. Karena ia mengenal Arva sejak kelas satu SMA lain halnya dengan Yeni yang sudah ia kenal sejak kecil.


"Belum mau cerita?"


Tyara menggeleng perlahan,


"Yaudah kalo emang belum bisa cerita, gue siap kapan pun lo siap buat ceritain itu," ucap Yeni diakhiri dengan senyuman. "Kalo gitu gue cabut dulu ya balik kelas takut ada guru, rotinya dimakan ya nih jangan lupa minum juga obatnya."


"Makasih ya, Yen, lo emang sahabat terbaik gue," ucap Tyara dengan senyuman.


"Lo juga sahabat terbaik gue kok, yaudah gue duluan ya."


Tyara hanya mengangguk sebagai jawaban, setelah berpamitan Yeni segera bergegas kembali ke kelas.


Beberapa jam kemudian bel pulang sekolah telah berbunyi.


Tyara sedang duduk di bangku panjang yang ada di luar UKS, kondisinya sudah lebih baik dibanding sebelumnya. Sembari memainkan handphonenya sesekali ia melihat kearah lorong sekolahnya, menunggu kedatangan Azka yang katanya ingin pulang bersama.


Lima belas menit dia menunggu Azka tak kunjung datang, tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk dihandphonenya.


Makhluk astral :


*Ra, sorry banget gue gak bisa nganterin lo pulang ini tiba-tiba aja Luna sakit jadi dia gak bisa pulang sendiri.


Gue juga udah chat Diyas minta tolong buat anterin lo balik, gapapa kan?


Sekali lagi maaf ya, Ra, besok kita berangkat sekolah bareng❤️*


Begitulah kira-kira isi pesan yang Azka kirimkan kepadanya, Tyara membaca pesan itu dengan wajah datar.


"Luna lagi, Luna lagi, gue juga lagi sakit, Azka. Kok bisa-bisanya lo malah nganterin Luna yang notabenenya gue cewek lo sendiri."


Tak lama kemudian ada pesan chat lagi,

__ADS_1


Diyas :


Halo, Ra? Lo diamana?


Anjritlah typo segala, Lo dimana? Eh di UKS ya tadi Azka bilang.


Yaudah tunggu situ gue otw.


^^^gue di depan UKS, Yas.^^^


Diyas :


oke, gue otw.


Tak berapa lama kemudian Diyas sudah tiba ditempatnya.


"Sorry ya lama tadi gue ke toilet bentar, kebelet soalnya."


"Iya gapapa, Yas."


"Mau pulang sekarang, Ra?"


Tyara hanya mengangguk sebagai jawaban, mereka berdua pun berjalan beriringan menuju parkiran motor.


Selama diperjalanan tak henti-hentinya Diyas memaki-maki Azka karena telah menelantarkan Tyara begitu saja dan lebih memilih mengantarkan Luna pulang.


"Emang anjir si Azka kampret, ceweknya ditinggalin gitu aja malah milih nganter cewek laen.


Mendengar itu Tyara hanya terkekeh sebagai tanggapan.


"Lo gak marah sama tuh anak?" kali ini Diyas bertanya dengan wajah serius.


"Marah? Buat apa? Kan Luna temen masa kecilnya pasti dia lebih peduliin Luna."


"Tapi, lo ceweknya, Ra, lo berhak marah sama perilaku dia. Gue juga sebenernya gak suka sama si Luna-Luna itu, nyebelin orangnya."


Mereka pun tiba diparkiran motor, Diyas memberikan helm kepada Tyara yang sudah disiapkan sebelumnya.


Setelah siap mereka pun bergegas pergi meninggalkan parkiran sekolah.


sepuluh menit kemudian mereka sampai di depan rumah Tyara, Tyara turun dari motor Diyas dengan wajah kesal sembari melepaskan helmnya.


"Lo mau ngajak gue mati, hah?" omel Tyara.


"Hehe, sorry, Ra, kan lo sendiri yang minta cepet-cepet sampe rumah."


"Cepet sampe sih cepet sampe, tapi ga ngebut banget doang," omel Tyara lagi, ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Yaudah sana masuk lo."


"thanks ya udah nganterin gue sekaligus hampir nganterin nyawa gue juga," ucap Tyara.


sedangkan Diyas hanya tertawa, "Gue pulang ya, Ra, hati-hati buka gerbangnya." setelah mengatakan itu Diyas langsung menancap gasnya dan melesat pergi meninggalkan rumah Tyara dengan cepat.


"Emang dasar Diyas pea," gumam Tyara melihat Diyas yang kembali ngebut.


Baru saja Tyara merebahkan tubuhnya di atas kasur sebuah pesan chat masuk.


Makhluk astral :


Ra?


udah sampe rumah?


kok gak dibales?


Lo marah ya sama gue?


Begitulah isi pesan chat yang dikirim oleh Azka, "Pikir aja sendiri deh," gumam Tyara.


^^^^^^Nggak, kok, gue gak marah^^^^^^


^^^^^^Udah nganterin Lunanya?^^^^^^


Makhluk astral :


*Udah, nih gue baru sampe rumah tadi ke apotek dulu bentar beliin obat.


^^^Oh yaudah, gue istirahat dulu ya capek banget*^^^

__ADS_1


Tanpa menunggu balasan dari Azka Tyara langsung mematikan layar ponselnya dan langsung memejamkan matanya.


__ADS_2