
...Dia obat sekaligus luka...
...****...
Sudah hampir satu jam Azka mondar-mandir di teras rumah Tyara, dia sudah menekan bel rumah tapi tidak ada yang membukakan pintu bahkan ia pun sudah menelfon Tyara beberapa kali juga tidak ada jawaban.
Ketika Azka berniat untuk membuka pintu rumah Tyara tiba-tiba saja suara motor seseorang mengalihkan pandangannya. Tyara baru saja pulang, tapi yang membuat dia bingung disini adalah Tyara pulang bersama seorang laki-laki entah siapa laki-laki itu karena wajahnya tertutupi oleh helm.
Setelah laki-laki itu pergi Tyara membuka pintu gerbangnya dan kaget ketika ia melihat Azka yang sedang berdiri memandangnya dari teras rumah.
Tyara berjalan perlahan menghampiri Azka dengan wajah bingung.
"Ngapain?"
"Baru pulang?" Azka balik bertanya.
Tyara mengangguk sembari mengeluarkan kunci rumahnya dari dalam tas, "Iya, abis dari toko buku."
"Kenapa gak minta anter gue?"
"Lo sibuk, gue gak mau ganggu."
Tyara membuka pintunya dan masuk ke dalam, ia menyimpan tas ke atas kursi yang ada di ruang tamu rumahnya, "Mau masuk?"
Tanpa menjawab pertanyaan Tyara Azka langsung masuk dan duduk, "Kayanya kita perlu ngomong deh, Ra."
Tyara menaikkan alisnya sebelah, "Bukannya kita lagi ngomong ini?"
"Bukan, obrolan yang lebih serius, gue tau banyak pertanyaan yang mau lo tanyain ke gue."
Tyara menggeleng, "Gak ada," jawabnya.
"Lo mau minum apa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Apa aja," jawab Azka asal.
Tyara bergegas pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk Azka, tak berapa lama kemudian ia kembali dengan membawakan dua gelas es teh manis untuknya dan untuk Azka.
"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi, mau ngapain ke rumah gue?"
"Gue minta maaf buat kejadian pagi tadi, sumpah Ra, gue bener-bener gak inget sama sekali kalo ada janji sama Lo,"
Belum sempat Azka menyelesaikan kalimatnya Tyara sudah memotong terlebih dahulu.
"Iya, lo kan emang selalu lupa kalo janji sama gue."
Azka menggeleng mantap, "Enggak, kali ini gue serius."
Tyara hanya menganggukkan kepalanya.
"Sorry kalo sikap gue akhir-akhir ini bikin lo marah atau bahkan kecewa, gue gak ada maksud buat memperlakukan lo kaya gitu," Azka diam sejenak.
"Gue sayang sama lo, sayang banget tapi situasi ini yang bikin gue gak bisa ngapa-ngapain. Keluarga gue sama keluarganya Luna udah deket dari dulu dan lo tau itu jadi, kalo ada apa-apa yang terjadi sama Luna pasti gue orang yang dicari buat bantu dia kalo nyokap bokap dia gak bisa," lanjut Azka.
"Gue mohon tolong ngertiin gue sedikit lagi, gue bakal selesain ini semuanya atau kalau lo mau gue bakal minta Luna buat pindah sekolah."
Tyara menggeleng cepat, "Gak, gak usah."
"Terus?"
"Gak usah sampe segitunya, iya gue marah sama lo karna Luna tapi gak usah sampe nyuruh-nyuruh dia buat pindah sekolah, yang ada nanti malah gue yang dicap jelek."
Azka memegang tangan Tyara, "Nggak, gue bakal nyebut nama lo ke Luna.
"Gapapa, Azka. Udah biarin aja," Tyara melepaskan genggaman tangan Azka perlahan.
Azka bingung dengan perlakuan Tyara yang seakan mulai berubah.
"Gapapa, kita jalanin semuanya kaya biasanya aja." ucap Tyara tak lupa dengan senyuman manisnya.
Pintu rumah Tyara terbuka dan menampilkan sosok Rei yang baru saja pulang dari kampus, Rei memandang kearah mereka secara bergantian.
"Eh, ada Azka, tumben ke rumah, bro."
__ADS_1
Azka berdiri dan menghampiri Rei, mereka berjabat tangan ala pria.
"Biasalah," sahut Azka santai.
Rei melirik kearah Tyara yang sekarang sedang sibuk berkutat dengan handphonenya, "Oh.. Okey, gue tinggal dulu ya."
"Sip."
Setelah mendengar jawaban Azka Rei langsung pergi ke lantai atas yang dimana kamarnya berada.
Azka kembali duduk, "Mama lo kemana? Kok gak keliatan."
Tyara mengangkat kepalanya dan memandang kearah Azka tak lupa juga dia menyimpan kembali handphonenya ke dalam tas, "Mama lagi ke Bandung biasa Oma kalo sakit maunya ditemenin sama mama."
Azka menganggukkan kepalanya mengerti, "Gue pulang aja kali ya udah malem gini gak enak sama abang lo."
"Oh, mau pulang? Sebenernya santai aja sih sama Rei mah, tapi kalo Lo mau pulang juga gapapa."
Azka mengernyitkan alisnya bingung, bagaimana pun Tyara yang biasanya selalu menahan-nahan dirinya agar tidak pulang jika dia sedang bertamu ke rumahnya sekarang malah seperti orang yang sedang menantikan kepulangannya.
"Emm.. Oke, Ra. Titip salam sama abang lo," ucap Azka sembari berdiri dan berjalan keluar.
Tyara mengikuti Azka dari belakang ia hanya ingin mengantar Azka sampai depan pintu saja.
Melihat Azka yang sedang memakai helm disana membuat Tyara tersenyum kecut, "Sorry Azka, gue udah kecewa sama Lo," ucap Tyara pelan.
Azka membunyikan klakson motornya dan langsung melesat pergi meninggalkan wilayah rumah Tyara.
Setelah Azka pergi Tyara masuk ke dalam rumahnya dan langsung pergi ke kamarnya, Ia benar-benar sangat lelah dan hanya menginginkan istirahat.
***
Hujan turun sangat deras di hari Minggu pagi ini, membuat siapa saja memilih untuk menghangatkan tubuhnya dibalik selimut. Tak terkecuali dengan Tyara yang sekarang masih asyik bersemayam dibalik selimutnya.
Rumahnya hari ini sangat sepi karena Rei pun ikut menyusul mamanya ke Bandung tadi malam, alhasil dia hanya sendirian sekarang di rumah.
Tyara menyibak selimutnya, ia pun bangun dari posisinya dengan enggan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Laper," gumamnya, "Nasib banget gak punya asisten rumah tangga pas mama pergi gak ada yang masak manaan gue gak bisa masak lagi," lanjutnya.
Dia membuka pintu balkon kamarnya dan duduk di bangku yang memang sudah ada disana, samar-samar ia melihat sebuah mobil yang sangat ia hapal sekali beserta plat nomer mobilnya.
Ia mengeluarkan handphonenya dari saku baju piyama yang dipakainya, mulai mengetikkan sesuatu.
^^^Tyara :^^^
^^^Ngapain lo depan rumah gue?^^^
^^^Dasar penguntit.^^^
Setelah mengirim pesan itu kepada seseorang ia kembali memandangi mobil itu, tak lama kaca jendela mobil itu turun dan sang punya mobil mengeluarkan tangannya dan melambai ke arah Tyara.
Makhluk astral :
Gue tau Lo sendirian di rumah, kan?
Makanya gue jengukin nih, kurang baik apalagi coba gue sebagai pacar.
Tyara membaca pesan chat yang dikirim oleh Azka dengan malas, tanpa berniat untuk membalasnya ia kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon kamarnya.
Minggu pagi yang seharusnya dinikmati dengan khidmat malah menjadi petaka karena kedatangan Azka, yaps, dia sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Tyara. Sembari memencet bel tangannya yang lain juga sibuk membersihkan bajunya yang kotor akibat terkena cipratan air hujan ketika tadi berlari keluar dari mobilnya.
Ting nong!
Tidak ada jawaban dari Tyara,
Ting nong
Ting nong!
Ting nong!
Lagi, dengan tidak sabar Azka memencet bel rumah Tyara tanpa henti, tentu saja membuat Tyara yang sedang bersantai di ruang keluarga menjadi terganggu akibat ulahnya.
__ADS_1
Tyara berjalan menghentak-hentakkan kakinya ke arah pintu dan membuka pintu itu dengan wajah masam.
Ketika pintu dibuka, terlihat Azka sedang tersenyum dengan manis.
"Jangan cemberut gitu dong, tebak gue bawa apa..." ucap Azka dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
Tyara memandangi kantong plastik itu dengan datar, seperti tidak tertarik untuk bermain tebak-tebakan dengan Azka.
Melihat ekspresi datar Tyara, Azka langsung menyodorkan kantong plastik yang berisi cheesecake kesukaan Tyara.
Sebelum mengambilnya Tyara mengintip sebentar ke dalam plastik itu, setelah memastikan apa isinya dengan cepat dia langsung menariknya dan membawanya ke dalam.
"Masuk," ajak Tyara.
Melihat tingkah Tyara tentu saja itu membuat Azka tertawa kecil saking gemasnya.
Tanpa disuruh duduk Azka sudah lebih dulu duduk di ruang keluarga sembari mengambil camilan yang ada di meja sana.
Sedangkan, Tyara dia sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan minuman.
"Gak usah repot-repot, Ra. Cukup bikinin gue orange jus aja udah."
Mendengar teriakan Azka meembuat Tyara ngedumel di belakang, "Gak usah repot-repot pala lo, orange jus itu udah paling repot, anj."
Setelah selesai menyiapkan minuman untuk Azka Tyara membawanya ke tempat dimana Azka berada.
"Kok es teh?" protes Azka ketika melihat Tyara hanya membawakan es teh.
"Masih mending gue bikinin minum, daripada gue usir, mau?" Ancan Tyara dengan mata yang hampir keluar.
"Eh? Enggak kok, nggak. Yaelah gitu aja marah, bestie."
Untuk beberapa saat hanay terdengar suara hujan serta televisi yang saling bersahutan.
"Masih marah?" Tanya Azka membuka percakapan.
Mata Tyara mendelik mendengarnya, "Pikir aja sendiri, punya otak, kan buat mikir?"
"Idih, galak banget, tukiyem."
Tiba-tiba saja handphone Azka berbunyi dan tanpa sengaja Tyara melihat nama penelponnya yang memang handphone Azka sengaja disimpan di atas meja.
'Luna'
Azka melirik sebentar ke arah Tyara, kemudian langsung mengangkat telfonnya.
"Kenapa, Lun?" Tanya Azka tanpa basa-basi, "Gak bisa, gue lagi di rumah Tyara," lanjut Azka lagi.
"Gak bisa, Luna."
Azka membuang nafasnya kasar, "Yaudah iya!" jawabnya kasar dan langsung mematikan panggilan telfonnya secara sepihak.
Tyara menaikkan kedua alisnya, bertanya ada apa.
"Luna minta temenin, katanya dia di rumah sendirian."
"Lah, gue juga sendirian, emang dikira gue bareng siapa? Anoa?"
Azka terkekeh pelan mendengar perkataan Tyara, "Kalo lo kan pemberani, cewek perkasa. Nah, kalo Luna nggak."
"Ya ya ya, terserah. Udah sana deh pulang nanti pawang lo nelpon lagi ribet urusannya," sahut Tyara sembari memperagakan gerakan mengusir menggunakan tangannya.
Azka tertawa lagi melihat tingkahnya, sebelum pergi dia mengacak-acak rambut Tyara pelan.
"Gue pulang, ya? Kalo kangen telfon aja."
"Gak bakal gue kangen sama lo, kupret."
mendengar jawaban Tyara Azka semakin tertawa kencang sebelum ia terkena timpukan bantal oleh Tyara yang sekarang sudah siap akan menghantam wajah tampannya dia bergegas pergi dari hadapan Tyara.
Setelah kepergian Azka Tyara menghembuskan nafas pelan, "It's okey, no problem," ucapnya pelan.
****
__ADS_1