
Harus punya alasan agar lo bisa cabut dari mantan lo kalo lo udah mulai risih sama dia. Halalkan segala cara!
Saat ini Tyara dan Azka sedang berdebat, antara memilih untuk menaiki bianglala terlebih dahulu atau kora - kora dan menyebabkan mereka berdua menjadi tontonan gratis disini.
"Pokoknya gue mau naik kincir angin dulu!"
"Gak bisa dong, gue maunya naik kora - kora"
"Kincir angin, Azka Zahfriel!"
"Kora - kora! Gue yang ngajak lo kesini jadi lo yang harus ikutin kemauan gue."
"Fine!" Ucap Tyara akhirnya, sumpah ya kalau dia terus-terusan meladeni Azka sampai pasar malam tutup juga tidak akan selesai.
"Good girl" ucap Azka seraya mengelus puncak kepala Tyara.
"Eh, tapi, gue mau naik kincir angin aja dulu deh." Lanjutnya kemudian.
'*****, kenapa gak dari tadi sih!'
Setelah mengatakan itu Azka langsung bergegas ke tempat kincir angin berada, Tyara hanya mengikutinya dari belakang. seperti Upik abu bersama dengan majikannya.
Ketika mereka sudah berada diatas puncak kincir angin, Tyara melihat pemandangan kota Jakarta dari atas yang nampak sangat indah sekali.
"Sumpah bagus banget!"
Azka hanya tersenyum melihatnya.
"Gue gak tau lagi mau bilang apa" lanjut Tyara lagi sambil memandangi terus keindahan kota Jakarta di malam hari.
Setelah selesai menaiki kincir angin sekarang mereka beralih ke tempat lain untuk menaiki kora - kora.
"Mau gak?" Tanya Azka berusaha meyakini Tyara.
Tyara mengangguk, "lo yang ngajak gue kesini jadi gue harus ikutin kemauan lo."
Azka tertawa mendengar Tyara mengulang kalimatnya, kemudian dia berjalan kearah wahana itu, kali ini dia menggenggam tangan Tyara katanya takut Tyara hilang. Modus
***
Setelah selesai menaiki kincir angin dan kora - kora serta wahana yang lainnya, Tyara berjalan kearah stand boneka. Dia melihat boneka doraemon berukuran sedang, kalian harus tau Tyara sangat suka doraemon.
Tyara mencari-cari keberadaan Azka, ternyata dia sedang membeli harum manis. "Azka!" Teriaknya ketika dia juga sedang celingukan mencari keberadaan Tyara.
Azka menengok mendengar namanya di panggil, Tyara melambaikan tangannya dan Azka pun berjalan menghampiri.
"Nih buat lo" katanya menyerahkan harum manis berwarna biru.
"Makasih." Tyara kembali melihat kearah stand tempat dimana boneka doraemon itu berada.
Azka sepertinya mengikuti arah pandangnya, buktinya sekarang dia sedang bertanya kepada penjaga stand itu.
"Berapa bang boneka doraemon yang itu?"
"Oh, gak dijual mas, mas harus melemparkan gelang ini ke dalam botol sebanyak tiga kali, kalau berhasil mas berhak milih hadiah yang mana aja."
Azka menengok kearah Tyara, "lo mau?"
Tyara mengangguk mantap dengan mata yang berbinar.
"Boleh deh, bang." Dia menyerahkan uang Rp 50.000 an, pedagang stand itu menyerahkan 5 buah gelang serta uang kembaliannya.
"Nih"
"Apaan?" Tanya Tyara bingung, karena Azka menyerahkan gelang-gelang itu ke kepadanya.
__ADS_1
"Lo yang usaha, kan udah gue modalin."
"Kirain lo yang mau berjuang demi gue" ucap Tyara sambil mengerucutkan bibir.
Azka mengacak-acak rambutnya, "jangan manja." Ucapnya lagi sambil menyerahkan gelang-gelang itu .
Tyara pun bersiap untuk melempar gelang yang pertama, semoga masuk. Gumamnya dalam hati.
Lemparan pertama meleset, gelang itu malah jatuh ke bawah. Dia menghela nafas pelan.
Azka hanya diam sambil sesekali mengecek ponselnya. "Tenang, masih ada 4 lagi" Tyara mengangguk pelan dan bersiap untuk melemparkan gelang yang kedua.
Lemparan yang kedua berhasil, berarti sisa 3 lemparan lagi dia akan mendapatkan boneka doraemon itu.
Lemparan ketiga berhasil tapi di lemparan keempat dia gagal lagi.
"Capek ah"
"Tinggal 1 lemparan lagi, gue yakin lo pasti bisa, tan."
"Sungguh? ah ga yakin gue gak jago ngelempar ini liat aja gagal mulu."
Azka mengangguk meyakinkannya, "pasti bisa, ayo dong semangat mantanku mau dapet Doraemonnya kan? yaudah ayo coba sekali lagi."
Sebenarnya Tyara rada tidak percaya dengan ucapannya kan yang melempar dia bukan Azka, kenapa Azka yang yakin banget.
Tyara mencoba memicingkan matanya dan menatap botol yang sekarang sudah terisi dua gelang-gelang berwarna merah.
Bismillahirohmanirrohim.
Setelah melempar gelang itu dia langsung menutup matanya, takut meleset lagi.
Tyara mendengar suara tepuk tangan, dia pun memberanikan diri untuk membuka matanya dan wow. Dia berhasil! Tyara meloncat kegirangan dan menatap Azka.
"Gue berhasil, tan." Ucapnya dengan wajah yang berbinar, Azka hanya menatapnya dengan senyum hangat. Saat itu juga dia langsung gugup, masalahnya Tyara selalu suka senyum Azka yang hangat seperti itu dan tatapan matanya juga intens membuat siapapun yang menatapnya tidak ingin keluar dari sana.
Tyara mengalihkan pandangannya kearah abang-abang stand itu, "boneka doraemon yang sedang itu ya, bang."
Dia mengambil boneka yang diserahkan oleh penjaga stand itu dan beralih menatap Azka yang ternyata sedang sibuk dengan ponselnya.
"Lo ngapain sih, dari tadi ponsel mulu yang di pegang."
Azka menengok, "Aliyah whatsapp gue, dia minta gue bawain berkas buat ulang tahun sekolah."
"Tapi, kan, itu masih 3 bulan lagi."
"Iya, tau, tapi Tyara Pramestika ini penting, harus disiapkan dengan sematang mungkin. Karena ini kan ulang tahun sekolah, acaranya harus semaksimal mungkin."
Tyara hanya ber'oh' saja, mereka kembali berjalan mengelilingi pasar malam. Enggak tau deh, mau ngapain, dia mah cuma mengikuti saja.
Setelah capek mengelilingi pasar malam Azka duduk di sebuah bangku panjang yang kosong diikuti oleh Tyara yang juga duduk di sebelahnya.
Mereka hanya saling diam tanpa ada salah satu darinya yang berbicara. Bosan, Tyara pun memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya dari beberapa bulan yang lalu.
"Azka."
Azka bergumam, Tyara menoleh kearahnya, ternyata dia sedang memejamkan matanya.
"Gue mau nanya sama lo" ucapnya dengan jantung yang berpacu sangat cepat.
"Apa?" Jawab Azka masih dengan mata yang terpejam.
Tyara bingung nanyanya gimana, dia masih memikirkan kata-kata apa yang harus dia keluarkan supaya tidak salah bicara nantinya.
Azka pun membuka matanya dan beralih menatapnya, "tanya apa, hm?"
Bukannya menjawab tapi Tyara malah menggigit bibir bawahnya, Azka yang melihatnya pun langsung berdecak.
"Jangan digigit, nanti luka." Ucapnya sambil mengusap bibir bawah Tyara dengan telunjuknya. "Jadi, lo mau nanya apa?" Lanjutnya lagi.
Tyara bingung, dia berpikir sepertinya dia tidak usah nanya saja kali ya, nanti aja deh nanyanya.
__ADS_1
"Pulang aja yuk" ucap Tyara kemudian.
Azka menaikkan alisnya sebelah, "nanya apa?"
Dia menggeleng, "gak jadi, gue mau pulang aja."
"Katanya mau nanya, mau nanya apa?"
Tyara lupa, Azka itu tipe orang yang keras kepala. Dia akan terus bertanya sampai dia berhasil mendapatkan jawabannya.
'Kenapa gue bisa melupakan sifat dia yang satu itu' . Rutuk Tyara dalam hati.
Azka masih menatapnya menunggu jawaban, "eh, liat deh disana ada yang jual balon." Tunjuk Tyara kearah depan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Azka tetap menatapnya, "lo mau nanya apa?"
Tyara menghela nafas, "pulang aja deh, gue udah ngantuk."
Untuk kali ini dia tidak berbohong, Tyara memang benar-benar sudah mengantuk sekali karena ketika dia melihat ponsel, sudah jam 10 .
Azka menggeleng, "nanti, sekarang lanjutin pertanyaan lo itu."
Sumpah, Azka keras kepala banget. Tyara memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa segera pulang dari sini. Dia tidak mau bertanya masalah itu sekarang, dia belum siap mendengar jawaban dari Azka seandainya itu menyakitkan.
Disaat Tyara sedang panik otaknya malah tidak bisa diajak bekerja sama sekali, bagaimana caranya Tyara bisa kabur dari hadapan Azka.
Azka masih terus menatapnya menunggu jawaban, "lo mendadak bisu?"
Bodo amat deh, dibilang bisu kek, yang penting sekarang gue harus cari cara buat pulang. Gumam Tyara dalam hati.
Tyara mendapatkan sebuah ide, "Azka kok kepala gue tiba-tiba pusing ya" ucapnya sembari memegangi kepala. "Mata gue juga kaya ada kunang-kunangnya gitu gak bisa ngeliat jelas burem."
Lagi-lagi Azka menaikkan alisnya sebelah, "lo gak lagi berniat buat bohongin gue kan?"
Shit!
"Gue serius, sumpah ini pusing banget, kayanya gue mau pingsan deh."
Azka masih berusaha untuk tenang walaupun Tyara tau di matanya itu menyiratkan kekhawatiran.
"Lo mau pulang?"
"Iya, pusing banget gu.."
Brukk
Tyara berakting pingsan, and see Azka panik melihat Tyara pingsan di bahunya. Dia langsung menggendongnya dan berjalan kearah parkiran.
Sesampainya di mobil dia mendudukan Tyara di kursi penumpang dan memakaikan seatbelt.
"Kenapa lo bisa pingsan, sih" omelnya sambil mulai menyalakan mobil. "Lo belom makan? **** banget sih lo jadi cewek."
Tyara yang mendengar dirinya di katai **** oleh Azka hanya bisa sabar, rasanya dia ingin sekali cemek-cemek wajah Azka saat ini juga.
Selama di perjalanan Azka masih saja mengomel, gila! Itu mulut kuat banget ngocehnya gak berhenti-henti.
Tyara merasakan mobilnya berhenti, dia pun melirik ke luar jendela, ternyata sudah sampai. Dengan cepat dia membuka kedua matanya dan melepaskan seatbelt serta membawa boneka doraemon itu dan bergegas keluar dari dalam mobil.
"Jadi lo cuma pura-pura pingsan?!" Teriak Azka ketika dia sudah keluar dari dalam mobil.
Tyara hanya menjulurkan lidah dan langsung masuk ke dalam rumah, kebetulan gerbang rumahnya sedang terbuka dan itu memudahkan dirinya untuk kabur dari Azka.
Dari jendela kamarnya, dia melihat Azka masih ada disana. Sepertinya dia sedang menerima telfon, tidak lama kemudian dia masuk ke mobilnya dan mobil itu pun berjalan.
Tyara menutup kembali gordennya dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1