ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
MIMPI


__ADS_3

"Jaga diri lo baik-baik ya, Ra."


*Tyara mengernyitkan alisnya bingung, "maksudnya?"


"Gue gak bisa selalu ada berdiri di samping lo."


"Gue gak ngerti" ucap Tyara sembari menggelengkan kepalanya.


Azka meraih kedua tangan Tyara ia mengusapnya perlahan dan menatap kedua mata Tyara dengan dalam, "jangan nakal, jangan dateng telat mulu, kalo gue gak ada Aliya tau yang bakal ngehukum."


"Ih males banget deh gue dihukum sama dia." Ucap Tyara seraya mengalihkan pandangannya, "tapi, lo aneh. Kenapa lo ngomong kaya gini?" Lanjutnya sambil kembali menatap kearah Azka yang masih setia memandangnya.


Azka hanya tersenyum, perlahan ia melepaskan genggaman tangannya Tyara yang melihat itu pun memandangnya dengan bingung.


"Gue pamit ya*."


Azka berjalan mundur meninggalkan Tyara dengan kebingungan, perlahan tapi pasti Azka mulai tak terlihat dari pandangan.


"AZKAAA!!!"


Keringat bercucuran, degup jantung yang berdetak dengan sangat cepat serta tangan yang gemetaran. Yaps, Tyara bermimpi buruk tentang Azka.


Baru kali ini dia memimpikan Azka hal yang buruk bahkan sangat buruk baginya dan itu adalah hal yang sangat tidak dia inginkan terjadi.


"Azka," ucapnya pelan.


Ia mengatur nafasnya yang masih tak beraturan, "kok bisa sih gue mimpi buruk tentang Azka?"


Tyara meraih handphonenya yang ada diatas meja, ia melihat jam berapa sekarang.


"Masih jam 2, duhh... Kenapa bisa mimpiin Azka sih, kenapa juga mimpinya jelek begitu ish orangnya udah jelek ditambah mimpinya juga ikutan jelek."


Tyara kembali merebahkan tubuhnya dia menyimpan handphonenya dan mulai memejamkan matanya untuk kembali tidur.


"Eh tunggu," katanya tiba-tiba dan langsung mengambil gelas berisi air putih yang sengaja ia simpan diatas meja kamarnya.


"Ahh... Legaa" ucapnya setelah meminum air itu hingga abis tak tersisa, ia pun kembali merebahkan tubuhnya dan tertidur.


***


Hari minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang, karena di hari minggu ini kita bisa menghilangkan rasa penat akibat kegiatan yang dilakukan setiap hari yang sangat melelahkan.


Begitu juga dengan Tyara yang sekarang masih asik bermanja-manja dengan kasurnya, sebenarnya dia sudah bangun dari jam 6 pagi tadi tapi hingga jam 9 siang dia masih enggan untuk meninggalkan kasurnya.


Tangannya sedang asik menscroll dan melihat-lihat postan teman-temannya di instagram.


Triingg...


Sebuah notifikasi pesan masuk, dan seketika ia memelototkan matanya ketika melihat isi pesannya.


Makhluk Astral :


(1) Tyaraku jalan yuk


Tak lama kemudian notifikasi kembali berbunyi,


Makhluk Astral :


(2) 10 menit lagi gue ke rumah lu yaa

__ADS_1


Mendapatkan isi pesan itu Tyara hanya diam memandanginya tanpa berniat untuk bergerak sedikitpun dari kasur.


"Ah, palingan juga cuma iseng tuh anak."


Ia pun kembali masuk ke dalam selimutnya untuk melanjutkan tidur.


Tok.. tok... Tokk...


Terdengar suara pintu diketuk membuat Tyara langsung membuka selimutnya, "masuk aja ga dikunci." Ujarnya kepada sang pengetuk pintu.


Ceklekk...


"Ya ampun... Tyara! Itu di bawah ada nak Azka nungguin kamu kenapa malah goler-goleran dikasur."


"Hah?"


Mendengar mamanya menyebut nama Azka membuat mata Tyara yang masih terpejam langsung terbuka lebar.


"Azka?"


"Iya, itu dia udah nungguin kamu setengah jam, tadi mama tanya udah ada janji sama Tyara terus kata dia udah makanya, maka suruh dia tunggu aja eh ternyata pas ke kamar kamunya masih tidur."


"Ish Tyara pikir tuh dia tadi cuma iseng ngajak keluar, yaudah Tyara mandi dulu deh, ma," ucapnya seraya berlari mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Sedangkan mamanya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anaknya.


Setengah jam kemudian, ia pun turun ke lantai bawah untuk menemui Azka yang mungkin sekarang sudah bosan menunggunya terlalu lama.


Di bawah, ia melihat Azka yang tengah mengobrol dengan kakaknya, Rei. Ia pun menghampiri dua lelaki itu,


"Ngapain lu pagi-pagi kesini"


Tyara menganggukkan kepalanya, "iya pagi, masih pagi udah bertamu ke rumah orang."


Mendengar jawabannya Azka dan Rei langsung tertawa, sedangkan yang di tertawakan hanya mengangkat kedua alisnya bingung.


"Apa sih?"


"lo bilang sekarang masih pagi?" tanya Azka, "sekarang udah siang, Ra, noh lo gak liat matahari udah tinggi banget." tunjuknya ke arah luar yang pintunya terbuka lembar dan menampilkan sang matahari yang bersinar sangat terang, alias panas✨.


Tyara hanya nyengir setelah melihatnya, "yaudah, terus lo mau ngapain ke rumah gue? ralat, ketemu gue."


"Dih, siapa yang mau ketemu lo, orang gue mau ketemu sama Rei."


"Tau, lagu lo pede cakep kali lo" ucap Rei dengan nada sedikit bercanda.


Tyara mengangguk mengerti, "oke deh, kalo gitu gue cabut ke kamar lagi lah."


Dengan cepat Azka menarik tangan Tyara, "gitu aja ngambek."


Tyara menengok, "ngambek? siapa yang ngambek?" tanyanya sembari melepaskan genggaman Azka.


Azka hanya terkekeh mendengar pertanyaannya, "udah sini duduk lagi, gue bawain martabak kesukaan lo nih."


"Nyogok gue nih ceritanya."


"Ah udahlah gue cabut aja, kaya obat nyamuk disini." ucap Rei sembari berdiri


"Yaudah sana, husssh hussh.." ucap Tyara sembari menggerakkan tangannya dengan gestur mengusir.

__ADS_1


"oke, Makasih Rei." ucap Azka


"Santai" jawab Rei sembari mengacak-acak rambut Tyara dan langsung berlari sebelum Tyara mengamuk karena ulahnya.


"Reiiiiii!!! kurang ajar lo ya!" teriak Tyara kesal.


Rei hanya tertawa mendengar teriakan Tyara sembari berlari ke lantai atas, sedangkan Azka dia hanya memandang sembari tersenyum tipis melihat tingkah adik kakak itu.


"Kenapa lo senyum-senyum?"


"Hah?"


Tyara berdecak sebal, "hah hoh hah hoh, ditanya bukannya jawab."


Azka terkekeh pelan, "senyum itu kan ibadah Ra, dapet pahala."


"Tapi kalo lo yang senyum patut dicurigai."


"loh, emangnya kenapa?"


Tyara menghendikkan pundaknya, "yaa... curiga aja."


"Ini kita mau disini aja nih? gak mau keliling-keliling?"


"Gak, capek, panas."


"Astaghfirullah Ra, capek ngapain sih?? udah ayo ah kita jalan."


"Jalan kemana sih?" tanyanya sembari melihat ke arah luar, "panas loh ini mataharinya."


"Ya namanya juga matahari pasti panaslah." jawab Azka sembari berdiri dan bersiap untuk jalan.


Tyara hanya memandangnya sembari memakan martabak yang sedari tadi ia sudah incar.


"Ayo"


""Ayyko kewmana."


"Makannya abisin dulu baru ngomong."


Dengan segera Tyara menelan martabaknya dengan susah payah, "ayo kemana?" tanyanya lagi.


"Kemana aja."


"Gue gak mau kalo gak jelas arah dan tujuannya."


"Yaudah, sih, ikut aja dulu Ra. Bikin gue seneng bentar kek elah, susah amat." cerocos Azka sembari berkacak pinggang.


"Dih, kok emosi masnya?"


"Emosi? enggak, siapa yang emosi?"


"Lah, itu lo tadi emosi kan."


"Tau ah, kenapa malah jadi berantem sih? ini jadi jalan apa gak jadinya."


"Siapa yang mau jalan sama lo marpudin."


Tanpa aba-aba lagi Azka langsung saja menarik lengan Tyara untuk bangkit dari posisi duduknya segera mengajaknya keluar dan memasukkannya ke dalam mobil, yang kebetulan hari ini dia sedang membawa mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2