
Aku sih no comment ya sama fans yang ini
\*\*\*\*
"Lo masih deket sama Azka?"
Tyara dan Yeni tersedak mendengar suara yang tiba-tiba itu, secara mereka hanya berdua. Tyara seperti mengenal suara itu, alih-alih menengok dia lebih memilih untuk mengambil minumannya.
Tyara masih asik minum untuk meredakan batuknya, kemudian dia berdeham. "Kenapa?"
"Lo masih deket sama Azka? Udah gue bilang kan sama lo jangan pernah deketin Azka lagi."
Tyara mengernyit mendengar pertanyaan itu, "lebih tepatnya dia yang selalu deketin gue." Jawabnya santai dan kembali melanjutkan makanannya.
"Sejak kapan?"
"Apanya?"
"Sejak kapan kalian deket lagi?" Orang itu memperjelas pertanyaannya.
Tyara menengok, "kenapa lo tiba-tiba nanya gitu? Gue udah turutin perintah lo buat gak deket-deket Azka lagi tapi kan dianya yang mulai ngedeketin gue lagi bukan salah gue dong." ucapnya santai.
Orang itu tersentak kaget mendengar jawaban Tyara.
Tyara menatap Yeni yang ternyata sedang menatapnya, yeni berkata 'usir, ganggu' tanpa bersuara.
"lo bisa pergi gak? Gue mau makan."
"Pokoknya ini peringatan terakhir, kalo lo masih deketin Azka gue gak akan tinggal diam." Setelah mengatakannya orang itu bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.
Tyara dan Yeni saling pandang, sedetik kemudian mereka tertawa, "jadi gue lagi diancem nih, Yen?" Tanyanya pada Yeni sembari mencoba meredakan tawanya.
Yeni hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan ucapan cewek tadi. Azka? Punyanya? Sejak kapan? Mungkin dia sedang mengkhayal. Mereka kembali melanjutkan makanannya dengan nikmat.
Azka punya gue
Potongan kalimat yang tadi tiba-tiba saja berputar kembali di kepala Tyara. Dia diam dan menghentikan makanannya sejenak.
Azka punya gue.
Kembali, kalimat itu terus terngiang-ngiang.
"Lo kenapa?"
Tyara tersentak, "gak apa-apa" jawabnya dan kembali melanjutkan makanannya.
"Bentar lagi bel, cepetan makannya." Ucap Yeni sembari meminum minumannya hingga tandas.
Tyara segera menghabiskan makanannya dan menghabiskan minumnya lalu mengambil ponselnya dan berdiri.
"Ayo"
Yeni menatap Tyara sekilas, cepet banget . Dia pun mengangguk dan mereka berjalan keluar dari kantin.
Di perjalanan menuju kelas mereka bertemu dengan Azka, Evano serta Aliya di koridor.
"Tyara!"
Mendengar namanya dipanggil, Tyara pun menengok dia menaikkan alisnya sebelah, apa? .
Azka menghampirinya diikuti oleh Evano dan Aliya, "kok lo baru keliatan sih, gue kan rindu." Ucap Azka sembari mencebikkan bibirnya.
"Apa sih? Geli banget dengernya."
Azka tersenyum tipis, "gue duluan ya" ucapnya dan pergi diikuti oleh Evano.
Aliya masih diam berdiri di hadapan Tyara, "lo gak ikut mereka?" Tanya Yeni menunjuk Azka dan Evano dengan dagunya.
Aliya melengos dan kemudian pergi untuk menyusul Azka dan Evano yang sudah menjauh.
Tyara dan Yeni hanya saling pandang, Tyara menghendikkan bahunya acuh lalu melanjutkan kembali jalannya yang sempat terganggu oleh curut-curut itu.
***
__ADS_1
Pelajaran terakhir, suasana siang ini sangat mendung serta semilir angin yang menerpa wajah cantik gadis itu membuatnya semakin mengantuk. Dia sesekali menguap mendengar suara bu Lidya selaku guru pelajaran sejarah yang suaranya sangat lembut selembut sutra.
Tapi kemudian dia lebih memilih menenggelamkan kepalanya di balik buku yang sengaja didirikan untuk menutupi wajahnya. Sedangkan tangannya asyik memainkan game The sims4.
Sesekali dia melirik kearah depan melihat situasi, takut bu Lidya memergokinya.
Senyumnya merekah ketika dia telah selesai memperbaiki bangunan di permainan itu.
Dia merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang, tapi bukannya menengok dia tetap melanjutkan permainannya itu tanpa mau menggubrisnya.
"Apa, sih" ucapnya ketika tangan itu terus saja menepuknya.
"Tyara Pramestika"
Tyara terdiam mendengar suara itu, suara yang sangat lembut serta tegas itu terdengar di gendang telinganya. Dia menurunkan ponselnya dan menengok dengan sangat pelan dan berhati-hati.
"Eh, ibu" ucapnya sembari memberikan cengiran yang menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kamu sedang apa, Tyara?" Tanya bu Lidya.
"Gak ngapa-ngapain kok, bu"
"Silahkan keluar"
Tyara membelalakkan matanya, tamatlah riwayatnya jika sudah disuruh keluar seperti ini. Sebaik apapun bu Lidya, selembut apapun suaranya jika dia sudah memergoki murid yang ketahuan tidak mendengarkan pelajarannya dia tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan muridnya dan tidak akan mengizinkan kembali mengikuti pelajarannya selama satu semester.
"Tapi, bu..."
"Tidak ada tapi-tapian, silahkan keluar"
"Bu, saya masih mau kok mengikuti pelajaran ibu, jangan suruh saya keluar masa nanti setiap pelajaran ibu saya harus keluar terus selama satu semester nanti kalau saya tidak na..."
Perkataan Tyara terputus ketika bu Lidya mengangkat telapak tangannya, memerintahkan dia untuk berhenti bicara.
Tyara menunduk lesu, sudahlah, dia pasrah kalau sudah seperti ini.
"Silahkan keluar dan bereskan barang-barang kamu karena.." bu Lidya menghentikan ucapannya.
Tyara memilin rok bagian bawahnya, takut. Dia menunggu bu Lidya yang hanya menatapnya dengan geli.
"Karena jam pelajaran saya sudah selesai dan bel pulang sudah berbunyi, Tyara Pramestika, apa kamu tidak mendengarnya?"
Tyara membelalakkan matanya, dia melihat jam di dinding yang ada diatas papan tulis. Kemudian menghela nafas pelan, dia kembali menatap bu Lidya yang sedang tersenyum saat ini.
"Oh, iya bu" dia melihat ke sekeliling kelas yang ternyata mereka semua sudah bersiap untuk pulang, ada yang menahan tawanya dan ada pula yang tertawa secara terang-terangan.
Bu Lidya sudah berjalan keluar kelas lebih dulu, sedangkan Yeni sudah setia menunggunya di depan pintu.
***
Tyara dan Yeni menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi karena bel pulang sekolah sudah terlewat sepuluh menit lalu. Jika kalian bertanya dimana keberadaan Arva, mungkin kalian akan menemukannya nanti ketika Tyara dan Yeni melewati lapangan sekolah.
Yaps, Arva sedang ada di lapangan sekolah bersama dengan Azka dan Evano. Mereka sedang bermain basket bersama.
Ketika Tyara dan Yeni melewati lapangan sekolah itu, mata Tyara melihat kearah Azka sekilas dan langsung memalingkan wajahnya lagi kearah yang lain.
"Tyara! Yeni!"
Yang dipanggil pun berhenti.
Ketiga cowok itu menghentikan permainannya dan menghampiri Tyara dan Yeni yang masih setia menunggu mereka.
"Kenapa?"
Arva menyengir, "manggil doang"
Tyara dan Yeni mendengkus dan melanjutkan kembali langkahnya. Tapi, ketika Tyara ingin berjalan tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh seseorang.
"Pulang bareng gue"
"Azka, gue pulang bareng Yeni"
Azka melihat kearah Yeni dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Yeni yang mengerti tatapan itupun langsung mengerti maksudnya.
__ADS_1
"Lo pulang bareng Azka aja, Ra. Gue bareng Arva" ucap Yeni sembari menarik tangan Arva yang ternyata dia sedang minum, alhasil minumannya tumpah dan mengenai seragamnya.
"Eh eh eh..."
Minuman yang hampir sampai di mulut Arva pun malah tumpah mengenai seragamnya, Arva mencebikkan bibirnya.
Yeni menyengir, "Sorry" setelah itu dia langsung menarik tangan Arva dan pergi meninggalkan Tyara, Azka serta Evano yang ternyata masih ada disitu.
Tiba-tiba saja seseorang merangkul Azka, sontak Azka langsung menengok dan melepaskan rangkulannya ketika dia melihat Aliya yang tengah merangkulnya.
Aliya cemberut, sesaat kemudian dia tersenyum "pulang bareng yaa" katanya dengan suara yang di manis-maniskan.
Tyara yang melihat itu hanya memutar kedua bola matanya malas.
Azka menggeleng, "gak bisa, gue bareng Tyara"
Aliya melirik Tyara, "terus gue?" Tanyanya setelah matanya kembali menatap Azka.
"Bareng Vano aja" ucap Azka, "van, Aliya bareng lo, oke" lanjut Azka.
Vano mengangguk, "oke, mumpung kursi belakang kosong tak berpenghuni"
"Gue duluan" ucap Azka seraya menggandeng tangan Tyara dan pergi ke parkiran.
Aliya menatap punggung Azka yang mulai menjauh.
"Ayo, Al" ucap Vano.
Aliya menengok, "gak jadi deh, Van. Gue udah dijemput, bye" ucap Aliya dan pergi meninggalkan Vano sendirian.
Vano melongo, dia menggaruk tengkuknya dan berjalan kearah parkiran.
Di perjalanan menuju rumah, Azka melirik Tyara terus menerus. Tyara yang merasa diperhatikan pun menengok, "apa?!" Tanyanya galak.
Azka terkekeh, "makan dulu yuk"
"Langsung pulang aja, ah."
"Kenapa?" Tanya Azka tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mau tidur."
"Makan aja dulu, deh."
"Gak bisa Azka! Gue mau pulang aja, mau tidur, ngantuk! Lo ngerti gak sih!" Suara Tyara meninggi.
Azka tersentak mendengar suara Tyara itu dia menepikan mobilnya dan menatap Tyara intens, "lo kenapa? Gue buat salah?"
Tyara melengos, "gue gak mau deket-deket sama lo lagi, mulai sekarang."
"Lo nyuruh gue buat jauhin lo? Gitu?"
Tyara menatap kearah lain dia tidak ingin menatap manik mata Azka, dia memilih diam.
Lama Azka menunggu Tyara menjawabnya dia pun hanya menghela nafasnya, "yaudah, kita langsung pulang."
Azka kembali menjalankan mobilnya,
Tyara yang mendengar dan melihat Azka kembali melajukan mobilnya tersenyum tipis tanpa menolehkan pandangannya.
Tapi sedetik kemudian senyumnya langsung pudar ketika Azka kembali bersuara.
"Gue gak tau kenapa lo tiba-tiba minta gue buat jauhin lo..."
Hening
Tyara melirik kearah Azka yang matanya tetap fokus kedepan.
Azka menghela napas pelan, "Kalo itu yang lo mau, gue akan turutin kemauan lo gue akan jauhin lo tapi gue gak janji bakal sepenuhnya ngejauhin lo," lanjutnya.
Tyara terdiam mendengar perkataan Azka yang dalam sekali dengar sudah bisa membuat jantungnya berdegup kencang.
\*\*\*\*
__ADS_1