
Happy Reading!!
...*****...
...Dibalik galaunya seseorang, ada temen yang cosplay menjadi motivator....
...*****...
Sesuai dengan janjinya, Tyara setia menunggu Azka di parkiran sekolah. Ia memilih untuk duduk di bangku taman yang berada di dekat parkiran sampai Azka menunjukkan batang hidungnya.
Sembari menunggu Azka ia memainkan handphonenya juga sesekali melihat ke sekeliling takut kalau Azka tidak melihatnya. Suasana yang awalnya ramai berangsur sepi dengan matahari yang bersembunyi di balik awan mendung. Namun, orang yang ditunggu pun tidak ada tanda-tanda kedatangannya.
Lima belas menit.
Tiga puluh menit.
Sampai satu jam lamanya Azka tak kunjung datang. Untuk ke sekian kalinya, Tyara menghela napas lelah setelah ia mengetahui sudah berapa lama waktu yang ia habiskan untuk menunggu Azka.
"Lho, kok belum pulang?"
Tyara dibuat terlonjak kaget saat satpam sekolah datang menghampirinya.
"Nunggu temen, pak," balasnya ramah sembari tersenyum tipis.
Satpam itu menghela napas sembari menengadahkan kepalanya keatas, "Tapi udah mendung neng, baiknya pulang aja takut kehujanan nanti."
Masih dengan senyum manisnya Tyara menjawab sopan, "Nggak apa-apa pak, saya udah terlanjur janji."
Satpam itu kembali menghela napas, tidak tahu lagi bagaimana caranya agar gadis itu mau pulang agar tidak terjebak hujan nantinya.
Tyara mengalihkan pandangannya ke arah parkiran yang sudah mulai benar-benar sepi, namun masih ada satu motor yang terparkir rapi disana dan ia tahu betul siapa pemilik motor itu.
Samar-samar Tyara mendengar gelak tawa yang berasal dari koridor menuju arah parkiran. Ia dan satpam itu sama-sama mengalihkan fokus mereka ke arah sumber suara, ia tersenyum lebar saat orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tapi, sepersekian detik selanjutnya senyum itu perlahan pudar saat matanya menangkap sosok lain yang berjalan di sebelah Azka.
Tepukan di bahunya membuat Tyara mendongak.
"Itu temennya?" tanya satpam itu sembari melirik Azka yang dibalas anggukan oleh Tyara, "Ya udah, samperin sana."
Setelah mengucapkan terimakasih pada pak satpam, Tyara beranjak kemudian berlalu pergi. Namun, bukan untuk menghampiri Azka melainkan berjalan menuju gerbang sekolah.
Handphone yang berada di saku seragamnya bergetar, menandakan sebuah notifikasi chat masuk. Ia mengeluarkan handphonenya dan melihat isi chat itu.
Makhluk Astral :
__ADS_1
'*Duhh, maaf banget gue baru ngabarin.'
'Lo belom pulang kan?'
'Pulang sendirian dulu ya, gue ada urusan ngedadak nih*.'
Read.
Tyara menatap layar handphonenya dengan pandangan kosong, ia menggenggam handphonenya dengan sangat erat guna menyalurkan rasa kesalnya. Laki-laki itu bahkan tidak memikirkan perasaannya.
Jadi, waktu yang ia gunakan tadi hanya terbuang sia-sia?
"Kemaren Luna, sekarang Aliya, dua-duanya sama aja."
Tidak cukupkah kejadian kemarin? Kenapa harus ditambah lagi?
Ia mendongak, menatap awan hitam yang membentang di atas sana. Burung-burung yang berterbangan di angkasa seakan saling mendahului agar bisa sampai di sarang masing-masing sebelum turun hujan. Angin yang bertiup lebih kencang dari biasanya, membuat Tyara mengeratkan pegangan pada tali tasnya walau ia tahu itu tidak akan memberikan dampak apa-apa.
Seakan ikut bersedih, langit hitam itu mulai menurunkan tetes demi tetes airnya dan membasahi permukaan bumi. Tidak perlu membutuhkan waktu lama, tetesan demi tetesan air itu berubah menjadi hujan yang sangat deras diiringi dengan suara guntur yang menggelegar.
Kuncup-kuncup tanaman yang sebelumnya layu kini mulai menampakkan keindahannya, suara katak yang saling bersahutan seakan menunjukkan betapa bahagianya mereka saat hujan turun. Desir angin yang menjalar di sekujur tubuh Tyara membuatnya untuk mempercepat langkahnya, namun tiba-tiba saja kakinya tersandung sebuah batu sehingga membuat tubuhnya jatuh tersungkur di atas tanah.
Sorot lampu yang terpancar dari genangan air membuatnya mendongakkan kepalanya, matanya menyipit ketika lampu itu menyorot tepat ke manik matanya. Harapan yang sempat sirna, kini mulai beranjak ke permukaan.
Vano turun dari mobilnya, kemudian menghampiri Tyara yang masih terduduk di atas tanah. Dengan sangat hati-hati dan tanpa bicara ia menuntun tubuh Tyara agar tiba di sisi mobilnya.
Setelah menempatkan tubuh gadis itu dalam posisi ternyaman, Vano memutari mobilnya lalu duduk di bangku kemudi. Ia memandang wajah Tyara yang kini tengah memejamkan matanya, kemudian tangannya terulur ke jok belakang untuk mengambil sebuah jaket yang tersimpan disana.
Ia menyampirkan jaket itu pada tubuh Tyara guna menutupi seragam yang saat ini mencetak lekuk tubuh gadis itu. Setelahnya, mobil Vano beranjak pergi, menerobos hujan lebat yang mengguyur kota Jakarta.
****
Tetes-tetes air dari langit belum juga berhenti, awan hitam masih membentang di angkasa tanda bahwa hujan tidak akan pergi dengan segera. Suara guntur pun ikut andil dalam meramaikan suasana, membuat siapa pun yang ada di bumi tidak akan berani untuk keluar rumah.
Azka dan Luna sedang duduk di teras belakang rumah guna mengusir rasa bosan mereka. Ya, selepas menyelesaikan urusannya dengan Aliya, Luna memintanya untuk menjemputnya karena ia ingin bertemu dengan mamanya Azka.
Luna merapatkan jaket yang membalut tubuhnya saat angin berhembus kencang, sedangkan Azka meminum kopi panas yang ia buat sendiri guna mengusir rasa dingin pada tubuhnya.
Luna memutar tubuhnya untuk menghadap ke sebelah kiri dan menatap Azka, "zka," ujarnya dan dibalas deheman oleh Azka.
"Kalo seandainya gue kasih lo pilihan, lo bakal pilih gue atau.... Tyara?"
Suara Luna tercekat di tenggorokan saat ia mengucapkan kalimat itu, ia merasa takut dengan respon Azka. Namun, disisi lain ia juga ingin memastikan perasaan laki-laki itu, masih sama atau... telah berubah.
__ADS_1
Ya, sebelum kenal Tyara, Luna lah yang lebih dulu mengenal Azka sampai akhirnya mereka bersahabat. Tentu saja kalian tahu bukan, di antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang bisa sahabatan tanpa adanya rasa. Dan, di persahabatan mereka Azkalah yang menyukai Luna sedang Luna dahulu hanya menganggap Azka sebagai sahabatnya tidak lebih.
Sampai pada akhirnya, Luna pergi keluar kota mengikuti orang tuanya yang dipindah dinas juga agar Azka bisa melupakan perasaannya terhadap Luna. Dan, beberapa bulan setelah Luna pergi Azka bertemu dengan Tyara. Ia jatuh cinta pada Tyara pada saat masa orientasi siswa, dan disitulah ia sangat gencar dalam mendekati Tyara hingga ia bisa melupakan perasaannya terhadap Luna.
Tapi, entah kenapa ia sedang dilanda dengan keraguan.
"Lo bakal pilih siapa?" Lagi, Luna mengulang kembali pertanyaannya.
Terdengar hembusan nafas kasar dari Azka, yang mana membuat Luna menjadi was-was dan khawatir dengan jawaban yang akan ia terima.
"Entahlah, gue bingung."
Luna menundukkan kepalanya, memangnya apa yang harus ia harapkan? Luna sadar dulu memang kesalahannya karena telah menolak Azka.
"Sebenernya, lo masih suka gak sih sama gue?"
Azka hanya diam dan menyeruput kopinya.
"Perasaan lo ke gue masih sama gak sih?" Akhirnya, setelah sekian lama terpendam pertanyaan itu pun mengudara.
Azka sempat terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya meloloskan anggukan tanpa suara.
Kita memang tidak bisa memaksakan untuk tidak suka pada seseorang begitupun sebaliknya.
"Berarti, lo masih ada perasaan sayang kan sama gue?"
Azka bungkam, tak meloloskan satu kata sedikitpun. Lalu, Luna kembali membuka suara.
"Kalo lo masih ada rasa sama gue, putusin Tyara, kita pacaran." ucap Luna lantang.
"Kalo yang itu gue gak bisa."
Sempat terdiam beberapa saat bagi Luna untuk mencerna kata-kata Azka, "Kita sahabat kan? Tapi gue mau lebih dari sahabat." ucapnya dengan suara tercekat, ia menatap Azka dengan mata yang berkaca-kaca.
Salahkah jika ia bersikap seperti ini?
Azka meletakkan gelas kopinya di meja, ia memegang bahu Luna, "Jangan nuntut apa pun dari gue. Gue emang gak bisa mutusin Tyara, tapi lo masih dan akan tetap jadi sahabat gue, bahkan sekarang pun lo yang lebih gue utamain dibanding cewek gue sendiri."
"Gue bakal prioritasin lo, itu udah cukup jelas kan?" Azka mengelus bahu Luna pelan, "Tapi gue tetep gak bisa lepasin Tyara," imbuhnya.
Mungkin, ini pilihannya jika ingin menyukai dua hati. Namun, perlu ditegaskan kembali, jika memberi harapan pada dua hati sekaligus maka kamu akan menyakiti keduanya.
...*****...
__ADS_1
Gak habis pikir sama nih laki☺️💔